
"Kenapa motornya mogok?" Ujar Karmin tiba-tiba. Sa'at itu mereka baru saja setengah jalan untuk menuju ke jalan raya.
Sedangkan Kenari yang di bonceng oleh tukang Ojeg, sudah jauh meninggalkan Cempaka dan Karmin.
"Kenapa?" Cempaka turun dari boncengan nya.
Karmin memeriksa tank bensinnya.
"Pantesan mogok, bensinnya habis" Ujar Karmin.
"Terus?" Cempaka bertanya dengan cemberut.
"Kita jalan saja, di depan ada pedagang bensin eceran" Kata Karmin.
Dia menuntun motornya.
Cempaka tak berkomentar apa-apa, dia merasa kesal dengan keadaan yang dia alami sa'at itu. Sama Karmin lagi! Orang yang tak dia sukai, mana malam-malam lagi.
"Huh, dasar sial!" Cempaka menggerutu.
"Enggak apa-apa kan kita berjalan sebentar?" Tanya Karmin sambil menoleh ke arah Cempaka yang berjalan agak di sampingnya, terhalang oleh motor yang mogok, yang tengah di tuntun oleh Karmin.
Cempaka tidak menjawabnya, dia merasa malas untuk buka mulut.
"Biarin ya, kita sekarang menderita harus berjalan di malam gelap gulita karena motornya mogok, asalkan sengsara membawa nikmat" Ujar Karmin, dia tersenyum sambil menatap wajahnya Cempaka.
"Uwo!" Cempaka merasa mual mendengarnya.
"Boro-boro sengsara membawa nikmat, sebal yang ada. Amit-amit jabang bayi!" Gumam Cempaka dengan mulut yang masih cemberut.
"Apa dek?" Karmin bertanya.
Mungkin gumaman Cempaka terdengar samar-samar oleh Karmin.
"Enggak apa-apa" Sahut Cempaka dengan ketus.
Karmin diam tak bicara lagi, sudut matanya melirik ke arah Cempaka.
"Walaupun kamu tidak suka sama aku, tapi kakak mu sebentar lagi akan memberikan kesucian mu kepadaku. Silahkan saja sekarang kau marah-marah, kau acuh dan judes sama aku, yang penting di rumahmu nanti aku akan menagih janji sama kakakmu. Kau akan jadi milikku" Bathin Karmin, bibirnya melukiskan senyuman kemenangan.
Sementara itu Kenari sudah sampai di pinggir jalan raya.
Sedangkan Cempaka bersama Karmin masih berjalan menuju ke tukang jualan bensin eceran.
"Itu di depan ada tukang jualan bensin eceran, Alhamdulillah masih buka" Ujar Karmin. Tangannya menunjuk ke arah sebuah warung yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja dari tempat mereka.
"Ayo! Kita jalan lagi sekarang!" Karmin menyalakan mesin motornya setelah dia mengisi bensin nya.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Cempaka pun
naik lagi ke motor, duduk di belakang Karmin.
Perlahan motorpun melaju menyusul Kenari yang sudah dari tadi sampai di jalan besar.
"Kemana dulu? Kenapa kalian baru sampai?" Tanya Kenari sambil tersenyum penuh arti.
Di dalam hatinya Kenari berpikir bahwa Cempaka dan Karmin sudah saling suka, mereka pasti bermesraan dulu ketika di jalan tadi, makanya mereka telat sampai di jalan raya.
Padahal bukan itu yang sebenarnya.
"Motornya mogok, habis bensin"
Ujar Karmin, setelah dia mematikan mesin motornya.
"Mogok apa mogok?" Tanya Kenari lagi sambil tersenyum genit.
Sangat menyebalkan!
"Ya mogok lah, emangnya apa?" Cempaka menjawabnya tidak suka, dia melangkah beberapa langkah menjauh dari Karmin.
"Kirain sengaja di bikin mogok, biar bisa lama berduaan" Ujar Kenari lagi dengan senyuman genitnya, membuat Cempaka semakin kesal saja.
"Amit-amit jabang bayi" Ucap Cempaka.
"Oh, pantesan adikku marah" Ujar Kenari sambil berjalan mendekati Cempaka.
"Jangan macam-macam kak!"
Ujar Cempaka mengingatkan kakaknya, dia tidak suka dengan perkataannya Kenari.
"Bercanda" Ujarnya dengan tetap tersenyum nakal.
Makin sebal saja Cempaka jadinya.
"Bandung! Bandung!" Teriak kondektur ketika sebuah Bus lewat di jalan raya itu, persis di depan mereka.
"Ayo Bu! Ayo Neng! Itu Bus nya sudah datang" Karmin mengajak Kenari dan Cempaka untuk segera menaiki Bus yang telah berhenti di depan mereka.
"Kakak duduk di sini saja" Kenari seperti yang sengaja memilih kursi yang sudah ada orangnya. Jadi dia duduk dengan orang lain.
"Kakak, kenapa tidak memilih kursi yang dua - duanya kosong? Biar kita bisa duduk bareng" Cempaka bertanya sambil berdiri di samping Kenari yang sudah duduk di samping orang lain.
"Kamu duduk sama Karmin saja! Tuh kebetulan ada dua bangku yang kosong" Kenari menunjuk ke dua bangku yang kosong yang ada di sebelahnya.
Tempat duduknya ada tiga, bangku yang satunya yang di dekat kaca jendela sudah di duduki oleh seorang laki-laki.
__ADS_1
Cempaka mengedarkan pandangannya, dia mencari satu kursi yang masih kosong untuk dia duduki, biar tidak duduk di samping Karmin.
Dia tidak mau duduk berdampingan dengan Karmin.
Namun, Cempaka tidak menemukan yang dia cari. Semua tempat duduk penuh oleh para penumpang.
"Kakak duduknya sama aku saja di sana! Biar si Karmin yang di suruh duduk di sini" Cempaka mengutarakan usulannya.
"Enggak bisa, kakak mau duduk di sini saja! Sudah, kamu di sana saja sama Karmin!" Kenari
menyuruhnya.
"Enggak mau, kakak!" Kenari merengek sambil tetap berdiri di samping Kenari.
"Ya sudah kalau mau berdiri, silahkan berdiri saja di sana!" Ujar Kenari.
"Sini dek! Duduk di sini saja bareng saya" Karmin mengajak Cempaka untuk duduk bersamanya.
Cempaka menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mau duduk bersamanya.
Bus perlahan berjalan, makin lama lajunya makin kencang saja.
Cempaka mulai tergoncang oleh lajunya Bus menembus gelapnya malam.
"Sini dek! Enggak apa-apa duduk sama saya saja, nanti pegel kalau berdiri terus. Dari sini ke Bandung itu lama lho! Bisa pingsan kalau terus berdiri begitu" Karmin mendekati Cempaka untuk mengajaknya duduk bersamanya.
"Saya di sini saja" Ujar Cempaka
tetap berdiri tak bergeming dari tempatnya.
Karena Cempaka tidak mau beranjak, Karmin pun ikutan berdiri di samping Cempaka.
Hingga laju Bus nya mendadak oleng karena menemukan jalan yang menikung.
Cempaka pun ikut oleng, tak mampu menahan berat badannya sendiri, hingga hampir jatuh terjerembab. Untungnya tangan Karmin segera memegangi tangannya Cempaka, menahannya supaya tidak jatuh tersungkur.
Karmin mengajak Cempaka untuk duduk di kursi yang masih kosong.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Cempaka pun mau menurutinya. Diapun lalu duduk di samping Karmin.
Kenari tersenyum bahagia melihat pemandangan itu, pemandangan yang dia inginkan.
Pemandangan itulah yang dia rancang sampai dia tidak bisa tenang.
"Kena kau Cempaka!" Gumamnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
***
__ADS_1