Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Pindah kerja


__ADS_3

Beberapa bulan setelah Cempaka gagal bertunangan dengan Amran, suatu hari ada pengumuman di Perusahaan tempatnya bekerja.


"Ini ada pengumuman apa, teh?"


Waktu itu Cempaka baru saja tiba di sana. Dari jauh sudah terlihat banyak orang berkerumun di samping pos satpam.


" Kita mau di bubarkan, teh" Sahut seorang perempuan yang berada tepat di sampingnya.


"Di bubarkan bagaimana?" Cempaka nampak kaget mendengarnya.


"Katanya perusahaan ini mengalami kerugian yang tidak sedikit. Perusahaan ini bangkrut, jadi karyawannya mau di bubarkan" Gumam teman baikku, sedih.


..'


"Berarti kita harus keliling lagi, nyari - nyari lagi lowongan. Sedih aku, lagi-lagi sial" Gumam


Maya, teman satu ruangan.


"Ya, begitulah kalau mau dapat uang lagi. Aku juga harus langsung beraksi lagi, tidak boleh di tunda ini. Uang kuliahku bagaimana? Kalau aku enggak kerja" Ujar Cempaka resah.


"Mau bagaimana lagi? Sebagai kuli, ya harus terima saja bagaimana keinginan bos, kalau si bos mau terusin perusahaannya, ya kita syukuri. Kalau mau bubar, ya harus di terima juga" Rusdi berkata pasrah.


"Mulai kapan pembubarannya?"


Ridwan yang dari tadi diam saja, mulai angkat bicara, rasa - rasanya seperti menantang.


"Sepertinya, kamu nantang ya?"


Rusdi menatap ke arah Ridwan.


Ridwan hanya tersenyum penuh arti.


"Sepertinya kang Ridwan sudah punya batu loncatan ya! Ikutan dong!" Ujar Maya.


"Enggak juga, saya hanya ingin uang pesangonnya, buat modal.


Saya enggak akan kerja lagi, mau buka usaha sendiri" Ujar kang Ridwan mantap.


"Wow, keren! Kang Ridwan keren, mau buka usaha apa kang? Boleh ikutan dong" Cempaka penasaran.


"Mau buka usaha sablon, kalau mau ikutan, boleh saja" Sahut kang Ridwan sambil tersenyum.


"Upahnya umr enggak?" Seloroh Cempaka.


"Tentunya dong, malahan bisa lebih dari umr!" Ujar kang Ridwan.


"Benarkah itu?" Tanya Rusdi sambil mendekati kang Ridwan. Sepertinya dia mulai tertarik.


"Kalau kita buka usaha sendiri, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari yang kita dapatkan, yaitu umr"


Ujar kang Ridwan.


" Kalau begitu, saya mau dong ikutan usaha dengan mu. Siapa tahu usahanya lancar jaya" Ujar Rusdi semangat.


"Tet! Tet !Tet!" Bel tanda masuk kerja terdengar berbunyi dengan sangat nyaring.


"Bubar! Bubar!" Seru Cempaka. Dia pun segera bergegas menuju ke ruangannya.


"Selamat pagi semuanya" Sapa Cempaka dengan riang, setelah dia berada di ambang pintu ruang kerjanya.


"Selamat pagi Cempaka" Yang berada di sana menyambutnya juga dengan riang.


"Sapaan hangat dari Cempaka yang cantik itu, tidak akan aku dapatkan kalau aku tidak satu tempat kerja dengannya" Gumam Indah, sahabatnya.


"Iya benar itu, In! Di sini juga hanya dia yang cantik dan ramah itu, bisa kangen kita" Ujar


Restu.


"Ngomong apa kalian ini?" Ujar Cempaka sambil duduk di depan meja kerjanya.


*


Dari mulai jam delapan lebih dua puluh menit, satu persatu karyawan yang bekerja di sana, di panggilnya ke ruangan Personalia.


Satu persatu juga dari kami, keluar dengan membawa sepucuk surat rekomendasi dan tentunya uang pesangonnya juga. Begitu pula dengan Cempaka, dia pun sama seperti yang lainnya.


"Cempaka! Tunggu!" Indah memanggilnya sambil berlari terengah-engah.


"Ada apa, Indah?" Cempaka bertanya agak lemas.


"Kamu mau nyari kerja ke mana lagi? Bareng aku yu!" Ucap Indah, setelahnya dia berada di hadapannya.


"Entahlah! Aku bingung. Apa kamu sudah ada yang di tuju?"


Cempaka balik bertanya.


"Di sana ada satu Perusahaan yang sedang menerima karyawan baru, bagaimana kalau besok kita ke sana! Untuk melamarnya, siapa tahu kita keterima jadi karyawan di sana!" Ujar Indah penuh dengan semangat.


"Boleh juga itu, siapa tahu kita keterima" Cempaka pun sangat menyetujuinya.


"Sampai besok ya, Indah!" Ujar Cempaka, setelah mereka berada di kelokan jalan.


"Mampir dulu yu!" Ajak Indah, yang rumahnya terletak beberapa meter saja dari tikungan jalan.


Sedangkan rumahnya Cempaka masih harus masuk gang terlebih dahulu.


"Terimakasih, aku ingin cepat sampai di rumah. Ingin segera menyiapkan berkas lamaran untuk besok!" Sahutnya.


"Bersemangat sekali rupanya" Seloroh Indah sambil tersenyum.


"Harus itu, mungpung masih kuat! Kalau sudah renta, mana bisa kerja?" Balas Cempaka.


"Semangat!" Seru Indah, dengan

__ADS_1


mengangkat tangan kanannya.


"Assalamualaikum! Aku pulang dulu ya!" Sahut Cempaka sambil berlalu meninggalkan temannya.


"Waalaikumsalam, hati - hati!" Ujar Indah, diapun berlalu menuju ke halaman rumahnya.


"Assalamualaikum, bu, aku pulang, bu!" Cempaka mengucapkan salam setelah dia berada di teras samping rumahnya.


"Waalaikumsalam, kau sudah pulang? Kenapa?" Bu Sekar nampak terkejut melihat anaknya sudah pulang ke rumah, sebelum waktunya.


"Kenapa kesialan terus-terusan menemuiku?" Cempaka duduk di lantai dengan menyenderkan punggungnya ke dinding. Tak lupa dia selonjor kan kakinya, membuang penat di tubuhnya.


"Kesialan apa? Kok! Bicaranya ngelantur begitu" Bu Sekar duduk di hadapan anaknya.


"Aku di keluarin dari tempat kerja ku, bu" Ujar Cempaka galau.


"Kenapa bisa?" Bu Sekar kaget.


"Bisa, bu. Ini buktinya" Cempaka menyodorkan dua buah amplop. Satu amplop surat rekomendasi, dan yang satunya lagi, uang pesangon.


Bu Sekar mengambil kedua amplop itu. Dia kemudian membukanya satu persatu.


"Ini bagaimana, nak?" Bu Sekar bertanya heran.


"Perusahaannya mengalami kebangkrutan, bu. Jadi semua karyawannya di bubarkan, bu. Dan, katanya pabriknya juga mau di jual" Ujar Cempaka.


"Tapi, bu. Besok aku mau nyari kerja lagi bareng temanku. Kata temanku, di dekat-dekat sini ada Perusahaan yang tengah menerima karyawan baru, semoga saja kami di terima, do'akan ya bu" Lanjut Cempaka.


"Enggak istirahat saja dulu , nak! Ibu khawatir kamu nanti cape, masa sekarang di phk, besok langsung nyari kerja lagi"


Ujar bu Sekar.


"Enggak apa-apa bu, kalau diam dulu di rumah suka males. Mumpung lagi semangat dan ada teman yang sama-sama semangat, bu" Sahut Cempaka.


"Baiklah kalau begitu, tuh! Ibu masak sayur kesukaanmu. Ayo kita makan dulu! Ibu juga lapar"


Ajak bu Sekar sambil bangun dari tempat duduknya.


"Ok, ibuku sayang, muah" Cempaka mengecup pipi ibunya.


Kedua anak beranak itu berjalan menuju ke ruang makan.


*


Keesokan harinya, dari jam enam pagi, Cempaka sudah bersiap-siap untuk berangkat.


"Anak ibu sudah mau berangkat lagi. Jadi nyari kerja lagi? Enggak mau istirahat dulu?" Goda bu Sekar.


"Iya bu, kasihan Indah nungguin"


" Memangnya Cempaka mau kemana gitu? Kan, biasa berangkat kerja" Pak Jati bertanya heran.


"Iya pak, aku mau berangkat kerja" Cempaka berusaha tidak mengatakan yang sebenarnya, kalau dia kini sudah di phk.


"Seruni dan Kilat sudah berangkat, bu?" Tanya Cempaka sambil menyendok nasi.


"Sudah, waktu kamu jemur baju, di atas"


"Ooh, eh, bu. Kok Anyelir sudah lama enggak pulang-pulang ya, bu! Betah banget dia tinggal di neneknya Petir" Ujar Cempaka di sela-sela suapannya.


"Ohok! Ohok!" Seketika bu Sekar tersedak tenggorokannya, mendengar Cempaka bertanya tentang Anyelir.


"Ibu kenapa, bu?" Cempaka kaget, segera dia mengambilkan air hangat, untuk di berikan kepada ibunya yang tiba-tiba tersedak.


"Ohok! Ohok! enggak apa-apa, nak!" Bu Sekar mencoba untuk menyembunyikan yang sebenarnya.


"Pelan - pelan makannya!" Ujar pak Jati, mengingatkan.


Di minumnya air hangat yang disodorkan oleh Cempaka. Dalam hati, bu Sekar merasa bersalah karena telah menyembunyikan kebenaran tentang Anyelir.


"Bagaimana,bu? Sudah agak baikan sekarang?" Cempaka masih khawatir.


" Ibu tidak apa-apa, cuma tersedak saja. Emh, kamu mau berangkat jam berapa?" Bu Sekar mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau ibu tidak apa-apa. Aku mau berangkat sebentar lagi"


Setelah membereskan piring bekas makan, Cempaka segera berpamitan kepada kedua orangtuanya.


Dia mencium tangan kedua orangtuanya dengan khidmat.


"Aku berangkat dulu, bu, pak, Assalamualaikum" Ucapnya.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya nak!" Bu Sekar mengantarnya hingga ke teras depan rumahnya.


Di pandangi nya punggung Cempaka, hingga menghilang ditelan kelokan jalan.


"Assalamualaikum, sudah lama menunggu?" Sapa Cempaka, setelah melihat Indah sudah berdiri di depan rumahnya.


"Waalaikumsalam, baru lima menit. Kalau sepuluh menit kau tak muncul, kutinggalkan saja. Biar aku berangkat sendiri!" Ujar Indah, pura - pura marah.


"Ayo, jadi enggak kita berangkat nya?" Cempaka balik bertanya.


"Ayo! Kita berangkat sekarang!"


Indah menggandeng tangannya Cempaka, kemudian membawanya pergi dari tempat itu.


Cempaka nurut saja, dia tidak menolaknya.


Hanya lima menit berjalan, mereka pun sudah sampai di tempat yang di tuju.


"Ini, yang kamu maksud?" Tanya Cempaka. Tangannya mengarah ke pintu gerbang yang ada tempelan kertas pengumuman.


"Iya ini, ayo! Keburu banyak yang datang" Indah menarik tangan Cempaka kembali, untuk di ajaknya menuju ke pos satpam.

__ADS_1


"Ini, kan pabrik textile. Biasanya di ship kerjanya, In" Cempaka meyakinkan Indah.


"Iya, pabrik textile. Lalu, kenapa memangnya?" Indah balik bertanya kepada Cempaka.


"Kerjanya kan di ship!" Cempaka


meyakinkan Indah kembali.


"Kita coba saja dulu! Di ship itu bagaimana nanti saja! Rumah kita dekat ini" Ujar Indah.


"Emh, kalau begitu, bolehlah kita coba saja! Siapa tahu kerjaannya tidak begitu berat" Akhirnya Cempaka menyetujuinya.


"Baiklah, ayo! Kita ke pos satpam, untuk memasukan lamaran kerja kita ini. Bismillahirrahmanirrahim" Ucap keduanya.


Setelah di interview, akhirnya mereka berdua di nyatakan di terima bekerja di perusahaan itu. Selain mereka berdua, ada beberapa orang yang di terima juga bekerja di sana.


*


Keesokan harinya, mereka mulai masuk kerja di perusahaan itu.


"Kalian semua kami tempatkan di bagian Twisting, ruangannya ada di sebelah sana, gerbang yang kedua, sebelah kanan" Pak Wisnu, kepala bagian produksi mengarahkan kami.


Kami berenam diantarkannya ke ruangan Twisting.


Cempaka, Indah, Yeti, Nuri, Yanto dan Heri di tempatkan di satu mesin yang sama.


Kami berenam di ajarkan di satu mesin oleh kepala regunya atau biasa di sebut karu.


"Kalian belajar bersama dalam satu mesin, selama satu minggu. Setelah itu, kalian akan di bagi menjadi tiga kelompok! Satu kelompok terdiri dari dua orang, jadi satu mesin di jaga oleh dua orang. Kalau ada yang tidak di mengerti, jangan segan-segan kalian tanyakan saja kepada saya" Ujar Karu yang baik itu.


"Iya pak!" Jawab kami serempak.


Setelah itu, kamipun asyik mendengarkan semua yang di ajarkan oleh karu, Darma. Tentang mesin yang akan kami pegang nanti.


Tak terasa satu minggu telah berlalu. Kamipun merasa senang dan kerasan kerja di perusahaan baru itu. Semuanya baik-baik dan juga ramah-ramah, membuat kami merasa betah, dan mudah menangkap semua yang di ajarkan oleh pembimbing kami.


"Mulai hari senin besok, kalian mulai jaga mesinnya berdua. Silahkan kalian pilih sendiri, mau jaga mesin sama siapa?" Karu Darma itu memberikan kebebasan untuk memilih, kepada kami.


"Cempaka bersama Indah, Yeti bersama Nuri, dan Yanto bersama Heri. Baiklah kalian sudah tahu siapa temannya. Silahkan kalian teruskan kembali kerjanya. Saya mau memberikan pengarahan dulu kepada yang baru masuk, Selamat siang" Ucapnya, dan dia pun berlalu dari hadapan kami.


" Baik pak!" Seru kami semua.


Kami pun larut kembali dalam pekerjaannya masing-masing.


*


Tak terasa, dua bulan sudah Cempaka beserta teman-temannya bekerja di perusahaan textile itu.


"Hai Cempaka! Kita istirahat bareng yu!" Yanto mengajak Cempaka untuk istirahat bersamanya.


Ketika itu, bel istirahat telah berbunyi dengan nyaring.


"Hai!" Sahut Cempaka membalasnya dengan singkat.


"Ayo!" Yanto mempersiapkan Cempaka untuk berjalan di depannya.


"Indah, aku istirahat dulu!" Dia berseru kepada sahabatnya.


Mereka jaga mesin berdua, dan istirahatnya secara bergiliran.


"Iya, aku nanti jam kedua" Sahutnya.


Tanpa curiga sedikitpun, Cempaka berjalan bersama Yanto menuju ke kantin.


"Boleh enggak kalau saya jadi temanmu?" Tanya Yanto, ketika mereka sudah berada di kantin.


"Kenapa bertanya begitu? Sekarang kan kamu sudah jadi temanku" Sahut Cempaka, dia sedikit mengerutkan keningnya.


"Bukan teman itu, maksudnya emh, teman dekat" Ujarnya lagi.


"Ini kan sudah dekat juga, cuma terhalang satu meja" Sahut Cempaka lagi.


"Maksudku, bukan teman dekat jaraknya. Tapi, teman dekat yang serius" Ucapnya lagi.


"Apa? Teman yang serius?" Cempaka sangat terkejut mendengarnya.


"Iya, emh, itupun kalau kamu masih sendiri. Iya, maksudku kalau kamu belum mempunyai teman dekat yang serius" Ujar Yanto terus terang.


Cempaka hanya diam tak berkomentar.


"Terimakasih " Ucap Cempaka, kepada ibu kantin yang sudah mengantarkan makanan pesanannya.


"Sama-sama, silahkan!" Sahut ibu kantin ramah.


"Makanan pesanan ku sudah datang, aku makan duluan ya!" Cempaka tidak menghiraukan pembicaraan Yanto. Dia langsung menyambar makanan yang dia pesan, yang kini sudah berada di depan matanya.


"I, iya,iya silahkan!" Sahut Yanto sedikit kesal.


Cempaka segera memakan makanan yang dia pesan. Dengan agak terburu-buru, dia menghabiskan makanannya. Tak sedikitpun dia mempedulikan Yanto, yang duduk di hadapannya.


"Aku duluan ya! Aku ingin ke belakang" Cempaka bangkit dari duduknya, kemudian dia berpamitan kepada Yanto, dengan alasan ingin ke belakang.


"Iya" Singkat jawaban Yanto.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, Cempaka! Aku akan berusaha, supaya aku bisa mendapatkan dirimu!" Gumamnya.


Cempaka berlalu menuju ke tempat kerjanya kembali.


"Kok! Sudah di sini lagi? Sebentar nian istirahat nya" Tanya Indah, heran.


"Aku ingin di sini saja, bareng kamu" Sahut Cempaka, diapun lalu duduk di atas lantai.


Indah menatapnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2