Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kakek berlalu takut terbongkar rahasianya


__ADS_3

"Mana pengantin wanita nya?" Teriak mereka yang turut menyaksikan acara akad nikah itu.


"Iya, mana pengantin wanitanya? Keluarin! Jangan di umpetin saja!" Teriak yang lainnya pula.


"Ssssst! Kalau mau melihat pengantin wanitanya, jangan pada berisik!" Kenari menenangkan.


"Pasti cantik sekali dia, tidak dan-dan juga dia itu cantik" Ucap yang lainnya.


Semua menerka-nerka nya. Karena memang semestinya Cempaka itu haruslah cantik lebih dari biasanya. Karena semua orang di sekitar kampung itu mengetahui bahwa Cempaka adalah gadis yang paling cantik di sana.


"Neng Cempaka, ayo keluar neng! Temui suamimu karena sekarang kalian sudah resmi dan syah menjadi pasangan suami istri. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah warahmah" Pak Penghulu memanggil Cempaka yang sedari tadi duduk di balik tirai pintu yang ke ruang tamu.


"Iya pak" Sahut Cempaka, dengan senyuman manisnya dia keluar menuju ke ruang tamu, hendak menemui kedua orangtuanya dan juga Karmin yang kini telah menjadi suaminya.


"Masya Allah, cantiknya. Beruntung sekali dia yang menjadi suaminya" Begitu tirai di buka, semua mata menatap wajahnya Cempaka hingga tak berkedip saking terpesonanya.


"Ya Allah, laki-laki itu beruntung sekali bisa memiliki neng Cempaka. Buana, coba kalau kamu yang jadi suaminya"


Bibinya Buana seperti yang menyesali.


Dengan mata yang berlinang, Cempaka menangkupkan kedua tangannya dan dia arahkan ke seluruh orang yang berada di sana, dengan seulas senyuman di bibirnya yang indah.


Karmin menatap tak berkedip, dia sangat terpesona dengan kecantikannya Cempaka.


"Sayang sekali Cempaka yang sangat cantik itu mendapatkan jodoh yang tidak seimbang" Celetuk seseorang.


"Iya benar, kenapa neng Cempaka bisa mau sama dia ya? Aneh! Saya saja yang tidak cantik, enggak mau kalau di suruh menikah dengan nya"


Celetuk yang lainnya.


"Dia kan di jodohkan oleh Kenari" Bisik seorang perempuan yang rumahnya bersebelahan dengan Kenari.


"Astagfirullahaladzim, kok ! Tega ya menjodohkan adik secantik Cempaka


dengan laki - laki yang modelnya seperti itu. Mending kalau benar-benar sayang. Sepertinya dia itu laki-laki yang tidak benar" Celetuk yang lainnya.


"Kayak tidak tahu Kenari saja, dia kan punya rasa iri terhadap Cempaka. Waktu Cempaka mau di lamar oleh Buana, dia tidak mau kalau Cempaka mendapatkan jodohnya seorang polisi, karena dia dulu tidak kesampaian menikah dengan kakaknya Buana karena kakaknya Buana tidak suka dengan mulut pedasnya itu" Bibi nya Buana membeberkan kejadian waktu dulu, waktu Cempaka masih kecil.


"Mulut pedas gimana?"


"Itu, suka menghina dan merendahkan orang lain. Dia itu kan sombong sekali, jauh berbeda dengan kedua orangtuanya dan juga beda sekali dengan saudara - saudaranya"


"Ada ya kakak seperti itu?"


"Ya memang ada, itu buktinya"


"Bagaimana kesalnya bu Sekar dan pak Jati?"


"Sepertinya sudah tidak bisa di ucapkan lagi"


"Pernikahannya Cempaka sangat sederhana sekali, tidak seperti kakak - kakaknya dulu, semua Guru- guru di undang, seluruh warga dan semua kenalan pak Jati dan bu Sekar hadir di pesta pernikahan anaknya. Dari dua atau tiga minggu sebelum pesta, kerabat jauh sudah pada datang dengan hantarannya masing-masing. Tapi, pernikahannya Cempaka, sungguh sangat- sangat sangat sederhana sekali, kasihan dia seperti yang di anak tirikan" Gumam bi Ijah.


"Saya kira saya saja yang berpikiran begitu, memang benar kasihan sekali neng Cempaka, nasibnya tidak secantik wajahnya, tidak sebagus akhlaknya. Kenapa bisa begitu ya bi? Tidak ada background, tidak ada hiasan layaknya pesta pernikahan, tidak ada kursi pelaminan, tidak ada tamu undangan, tidak ada kado souvernir, bahkan Orangtuanya pengantin laki-laki juga tidak datang. Dia hanya datang sendirian, itu juga karena mengantarkan Kenari dan Cempaka yang pergi ke kampungnya Karmin"

__ADS_1


"Jadi? Kalau begitu si pengantin laki-laki itu seperti yang di jebak, niatnya hanya mau mengantarkan pulang, setelah sampai ke rumah, malah di suruh menikahi Cempaka. Aduh beruntung sekali tuh si Karmin!"


"Tapi, kalau di jebak, tidak mungkin dia sudah menyiapkan mahar, emas lima belas gram dan uang lima ratus ribu rupiah?" Sahut yang lainnya.


"Nah! Itu yang jadi tanda tanya buat kita, darimana coba uang dan perhiasan emas seberat itu? Dia kan ke sini hanya akan mengantarkan pulang saja, bukan mau menikahi Cempaka. Kan tadi saya dengar, kalau Karmin itu tidak bawa apa-apa. Tadi Kenari kan memaksa untuk meminjam cincinnya bu Sekar untuk maharnya. Tapi, bu Sekar tidak memberikannya" Bisik yang lainnya.


"Astagfirullahaladzim, sampai segitunya Kenari, ya Allah masa mahar minjam dari calon mertua?" Timpal yang lainnya.


"Sepertinya Kenari sengaja membuat aib buat keluarganya sendiri, terutama untuk Cempaka"


"Kasihan sekali Cempaka"


"Dan kasihan juga ibu dan bapaknya"


"Lalu, si kakek itu siapa? Kita semua tidak ada yang mengenalnya, tiba - tiba dia ada di tengah-tengah kita. Saya rasa ada seseorang yang mengundangnya"


"Iya, tapi siapa ya yang kenal dan mengundang kakek itu?"


"Entahlah, yang saya heran kan kenapa Cempaka, bu Sekar dan pak Jati serta kita semua mau menuruti semua ucapannya? Sebelumnya kan Cempaka tidak mau menikah dengan si Karmin itu. Tetapi, setelah si kakek itu berkata dan mengelus kepalanya Cempaka, dia langsung nurut kan?"


"Iya benar juga itu. Berarti neng Cempaka menikah nya dengan si Karmin itu bukan kehendak nya sendiri. Tapi, karena adanya pengaruh dari si Kakek tua itu. Ya Allah, malang benar nasibmu cantik" Bi Ijah menyimpulkan.


Tanggapan orang-orang yang berada di sana bermacam-macam.


Setelah menyapa semua yang hadir dengan senyumannya, Cempaka beralih menghampiri ibunya tercinta.


"Ibu, aku minta do'a dan restu mu" Cempaka bersimpuh di pangkuan bu Sekar, perasaan sedih tiba-tiba menyeruak dari dalam dadanya Cempaka.


"Iya nak, ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk mu" Di usapnya kepala Cempaka dengan kasih, perasaan sedih pun mulai merayapi hati sanubarinya bu Sekar, hingga tak terasa tetes air matanya jatuh di atas kerudung yang menutupi kepalanya Cempaka.


Semua orang yang hadir di sana, yang menantikan kehadiran nya Cempaka karena ingin menatap wajahnya yang cantik jelita itu, semua ikut larut dalam suasana haru.


Namun, yang berceloteh tentang pernikahan Cempaka yang tidak seperti biasanya itu masih mengiang samar-samar di telinga.


Setelah beberapa saat Cempaka larut dalam pelukan sang bunda. Diapun beralih ke pangkuannya sang bapak, memohon ma'af dan meminta do'a restu.


Suasana haru pun terjadi lagi di sini, di pelukan bapaknya. Cempaka menangis meratap, seakan-akan ada sesuatu yang sangat membuat hatinya sedih.


Namun, entah apa?


Setelah sungkem kepada kedua orangtuanya, Cempaka sungkem juga kepada neneknya, karena sang kakek sudah tiada.


Lalu, ke bibinya dan saudara- saudaranya.


"Neng, ma'afkan bibi, karena tidak bisa mencegahnya" Bi Nani begitu nampak sangat sedih sekali. Dari sekian orang yang hadir, rupanya hanya bi Nani yang tidak terkena hipnotis nya si kakek misterius itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menangis dan menyesalinya.


Seperti yang tahu kebenarannya akan segera terbongkar, si kakek misterius itu berpamitan kepada semua orang yang berada di sana.


"Karena acaranya sudah selesai


sepasang pengantin sudah resmi menikah, sudah syah jadi suami-istri, maka saya akan pamit sekarang juga" Ujarnya sambil berdiri.


"Nanti dulu, kek. Makan dulu hidangan yang telah kami sediakan, tidak usah terburu-buru" Bu Sekar mencoba untuk menghalangi langkahnya si kakek itu.

__ADS_1


"Tidak perlu, saya haturkan banyak terimakasih. Namun saya harus pergi sekarang juga"


Ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar.


"Kakek, tunggu sebentar" Panggil pak Ustadz.


"Ma'af, saya tidak bisa karena saya sudah pamitan, pantang


bagi saya kalau sudah pamitan


lalu kembali duduk lagi" Ujarnya tanpa menoleh sedikitpun.


Pak Jati menyusulnya, namun dia tetap tidak mau menahan langkahnya walaupun hanya sedetik saja.


Dengan perasaan kecewa karena tidak bisa menjamu si kakek, bu Sekar segera mengambil hidangan yang telah dia siapkan, lalu dia menyusul untuk di berikan nya kepada si kakek itu. Namun tetap si kakek tidak mau menerimanya.


Si Kakek tua itu pergi meninggalkan rumahnya bu Sekar, tanpa menoleh kembali.


Tinggallah orang-orang yang merasa kebingungan dengan sikapnya.


Tak seorangpun yang tahu siapa dia sebenarnya, kecuali Kenari seorang.


"Akhirnya waktu kehancuran nasibmu sudah datang, Cempaka" Gumamnya.


Si Kakek tua itu dengan langkah yang masih tegap berlalu meninggalkan rumahnya bu Sekar.


Semua mata menatap punggungnya hingga hilang di telan tikungan jalan.


"Siapa Kakek tua itu, kak?" Tanya bi Nani kepada bu Sekar.


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia ada di sini" Sahut bu Sekar bingung.


"Sepertinya Kakek itu bukan warga di sekitar Kampung kita ini. Dia sepertinya orang jauh, kita baru kali ini bertemu dengannya, tapi sepertinya ada suatu yang lain darinya, seperti suatu kekuatan yang tidak di miliki oleh orang biasa" Ujar pak Ustadz menerka-nerka.


"Iya benar itu pak Ustadz. Neng Cempaka asalnya kan tidak mau menikah dengan si Karmin itu. Tapi, setelah di usap kepalanya dan di ajak bicara jadi langsung mau" Ujar seorang tetangga yang dari tadi sudah membicarakan hal itu bersama bi Ijah.


"Iya pak Ustadz, benar itu" Bi Nani setuju.


"Sudah! Sudah! Jangan su'udzon, jangan berburuk sangka, itu tidak baik. Sekarang lihatlah semua masalah telah selesai berkat adanya Kakek itu.


Sekarang tidak perlu mendebatkan hal yang tidak penting! Lihatlah, sepertinya mempelai wanitanya belum cium tangannya mempelai pria, betul enggak?" Kenari segera mengubah topik pembicaraan.


Semua diam, hanya saling tatap satu dengan yang lainnya.


"Jangankan mencium tangan suaminya, mendekat juga tidak. Iya kan? Tuh buktinya dia masih menjauh dari suaminya" Ujar Kenari lagi menegaskan.


"Iya benar" Salah seorang menyahutnya.


Semua mata beralih menatap Cempaka yang duduk di samping kedua orangtuanya.


Tatapan mata itu seolah-olah menyuruh Cempaka untuk mendekati Karmin, yang kini telah menjadi suaminya yang syah. Walaupun tidak tahu akan kebenarannya.


Karena maharnya juga belum tahu dari mana asal muasalnya.

__ADS_1


Sang mempelai wanita belum mengetahui yang sebenarnya, begitu juga dengan semua orang yang berada di sana.


***


__ADS_2