
Jam sembilan lewat tiga puluh menit, Cempaka baru sampai di depan rumahnya.
"Makasih ya kang Dedi" Cempaka turun dari boncengan sepeda.
"Sama-sama, saya langsung berangkat ya!" Sahut kang Dedi.
"Iya silahkan! Hati-hati ya" Ujar Cempaka sambil naik ke atas teras.
"Iya, Assalamualaikum" Kang Dedi pun langsung mengayuh sepedanya, untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat kerjanya.
"Kamu baru pulang?" Bu Sekar sudah berdiri di ambang pintu, tanpa di sadari oleh Cempaka.
"Iya bu, aku tadi di ajak pulang ke rumahnya kak Kenari" Sahut Cempaka.
"Kenapa kamu bisa bersama Dedi di malam-malam begini?"
Bu Sekar sedikit ketus nada suaranya.
"Tadi aku bareng kang Dedi, dari rumahnya kakak, karena aku takut kalau harus pulang sendiri" Ujar Cempaka sejujurnya.
"Masuk! Kita bicara di dalam"
Bu Sekar tetap ketus.
Cempaka bingung di buatnya, dia merasa heran dengan sikap ibunya yang tidak seperti biasanya.
"Kamu dari mana saja, jam setengah sepuluh malam baru pulang? Apa pantas seorang gadis malam-malam begini keluyuran sendiri? Pulang di anterin sama laki-laki lagi!" Bu Sekar memberondong Cempaka dengan beberapa pertanyaan.
"Aku dari rumahnya kak Kenari, bu" Sahut Cempaka sejujurnya.
"Dari rumahnya Kenari? Kenapa enggak pamit dulu sama ibu, Kalau kamu mau ke rumahnya Kenari? Lagipula, ada apa sampai pulang malam- malam begini?"
"Ibu, tadi aku di suruh kak Kenari untuk pulang ke rumahnya. Karena, katanya ibu sama bapak lagi ke rumah sakit. Ya aku ikut saja, nah! Sudah di sana, kak Kenari tiba-tiba pergi, katanya ada perlu dulu sebentar. Aku menunggu kakak pulang dulu. Dan, kakak pulangnya selepas Isya, aku takut kalau harus pulang sendiri. Kakak nyaranin biar bareng sama kang Dedi saja, sekalian berangkat kerja, gitu bu" Tutur Cempaka.
"Jadi, tadi kamu sudah pulang?"
Bu Sekar bertanya heran.
"Iya bu, di teras samping ada kak Kenari, katanya ibu sama bapak enggak ada, lagi ke rumah sakit"
" Perasaan, ibu sama bapak ke Rumah sakit tadi pagi. Dan, selepas dhuhur juga sudah pulang lagi. Kalau kamu pulang jam berapa?"
"Biasa, jam lima kurang"
"Jam lima kurang? Jam segitu ibu sudah ada di rumah. Malahan, ada bu Purnama sama Amran di sini, nungguin kamu pulang. Hingga lepas Isya mereka di sini nungguin kamu. Mereka mau merencanakan acara pertunangan kalian. Dan, mereka ingin tahu langsung dari mulut kamu sendiri, apa kamu bersedia untuk di lamar oleh Amran atau tidak?" Bu Sekar menatap Cempaka.
"Mereka nungguin kamu sampai lama di sini. Eeh, kamunya malah keluyuran, apa kamu tidak lihat waktu tadi sore di ruang tamu ada orang? Malah percaya sama Kenari, bukannya lihat dulu" Bu Sekar marah.
"Ma'af, aku enggak tahu bu. Aku kira benar, apa yang di katakan oleh kak Kenari" Cempaka merasa bersalah.
" Kakak kamu itu, apalagi yang ada di hatinya?"
"Sepertinya Kenari sengaja ini, sengaja memisahkan kamu, biar kamu tidak bisa bertemu dengan Amran dan calon mertuamu itu, ibu yakin sekali"
Pandangannya tak lepas dari wajahnya Cempaka.
"Tapi, bu. Buat apa kak Kenari berbuat begitu sama aku? Apa untungnya buat dia?" Cempaka yang polos dengan pertanyaannya.
"Kamu masih ingat peristiwa yang lalu?" Bu Sekar mencoba untuk mengingatkan Cempaka.
"Iya, ya. aku enggak ingat itu" Ujar Cempaka.
"Tapi, biarin lah yang penting kamu sekarang sudah pulang, dan tidak apa-apa, ibu sama bapak sampai khawatir nak"
"Sepertinya Kenari punya rencana lagi" Bathin bu Sekar.
__ADS_1
"Iya ma'afkan Cempaka, bu. Aku kira yang di katakan oleh kakak itu benar, makanya aku langsung saja ikut waktu di ajak pulang ke rumahnya"
"Memang tadi pagi ibu sama bapakmu ke Rumah sakit, tapi tidak sampai sore pulangnya. Ah! Dasar ada - ada saja kakakmu itu" Bu Sekar tidak mau memperpanjang membahas tentang anak sulungnya itu.
"Ibunya Amran berkata apa bu?"
Cempaka penasaran.
"Mereka ingin segera melangsungkan acara tunangan antara kamu dan Amran, untuk itu mereka ingin tahu jawabannya langsung dari mulutmu" Ujar bu Sekar.
"Tapi, karena kamu lama enggak pulang-pulang, akhirnya
mereka pulang dengan kecewa"
Bu Sekar berujar dengan nada kecewa juga.
"Semoga saja tidak apa-apa ya bu, mereka mau mema'af kan aku. Sungguh! Aku terlalu percaya pada kak Kenari" Cempaka juga nampak menyesalinya.
"Sudahlah, kita berdo'a saja. Cuma, setahu ibu, ibunya Amran itu kan orangnya keras" Bu Sekar mengkhawatirkan.
"Iya bu"
"Kenapa kak Kenari berbohong sama aku?" Gumam Cempaka, setelah beberapa sa'at.
"Ibu juga tidak tahu, nak. Tapi, saran dari ibu kita jangan terlalu percaya sama omongannya kakakmu itu. Kita perlu menyaringnya terlebih dahulu. Setiap yang keluar dari mulutnya jangan langsung kita iyakan. Kita harus selalu ingat akan kejadian waktu itu. Bukannya ibu mengajari yang enggak-enggak sama anak sendiri. Tapi, ibu berharap supaya kamu berhati-hati" Panjang lebar bu Sekar menuturkan pendapatnya.
"Iya bu, aku kira kak Kenari sudah benar-benar sayang padaku" Cempaka sedih.
"Sudahlah, ibu harap jangan kau beri tahu bapakmu tentang hal ini, kasihan bapak kalau tahu anak sulungnya masih belum berubah sifatnya" Bu Sekar mengingatkan.
" Baik bu, aku juga tidak mau bapak sakit lagi" Ujar Cempaka perlahan.
"Ayo masuk! Sudah larut malam. Besok kamu harus kerja kan? Segera istirahatlah" Bu Sekar memegang lengannya Cempaka, membawanya masuk ke dalam rumah.
*
"Jangan berharap banyak adikku! Aku yakin ibunya Amran tidak akan mau menikahkan anaknya dengan kamu. Dengan kejadian ini, aku yakin ibunya Amran pasti kecewa sama kamu, Cempaka! Kasihan sekali mau dapat suami Polisi, enggak jadi. Mau di lamar seorang anggota ABRi, enggak jadi lagi. Eeh, sekarang mau di lamar seorang Guru smp, enggak jadi juga! Sungguh luar biasa! Aku suka itu! Mengasyikkan sekali"
Kenari berujar sambil tersenyum sendiri.
Hatinya merasa puas dengan berhasilnya siasat yang dia buat.
" Pokoknya, semua adik-adikku tidak boleh ada yang melebihi aku. Kalau mereka punya suami, pekerjaannya, ekonominya, keadaannya, dan pendidikannya juga harus di bawah suamiku! Aku tidak mau melihat adik - adikku hidup bergelimang harta, sedangkan aku? Mantan suamiku hanya seorang sopir, seorang sopir!" Kenari berujar dengan geramnya.
Dia tetap tidak menerima kalau adiknya lebih mapan darinya.
"Aku ingin jodohnya Cempaka adalah laki - laki yang aku bawa, untuknya. Yang pastinya juga laki-laki yang harkat dan martabatnya harus di bawahku,
itu pasti! Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan laki-laki itu. Aku ingin membuat hidupnya sangat menderita! Pernikahannya sangat amat sederhana, bila perlu, aku ingin dia punya suami yang sudah punya istri, dia harus merasakan penderitaan yang seberat-beratnya!" Kenari sudah mereka-reka pasangan untuk adiknya, Cempaka.
Sungguh seorang kakak sulung yang tidak pantas di contoh. Bukan kasih sayang yang di curahkan untuk adiknya, namun malah sebaliknya.
Sungguh, seorang kakak sulung yang begitu mengagungkan dendam kesumat yang tak berguna. Yang akhirnya akan menyiksa jiwa, menghancurkan dirinya sendiri.
Sungguh kasihan sekali.
"Pokoknya aku yang harus lebih kaya daripada semua adik-adikku! Karena, aku adalah anak yang paling tua, aku ingin seperti ibuku, paling kaya diantara adik-adiknya. Punya suami seorang Guru, pegawai negeri. Dan, adik - adiknya hanya pegawai rendahan saja. Aku pun ingin seperti ibuku, dan kalau bisa aku dan kehidupanku harus melebihi ibuku!" Ujarnya dengan tatapan matanya tertuju ke depan, seakan dia tengah merenda masa depan yang dia impikan.
"Tunggu saja tanggal mainnya, Cempaka! Semua tentang kamu dan kehidupanmu sudah ada di dalam genggamanku. Kau tidak akan dapat jodoh segampang itu, karena aku sudah menjauhkannya, bila perlu kau jangan sampai dapat jodoh! Aku ingin kau menjomblo selama - lamanya, sampai kau mampus dalam penderitaan tak punya pasangan, hingga akhirnya kau merasa putus asa"
Itu yang ada di pikirannya Kenari.
*
"Ibu jadi ragu dengan anaknya bu Sekar itu" Ujar bu Purnama, sepulangnya dari rumahnya bu Sekar.
__ADS_1
" Ragu kenapa, bu?" Amran langsung bertanya.
"Katanya anaknya baik, tapi tadi itu sudah kelihatan bagaimana kelakuan dia yang sebenarnya, ibu tidak suka" Bu Purnama sepertinya mulai tidak suka kepada Cempaka.
"Maksud ibu apa sih?" Amran terperanjat mendengar perkataan ibunya.
"Dia itu sepertinya perempuan yang enggak bener, nak. Kalau dia memang anak yang katanya penurut, tidak mungkin dia pulang kerja keluyuran ke sana - ke mari tanpa memberi tahu ibunya dulu. Kalau anak yang baik, setiap mau berangkat ke manapun juga, pasti dia akan berpamitan kepada ibunya, tidak akan seenaknya pulang ke rumah seperti dia" Bu Purnama menyalahkan Cempaka.
"Tapi bu, biasanya dia tidak seperti itu, Amran tahu bu. Dia itu gadis yang baik, pintar, rajin dan berpakaian yang menutup aurat, Amran suka karena dia itu sangat sopan dan ramah, bu" Amran memujinya.
"Yang sedang jatuh cinta, memang akan seperti itu, nak. Dia tidak akan melihat kejelekannya. Yang nampak hanya kebaikannya semata, karena telah di buta kan oleh yang namanya cinta. Ya, seperti kamu sekarang ini" Ujar bu Purnama.
"Bukan itu bu, memang Cempaka itu baik, seperti yang suka di katakan oleh orang- orang yang mengenalnya. Bukan hanya kata Amran, atau kata orang - orang yang dekat dengannya" Kata Amran tidak bergeming.
"Terus terang, nak. Melihat kejadian tadi sore, Cempaka pulang sangat telat sekali, pasti itu bukan sa'at itu saja. Pasti dia sudah sering seperti itu, dia sudah biasa pulang terlambat. Menurut ibu, sudahlah jangan di lanjutkan hubungan kalian! Ibu tidak suka dengan kelakuannya"
Tegas bu Purnama.
"Bu! Kenapa ibu berkata begitu?
Coba cari dulu kebenarannya, bu. Jangan asal menuduhnya dia enggak bener. Sebaiknya kita tanya dulu sama dia, kenapa dia waktu tadi pulang terlambat? Begitu bu"
"Kamu tidak usah ngajarin ibumu, nak. Ibu sudah banyak pengalaman hidup, sudah banyak makan garamnya kehidupan. Sudah, kamu jangan terpesona dengan keramahannya, terpukau dengan keanggunannya, tertarik dengan kecantikannya, terbuai dengan kesopanannya! Tapi, kamu harus melihat kenyataannya! Masa, kamu mau menikahi perempuan yang suka keluyuran kayak gitu!"
"Bagaimana bisa mengurus rumah tangga? Kalau kerjanya keluyuran begitu, mana sampai malam lagi. Yang ada nanti kamu yang capek sendiri mengurus rumah tangga, mengurus anak-anak kamu, coba pikirkan lagi nak!" Lanjut bu Purnama, tetap pada pendiriannya.
"Bu, jangan mengambil keputusan terlalu cepat, bu. Itu belum tentu begitu, bu. Kita kan tidak tahu kebenarannya. Sebaiknya besok kita ke sana lagi saja ya bu! Besok kan hari minggu, Cempaka kerjanya libur. Kalau hari minggu pagi, Cempaka kuliah hingga dhuhur. Biasanya jam dua siang, dia sudah berada di rumah" Amran mencoba mengajak ibunya untuk datang kembali ke rumahnya bu Sekar.
"Ibu enggak mau, nak. Ibu sudah terlanjur kecewa sama dia, lebih baik kamu cari perempuan lain lagi saja nak. Kamu ini ganteng, berpendidikan tinggi, seorang Guru, pegawai negeri. Tidak akan susah kamu cari wanita yang lebih cantik dari Cempaka.
Lupakan saja Cempaka, cari perempuan yang tidak suka keluyuran enggak karuan seperti Cempaka!" Bu Purnama memberi keputusan.
"Ibu!" Amran tersentak kaget, mendengar keputusan ibunya yang seperti itu.
"Aku suka sama dia, bu. Tolonglah mengerti, bu. Jangan memutuskan sepihak begitu, bu. Kita cari dan telusuri dulu kebenarannya, bu. Amran yakin, ini salah paham, bu" Amran memohon.
"Dia itu sengaja pergi menghindari kita, dia tidak mau bertemu dengan kita" Ujar bu Purnama.
"Sudah nak! Bagi ibu, itu tidak perlu! Penelusuran itu tidak perlu! Kalau kita datang lagi ke sana, kita tidak akan di hargai, harga diri kita sudah di injak-injak oleh perempuan yang bernama Cempaka itu, apa kamu tidak sakit hati? Dengan kenyataan yang kita dapatkan tadi sore? Ingat nak, jangan di buta kan oleh cinta!" Ujar bu Purnama dengan tegas.
"Ibu, tolong mengerti aku, bu"
Amran setengah merengek.
Bu Purnama diam dengan kesal. Dia tak menggubris rengekan anaknya.
Dia sudah benar-benar marah dan kesal.
"Tolong lah bu, tolong aku, bu, ibu! Dengerin aku dulu" Amran terus saja memohon.
"Sudahlah nak, ibu tidak mau melihat kamu nanti kecewa di kemudian hari kalau menikah dengan Cempaka. Karena, ibu sangat yakin, kalau perempuan yang suka keluyuran malam - malam, itu berarti perempuan yang enggak bener! Sudah banyak contohnya" Tutur bu Purnama, tak tergoyahkan sedikitpun pendiriannya.
Ternyata benar, ibu Purnama itu sifatnya sangat keras!
Susah untuk di taklukkan hatinya.
Walaupun sama anaknya sendiri.
"Keputusannya, tinggalkan Cempaka! Cari yang lain lagi!
Sudah, jangan ganggu ibu lagi! Ibu mau bersih-bersih dulu, mau istirahat, capek!" Ujarnya dengan tegas.
Dengan tidak memperdulikan Amran, dia langsung berlalu menuju ke kamar mandi, meninggalkan Amran yang tengah kebingungan sendiri.
"Cempaka, Cempaka, tadi itu kamu sebenarnya pergi kemana? Kenapa waktu ada ibu ku, kamu malah pulang setelat itu, kenapa? Apa kamu sengaja menghindari aku, atau bagaimana?" Amran bertanya- tanya sendiri.
__ADS_1
" Kalau dia menghindar dari ku, itu tidak mungkin!" Gumamnya, dia termenung dalam seribu tanda tanya.
***