
Selama tiga hari Karmin berada di kampungnya. Dia nampak sangat gelisah sekali, karena mbak Siti yang jadi kakaknya belum juga bersedia mengantarnya untuk menjemput Cempaka, dan memboyongnya untuk tinggal di kampung halamannya.
Sudah berapa balikkan Karmin datang ke rumah kakaknya itu. Namun, sang kakak tidak merasa tega untuk bersekongkol mendukung kelakuan adik bungsunya itu.
"Menurut mbak, mendingan kamu terus terang saja dari sekarang, kalau sebenarnya kamu itu sudah punya istri namun belum punya anak. Kalau mengantarmu untuk berkata jujur, mbak sangat bersedia" Ujar mbak Siti, dia malah menyuruh Karmin untuk berkata jujur tentang siapa Karmin yang sebenarnya.
Waktu itu entah yang ke berapa kalinya Karmin mendatangi dan merayu kakaknya supaya mau mengabulkan permintaannya.
Namun, sungguh di luar harapan Karmin, jawaban yang dia dapatkan dari mulut kakaknya.
Membuat Karmin kecewa dan marah-marah kepada kakaknya.
"Aku kecewa dengan jawaban yang mbak berikan! Tak ku sangka mbak akan berkata seperti itu. Dasar! Punya kakak tidak pernah mau mengerti dan mendukung adiknya sendiri!" Karmin berteriak dengan memamerkan wajahnya yang di tekuk dalam-dalam karena di selimuti oleh emosi.
"Apa kamu tidak salah bicara? Siapa yang tidak mau mengerti dan tidak mau mendukung? Kelakuan yang bagaimana yang harus mbak dukung dan mbak mengerti? Kamu harusnya yang introspeksi diri kalau apa yang kau lakukan itu salah besar! Bukannya menyalahkan orang lain!"
Mbak Siti tak tinggal diam, dia balik membentak adiknya.
"Percuma aku punya kakak juga, tahu begini dari kemarin mendingan minta tolong orang lain saja daripada mengemis kepada kakak sendiri tapi, hasilnya membuat sakit hati"
Karmin ngedumel tak karuan.
"Baru begitu saja kamu sudah merasa sakit hati? Coba bayangkan bagaimana perasaannya dan hatinya istri baru kamu, di bohongi, di tipu dan di kecewakan, serta tidak di hargai sama sekali! Apa mereka tidak akan merasa sakit hati? Coba gunakan otakmu untuk berpikir! Jangan kau gunakan untuk menyakiti dan mengecewakan orang saja!"
Mbak Siti tak kalah sewotnya. Dia balik membentak adiknya yang berkelakuan tidak pantas untuk di lakukan.
"Ya sudah! Kalau tidak mau nganter! Aku akan minta orang lain saja yang bersedia membantuku!" Karmin bangkit dari tempat duduknya dan berlalu keluar dari rumahnya mbak Siti, dengan wajah yang merah padam karena keinginannya tidak di penuhi oleh kakaknya.
Di pintu keluar dia berpapasan dengan kakak iparnya, suaminya mbak Siti.
"Kenapa muka mu di tekuk begitu? Kamu berantem sama mbak mu!"
Kakak iparnya Karmin menghentikan langkahnya sambil menatap wajah adik iparnya.
"Mbak Siti enggak mau bantu aku"
Karmin mengadu.
"Memangnya kamu perlu bantuan apa dari mbak mu? Sini duduk dulu! Coba cerita sama mas mu!"
Mas Kunto kakak iparnya Karmin membimbingnya untuk duduk bersamanya.
Karmin seakan mendapatkan pelita, tanpa bertanya dulu, dia langsung menceritakan semuanya kepada kakak iparnya, tanpa di tutupi sedikit pun juga.
Kunto manggut-manggut, dia mendengarkan dengan seksama.
"Begitu mas, tolong bujuk mbak Siti supaya dia mau menjemput Cempaka, ya mas ya!"
Karmin menekankan.
__ADS_1
"Kalau masalah itu memang kamu yang salah, kakakmu itu benar . Kamu harus jujur dari sekarang sebelum dia tahu dari orang lain tentang kamu yang sebenarnya"
Deg!
Jawaban kakak iparnya ternyata tidak jauh berbeda dengan jawaban dari kakaknya sendiri.
Tak setuju!
Karmin bangkit dan berlalu dari hadapan kakak iparnya, dengan tanpa permisi.
Kunto geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan adik iparnya itu.
"Bagaimana ini? Sulit untuk di percaya. Bagaimana bisa terjadi?"
Kunto menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memegangi dahinya, bingung!
"Kenapa mas? Sepertinya kamu sedang ada yang tengah di pikirkan"
Istrinya duduk di sampingnya.
"Masalah Karmin" Sahutnya, netranya menatap wajah istrinya. Kebingungan jelas terpancar di wajahnya.
"Kau sudah tahu, mas? Aku tadi sempat adu mulut dengannya. Aku tidak setuju sama sekali dengan kelakuannya itu, aku juga perempuan mas. Aku tak akan sanggup kalau nanti dia tahu siapa Karmin yang sebenarnya, aku kasihan sama dia dan juga keluarganya yang telah di bohongi dan di tipu mentah-mentah oleh adik kita"
Lirih suaranya mbak Siti.
"Kita harus bagaimana ini?" Kunto balik bertanya.
"Jangan sampai mereka tahu, dek! Kasihan " Kunto membenarkan.
Mereka berdua saling diam dengan benak yang di penuhi oleh pikirannya masing-masing.
Mereka tengah mencari jalan keluar dari permasalahan yang di buat oleh Karmin sendiri.
Kini, mau tidak mau kedua kakaknya harus sibuk mencari solusinya.
Namun, tak mereka temukan juga.
***
"Kulo nuwun" Menjelang sore hari, ada yang bertandang ke rumahnya mbak Siti.
Wak Iyem dan Karmin, ternyata.
"Eh, uwak! Silahkan masuk wak!"
Dengan ramah mbak Siti mempersilahkan wak Iyem untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu rupanya mengadu kepada wak Iyem! Dasar bajingan!"
__ADS_1
Mbak Siti terlihat emosi setelah melihat Karmin ada di belakang wak Iyem.
"Sudah! Sudah! Jangan di ributkan! Malu sama tetangga. Semuanya sudah kadung terjadi, tidak akan bisa di kembalikan lagi. Anggap saja ini semua sudah menjadi takdir dari hidupnya neng Cempaka, istri mudanya Karmin" Ujar wak Iyem, dia berhenti sejenak ingin mengetahui reaksinya mbak Siti.
"Aku malu, wak! Aku tidak mau Karmin menipu dan membohongi serta mengecewakan perempuan, kita juga sama-sama perempuan"
Mbak Siti merengut kesal.
"Uwak juga sama merasakan hal itu, mengkhawatirkan dia. Tapi, ini sebenarnya bukan murni niatnya Karmin. Kalau dia tidak di tawarin, tidak di iming-imingi dan tidak di paksa oleh kakaknya neng Cempaka, Karmin juga tidak akan berbuat seperti itu, coba kamu telaah perkataan uwak!" Lanjut wak Karmin.
Mbak Siti terdiam sejenak.
"Waktu itu Karmin hendak menengok Mayang di tempat kerjanya, bukan untuk mencari istri muda kan? Tapi, di sana dia ada yang menyodorkan sesuatu yang menggiurkan, bahkan dia di paksanya untuk mau menerimanya. Karmin pasti labil, karena yang bicara lebih pengalaman, akhirnya Karmin mau dan terjebak dalam permainan kakaknya neng Cempaka"
"Uwak pernah bertemu dia sekali, wajah dan tingkah lakunya sangat beda jauh dengan adiknya yang bernama Cempaka itu. Gaya bicaranya sangat genit sekali, beda jauh dengan Cempaka yang kalem dan anggun"
"Kapan uwak bertemu sama dia?"
Mbak Siti nampak heran mendengar penjelasan dari wak Iyem.
"Sebelum menikah, mereka sempat ke rumah uwak, mencari Karmin. Yang katanya kena musibah tertabrak mobil dan di rawat di rumah sakit. Yang ternyata itu semua bohong! Itu adalah akal-akalan Kenari, kakaknya Cempaka. Supaya Cempaka mau di ajaknya ke sini, menengok Karmin. Dan pulangnya minta di antarkan oleh Karmin, Kenari tidak mau waktu di suruh menginap dulu semalam di rumah uwak. Karena, kebetulan waktu itu sudah jam sepuluh malam. Neng Cempaka mau nginap, dia mau pulang besok saja selepas shalat subuh, seperti yang uwak sarankan. Tapi, kakaknya kekeh minta pulang sa'at itu juga! Dia memaksa adiknya sampai adiknya di seret keluar dari rumah uwak!"
Wak Iyem menuturkan semua yang pernah dia dengar dan dia lihat waktu Kenari dan Cempaka ke rumahnya.
"Hah? Sampai segitunya? Berarti yang berniat jahat itu sebenarnya kakaknya Cempaka sendiri! Astagfirullahaladzim... Kok ada ya seorang kakak memperlakukan adiknya seperti itu" Mbak Siti berujar perlahan, dia memegangi dadanya tak percaya dan tak menyangka ada seorang kakak berbuat begitu kepada adiknya sendiri.
"Nah! Waktu Karmin mau pulang setelah mengantarkan mereka, Kenari menahannya supaya Karmin tidak pulang! Dan dia meminta bantuan Eyang, untuk meyakinkan kedua orangtuanya supaya mau menerima Karmin sebagai menantunya dan segera menikahkan Karmin dan Cempaka. Karena pengaruh dari jampi-jampi dukun itu, akhirnya mereka setuju dengan semua yang di usulkan oleh Kenari, dan Cempaka pun bersedia menerima Karmin sebagai suaminya dengan bantuan sang kakek yang tiba-tiba datang di acara ijab qobul itu, nah begitu cerita yang sebenarnya Siti"
Wak Iyem mengakhiri penuturannya.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah kasihan sekali nasibnya neng Cempaka" Mbak Siti menarik nafasnya dalam-dalam sambil geleng-geleng kepala. Sedikitpun dia tak menyangka dengan sesuatu yang baru saja di tuturkan oleh wak Iyem.
Mereka saling terdiam, sesuatu tengah berkecamuk di dalam dada mereka. Sesuatu yang sangat sulit untuk di pecahkan.
"Kalau memang begitu keadaan yang sebenarnya, biarlah kita turuti kemauan Karmin untuk menjemput neng Cempaka, kita hargai dia sebagai adik ipar kita, sebagai menantu kita, dan kau Karmin! Sayangi dia! Jangan sekali-kali menambah sakit hati dan kecewa dia!
Kamu mengerti kan!"
Akhirnya Kunto yang dari tadi terdiam, angkat bicara.
Matanya tajam menatap wajahnya Karmin, seakan meminta kesediaan dari Karmin untuk berjanji.
"Iya kak, aku berjanji tidak akan membuat dia sakit hati dan kecewa lagi" Ujar Karmin.
"Kalau begitu, besok pagi kita berangkat ke Bandung untuk menjemput neng Cempaka. Biar kakak mau nyewa mobil supaya bisa langsung ke rumahnya, dan tidak naik turun gonta-ganti kendaraan"
Kunto memutuskan.
"Terimakasih kakak ipar ku yang baik"
__ADS_1
Karmin menciumi tangan kakak iparnya dengan sepenuh hati. Dia sangat bahagia sekali.
******