
Sore itu selepas shalat ashar, terlihat banyak tamu di rumahnya bu Sekar.
"Silahkan di cicipi kuenya." bu Sekar menawarkan kue yang dia hidangkan di atas meja.
"Terimakasih besan, kuenya enak sekali. Ibu buat sendiri?" Ibunya Sakti berbasa-basi.
"Iya bu! lagi belajar" sahut bu Sekar merendah.
"Aah! ibu bisa saja" ujarnya sambil mengambil sebuah kue dan mencicipinya.
"Enak sekali bu, nanti saya minta di ajarin ya bu." Ujarnya lagi.
Ibunya Sakti itu orangnya ramah, dia langsung bisa akrab walau baru bertemu dua kali.
"Baik bu, kita belajar sama-sama"
bu Sekar tetap merendah.
Sa'at itu Keluarganya Sakti berkunjung ke rumahnya bu Sekar, hendak membicarakan rencana pernikahan anak-anaknya.
Mereka akan mencari tanggal yang bagus buat melangsungkan pernikahan putra putrinya. Yaitu Bunga dan Sakti.
"Sebaiknya kita secepatnya besan meresmikan hubungan mereka, biar kita tenang dan tidak akan terjadi fitnah"Pak Jati membuka percakapan.
"Iya pak, kami juga ingin sekali menimang cucu, sudah tidak sabar ini"pak Genta, bapaknya Sakti bergurau.
Gurauannya di sambut tertawa mereka dengan begitu akrabnya.
Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah antara dua keluarga yang sebentar lagi akan resmi besanan.
"Iya besan, sebaiknya kapan ya kira-kira waktu yang bagus untuk melangsungkan akad nikah anak-anak kita?"bu Sekar bertanya tak sabar.
"Iya besan, barangkali besan sudah punya hari waktu yang cocok untuk itu"pak Jati menimpali.
"Emh, kalau tak keberatan dan kalau keluarga besan di sini setuju, kami ingin melangsungkan akad nikah dan resepsi pernikahan anak-anak kita itu, bulan depan saja. Bagaimana besan?"pak Genta balik bertanya.
"Bulan depan, berarti... ,sekitar tiga mingguan lagi ya besan?
Emh...,Tepatnya hari apa? Dan tanggal berapa, serta waktunya jam berapa?.Kami ngikut saja"bu Sekar begitu senang dan bahagianya mendengar berita itu. Dengan demikian, diapun akan segera besanan dengan bu Seroja. Itu pikirnya.
"Kalau tanggal tujuh hari minggu,
bagaimana besan?"pak Genta mengusulkan waktunya.
"Iya besan, menurut perhitungan kami, itu adalah hari dan tanggal yang bagus" Ujar bu Sukma, ibunya Sakti.
"Kalau menurut besan, itu adalah hari dan tanggal yang bagus, ya sudah itu saja. Kalau jamnya, jam berapa?"bu Sekar menanyakan lagi waktunya.
"Kalau jam sembilan, bagaimana?" bu Sukma balik bertanya.
"Baiklah, saya ngikut saja. Yang penting lancar dan berkah ya besan." Ujar pak Jati.
"Tanggal tujuh, bulan depan. Berarti..., tiga minggu dari sekarang. Waktu yang cukup untuk kita bersiap-siap." Ujar bu Sekar.
"Kalau semua keperluan hantaran, kebetulan kami sudah menyiapkannya. Tinggal mencari tukang rias, cetak kartu undangan dan untuk konsumsinya saja yang belum kami siapkan. Karena, kami takut tidak cocok dengan pilihan di sini." Ujar bu Sukma.
__ADS_1
"Sebaiknya kalau tentang hal itu, kita cari sama-sama." ujar bu Sukma lagi.
"Neng Bung, apa neng tahu tukang rias yang dekat-dekat sini?" bu Sukma bertanya kepada Bunga.
"Ada bu, di dekat pasar." Sahut Sukma yang dari tadi hanya diam saja.
"Sebaiknya kalian berdua ke sana sekarang, kalian pilih baju pengantin yang cocok dengan kalian." Bu Sukma menyarankan.
"Bagaimana bu, pak?" Bunga minta persetujuan kedua Orangtuanya.
"Silahkan, tapi jangan lama-lama ya! Hati-hati di jalannya." bu Sekar mengingatkan.
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya bu, pak. Assalamualaikum" Bunga dan Saktipun berangkat mau menemui tukang rias.
"Kalau untuk konsumsinya bagaimana bu? Dan tukang masaknya, di sini mungkin ada?"
tanya bu Sukma.
"Iya di sini saja." sahut bu Sekar.
"Untuk sayuran dan dagingnya, nanti kami akan kirimkan dua hari sebelum hari H nya, tidak kelamaan kan bu?" bu Sukma kembali berucap.
"Tidak bu, dua hari untuk mengolahnya, saya rasa cukup." sahut bu Sekar.
"Kalau masalah masak memasak itu urusan ibu-ibu. Kita jadi pendengar setia saja ya besan... , ha...,ha...ha."Pak Genta bercanda.
"Ha...,ha...,ha...,Iya benar itu besan, kita jadi penonton saja." Jawab pak Jati.
"Bapak ini!" bu Sekar dan bu Sukma bersamaan.
Sementara itu di kamarnya Cempaka, seorang perempuan muda tengah merenung sendiri.
Menyayangkan sikap kakaknya beberapa bulan yang lalu.
"Coba saja kalau waktu itu kak Bunga mau meminta kak Sakti untuk mempercepat lamarannya.
Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada Samudera, karena..., Buana sudah melamarku." Cempaka bergumam sendiri, matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
"Hemmmh!" Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Tak terasa airmata menetes di pipinya.
"Dan..., walaupun bapak sama ibu sudah tahu si Buana itu mulai berpaling dariku. Kenapa ibu sama bapak menyuruhku untuk menunggunya. Aku cape bu, pak, kalau harus menunggu dia yang tak setia"Gumamnya lagi.
Terbayang lagi wajahnya Samudera yang tertunduk lesu setelah mendengar jawaban dari ibunya.
"Samudera..., aku sayang padamu. Namun, kedua orangtuaku tetap setia menunggu Buana untuk menjadi menantunya. Bu, pak, coba kalau waktu itu kalian terima lamarannya Samudera, hatiku tidak akan hancur seperti sekarang ini." Cempaka mengedipkan kelopak matanya, dan..., berhamburan lah buliran-buliran bening dari sudut matanya.
"Buu! Pak! Aku mencintainya bu.
Kenapa kalian begitu tega memisahkan kami? Kenapa bu?"
Cempaka meradang.
"Ya Allah..., kenapa nasibku seperti ini? Kenapa bahagia itu seakan tidak mau mendekatiku?
Apakah aku terlahir untuk selalu menderita?" bulir bening itu terlihat menetes lagi.
__ADS_1
"Akupun ingin bahagia ya Allah.
Berikan aku kesempatan untuk
merasakan bahagia itu..., hatiku sudah tak tahan lagi menerima semua penderitaan ini ya Allah...,
sampai kapan aku menderita begini?" Cempaka menangis lagi, meratap lagi. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya.
Yang terasa olehnya sa'at itu hanyalah luka hatinya yang teramat dalam. Penderitaannya yang teramat sangat begitu membebaninya.
Tak seorangpun yang peduli padanya, semuanya tengah sibuk dengan persiapan pernikahannya Bunga.
*
Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepatnya.
Hari H pernikahan Bunga dan Sakti hanya tinggal menghitung jari, tinggal beberapa hari lagi.
Kartu undanganpun sudah di sebarkan ke seluruh rekan dan kenalan. Tak ada satupun yang terlewat.
"Cempaka, kau sudah sembuh kan? Nanti kau mau kan jadi pagar ayunya?" Bunga meminta kesediaan adiknya untuk menjadi pagar ayu di pesta pernikahannya.
"Bagaimana nanti saja kak" Sahutnya lirih.
"Sudah! Jangan terus bersedih, harusnya kamu bahagia karena setelah kakakmu menikah, nanti Buana akan segera melamarmu.
Iya kan...? Semoga saja ucapannya itu dapat di percaya."
Ujar Kenari pula. Dia berusaha untuk menyemangatinya, walaupun dia juga meragukan
kesetiaan Buana.
"Aku sudah tidak mengharapkan Buana lagi kak, dia sudah menghianati kepercayaanku, dia sudah tega mengingkari janjinya sendiri"sahut Cempaka perlahan.
"Kalau Buana tidak jadi melamarmu, semoga saja Samudera tidak terus larut dalam kekecewaannya. Dan, dia mau mema'afkan kekhilafan ibu dan bapak. Semoga juga bapak dan ibu mau menerima Samudera sebagai menantunya, yaitu suaminya Cempaka." Tutur Bunga.
"Samudera? Siapa Samudera?"
Kenari bertanya-tanya. Karena dia baru mendengar nama itu.
"Itu teman barunya Cempaka, dia suka sama Cempaka dan dia ingin melamar Cempaka. Kasihan deh kak, saking sayangnya sama Cempaka, dia rela melakukan apapun demi Cempaka. Dia langsung daftar abri, waktu tahu bahwa Cempaka ingin punya suami seorang ABRI." Ujar Bunga menjelaskan kepada Kenari.
"O ya...? Kamu kenal di mana sama dia?" tanya Kenari.
"Waktu aku dapat tugas jadi pengawas ujian kak, di desa Ujung itu. Dia saudaranya Mawar, sahabatku waktu sekolah dulu." sahut Cempaka, wajahnya terlihat cerah.
"Waktu itu kasihan sekali Samudera, setelah dia selesai pendidikan, dia langsung kesini mau melamar Cempaka, tapi ibu malah mengatakan bahwa Cempaka ada di Garut. Dan, tahu enggak ka? Samudera langsung berangkat ke Garut mencari Cempaka. Seminggu dia disana,
karena tidak ketemu Cempakanya, dia langsung ke sini lagi. Dia sudah bawa cincin tunangan kak, tapi ibu dan bapak
menolaknya dengan alasan Buana" Bunga menuturkan dengan penuh semangat.
"Ya Allah! Ibu, bapak menolaknya?" Kenari terperanjat kaget, dia terlihat tak percaya dengan apa yang dituturkan oleh
Bunga.
__ADS_1