Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Dilangkahi juga


__ADS_3

Setelah berdebat alot, akhirnya hampir semuanya setuju, aku di langkahi oleh adikku, Anyelir.


"Dengan berat hati, Besok orangtuanya Petir mau bertandang ke rumah kita ini, mau melamar adikmu" Dengan hati-hati bu Sekar mengatakannya.


"DEG!"


Terasa ada yang menonjok keras ulu hatiku.


Cempaka tertunduk lesu, tak ada satupun yang berada di belakangnya untuk membelanya.


Walau Cempaka protes, tak akan ada yang memihak pada dirinya.


Hanya tetes airmata yang selalu setia di setiap suasana.


Seperti sa'at itu, bulir bening itu menetes, mewakili perasaannya.


Cempaka menangis, pedih.


"Cempaka... Kami harap kau bisa menerima semua ini. Sabar ya sayang" Ujar Pak Jati.


Sebenarnya dia tidak tega melihat anaknya menderita dan menderita seperti itu.


"Hanya tunangan saja kak, nikahannya nanti, nunggu kakak menikah dulu, aku enggak mungkin tega melangkahi kakak dengan langsung menikah. Kalau aku harus seperti kakak waktu mau di lamar kak Buana, demi kak Bunga kakak rela menderita. Aku enggak bisa kak, kalau harus seperti kak Cempaka" Ujar Anyelir, tak satupun terselip kata ma'af di antara untaian kalimatnya.


"Iya enggak apa-apa kalau kamu hanya bertunangan saja" Ucap Cempaka akhirnya, walau dengan berat hati.


"Naaah begitu dong! Coba dari tadi seperti ini. Enggak bakalan adu mulut dulu. Susah banget!"


Kenari nyolot.


"Iya, kalau sudah takdirnya di langkahi, walau bagaimanapun juga menolaknya. Yaa tetap saja di langkahi" Celetuk Bunga dengan entengnya.


Cempaka tidak mengamuk seperti dirinya dulu. Tapi, kini dia bisa seenaknya berkata seperti itu.


"Aku ke kamar dulu ya bu, pak! Assalamualaikum..." Cempaka pamit untuk masuk ke kamarnya.


Untuk apa debat sama kedua kakak dan satu adiknya itu?


Sampai kapanpun tidak akan menang! Mereka tidak akan mau mengaku salah, walaupun salah juga.


"Waalaikumsalam..." Sahut semua yang ada di sana.


Cempaka berlalu dari ruang tengah, menuju ke dalam kamarnya.


Cempaka tidak peduli akan apa yang tengah mereka bicarakan.


Bikin sakit hati saja, bathinnya.


*


Keesokkan harinya, sejak sebelum waktu subuh. Di rumahnya bu Sekar sudah nampak kesibukan untuk


mempersiapkan acara lamaran yang akan dilaksanakan sekitar beberapa jam lagi.


Kira-kira jam sembilan pagi, dari jauh sudah terlihat rombongan orang-orang yang akan menuju ke rumahnya bu Sekar.


Rombongan Keluarganya Petir yang akan melamar Anyelir.


"Buu, itu rombongan Keluarganya


kak Petir sudah tiba. Mereka sudah berada di depan" Kilat berlari tergopoh-gopoh menemui ibunya.


"O iya..., kenapa tidak kau persilahkan untuk masuk?" Ujar bu Sekar, dia bergegas ke depan hendak menyambutnya.


"Belum sampai ke halaman rumah kita, buu. Tadi mereka baru sampai di belokan yang ke rumah kita." Ujarnya lagi.

__ADS_1


"Beberapa langkah lagi, pasti mereka sampai deh di rumah kita ini." Ujar bu Sekar.


Tiba-tiba langkah bu Sekar terhenti, tepat di depan pintu kamarnya Cempaka.


"Iya buu" Ujar Kilat sambil tersenyum.


"Kenapa buu?" Kilat merasa heran melihat sikap Ibunya yang langsung berubah seketika.


"Enggak apa-apa" Bu Sekar menutupinya, dia tidak mau keadaan hatinya di ketahui oleh anaknya.


"Assalamualaikum..." Tiba-tiba terdengar suara orang asing yang mengucapkan salam dari halaman depan.


"Waalaikumsalam..." Sahut bu Sekar.


"Waalaikumsalam..., sepertinya ini ya bu ya? Rombongan Keluarganya kak Petir" Ujar Kilat.


"Iya Sepertinya. Kasih tahu semuanya. Semua makanan sudah pada siap ya... "Bu Sekar nampak terlihat kikuk sekali.


Pikirannya seketika teringat kepada Cempaka.


Satu persatu tamu rombongan Keluarganya Petir masuk kedalam rumahnya bu Sekar.


Kedua orangtuanya Petir, adik-adiknya dan juga saudara-saudara yang lainnya.


Anyelir nampak bahagia sekali. Itu terlihat dari wajahnya yang ceria memancarkan kebahagiaan. Tidak sedikitpun


ada rasa lain di sana. Apalagi rasa bersalah terhadap kakaknya.


Ingat juga tidak, Sepertinya.


"Acara lamaran, tapi kok! Banyak sekali rombongannya? Macam seuseurahan mau nikahan saja"


Gumam bi Arum, adiknya bu Sekar.


"Mungkin semua saudaranya mau pada ngikut" Ucap anaknya.


mau mengalah!" Ujar bi Arum lagi.


"Silahkan... Silahkan..." Pak Jati dan bu Sekar mempersilahkan semua tamunya untuk memasuki rumahnya.


"Mah, ada dua puluh enam orang, banyak sekali!" Ujar Nada, anaknya bi Arum.


Rupanya dia menghitungnya satu persatu. Dasar anak kecil he.., he.


"Ssst, jangan kenceng-kenceng bicaranya!" Bi Arum menghardik anak bungsunya.


"Iya mah" Nada terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Punten pisan pak Jati, bu Sekar ada yang perlu saya sampaikan"


Ujar pak Andro setengah berbisik.


"Ada apa ya pak?" Pak Jati bertanya penasaran.


"Kata neng Anyelir, katanya dia punya kakak perempuan yang belum nikah, apa benar itu pak?"


Ujar pak Andro.


Pak Jati menatap wajah istrinya.


Dia mengira, mungkin pak Andro mau minta izin dulu untuk melangkahi, atau dia mau minta ma'af, atau mungkin mau memberikan sesuatu, sebagai tanda terimakasih. Karena telah mengizinkan adiknya di lamar duluan.


Bu Sekar pun berpikiran begitu.


Kedua suami-istri itu sudah GR

__ADS_1


duluan.


"Oh iya pak, ada. Mau saya panggilkan? Biar bapak dan keluarga mengenalnya" Pak Jati antusias.


"Ooh bukan, bukan itu! Enggak usah di panggilkan! Lebih baik dia tidak menyaksikan acara pertunangan ini. Maksud saya begini, ini saya sekalian mengajak petugas dari kua. rencananya mereka itu mau saya nikahkan saja. Jadi, acaranya lamaran langsung dengan akad nikah. Itu sepertinya lebih baik" Ujar pak Andro lagi.


"Iya pak, biar kita tenang pak, bu!" Ucap istrinya pak Andro, menimpali perkataan suaminya.


"Ini bagaimana? Kan waktu kita bicarakan tempo hari itu, kita sepakat hanya acara lamaran saja. Kenapa sekarang jadi bersama nikahan?" Pak Jati bertanya tidak suka.


"Iya pak Andro, kenapa tiba-tiba tanpa rundingan dulu dengan kami, bapak berani-beraninya bawa pak ke sini untuk menikahkan Anyelir dan Petir. Ini tidak benar pak, bu!" Bu Sekar mengungkapkan ke tidak setujuannya.


"Ma'af;ibu, bapak, menurut hemat kami, itu sangat baik bila mereka segera di nikahkan biar kita tenang. Kalau mereka sudah nikah, kita tinggal memikirkan jodoh kakaknya neng Anyelir, begitu maksud kami pak. Makanya kami tidak memberi kabar terlebih dahulu kepada keluarga bapak dan ibu di sini. Kami mohon ma'af pak, buu!" Pak Andro tetap pada pendiriannya. Dia menjelaskan keinginannya.


"Kalau begitu bapak dan ibu, tidak menghargai kami sebagai kedua Orangtuanya. Saya tidak suka pak, bu!" Bu Sekar juga tetap pada rencana semula.


Semua orang yang berada di sana, saling tanya tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh


Pak Andro dan Isterinya.


"Kok! Aneh ya, Sepertinya ini sudah di rencanakan oleh mereka, biar ngirit, biar enggak seuseurahan kayaknya. Bisa saja tuh orang! Kasihan Cempaka di bohongin" Bi Arum Sepertinya sangat jengkel sekali.


"Ma'af bapak-bapak, ibu-ibu semuanya, ini jadinya bagaimana? Saya itu di tungguin ba'da dhuhur di kampung sebelah. kalau begini, bisa telat acaranya. Pak Andro, ini bagaimana? Bapak harus tanggung jawab " Petugas dari kua mempertanyakan ? kebenarannya.


"Sebentar pak" Pak Andro meyakinkan.


"Sudahlah pak Jati,bu Sekar, mereka kita nikahkan saja. Saya enggak enak sama bapak petugas dari kua ini. Ma'afkan saya kalau saya sudah lancang tidak membicarakan dulu dengan bapak dan ibu di sini" Pak Andro merengek memohon supaya Anyelir dan Petir langsung di nikahkan saja.


"Iya pak, kalau masih belum sepakat. Ya sudah, saya permisi"


Petugas itu hendak pamitan.


"Jangan dulu pak, sebentar saya mau menanyakan kepada Kedua calon mempelai. Apakah mau di nikahkan sekarang atau bagaimana?" Pak Andro berkilah.


"Bagaimana Petir? Anyelir, kalian mau kan kalau kami nikahkan sekarang juga?" Tanya pak Andro.


"Bagaimana baiknya saja" Petir dan Anyelir menjawab serempak.


"Tuh kan, pak, buu. Mereka sedia untuk di nikahkan sekarang juga.


Tunggu apa lagi?" Ibunya Petir juga tidak merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Pak Jati dan bu Sekar sa'at itu.


Karena tidak mau terus berdebat,


akhirnya pak Jati dan bu Sekar


mendekati Cempaka yang waktu itu tengah berada di kamarnya.


Cempaka belum mengetahui hal yang tengah di perdebatkan sa'at


itu di ruang tamu, tentang acara akad nikah adiknya.


" Neng, sebaiknya kamu ke kamar atas ya!" Bu Sekar memintanya.


"Iya nak, biar kamu tidak merasa enggak enak melihatnya." Ujar pak Jati pula.


"Acaranya sudah mulai? Aku mau tahu bu, pak. Biar nanti aku tahu harus bagaimana waktu di lamar itu."Sahut Cempaka.


"Jangan nak! Sebaiknya kamu ke


kamar atas saja" Pak Jati memegangi tangannya Cempaka


dan membawanya mendekati tangga.


"Kenapa Enggak boleh?" Cempaka bertanya tak mengerti.

__ADS_1


"Enggak apa-apa... Pokoknya kamu ke kamar atas saja ya!" Pak Jati setengah memaksanya.


Cempaka meniti anak tangga satu persatu, dengan berjuta tanya di hatinya.


__ADS_2