
Tak terasa sudah enam bulan Anyelir dan Petir menikah. Mereka membina rumah tangga dengan cara kucing-kucingan. Sembunyi - sembunyi dari kakaknya yang belum punya Suami, yang dia langkahi enam bulan yang lalu.
"Sudah enam bulan Anyelir menikah. Tapi, Cempaka masih belum punya calon untuk di jadikan pendamping hidupnya. Bapak kasihan sekali melihatnya. Apalagi kalau Kenari sudah memanggilnya dengan sebutan putri jomblo, sedih rasanya hati ini" Pak Jati mengutarakan apa yang ada di hatinya, kepada istri tercinta.
Di suatu sore, di teras belakang rumahnya.
"Ibu juga sama pak, tapi bagaimana lagi? Kita tidak bisa menarik dan mempercepat jodoh bagi anak kita" Sahut bu Sekar lirih.
"Padahal anak kita itu cantik, dengan adiknya juga masih cantikan dia. Rajin ibadahnya, rajin puasa sunah, rajin ngaji dan rajin pula membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Tapi, kenapa malah susah jodohnya? Bahkan, mau tunangan juga jadi batal" Bu Sekar menerawang ke masa lalu, di mana Cempaka mau di lamar oleh Buana.
"Sakit hati bapak bila mengingat waktu itu, bu" Ujar pak Jati perlahan.
"Sabar ya pak! Semoga besok atau lusa, Cempaka menemukan jodohnya yang baik, sebelum adik- adiknya yang lain mengenalkan calonnya kepada kita" Tutur bu Sekar lirih.
"Amiin ya Allah" Pak Jati mengaminkan.
Suasana pun hening, hanya desiran angin yang menyentuh dedaunan yang berdendang di telinga.
"Sebentar lagi mau masuk waktu sholat Maghrib bu, bapak mau siap-siap dulu" Pak Jati bangkit dari tempat duduknya, menuju ke kamar mandi.
"Iya pak, ibu juga mau ke dapur"
Bu Sekar pun beranjak meninggalkan teras belakang rumahnya menuju ke dapur.
Hampir tiap mereka berduaan, pasti kedua suami - istri itu membicarakan Cempaka yang masih belum menemukan jodohnya.
Kedua suami - istri itu takut pernikahannya Anyelir dengan Petir terbongkar, dan di ketahui oleh Cempaka.
Bagaimana mereka akan menjelaskannya?
Hingga suatu hari, beberapa hari setelah mereka berbincang di teras belakang rumahnya.
Pagi itu, setelah sholat subuh berjamaah di Masjid, seperti biasa pak Jati suka memeriksa ayam-ayam kampung peliharaannya, yang berjumlah 400 ekor itu.
Dia suka mengumpulkan telur - telurnya. Setiap hari selalu ada yang datang untuk membeli telur ayam kampung itu, seorang keponakannya yang berjualan di pasar.
Pak Jati membuka pintu kandang ayam, dalam keremangan cahaya pagi yang belum begitu terang, perlahan dia memasuki kandang ayam yang lumayan luas.
Sebuah lahan yang lumayan luas, sekelilingnya di pagar tinggi supaya ayam - ayamnya tidak pada kabur. Sedangkan kandang-kandangnya berjejer di satu sisi, di antara pepohonan yang banyak tumbuh di sana.
Langkah pak Jati terhenti di bawah sebatang pohon nangka yang berada di sudut area itu. Pohon nangka yang lumayan sudah tua, dengan pohon yang tinggi menjulang.
Mata pak Jati seketika melotot, seperti hendak meloncat dari tempatnya.
Bagaimana tidak? Tidak jauh dari batang pohon nangka itu, netranya menangkap beberapa ayam yang tengah kelojotan bergelimpangan di sana.
Ternyata, bukan di sana saja! Ketika pak Jati menoleh ke sebelah kiri dan kanannya. Ternyata, ayam - ayam yang lain, sudah pada mati kaku! Tak bergerak sama sekali!!!
Pak Jati tersentak kaget! Mendapati ayam - ayamnya yang sudah mati, dan berserakan di sekitar kandang.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah"
Pak Jati lemas terduduk disekitar bangkai ayam yang berserakan itu.
"Bu! Ibu! Heuh! Heuh! Heuh!" Dadanya turun naik menahan rasa yang mendera jiwanya.
"Bu! Bu! Ayam kita!" Pak Jati berteriak panik melihat ayam - ayamnya yang sudah bergelimpangan di pelataran kandangnya tanpa sebab.
"Iya pak, ada apa?" Bu Sekar segera memburu ke kandang ayam setengah berlari.
"Hah! Astaghfirullahaladzim! Apa ini pak? Kenapa bisa begini pak? Bapak kasih makan apa ayam - ayamnya?" Bu Sekar nyerocos dengan beberapa pertanyaan.
"Bapak juga enggak tahu bu, tadi waktu bapak tiba, keadaan sudah begini, bapak belum memberi makan apapun" Gemetar suara pak Jati menahan rasa sedih yang menyeruak dari dalam dadanya.
" Lalu, kenapa bisa pada mati begini? Waktu kemarin sore, masih baik-baik saja bukan? Kenapa sekarang jadi begini? Ya Allah, ya Rabbi!" Bu Sekar berkata lirih sambil geleng-geleng kepala, merasa tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
"Ya Allah, pak! Ini sepertinya keracunan!" Seru bu Sekar, setelah dia melihat dari dekat bangkai-bangkai ayam yang bergelimpangan di sana.
"Daging ayamnya berwarna kebiru-biruan, seperti yang memar. Biasanya kalau begini, ayamnya keracunan pak!" Seru bu Sekar lagi sambil menunjukkan daging ayam yang berwarna ke biru - biru an itu kepada suaminya.
"Kalau benar keracunan, racun dari mana? Racun apa? Terus, siapa yang tega meracuninya? Dan, kalau orang lain, kapan ke sininya? Selama ini enggak ada orang lain yang suka masuk ke dalam kandang ayam kita" Ujar pak Jati, otaknya nampak berpikir dengan keras.
__ADS_1
"Yang suka masuk ke kandang ayam kita hanyalah kita, dan Mardi. Enggak ada yang lain lagi. Kalau Mardi, tiap jam tujuh pagi dia ke sini untuk mengambil telur ayam yang akan di jualnya di kedainya, di pasar. Rasanya tidak mungkin kalau dia yang meracuni ayam - ayam kita ini" Gumam pak Jati lagi.
"Lalu, siapa lagi yang suka ke sini pak, Selain Mardi mantunya
bi Ijah itu?" Bu Sekar penasaran.
"Enggak ada bu, cuma dia yang tiap hari beli telur ayam kita dan suka masuk ke kandang, bantuin bapak mengumpulkan telur - telurnya itu. Kalau yang lain kan biasanya menunggu di teras, atau di luar kandang. Mereka tidak pernah ikut masuk ke dalam kandang" Sahut pak Jati mengingat - ingat.
"Tapi, apa mungkin dia pak? Dia kan menantunya saudara kita. Dia itu istri keponakan ibu, pak!"
Bu Sekar merasa tak percaya dengan perkiraan suaminya.
" Bapak tidak menuduhnya bu. Cuma menjelaskan bahwa yang suka masuk ke dalam kandang ayam kita ini, selain bapak dan keluarga kita, ya si Mardi itu!" Pak Jati menegaskan.
"Iya pak, tapi ibu merasa tidak yakin pak. Masa iya dia tega berbuat begitu. Lagipula, apa untungnya dia melakukan hal itu? Malah rugi bukan untung. Dia kan jadi tidak bisa beli telur ayam kampung yang harganya lebih murah daripada di tempat lain. Iya kan pak?"
" Iya, kalau berpikir ke sana. Ya sudah kita sekarang kumpulkan semua ayam - ayam yang mati ini, semoga saja masih ada yang bisa kita selamatkan, tidak mati semuanya bu" Pak Jati berharap.
"Ibu sedih sekali melihat pemandangan yang mengerikan ini, terjadi kepada ayam - ayam kita pak." Lirih suara bu Sekar menahan tangis.
" Iya bu, kenapa ada orang yang tega melakukan hal ini pada kita? Apa salah kita? Rasanya keluarga kita tidak punya musuh, ya kan bu?" Suara pak Jati tercekat di tenggorokan, menahan tangis.
" Ibu mau menutup pintu kandang dulu pak! Biar tidak pada keluar semuanya" Bu Sekar segera dengan sigapnya menghalau ayam - ayam yang belum jauh keluar dari kandangnya, untuk di masukkan kembali ke dalam kandang. Kemudian dengan segera dia menutup pintunya rapat-rapat, biar tidak mudah terbuka.
Satu persatu bangkai ayam yang bergelimpangan itu, di kumpulkan di tengah- tengah pelataran tidak lupa sambil di hitung nya.
Ayam - ayam yang masih berada di dalam kandangnya, Alhamdulillah masih bisa di selamatkan. Walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada ayam - ayam yang sudah mati.
Karena, yang pada mati itu adalah ayam yang sudah keluar dari kandangnya. Ayam yang sudah berkeliaran di pelataran kandang.
"Tiga ratus dua puluh dua ekor semuanya pak, ayam yang mati mendadak!" Ujar bu Sekar, setelah menghitung semua ayam - ayam yang mati itu, dengan sedih.
"Apa? Tiga ratus dua puluh dua ekor ?" Pak Jati bertanya, hendak menegaskan. Matanya menatap tumpukan ayam - ayam yang sudah mati kaku di hadapannya.
Karena saking kagetnya, tubuh pak Jati menjadi lemas tak berdaya. Tulang punggungnya, seakan tak punya kekuatan lagi untuk menopang tubuhnya supaya bisa berdiri tegak.
Pak Jati jatuh terduduk, di depan tumpukan bangkai ayam yang mati dengan cara mendadak itu. Dan masih belum di ketahui apa yang jadi penyebabnya.
Pak Jati tidak menjawabnya. Karena, mungkin saking kagetnya, bibirnya pak Jati jadi kaku susah untuk di gerakkan. Bukan cuma bibirnya saja, sebelah kakinya pun mendadak lemas tak berdaya, tak bisa di gerakkan. Pak Jati jatuh lemas terduduk.
"Uh! Uh! Uh!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya pak Jati.
"Astaghfirullahaladzim, bapak! Bapak Kenapa?" Bu Sekar berteriak histeris, teriakannya lebih kencang daripada tadi, hingga teriakannya terdengar sampai ke dalam rumah.
"Ibu! Ada apa bu?" Cempaka yang tengah mengepel lantai, segera meninggalkan rutinitas nya. Dia berlari ke samping rumah di mana suara ibunya terdengar.
"Ibu kenapa?" Kilat pun berlari menyusul Cempaka.
Begitu juga dengan Seruni, diapun berlari mengikuti kakak - kakaknya menuju ke kandang ayam.
Setibanya di sana, Seruni terlonjak kaget hingga badan si bungsu itu gemetar ketakutan.
"Kakak, bapak kenapa? uhk! Uhk!" Seruni menangis sambil memeluk Cempaka.
"Ssst! Jangan gaduh! Kasihan bapak!" Bisik Cempaka perlahan, di elus nya rambut adik bungsunya itu perlahan.
"Bantu ibu nak! Kita bawa bapak ke dalam rumah" Ujar bu Sekar dengan meneteskan air mata.
Pak Jati sepertinya mengalami serangan strok, hingga separuh tubuhnya lemas tak bertenaga, dan susah untuk di gerakkan.
Karena selama ini pak Jati dan bu Sekar mengidap penyakit darah tinggi.
Jadi, kalau ada suatu kejadian yang mengagetkan, membuatnya terkejut dengan tiba - tiba, hingga shock. Biasanya mengakibatkan strok, seperti yang di alami oleh pak Jati sa'at ini.
Dengan susah payah, pak Jati di bawa masuk ke dalam rumah.
Kemudian, di baringkan di atas sofa di ruang tengah.
Setelah wajah, tangan dan kakinya di cuci hingga bersih dengan air hangat, Bajunya pun di ganti dengan baju yang bersih.
Tubuhnya pak Jati pun di angkat perlahan, kemudian punggungnya di sender kan di senderan sofa biar terasa agak nyaman.
__ADS_1
" Minum dulu air hangat pak" Dengan terisak, bu Sekar menyodorkan secangkir air putih hangat ke bibir suaminya.
Sementara itu Cempaka segera menyiapkan makanan untuk sarapan pagi.
Dengan telaten dan penuh kasih sayang, bu Sekar menyuapi pak Jati, sarapan pagi.
"Uh! Uh!" Ujar pak Jati, setelah beberapa suap nasi di makannya.
Cempaka dan kedua adiknya, menangis mengetahui bapaknya tidak bisa bicara.
Bu Sekar tidak mengerti, dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
"Apa pak?" Tanya nya dengan titik air mata jatuh di sudut matanya.
"Uh, uh" Tangan pak Jati yang kanan, menunjuk ke arah cangkir. Rupanya pak Jati minta minum.
"Ya Allah, bapak ma'afkan ibu, ibu tidak faham, uhk" Bu Sekar makin sedih dengan kondisi suaminya.
"Ibu, Cempaka panggilkan dokter ya? Biar kita tahu kondisi bapak sekarang" Ujar Cempaka.
"Iya nak, hati-hati ya nak!" Bu Sekar menyetujui usulan Cempaka.
"Kalian jangan ke mana - mana! Jaga Bapak sama ibu ya!" Ujar Cempaka sebelum berangkat menemui dokter.
"Iya kak, kakak hati - hati ya!" Sahut Seruni dan Kilat.
"Aku pergi dulu bu, pak! Assalamualaikum" Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, Cempaka pun berlalu hendak memanggil dokter supaya datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaannya pak Jati.
"Waalaikumsalam, hati - hati nak!" Seru bu Sekar mewanti-wanti.
" Iya bu!" Cempaka pun berangkat dengan mengendarai motornya pak Jati.
*
" Pak Jati mengalami strok, bu.
Karena terlalu kaget dengan apa yang di alaminya" Ujar dokter setelah memeriksa keadaannya pak Jati.
"Sebelumnya apa yang di alami oleh bapak?" Tanya dokter.
"Begini dokter" Bu Sekar pun menuturkan semua kejadian yang terjadi tadi pagi.
"Sebaiknya bapak di bawa ke Rumah sakit saja bu. Biar segera pulih kembali kesehatannya. Di sana kan banyak alat - alat penunjang untuk pengobatan penyakit yang bapak derita" Lanjut dokter lagi.
"Iya dokter" Bu Sekar setuju dengan usulan dari dokter.
"Ini saya tuliskan resepnya, silahkan untuk menebusnya di apotek. Saya sarankan, bapak di bawa ke Rumah sakit sebelum obat dari saya habis."
"Iya dokter" Bu Sekar menerima resepnya.
" Kalau begitu, saya permisi dulu, semoga bapak segera sembuh. Mari bu, pak" Ujar dokter berpamitan.
"Terimakasih dokter" Sahut kami semua.
"Aku mau nebus resep dulu ya bu. Biar segera ada obat buat bapak, jadi bapak segera sembuh" Cempaka bangun dari duduknya.
*
Kejadian yang menimpa pak Jati itu, segera di sampaikan kepada Kenari, Bunga dan Anyelir.
" Ini semua pasti gara - gara si jomblo itu. Bapak pasti memikirkan si jomblo terus, jadi strok, dasar! Perempuan gak laku! Bikin susah orang tua saja!" Kenari bersungut-sungut menerima kabar bapaknya sakit itu.
Sambil tak berhenti ngedumel, dia berangkat ke rumah orangtuanya yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Cuma beda RT itu.
"Awas ya kau jomblo! Enggak akan aku biarkan!" Gumamnya menggerutu.
Dengan langkah kaki yang di iringi dengan emosi, Kenari akhirnya tiba di rumah ibunya.
"Heh! Hah! Cempaka! Jomblo!"
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Kenari memanggil adiknya, dengan sebutan yang tidak enak di dengar.
__ADS_1
***