Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Berkat pak Ustadz


__ADS_3

"Salah bagaimana pak Ustadz?


Apa mencintai itu suatu kesalahan? Apa salah kalau saya mencintai Cempaka?" Yanto balik bertanya.


"Sebelum saya menjelaskan apa yang salah tentang cintamu itu, lebih baik kamu minum dulu air putih ini, biar hatimu sedikit tenang menerima semua penjelasan dari saya nanti" Dengan suara yang lembut, pak Ustadz menawarkan air putih yang telah di isi ayat-ayat ruqyah olehnya.


Tentu saja dengan tujuan supaya Yanto tidak keras hatinya, dan mau menerima nasihat darinya.


Tanpa membantah, Yanto pun menerima segelas air putih yang di sodorkan oleh pak Ustadz. Kemudian dia meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Kalau mencintai itu tidak salah! Asalkan mencintai yang seharusnya di cintai! Yaitu, anak dan istrimu. Jangan asal mencintai! Seperti anda sekarang ini, mencintai kepada orang yang salah. Itu akan menimbulkan bencana. Coba bayangkan! Tiga orang perempuan pasti akan tersakiti, apa kamu tidak berpikir ke arah sana? Tiga orang perempuan, akan menderita, dan mungkin mereka akan mengutuk mu, kau akan berdosa, apakah sanggup menanggung dosa dari menyakiti tiga hati perempuan sekaligus?" Tegur pak Ustadz, beliau mencoba menyelami hatinya Yanto yang sudah mulai kelihatan bimbang.


Yanto diam sesa'at, seperti yang sedang berpikir.


"Sekarang coba renungkan, seandainya anak perempuan mu itu ada yang mendekati, dan laki-laki itu sudah punya anak dan istri. Suka minum minuman keras, suka mabuk-mabukkan pula. Saya yakin pasti anda tidak akan merestuinya. Dan juga, saya sangat yakin sekali, anaknya juga tidak akan mau menerimanya. Nah! Sama seperti Cempaka sekarang ini, jelas kedua orangtuanya tidak akan merestuinya, dan Cempaka juga tidak akan mau menerima cintamu. Karena, cintamu salah sasaran!" Ujar pak Ustadz panjang lebar.


Beliau tidak memberi kesempatan berbicara kepada Yanto.


"Coba, pikirkan dengan baik, dengan hati dan kepala yang dingin. Apa benar semua yang saya ucapkan tadi? Kalau benar, segera kembali kepada anak istrimu. Dan, tinggalkan neng Cempaka! Cintailah yang seharusnya kau cintai! Yaitu, anak dan istrimu! Keluargamu!" Ujar pak Ustadz perlahan.


Sambil berkata, pak Ustadz terus saja berdo'a melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Memohon kepada Allah SWT, Dengan harapan, Yanto akan melembut dan terbuka hatinya.


"Kasihanilah istrimu, anakmu, orang tuamu dan juga dirimu sendiri! Karena, kalau kamu terus menerus egois dengan keinginanmu, berarti kamu tidak menyayangi anak dan istrimu, kamu juga tidak sayang sama dirimu sendiri. Lihat anak, istri dan orangtuamu!" Lanjut pak Ustadz lagi.


Yanto diam tak bersuara sedikitpun. Matanya menatap ke kejauhan, entah menatap apa? Dan, entah apa yang tengah di pikirkan nya.


Sekal - sekali dia menundukkan kepalanya, tak berkomentar sedikitpun.


"Bagaimana? Apa kau sayang sama anak dan istrimu?" Tanya pak Ustadz.


Yanto mengangguk perlahan.


"Bayangkan anak dan istrimu, bayangkan wajahnya, bayangkan waktu pertama kau bertemu dengan istrimu, waktu kau ingin mendapatkan cintanya, perhatiannya dan kasih sayangnya"


"Bayangkan waktu kau mengharapkan supaya dia mau menerimamu, sa'at kau ingin meminangnya, sa'at kau mengucapkan ijab Qabul di depan penghulu dan para saksi, keluarga dan tetangga serta kerabat mu. Terus bayangkan itu, bayangkan waktu kau tahu bahwa istrimu sedang hamil, mengandung benih cinta kalian berdua, lalu sembilan bulan kemudian istrimu melahirkan bayi mungil, sebagai seorang Ayah, kau pasti merasa bahagia" Pak Ustadz berhenti sebentar, dia ingin mengetahui reaksinya Yanto.


"Kau selalu menimangnya, menggendongnya, bayi mungil itu sangat lucu sekali. Makin hari bayi itu tumbuh menjadi anak kecil yang lucu dengan celotehannya. Setiap kau pulang kerja, anak dan istrimu pasti menjemputnya di depan rumahmu, memanggil papah dengan suara cadelnya. Ingat dan bayangkan semua itu! Tega kah kau akan menyakiti hatinya? Melukai perasaannya? Sanggupkah engkau mencabik-cabik dan mengoyak jiwa serta nuraninya?


Coba pikirkan kembali" Lembut sekali perkataannya pak Ustadz.


"Pikirkanlah, sebelum semuanya terlambat" Ujar pak Ustadz lagi.


"Bayangkan dan ingat, ibu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan, sepuluh hari.


Dengan susah payah beliau membawamu ke sana ke mari.


Bapakmu, mencari nafkah untuk menghidupimu. Apakah kau tega membuat mereka kecewa karena perlakuanmu? Pasti kau tidak akan tega" Pak Ustadz melanjutkan pembicaraannya.


Sedikit demi sedikit pak Ustadz memberikan nasihatnya.


Memberikan masukan yang sekiranya diperlukan, untuk membuat Yanto menyadari semua kesalahannya.


"Seorang suami adalah pemimpin bagi anak dan istrinya. Karena itu jadilah Imam


atau pemimpin yang baik, yang menjadi suri tauladan mereka yang kita pimpin. Menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan istrimu, juga lingkungan sekitar di mana kita tinggal" Sambung pak Ustadz lagi.


Sepertinya Yanto telah tersentuh hatinya, di dalam dua kelopak matanya nampak tergenang cairan bening, yang sepertinya sudah tidak bisa di tahan lagi, ingin menyeruak ke permukaan.


Akhirnya, satu demi satu titik bening itu luruh juga membasahi kedua belah pipinya.


Yanto menangis.


"Pak Ustadz" Bu Sekar nampak terkejut melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya itu.


"Biarkan saja,bu. Dia tengah mengingat dan membayangkan orang- orang yang mestinya dia sayangi, dan dia cintai" Ujar pak Ustadz tenang.


Beberapa sa'at Yanto berurai air mata. Dia kelihatannya tengah menyesali semua perbuatannya


selama ini.


Cempaka, bu Sekar dan pak Ustadz, menyaksikannya dengan saling tatap satu sama lain.


Rasa heran, kaget dan berjuta pertanyaan memenuhi benaknya Cempaka dan bu Sekar. Kalau pak Ustadz, mestinya sudah mengetahui dan memahaminya.


"Kenapa dia menangis? Apakah dia menangis itu menyesali perbuatannya, Ataukah menangis karena tidak bisa memiliki Cempaka yang jadi incarannya selama ini?" Cempaka membathin.


Cempaka masih ketakutan, takut Yanto tidak menerima nasihat dari pak Ustadz.


Takut marah dan berontak, untuk kemudian dia mengamuk seperti waktu - waktu yang lalu.


Perlahan Yanto mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk.


Dengan punggung tangannya, dia mengusap titik air mata yang terus-terusan luruh bercucuran.


Dia mengarahkan matanya ke arah Cempaka.

__ADS_1


Perlahan dia turun dari tempat duduknya, hingga dia duduk di lantai. Kedua belah tangannya dia tangkup kan di depan dadanya.


Cempaka mundur, dia masih ketakutan.


"Neng Cempaka, ma'afkan aku!"


Ucapnya perlahan dan tersendat-sendat.


Setelah itu, dia mendekati bu Sekar, tak di sangka dan tak di duga, dia merangkul kakinya bu Sekar sambil menangis dan memohon ma'af.


"Ma'afkan aku, ibu" Ucapnya, di lanjutkan dengan tangisan yang tersedu-sedu.


Yang menyaksikan peristiwa itu,


turut larut dalam keharuan.


"Iya sudah, saya ma'afkan. Sudah, sudah enggak usah menangis. Yang penting, jangan kau ulangi lagi sampai kapanpun juga, terus sayangi anak, istrimu dan juga seluruh keluargamu" Ujar bu Sekar lembut.


"Neng Cempaka, apakah kamu mau memaafkan aku?" Dia balik bertanya kepada Cempaka.


Sisa - sisa air mata masih membekas di sana.


"Iya, aku ma'afkan. Tapi, jangan kau ulangi lagi, walau kepada siapapun juga" Sahut Cempaka.


"Terimakasih Cempaka, ibu, dan juga terimakasih pak Ustadz" Ucapan terimakasih yang tulus keluar dari bibirnya Yanto.


"Sama-sama, Alhamdulillah ya Allah, Kau sudah mengabulkan segala do'aku" Cempaka mengucapkan syukur penuh bahagia. Karena, dirinya kini sudah terlepas dari yang ditakutinya.


"Alhamdulillah ya Allah, sama -sama nak Yanto. Jadikan ini pelajaran yang sangat berharga, Ucap bu Sekar.


"Sama-sama, syukur Alhamdulillah, Hidayah Allah telah tercurahkan kepadamu. Jaga dan pupuklah hidayah itu, genggamlah kuat-kuat supaya tidak terlepas kembali" Tutur pak Ustadz.


Hati kami semua merasa lega sa'at itu, seakan terlepas dari himpitan beban yang teramat sangat berat.


"Huuuh!" Cempaka menarik nafas lega. Serasa dunia kini tengah berpihak kepada dirinya.


Cempaka bahagia sekali, terlepas dari orang yang akan membuatnya menderita seumur hidupnya. Akan menghancurkan


jiwa dan perasaannya.


Terlepas dari sosok laki-laki yang akan menjadikan hidupnya hancur berantakan.


"Kalau begitu, saya mau pamitan dulu. Saya jadi teringat sama anak dan istri saya. Saya ingin segera memeluknya" Yanto pamitan.


"Oia silahkan! Silahkan! Mereka pasti sudah menunggumu sejak tadi" Cempaka menyambut gembira ucapannya Yanto.


Iya nak, pulanglah! Temui anak dan istrimu" Ujar pak Ustadz menguatkan.


"Saya pulang dulu, Assalamualaikum" Yanto berdiri sambil mengucapkan salam sebelum dia akhirnya beranjak meninggalkan rumahnya bu Sekar.


"Waalaikumsalam" Kami semua menjawabnya dengan perasaan senang dan bahagia.


Dia pun berlalu meninggalkan sang tuan rumah yang nampak begitu bahagia.


Semua yang ada di sana, bisa menarik nafas dengan lega.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ya Allah" Cempaka sampai sujud, saking senangnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu


bu, neng Cempaka. Karena semuanya sudah selesai" Ucap pak Ustadz.


"Iya pak Ustadz, terimakasih banyak atas semuanya. Karena pak Ustadz, dia jadi menyadari akan kesalahannya" Ujar bu Sekar.


"Terimakasih pak Ustadz, ma'af saya sudah merepotkan pak Ustadz" Ucap Cempaka.


"Sama sekali tidak merepotkan, itu sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim, mengingatkan dan menolong muslim yang lainnya.


Assalamualaikum" Ucap pak Ustadz berpamitan.


"Waalaikumsalam" Sahut Cempaka dan bu Sekar, dengan senyuman yang mengembang di bibir mereka.


"Akhirnya, aku lepas dari masalah yang rumit ini, bu" Cempaka nampak begitu bahagia.


"Ibu juga sama, anakku! Ibu sangat bahagia sekali. Seandainya, aah! Ibu tak kuasa untuk membayangkannya. Tapi, Alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai. Semoga dia tidak mengganggu kamu lagi ya nak ya" Bu Sekar memeluk Cempaka dengan penuh kasih sayang.


"Iya bu, terimakasih bu" Ucap Cempaka, balas memeluk ibunya


"Assalamualaikum" Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" Jawab bu Sekar dan Cempaka bersamaan.


Keduanya menoleh ke arah datangnya suara.


Suara seorang perempuan!


Suara Anyelir, adiknya Cempaka.

__ADS_1


"Kak Cempaka, enggak kerja?" Anyelir bertanya seperti yang keheranan.


"Anyelir, aku kerja malam. Ini baru pulang" Ujar Cempaka, wajahnya tak luput dari rasa kaget. Karena, sudah lama sekali dia tidak melihat adiknya itu.


"Kau, Anyelir. Apa kabar nak?" Sambut bu Sekar.


"Alhamdulillah, baik bu" Jawabnya.


"Uo!" Anyelir seperti yang mual mau muntah. Beberapa sa'at kemudian.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Cempaka segera menghampiri adiknya.


Cempaka panik melihat adiknya


seperti yang tengah sakit itu.


"Enggak apa-apa kak, bagaimana kabar kakak?" Anyelir balik bertanya dengan wajah bersemu kemerahan seperti yang menyimpan malu.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja" Sahut Cempaka. Dia menatap wajah adiknya, dia merasa heran dengan wajah adiknya yang bersemu merah.


"Sebenarnya kamu itu kenapa? Sepertinya kamu kurang sehat"


Cempaka mengerutkan keningnya, matanya menatap wajahnya Anyelir dengan keheranan.


"Enggak apa-apa, kakak" Sahut Anyelir lagi. Diapun lalu duduk di samping Kakaknya.


"Berapa bulan kita tidak bertemu? Sepertinya kamu betah banget tinggal di rumah neneknya Petir! Mentang-mentang sudah punya neneknya Petir, lupa sama kita" Cempaka berkelakar.


"Emh, hampir satu tahun ya kak!"Ujar Anyelir, candaan kakaknya membuat dia seperti yang gugup, serba salah.


"Hampir satu tahun itu dengan dirimu, nak! Kalau dengan ibu atau yang lainnya, dia sering bertemu. Karena, dua minggu sekali dia suka ke sini, di sa'at kamu tidak di rumah" Bathinnya bu Sekar.


Bu Sekar tidak bisa berkata apa-apa, dia diam saja sambil


menatap kedua anaknya.


"Selama hampir satu tahun itu, apa kamu tidak merasa canggung atau sungkan gitu? Itu kan bukan nenek kita, itu neneknya calon suamimu"


Cempaka bertanya heran


"Ya enggak apa-apa, kak. Beliau sangat baik sekali"…


"Uo!" Anyelir nampak seperti yang mual lagi.


"Sebenarnya, kamu itu sakit apa? Kok! Seperti yang mual mau muntah" Cempaka bertanya lagi.


"Mungkin masuk angin, kak!" Sahut Anyelir.


" Sudah minum obat, belum?" Tanya Cempaka, begitu perhatian kepada adiknya.


"Sudah kak" Sahut Anyelir.


"Syukurlah kalau begitu, mungkin obatnya belum bereaksi" Ujar Cempaka.


"Iya kak"'Sahut Cempaka .


"Semoga segera sembuh ya. Eh, kamu sepertinya agak kurusan, ya?" Cempaka memandangi tubuhnya Anyelir.


"Ah kakak ini, enggak kok! Aku tetap segini!'


"Ya sudah, mungkin mata kakak saja yang salah lihat" Cempaka tidak memperpanjang perkataannya.


"Huaah, Allahu Akbar. Aku ngantuk banget ini" Cempaka menguap saking ngantuk nya.


"Kakak tidur saja, biar nanti bangun sudah segeran" Ujar Anyelir menyuruh Cempaka untuk segera tidur. Soalnya ada suatu hal yang perlu di bicarakan kepada ibunya.


"Ibu aku mau tidur dulu, Anyelir, di tinggal dulu ya. Kakak ngantuk banget, Assalamualaikum" Cempaka beranjak meninggalkan ibu dan adiknya, menuju ke kamarnya.


"Waalaikumsalam, mimpi yang indah ya kak!" Anyelir berkelakar.


"Iya terimakasih" Sahut Cempaka.


Tentu saja hal ini membuat Anyelir senang. Karena, dia bebas mengutarakan semuanya, tanpa di ketahui oleh kakaknya yang hampir dua tahun yang lalu, di langkahinya dengan diam-diam.


Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Cempaka berlalu menuju ke kamarnya.


"Bu, kita pindah yu ngobrolnya"


Anyelir mengajak bu Sekar untuk tidak berbincang di sana.


Karena, ruang tamu dengan kamarnya Cempaka, jaraknya tidak terlalu jauh, dia takut pembicaraannya terdengar oleh kakaknya.


"Ayo nak! Ibu juga tidak tahu harus bicara apa seandainya kakakmu tahu, bahwa dirinya telah di langkahi oleh kamu secara diam-diam" Jawab bu Sekar berbisik.


Merekapun lalu pindah ke dapur, supaya agak jauh dari kamarnya Cempaka.


***

__ADS_1


__ADS_2