Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Ternyata di rumahnya besan


__ADS_3

Sudah satu minggu Anyelir dan Kenari tidak pulang ke rumah orang tuanya.


Terang saja membuat Cempaka bertanya- tanya. Juga membuat kesal kedua orangtuanya.


"Akhir-akhir ini, Anyelir jarang pulang ya bu?" Cempaka mencoba mengorek informasi tentang adiknya itu.


"Iya, dia jadi betah nginap di rumah neneknya Petir. Katanya sih, kasihan biar neneknya ada teman" Bu Sekar berbohong.


"Kalau kak Kenari kemana ya? Sudah satu minggu rumahnya di biarkan kosong begitu" Cempaka beralih menanyakan kakak sulungnya.


Walaupun dia tahu kalau Kenari itu kakak yang begitu membenci dirinya. Tapi, dia tetap menanyakannya, tetap peduli padanya.


"Kalau itu, ibu juga enggak tahu nak. Ibu juga merasa heran dengan ulah kakakmu itu. Seperti yang punya salah sama kita, dia menghilang begitu saja"


Bu Sekar sepertinya pusing dengan tingkah anak sulungnya itu.


" Ibu sudah mencarinya ke mana saja?" Tanya Cempaka lagi.


"Ke rumah nenekmu, ke rumah mertuanya Kenari, kalau ke rumah teman-temannya ibu tidak tahu alamatnya" Ujar bu Sekar.


"Apa tidak di cari ke rumahnya bu Tari, bu?" Cempaka punya usul.


"Siapa tahu mereka ada di sana"


Lanjut Cempaka.


"Eh, iya ya! Kenapa kita tidak kepikiran ke sana" Sumringah bu Sekar mengatakannya, karena menemukan celah pada keberadaan nya Kenari.


"Semoga saja Dia ada di sana! Bapak sudah tidak sabar ingin segera menemuinya, ada satu hal yang harus bapak tanyakan"


Pak Jati tak kalah geramnya.


"Bapak yakin Kenari ngumpet di rumahnya bu Tari" Waktu itu mereka baru saja selesai makan malam.


"Ibu juga curiganya ke sana pak. Soalnya, tidak mungkin bu Tari sekeluarga tidak mengetahuinya. Secara, banyak tamu undangan yang mereka tidak kenal, tapi datang ke pesta pernikahannya Anyelir dan Petir. Mereka tidak ada yang bertanya atau merasa heran lagi" Ujar bu Sekar yakin.


"Bertanya juga tidak, sama kita. Aneh! Seperti yang sudah tahu saja bahwa semua tamu-tamu itu mau datang ke sana" Ujar bu Sekar lagi, ngedumel.


"Bagaimana kalau kita besok ke sana bu? Besok kan hari minggu, bapak kan libur" Pak Jati memberi saran.


"Iya benar pak, ibu mau tahu bagaimana reaksinya besan kita sa'at kita tahu kelakuannya"


"Kenapa kita enggak tanya Kilat dan Seruni saja?" Ujar pak Jati. Rupanya dia baru menyadarinya kalau Seruni dan Kilat pernah nginap di sana.


"Oooh iya pak"


"Sebelum kita ke sana, kita cari tahu dulu" Ujar pak Jati.


"Seruni, Kilat kesini nak!" Bu Sekar memanggilnya.


"Iya bu, aku datang!" Jawab ke duanya.


"Waktu mau pulang dari rumahnya bu Tari, Seruni sama Kilat ketemu sama kak Kenari sama Cemara juga ya?" Tanya bu Sekar, setengah menjebaknya.


"Iya bu, waktu aku mau pulang, kak Kenari datang sama Cemara"Ujar Seruni polos.


"Bawa koper besar" Ujar Kilat juga menegaskan.


"Bu! Apa ku bilang? Ternyata anak sulung kita itu ngumpet di sana" Seru pak Jati kegirangan.


"Makasih ya nak, ayo sana belajar lagi! PR nya sudah di kerjakan belum?" Bu Sekar menyuruhnya untuk kembali mengerjakan tugas sekolahnya.


"Coba dari kemarin ya bu, kita tanya kedua anak itu, pasti kepala kita tidak akan mumet selama seminggu kemarin.


"Kalau langsung kita tanya, anak-anak itu enggak akan berkata jujur, pasti mereka sudah di wanti-wanti oleh besan dan anak kita, mereka pasti takut untuk mengatakannya"


"Iya juga ya. Alhamdulillah, sudah ada titik terang, tinggal kita temui saja ke sana. Jangan di kasih kesempatan dia mengelak lagi" Bu Sekar nampak gemas sama anak sulungnya itu.


"Besok pagi kita ke sana! Jangan bilang kalau kita tahu dari Kilat dan Seruni tentang keberadaan Kenari di sana. Kita pura-pura saja tidak tahu kalau dia ada di sana" Usul bu Sekar.


"Tentunya dong bu, kasihan anak-anak itu. Pasti Kenari marah besar kalau kita tahu dari mereka" Pak Jati setuju usulan dari istrinya.


Mereka sudah menemukan titik terang tentang keberadaannya Kenari, yaitu di rumahnya bu Tari, mertuanya Anyelir.


*


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bu Sekar dan pak Jati sudah bersiap-siap hendak berangkat ke rumahnya bu Tari.


"Cempaka, hari ini kamu enggak berangkat kuliah nak?" Sebelum berangkat, bu Sekar bertanya dulu.

__ADS_1


"Tidak bu, aku libur. Ada apa bu? Apa ibu mau ngajak aku ke rumahnya bu Tari?" Cempaka berharap ibunya mengajaknya.


"Kamu libur? Berarti? Sebentar, pak! Pak! Cempaka libur pak!" Seru bu Sekar seperti yang kaget.


" Cempaka libur?" Begitu juga dengan pak Jati.


"Kalau Cempaka di rumah bersama Kilat dan Anyelir, bisa - bisa pernikahannya Anyelir dan Petir bisa diketahui oleh Cempaka. Bisa terbongkar rahasia kita pak! Gawat ini pak!"


Bisik bu Sekar setelah dia berada di dekatnya.


" Jadi bagaimana ini? Jadi enggak kita berangkat ke rumahnya bu Tari?" Pak Jati bertanya cemas.


" Kalau tidak berangkat sekarang, takutnya Kenari pergi lagi mencari tempat persembunyian yang baru. Kalau kita berangkat sekarang, ibu takut Seruni dan Kilat keceplosan bicara, mereka masih polos, masih anak-anak. Jadi bagaimana pak?" Bu Sekar balik bertanya dengan masih berbisik.


Kedua suami - istri itu terdiam sejurus.


" Kenapa bu? Ada apa? Sepertinya ada yang di pikirkan?" Selidik Cempaka.


" Enggak apa-apa nak, emh gimana ya pak?" Makin bingung bu Sekar di buatnya.


" Bagaimana, ibu mau ngajak aku atau bagaimana?" Tanya Cempaka lagi.


" Emh, kalau kamu berangkat bersama ibu dan bapak, di rumah bagaimana? Enggak ada yang jagain adik-adikmu itu. Ibu khawatir mereka berantem" Sahut bu Sekar.


" Lalu? Yang membuat ibu bingung?"Desak Cempaka.


"Emh, ngajak kakakmu itu biar mau pulang bareng" Bu Sekar asal buka mulut.


"Ya sudah begini saja pak! Bagaimana kalau bapak saja yang berangkat ke rumahnya bu Tari. Biar ibu di sini sama anak-anak" Usul bu Sekar sejurus kemudian.


" Anak-anak kan bersama aku di sini bu, pak? InsyaAllah baik-baik saja. Kalau ibu sama bapak mau berangkat, enggak apa-apa, berangkat saja" Cempaka tidak curiga kalau kedua orangtuanya menyimpan sebuah rahasia besar.


"Oiya! Begini saja bu, benar seperti yang ibu katakan tadi. Bapak sendiri saja yang ke rumahnya bu Tari, biar pulangnya bisa bawa Kenari dan cucu kita sekalian bapak bonceng, iya benar bu!" Seru pak Jati setelah diam sejurus.


"Iya pak, ibu setuju! Kalau ibu ikut, Kenari sama cucu kita tidak akan bisa di ajak pulang sekalian. Iya bagus pak, biar ibu di rumah saja menunggu mereka " Satu ke khawatiran hilang sudah dari benaknya bu Sekar. Dia kini bisa tersenyum lebar, karena rahasia besarnya masih bisa di tutupi.


" Nah! Itu maksud bapak" Pak Jati juga tersenyum senang.


"Ya sudah, kalau begitu bapak berangkat sekarang ya" Pak Jati memakai jaket dan helmnya, bersiap hendak berangkat ke rumahnya pak Andro.


Setelah istri dan anak-anaknya mencium tangannya. Pak Jati menyalakan mesin motornya, beberapa menit kemudian motor yang di kendarai oleh pak Jati pun melaju perlahan meninggalkan halaman rumahnya, menuju ke rumah besannya untuk memastikan anak sulungnya berada di sana atau tidak.


Dia ingin anak sulungnya itu menyadari semua kesalahannya, meminta maaf, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.


*


Kira-kira satu jam di perjalanan,


pak Jati sudah sampai di jalan desa yang menuju ke rumahnya pak Andro.


Tinggal satu belokan di depan, maka sampailah ke rumah besannya.


Pak Jati mematikan mesin motornya, setelahnya dia sampai di pintu pagar halaman rumahnya sang besan.


Halaman rumahnya nampak lengang, Seperti tidak ada penghuninya.


"Kok sepi!" Gumam pak Jati.


"Lagi pada ke mana ya?" Gumamnya lagi sambil duduk di atas motor. Matanya mengitari seluruh sudut halaman, dia berharap ada orang yang keluar dari dalam rumah besannya itu.


"Cemara?" Matanya menangkap sosok anak kecil, dan dia memanggilnya.


Cemara kecil menoleh ke arah datangnya suara. Dia pun tersenyum setelah tahu siapa yang memanggilnya barusan.


"Cucu kakek" Pak Jati menggendongnya, lalu di bawa duduk di ujung teras depan.


Cemara tertawa-tawa kesenangan, di gendong dan di timang- timang oleh kakeknya.


"Assalamualaikum" Sambil menggendong cucunya, pak Jati mengucapkan salam. Berharap ada orang yang membalas salamnya, lalu membukakan pintu untuknya.


"Waalaikumsalam" Kenari menjawabnya perlahan. Dia hapal sekali kalau yang mengucapkan salam itu bapaknya.


"Bapak, bapak di depan" Seru Kenari menahan suaranya, supaya tidak terdengar oleh pak Jati yang berada di teras depan.


"Apa kak? Bapak di depan? Bapak datang ke sini?" Anyelir terlonjak kaget.


"Iya, itu lagi gendong Cemara" Serunya lagi, di tahan.


"Bagaimana ini? Aku takut kak"

__ADS_1


Anyelir meringis, dia mundur beberapa langkah.


"Ada apa ini?" Bu Tari merasa heran, melihat kedua kakak adik beradik itu bertingkah aneh.


"Ada bapak di depan" Bisik Anyelir dengan wajah yang ketakutan.


"Bapak? maksudnya pak Jati?" Bu Tari terkejut hingga memekik.


"Aduuuh, bagaimana ini? Gawat! Gawat! Ibu harus menjawab apa? Ibu malu, ibu takut kecurangan ibu terbongkar" Bu Tari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Assalamualaikum, Assalamualaikum!" Pak Jati mengucapkan salam kembali.


"Waalaikumsalam" Pak Andro menyahutnya Sambil ke luar dari kamarnya.


"Aduuh Ibu, itu ada tamu kok! Dibiarkan saja, ya di jawab dong salamnya, di bukain pintunya, di sambut tamunya, persilahkan duduk, di sapa, di jamu. Ini malah pada ngumpet. Kenapa sih?" Pak Andro menggerutu. Merasa tidak suka dengan sikap istrinya.


"Bapak, bapak tahu enggak siapa yang datang itu?" Bu Tari melototin matanya kepada suaminya.


"Memangnya siapa yang datang?" Pak Andro menghentikan langkahnya.


"Lihat saja ke depan sana! Pasti bapak akan terkejut! Atau mungkin seperti kita, bisa juga lebih dari kita"


Ujar bu Tari.


"Siapa sih yang datang? Bikin penasaran saja" Pak Andro melangkahkan kakinya ragu.


"Lihat saja sendiri! Biar lebih pasti" Bu Tari menyarankan.


"Bapak jadi ragu" Gumamnya.


" Siapa sih bu?"


" Jangan banyak nanya, sudah lihat saja sana ke depan!"


Dengan ragu, pak Andro melangkahkan kakinya perlahan. Di pintu yang menuju ke ruang tamu, dia berhenti. Dari sana dia bisa melihat dengan jelas orang yang berada di luar. Terutama di teras depan, nampak sangat jelas sekali.


"Pak Jati, bu!" Bisiknya sambil melirik kepada istrinya.


"Gawat ini buu! Mana Cemara di sana lagi, bapak belum sanggup untuk bertemu dan mengakui semua perbuatan kita tempo hari itu." Ternyata, pak Andro tidak lebih dari bu Tari, nyalinya ciut seketika setelah tahu siapa yang ada di teras depan rumahnya itu.


"Nah itu pak! Makanya ibu enggak berani menemuinya"


"Emh, bagaimana kalau Anyelir atau teh Kenari saja yang nemui! Kalian kan anak-anaknya" Usul pak Andro.


"Aku takut pak, aku kan yang salah, aku yang punya ide untuk mengundang semua Guru-guru dan rekan-rekannya bapak. Aku pula yang menyuruh Cempaka mengambil arsip data Guru-guru di ruang kerjanya bapak, tanpa sepengetahuan bapak. Aku membohongi Cempaka biar dia mau mengambil arsip itu" Kenari menciut, dia sangat ketakutan sekali.


"Kamu saja dek! Kamu kan enggak seperti kakak kesalahannya" Kenari malah menyuruh Anyelir untuk menemui bapaknya.


"Cepat! Anyelir" Kenari membentak adiknya.


"Lalu kakak mau ke mana? Mau ngumpet? Nanti kalau di tanyain sama bapak, aku harus bohong, gitu? Enggak kak! Aku enggak akan mau! Aku bukan kak Cempaka yang begitu mudahnya kakak kelabui, kakak bohongi! Kakak ini itu, aku enggak mau! Enak saja, dirinya sendiri yang bikin ulah, orang lain yang mesti tanggung jawab! Tidak semua adik-adikmu bisa kakak perdaya!"


Anyelir nyerocos mengutarakan kekesalan di hatinya.


Melihat dan mendengar adiknya berkata seperti itu, Kenari terkejut! Tak sedikitpun dia menyangka kalau adiknya itu akan berkata selancang dan se kasar itu. Mana di depan orangtuanya Petir lagi.


"Heh! Anyelir! Jaga bicaramu!"


Kenari membentaknya.


"Kenapa kakak mesti marah? Itu semua aku katakan apa adanya. Kakak itu egois! Mau menang sendiri walaupun salah juga! Kakak itu licik, jahat!" Ungkap Anyelir lagi.


"Cukup Anyelir! Kakak melakukan semua ini buat kamu! Kakak membodohi Cempaka itu semua buat kamu! Biar banyak tamu undangan yang datang ke pesta pernikahanmu! Biar banyak kadonya! Biar banyak menghasilkan uang dari para tamu undangan yang datang. Kakak sampai kabur-kaburan dari rumah, ngumpet di sini, itu semua demi kamu! Begini kah balasannya?" Bentak Kenari lagi tak mau kalah.


Kedua kakak beradik itu, sudah sama-sama tersulut emosi yang memuncak.


Keduanya sudah tidak mempedulikan lagi keadaan sekitar, di mana mereka berada sa'at itu.


Bu Tari dan pak Andro saling tatap kebingungan. Mereka sama sekali tidak bisa melerainya.


" Bu, ini bagaimana?" Pak Andro merasa keder, menyaksikan pertengkaran yang berlangsung di hadapan matanya.


Bu Tari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak bisa menjawab pertanyaan suaminya.


"Assalamualaikum" Pak Jati mengucapkan salam kembali dengan suara yang kencang. Dia berharap ada yang dapat mendengar suaranya.


Mendengar pak Jati mengucapkan salam kembali, Kenari dan Anyelir seketika menghentikan pertengkarannya.


Seketika semuanya terdiam tak ada yang bersuara.

__ADS_1


__ADS_2