
Tidak sampai satu jam di perjalanan, akhirnya kendaraan yang kami tumpangipun sampailah di tempat parkiran yang sangat luas, di mana berbagai macam kendaraan sudah berjejer rapi di sana.
"Ci kundul habis" teriak kernet.
"Ooh di sini, bu?" Ujar pak Jati.
"Iya pak, kita turun di sini, sebelum menaiki tangga, kita masuk ke gerbang yang di sebelah kiri dulu, kita bersih-bersih dulu. Mau mandi boleh, enggak juga enggak apa-apa, cukup kita berwudhu saja. Tapi, kalau neng Cempaka sebaiknya mandi dulu, biar ketahuan kalau ada apa-apa di tubuhnya." Ibunya Sakti menyarankan.
"Kalau aku ikut mandi, boleh bu?"
tanya Anyelir dan Seruni.
"Boleh, siapapun boleh mandi di sini, yang penting niatnya baik"
"Ini tempat mandinya, ayo! Neng, Mungpung lagi kosong" ucap ibunya Sakti.
Di sana ada dua tempat mandi yang letaknya bersebelahan. Tertutup rapat, ada pintunya. Jadi kita tidak khawatir untuk mandi di sana.
"Ini untuk perempuan di sebelah sini. Ayo masuk saja!" ujar bu Sukma.
"Iya bu," Kami bertiga masuk ke dalam kamar mandi itu.
Lumayan luas, bak air yang panjang, dipenuhi oleh air yang sangat jernih sekali. Air yang keluar langsung dari sumbernya.
Dari bak itu, ada tiga buah pancuran buat mandi. Pancuran yang terbuat dari bambu itu tidak ada penyumbatnya.
Air terus saja mengalir tak berhenti dengan derasnya.
"Aku di sini ya kak!" Anyelir memilih pancuran yang paling ujung.
"Boleh, Seruni, kamu mau pakai pancuran yang mana?" Tanya Anyelir.
"Aku yang tengah saja." Seruni segera menghampiri pancuran yang berada di bagian tengah.
Cempaka tidak banyak komentar,
Dia langsung mendekati ke arah pancuran paling depan, setelah dia memakai kain basahan.
Anyelir dan Seruni sudah sibuk mengguyur tubuhnya dengan air yang begitu jernih dan segar itu.
Air yang keluar melalui pancuranpun sangat derasnya.
Cempaka segera mendekati pancuran yang satunya lagi, diapun sama ingin mengguyur tubuhnya dengan air yang jernih itu. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke air yang tengah deras mengalir.
"Segar sekali, tapi kok! Airnya jadi kecil Keluarnya?" Cempaka membuka matanya, benar saja air yang mengalir dari pancuran itu sangat kecil, padahal tadi sebelum Cempaka mendekatkan wajahnya ke pancuran itu, air yang keluar nampak sangat deras.
"Anyelir, Seruni! pancuran yang ini airnya kok jadi kecil?" Cempaka berteriak kepada adik-adiknya.
Kedua adiknya yang sudah basah kuyup tubuhnya, menoleh ke pada Cempaka.
"Apa kak? Kenapa kakak belum mandi?" Mereka nampak heran,
karena melihat tubuh kakaknya yang belum basah sama sekali.
Hanya wajahnya yang terlihat sedikit basah.
Cempaka menunjuk ke pancuran yang hanya mengalirkan sedikit
air saja.
"Pancuran kakak airnya kecil"
"Tadi kan besar airnya, coba kakak pindah ke sini." Teriak Seruni.
Cempaka segera mendekat ke pancuran yang di pake Seruni.
__ADS_1
Sungguh di luar batas kewajaran.
Setelah Cempaka mendekatkan tubuhnya di bawah pancuran itu,
Seketika air pancuran itu langsung menjadi kecil alirannya.
"Kok! Kenapa jadi kecil airnya?"
Seruni berteriak kaget.
"Coba pake yang ini, di sini masih besar airnya." Teriak Anyelir.
Cempaka segera pindah ke pancuran yang tadi di pake oleh Anyelir.
Dan..., seketika itu air langsung mengecil setelah Tubuh Cempaka berada di bawahnya.
Sedangkan kedua pancuran yang dia tinggalkan, airnya seketika kembali deras seperti semula.
"Kenapa ini? Anyelir, Seruni bantuin kakak!" Cempaka memelas.
"Balik lagi ke sini kak, cepat! mungpung airnya masih banyak"
Anyelir menarik tangan Cempaka untuk mendekat ke arahnya.
Tetapi..., keanehan langsung terjadi di depan mata kepala ke tiga kakak beradik itu, seketika itu, Air yang mengalir di pancuran itu langsung mengecil hingga sebesar lidi.
"Cepat balik lagi ke sini kak!" Seruni menarik tangannya Cempaka.
Dan, airpun langsung mengecil.
"Mampet gitu salurannya?" Gumam Cempaka, dia masih tetap berusaha.
Cempaka segera keluar dari kamar mandi itu untuk mencari kayu atau ranting.
"Airnya mendadak mengecil, mungkin mampet salurannya."
Sahut Cempaka sambil memungut ranting yang lumayan panjang, lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
"Kok! Airnya jadi besar lagi?" Cempaka terperangah kaget.
Dia simpan ranting yang di bawanya tadi, lalu segera mendekatkan tubuhnya ke bawah pancuran, yang airnya mengalir dengan sangat deras itu.
"SET!" Airnya mendadak berubah jadi mengecil lagi.
Begitu seterusnya, hingga berulang kali.
"Pak!... Pak!... Sini!" Seruni keluar memanggil bapaknya.
"Ada apa?" Pak Jati segera menghampiri anaknya
"Kasihan kak Cempaka, setiap dia mau mandi, airnya langsung berubah menjadi kecil" Seruni mengadu kepada bapaknya.
"Kenapa bisa begitu?" Pak Jati terkejut tak percaya.
"Lihat saja sendiri sama bapak"
Ujar Seruni.
Dia menunjuk ke arah kakaknya yang tengah bolak-balik mencoba setiap pancuran.
"Mungkin mampet gitu?" Gumam Cempaka.
Dia segera mengambil ranting yang di bawanya tadi.
Setelah di cuci, lalu ranting itu di masukkannya ke dalam pancuran bambu, tidak ada apapun yang mampet di sana!
__ADS_1
Aneh!
Cempaka memeriksa air yang nampak memenuhi bak, tidak terlihat ada daun atau apapun yang menyumbat saluran airnya.
"Huuuuh!...Huuuh!" Cempaka mencoba meniup pancuran itu.
Bersih, tak ada yang menyumbat.
"Pak!" Cempaka nampak putus asa dengan apa yang di alaminya.
"Coba bapak lihat, " Pak Jati mendekati pancuran itu satu persatu.
Airnya tidak berubah sama sekali. Airnya tetap mengalir dengan sangat derasnya.
"Astaghfirulahaladziiim..., apa yang telah terjadi kepada anakku ya Allah!" gumam pak Jati.
Dia geleng-geleng kepala, merasa sangat kaget sekali melihat kejadian yang tengah berlangsung di depan matanya itu.
Pak Jati segera menemui kuncen penjaga tempat itu. Dia sangat penasaran dengan apa yang telah di lihatnya.
"Assalamualaikum pak, ma'af saya mengganggu" Ucapnya sopan.
"Waalaikumsalam..., ada apa pak?" Pak Kuncen itu menjawab dengan ramah.
"Saya heran dengan air pancuran itu, kenapa setiap anak saya mendekatinya, airnya langsung mendadak jadi mengecil. Sedangkan pancuran yang di pakai adik-adiknya, airnya tetap besar. Sampai dia pindah berkali-kali, mencoba pancuran yang lainnya. Tapi, tetap begitu pak. Bahkan, sampai dia menggunakan ranting untuk mengeceknya, barangkali ada daun yang menyumbat di sana. Tapi, tidak ada apa-apa. Ini bagaimana pak? Kasihan anak saya." Dengan panjang lebar pak Jati menuturkannya.
"Astaghfirulahaladziiim... Ya Allah... Ya Malik... Ya Qudus" ucap pak Kuncen sambil geleng-geleng kepala.
Dia dan pak Jati serta bu Sukma, segera menghampiri pancuran yang tengah di pakai oleh Cempaka dan adik-adiknya.
Di sana Cempaka tengah mandi di bawah air pancuran yang mengalir dengan sangat kecilnya.
Hanya sebesar lidi saja.
Kedua adiknya nampak membantu menyirami tubuhnya Cempaka, dengan air dari pancuran yang lainnya, dengan menggunakan dedaunan yang agak lebar.
Sungguh! Pemandangan yang sangat miris.
"Sabar ya pak, bu. Sepertinya ada yang sengaja menutupinya." Ujar Kuncen.
"Maksudnya apa pak ?" Pak Jati langsung bertanya.
"Di tubuhnya putri bapak, ada yang sengaja menyimpan sesuatu untuk menghalangi jodoh dan rezekinya pak, itu yang saya lihat." Ucap pak Kuncen.
Perkataan pak Kuncen sungguh
membuat pak Jati dan bu Sukma serta semua anak-anaknya terperanjat kaget.
Mereka merasa percaya tak percaya mendengarnya.
Cempaka nampak shock mendengarnya.
"Sekarang, bersihkan tubuhnya se bisanya saja, sebelum ziarah ke makam, harus berwudhu dulu. Semoga dengan berziarah nanti, Allah SWT akan menghilangkan semua penghalang yang berada di dalam tubuhnya neng Cempaka ini. Teruslah berdo'a dan jangan tinggalkan shalat lima waktu. Saya tinggal dulu."
Kuncen itu berlalu setelah memberikan penjelasan kepada kami semua.
"Pak!..., Kenapa nasibku seperti ini pak?" Cempaka menghiba.
"InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja nak. Kalau sudah beres, ayo kita ke atas untuk berziarah." Bu Sukma mencoba menenangkan hati Cempaka.
Merekapun lalu beriringan meninggalkan tempat itu.
Mereka beriringan menaiki anak
tangga yang jumlahnya puluhan, dan mungkin ratusan itu, menuju makam yang ada di atas puncak bukit itu.
__ADS_1