
Setelah Cempaka naik ke lantai atas, di ruang tamu berlangsung acara lamaran sekaligus akad nikahnya Anyelir dan Petir, di iringi oleh derasnya air hujan dan angin kencang yang tiba-tiba saja menerjang daerah itu.
"Rasanya, cuaca tadinya terang, kok! tiba-tiba... Hujan deras begini?" Bi Arum mendekap anaknya di pangkuannya.
"Kenapa cuacanya jadi berubah begini?" Bu Sekar nampak panik.
"Coba tolong tutup pintunya!" Perintah bu Sekar pada seseorang yang duduknya di dekat pintu.
"Semua pintu dan jendela tolong di tutup!" Pak Jati berteriak, supaya perkataannya di dengar oleh orang-orang yang berada di sana.
Yang dekat dengan pintu, dan jendela segera bangkit untuk menutupnya.
Angin kencang menerbangkan tirai jendela rumahnya bu Sekar hingga terlepas dari tempatnya, terbang entah ke mana.
Karpet dan tikar yang di gelar di sana pun, tak lepas dari amukan angin yang sangat begitu kencang.
Seiring dengan berlangsungnya
akad nikah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Disertai dengan riuhnya angin yang berhembus kencang menyertainya.
"Kenapa tiba-tiba hujan deras begini?" Pak Andro bertanya-tanya karena panik.
"Kok! Tiba-tiba hujan?" Semua yang ada di sana ikut panik dengan mata menatap ke luar, menatap hujan yang mengguyur dengan derasnya.
"Bagaimana ini? Apa sudah bisa di mulai?" Petugas dari kua bertanya-tanya, karena dia di buru oleh waktu.
"Sebentar pak, kita tunggu reda hujannya." Ujar Pak Andro tetap semangat untuk menikahkan anaknya.
"Sepertinya sekarang sudah bisa di mulai, ayo pak!" Ujar pak Andro lagi setelah beberapa sa'at.
"Baiklah nak Petir, ikuti ucapan saya!" Ujarnya dengan teriakan yang lantang.
"Iya pak" Teriak Petir semangat.
"Baiklah!"
"Saya nikahkan dan kawinkan Petir bin Andro dengan Anyelir binti Jati Sudrajat, dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Teriak petugas dari kua itu dengan lantang, suaranya terdengar samar-samar karena kalah oleh suara hujan yang mengguyur deras dan angin yang sangat kencang.
"Tidak terdengar jelas pak! . Bisa di ulangi lagi?" Teriak Petir.
Setelah di ulangi sampai tiga kali, barulah Petir mengucapkannya dengan benar.
"Bagaimana sah?" Teriak petugas kua, sengaja dia berteriak hendak menyaingi suara hujan yang mengguyur bumi dengan sangat derasnya.
"Saaah!" Sahut semua yang ada di sana berteriak pula.
Setelah kata sah di ucapkan oleh
__ADS_1
para saksi yang berada di sana,
entah kenapa airmata pak Jati dan bu Sekar tiba-tiba menetes membasahi kedua pipinya.
Mereka menangis, mewakili perasaannya.
Mereka teringat akan Cempaka, kakaknya Anyelir yang kini tengah di singkirkan di kamarnya.
Bukan hanya pak Jati dan bu Sekar yang menangis, alampun seakan tak rela dengan pernikahan itu.
Itu bisa di lihat dari hujan yang turun semakin deras nya.
Angin pun bertiup dengan kencangnya.
Sungguh suasana yang sangat
menakutkan semua orang.
"Allahuakbar Allahuakbar!" Seorang kerabat pak Jati mengumandangkan adzan di tengah-tengah derasnya guyuran hujan dan hembusan angin yang sangat kencang, bertiup menghantam semua yang terlewati.
"Kamu yang sabar ya!" Neneknya Cempaka, mendatangi ke kamarnya Cempaka. Raut wajahnya nampak sedih, dengan tetesan air mata yang masih membekas di pipinya.
"Enggak apa-apa, Anyelir kan cuma tunangan saja!" Cempaka menatap wajah neneknya yang basah dengan air mata.
"Nenek, kenapa menangis?" Dia bertanya polos. Dia usap airmata di pipi neneknya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, nenek Aminah memeluk erat
Ini membuat Cempaka semakin tak mengerti. Ada apa sebenarnya? Apa yang sudah terjadi? Hingga neneknya itu menangis seperti yang tersakiti.
Belum hilang rasa bingung di hatinya, tiba-tiba pak Jati dan nenek dari bapaknya, yaitu nenek
Rahmi datang menghampiri Cempaka. Keduanya kemudian memeluknya sambil berurai airmata, mereka membelai rambutnya Cempaka.
Cempaka semakin tak mengerti.
"Sabar ya sayang, semoga saja jodohmu akan segera datang" Ucap bapaknya Cempaka.
"Iya cucuku, nenek do'akan kamu akan segera bertemu dengan jodohmu" Nenek Aminah dan nenek Rahmi menimpali.
"Ini ada apa?" Tanya Cempaka keheranan.
"Emh... Tidak... Tidak ada apa-apa nak!" Bapak dan neneknya Cempaka seperti yang baru tersadar dari mimpinya.
Ketiganya lalu melepaskan pelukannya, mereka mengusap airmata yang membasahi kedua pipinya.
"Nenek, bapak, Sebenarnya ini ada apa? Kenapa kalian tiba-tiba
__ADS_1
menangis seperti yang tersakiti begitu, ada apa? Apa yang sudah terjadi?" Untuk kesekian kalinya Cempaka bertanya.
Ketiga orang tua itu saling tatap satu sama lain.
"Tidak ada apa-apa nak, kami cuma terbawa suasana saja" Akhirnya pak Jati berbohong.
"Iya cu, ma'afkan kalau kami telah membuatmu kaget" Timpal nenek Aminah.
"Nenek- nenek, bapak. Aku kira ada apa? Syukurlah kalau begitu"
Cempaka tersenyum getir. Di dalam hatinya, dia mengira pasti nenek dan bapaknya itu sedih karena adiknya sudah ada yang melamar duluan, sedangkan dirinya sebagai seorang kakak, belum punya calon suami sekalipun. Bahkan, batang hidungnya pun belum kelihatan.
Cempaka belum tahu kalau yang sebenarnya terjadi di ruang tamu rumah ibunya itu, lebih dari yang dia kira.
Dia tidak tahu kalau adiknya itu bukan hanya bertunangan. Tetapi, langsung sekalian melangsungkan akad nikah! Tanpa sepengetahuannya.
"Ceuceu! Kenapa Ceu Sekar menyetujui akad nikah ini? Apa Ceu Sekar sudah lupa bahwa ada kakaknya Anyelir yang belum punya jodoh? Kok! Tega ya." Bi Arum, adiknya bu Sekar menegur
kakaknya.
Bu Sekar yang di tegur begitu, diam tak bisa langsung menjawabnya.
"Apa Ceu Sekar enggak kasihan sama Cempaka? Dia itu anak yang baik, penurut. Setahu saya, anak ceu Sekar yang paling baik, rajin dan sopan hanya dia. Ingat ceu Sekar, waktu Bunga ngamuk, dia langsung mengalah, merelakan cintanya hancur! Kenapa sekarang tidak ada yang mendukungnya?" Lanjut bi Arum lagi. Dia betul-betul emosi.
"Arum, aku bingung karena Keluarga pak Andro sudah menyiapkan segalanya tanpa sepengetahuan aku." Kilah bu Sekar sambil menyeka air matanya.
"Kenapa Ceu Sekar setuju saja?
Itu kan tidak adil! Harusnya Ceu Sekar tolak saja, itu kan tidak sesuai dengan pembicaraan waktu itu. Kalau menurut saya sih, keluarganya pak Andro itu enggak mau rugi! Juga enggak punya hati! Dia egois ceu! Dia mau enak sendiri, tidak memikirkan orang lain" Bi Arum
menegur kakaknya yang sudah bersikap tidak adil terhadap anak-anaknya.
"Iya Arum, harusnya aku tadi jangan mengikuti aturannya. Aku salah Aruum, benar apa yang kau
katakan barusan, aku ibu yang pilih kasih, tidak bijaksana" Bu Sekar menangis karena merasa menyesal.
"Arum, untuk selanjutnya aku harus bagaimana? Kalau akhirnya Cempaka tahu bahwa dirinya telah di langkahi!" Bu Sekar mulai kebingungan.
"Naah! Ini yang saya takutkan. Besok atau lusa, Cempaka pasti tahu. Tidak mungkin bisa selamanya di sembunyikan. Siap-siap saja kalau nanti ada keributan, jangan salahkan Cempaka kalau dia ngamuk dan merasa di khianati" Ujar bi Arum mengingatkan kakaknya.
"Arum, aku harap jangan kau beritahu Cempaka tentang hal ini ya! Aku takut Cempaka tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia sudah beberapa kali di sakiti dan di khianati oleh keluarganyaraha sendiri. Aku jadi khawatir."
"Saya tidak janji ya kak! Semoga saja saya bisa merahasiakannya"
Ujar bi Arum. Sepertinya dia merasa kesal kepada kakaknya.
Di luar hujan masih belum berhenti mengguyur bumi. Sepertinya, alam belum merasa puas menangisi kepedihan yang baru saja di alami oleh Cempaka.
__ADS_1
Begitu pula dengan bu Sekar, dia baru saja terbuka mata hatinya. Dia baru tersadar dengan apa yang telah di lakukannya.
Dia telah mengkhianati anaknya sendiri!