Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Pergi dengan terpaksa


__ADS_3

"Karmin?Kok sudah ada di sini?" Pak Jati terkejut sa'at Karmin mau cium tangannya.


Waktu itu pak Jati baru saja masuk ke teras Masjid hendak shalat subuh berjamaah.


"Iya pak" Sahut Karmin.


" Lewat mana keluarnya?" Kilat bertanya heran.


"Lewat jendela kamar, karena enggak tahu nyimpan kunci pintu rumahnya di mana, mau membangunkan takut nge ganggu" Karmin memberikan alasan seperti yang di ucapkan oleh Kenari.


"Iya sudah, ayo! Itu sudah komat"


Pak Jati menengahi.


*


Dengan sangat terpaksa dan sangat berat hati, akhirnya Cempaka ikut juga ke kampung halamannya Karmin.


Dengan air mata yang tak henti berderai, Seruni mengantarkan Cempaka hingga masuk ke mobil yang akan membawanya pergi ke Indramayu.


"Cempaka pergi dulu, bu, pak!" Ujar Cempaka dengan dada yang menyesak.


"Iya nak, hati-hati di sana ya" Bu Sekar dan pak Jati memeluknya, sebelum Cempaka masuk ke dalam mobil.


"Kakak, jangan pergi!" Seruni berteriak histeris, memeluk Cempaka dengan sangat erat.


Dia menangis meraung-raung seakan mau di tinggalkan untuk selamanya saja. Bu Sekar dan pak Jati sampai kewalahan menenangkannya.


"Seruni! Kenapa sih?" Kenari menarik paksa tangannya Seruni hingga badan kecilnya Seruni terjengkang.


"Kakak!" Cempaka tak suka melihat adik kesayangannya di perlakukan seperti itu.


Dia segera meraih badan Seruni yang terjengkang.


"Kenari!" Bu Sekar dan pak Jati pun tak tinggal diam, melihat anak bungsunya di perlakukan kasar oleh Kenari.


"Kamu itu kenapa sih? Sama anak kecil kok! Kasar begitu!" Lanjut pak Jati, kesal.


Kenari terdiam, matanya mendelik ke arah Cempaka dan Seruni.


"Makanya kalau mau pergi, ya pergi saja gak usah banyak ini- itu, pamit sana pamit sini banyak gaya, jadi adik kesayanganmu itu nangis kejer kaya di tinggalin mati saja" Ujar Kenari menggerutu.


"Bisa enggak kalau ngomong enggak asal ceplak? Kamu itu sudah dewasa sudah bukan anak-anak lagi, ngomong enggak di pikir dulu!" Bentak bu Sekar.


"Seruni sayang, kakak pergi dulu ya. Enggak akan lama, kok! Nanti juga kakak akan sering berkunjung ke sini, nanti kita ketemu lagi ya, kita main lagi bersama, jadi tidak usah sedih ya, sini peluk dulu, jangan nangis kayak tadi ya, kakak enggak ke mana-mana, InsyaAllah kita ketemu lagi" Dengan lembutnya Cempaka menenangkan adik bungsunya itu, dia memeluk dan mencium Seruni penuh kasih sayang.


"Tuh! Lihat! Begitu kalau memperlakukan anak kecil, adikmu saja bisa berlaku lembut walaupun dia belum punya anak. Ini, sudah punya anak, tapi kelakuan kasar enggak ada keibuan sama sekali!" Ujar bu Sekar sambil menunjukkan kelembutan Cempaka kepada Kenari.


"Iya, iya, semua yang di lakukan oleh si Jomblo itu selalu benar di mata bapak dan ibu. Kalau perlakuan aku, walau benar juga selalu salah di mata bapak dan ibu" Kenari tidak suka mendengar perkataannya bu Sekar.


Semua orang yang berada di sana, saling tatap tak mengerti dengan sikapnya Kenari.


"Astagfirullahaladzim, mbak! Memang neng Cempaka itu benar, dia lembut memperlakukan adiknya, beda dengan yang di lakukan oleh mbak tadi, semua orang juga menyaksikan nya" Mbak Siti ikut nimbrung karena merasa kesal.

__ADS_1


"Jauh sekali dengan kelakuan adiknya, sudah cantik, baik, berhijab, lembut lagi sikapnya. Karmin ini sungguh sangat beruntung sekali" Gumam mbak Siti, matanya tak lepas menatap wajahnya Cempaka.


"Sekarang kakak sudah boleh kan masuk ke dalam mobil?" Tanya Cempaka lagi, dia longgarkan pelukannya.


Seruni mengangguk perlahan.


"Tapi, nanti janji ya kakak ke sini lagi"


Ujarnya , jari kelingkingnya di julurkan kepada Cempaka. Dengan senyum yang di paksakan, Cempaka pun menerima jari kelingking itu, lalu saling di taut kan.


"Kakak janji akan ke sini lagi secepatnya!" Seru Cempaka dan Seruni.


Mereka pelukan lagi,.dan Cempaka pun masuk ke dalam mobil setelah pelukan adiknya di lepaskan.


"Huh! Banyak gaya, sana pergi jangan balik lagi!" Ujar Kenari mendengus kasar.


"Dadah kakak!" Teriak Seruni dan Kilat sambil melambaikan tangannya.


"Ini lagi, kamu juga ikut sedih dengan


Kepergiannya si Cempaka?" Telunjuknya Kenari di tempelkan nya ke jidatnya Kilat sambil sedikit di dorong. Membuat Kilat mundur beberapa langkah, untungnya tidak sampai jatuh.


"Aduh! Kak Kenari jahat!" Teriak Kilat dengan mata melotot kepada Kenari.


"Astagfirullahaladzim, ya Allah" Bu Sekar mengusap dadanya sambil geleng-geleng kepala.


"Ya sudah, biar tidak terus-menerus terjadi Keributan, aku berangkat dulu ya, mari semuanya Assalamualaikum"


Cempaka berteriak dari dalam mobil yang belum di tutup pintunya.


"Iya mbak" Sahut Cempaka.


"Kakak tutup pintunya, ya. Assalamualaikum cantik, Assalamualaikum ganteng, kakak berangkat dulu, ya. Jangan suka berantem ya, belajar dan Sekolah yang rajin biar jadi orang sukses!" Ujar Cempaka kepada kedua adiknya.


"Iya kak, hati-hati ya kak, segera kembali ya kakakku yang cantik dan baik, Waalaikumsalam" Sahut Seruni dan Kilat sambil melambaikan kedua tangannya.


"Bu, pak, aku berangkat dulu Assalamualaikum. Ibu dan bapak sehat selalu, ya!" Ujar Cempaka.


"Iya nak, di sana kamu hati-hati ya, mbak, mas, juga Karmin, ibu dan bapak nitip Cempaka ya, Waalaikumsalam" Pak Jati dan bu Sekar tak mampu menahan air matanya.


"Iya bu, pak InsyaAllah kami akan menjaganya" Sahut mbak Siti.


"Assalamualaikum semuanya, dadah!" Ujar Anyelir dan Bunga yang ikut mengantarkan Cempaka. Sedangkan Kenari, enggak tahu kenapa dia tidak mau mengantarkan pindahannya Cempaka.


Pak Jati dan bu Sekar tidak ikut serta mengantarkan Cempaka, karena mereka sudah tua dan takut tidak kuat di jalan karena perjalanan yang jauh.


Pak Sopir pun menjalankan mobilnya dengan perlahan-lahan, memberikan kesempatan kepada Cempaka dan keluarganya untuk saling melambaikan tangannya.


"Dadah kak Cempaka! Cepat kembali!" Teriak Kilat dan Seruni sambil tak henti melambaikan tangannya.


Pak Jati dan bu Sekar pun melambaikan tangannya sambil berlinang air mata.


Makin lama, mobilpun makin kencang melaju meninggalkan keluarganya bu Sekar.

__ADS_1


Cempaka mengusap sisa air mata di pipinya. Dia tak menyangka akan pergi dari rumahnya bersama pria yang tidak dia cintai sama sekali.


Angannya untuk hidup bersama Rendy sang Polisi militer yang ganteng dan berpangkat letnan dua itu, pupus sudah, hancur sudah hingga berkeping-keping.


Dan, serpihan-serpihannya itu terbang di tiup angin, melayang bebas di udara. Yang tersisa hanya sekeping hati yang luka, merana.


"Cempaka sepertinya sangat sedih sekali, kasihan dia" Bunga berbisik kepada Anyelir yang duduk di sampingnya.


"Iya, kasihan sekali. Sayangnya aku tidak bisa menolongnya" Sahut Anyelir.


"Saya juga merasa kasihan sekali, kalau seandainya saya tahu neng Cempaka nikahnya di paksa oleh kakak sulungnya, pasti saya akan menghentikannya. Sayangnya Karmin tidak ke rumah saya waktu itu, dan selama seminggu saya tidak ketemu Karmin, saya tidak tahu kalau dia berangkat ke Bandung. Tahu-tahu dia datang ke rumah kemarin, minta di anterin untuk jemput neng Cempaka" Rupanya mbak Siti mendengar percakapan nya Bunga dan Anyelir.


"Terus terang saya kaget luar biasa waktu tahu kalau Karmin sudah menikah dengan neng Cempaka. Dan, semakin terkejut sa'at bertemu dan melihat wajahnya neng Cempaka yang sangat tidak sepadan harus menikah dengan Karmin, bagaikan langit dan bumi" Ujar mbak Siti lagi.


Bunga dan Anyelir tersenyum simpul.


Sedangkan Cempaka, tak bergeming sedikitpun, dia diam dalam lamunannya.


Angannya melayang, mencari Rendy


sang pujaan hati.


Genangan air yang hangat berdesakan di kelopak matanya, dia menahannya dengan sekuat tenaga supaya bulir-bulir bening itu tidak luruh di pipinya, dan berakhir di atas pangkuannya.


Namun, buliran air yang hangat itu memaksanya untuk luruh. Hingga Cempaka tak dapat menahannya.


Buliran bening itu menetes satu persatu di atas pangkuannya.


Cempaka menangis sendu.


"Neng, kau menangis?" Mbak Siti yang duduk tak jauh dari Cempaka bertanya dengan lembut.


Cempaka menggelengkan kepalanya, dia tak mampu berucap Karena tenggorokannya terasa tersekat.


"Neng Cempaka, kalau merasa terpaksa tidak apa-apa terus terang saja. Dan, Karmin juga harus menerima semua keputusan Neng Cempaka dengan lapang dada" Ujar mas Kunto, dia merasa iba melihat Cempaka menangisi nasibnya.


"Iya neng, mbak juga tidak suka dengan kelakuannya Karmin begitu"


Lanjut mbak Siti.


Karmin mendelikan matanya kepada mbak Siti dan juga kepada suaminya.


"Mung... Kin... Ini... Su... Sudah takdirku uhk! Uhk! Uhk!" Cempaka menyahutnya dengan terputus-putus dan di akhiri dengan isakan.


"Sabar ya sayang, kau memang gadis yang baik dan solehah" Mbak Siti memeluknya, diapun menitikkan air mata haru.


Begitu pula dengan Bunga dan Anyelir, mereka pun tak luput dari perasaan sedih yang menyesak di dadanya.


Suasana jadi hening, hanya isak tangis yang sesekali terdengar lirih.


Pak Sopir menarik nafas panjang lalu mendenguskan nya secara kasar. Netranya mendelik kepada Karmin yang duduk di sampingnya, seperti merasa kesal kepadanya.


Karmin tak berkomentar, dia pura-pura tidak melihatnya. Di dalam benaknya hanya ingin segera sampai ke rumahnya wak Iyem, dia ingin segera menghabiskan waktunya berdua bersama Cempaka.

__ADS_1


******


__ADS_2