Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Merayu wa Iyem


__ADS_3

"Kenari! Yang licik dan serakah, demi memuaskan nafsunya dia korbankan adik kandungnya sendiri, Kenari, Kenari. Jadi aku yang menang dobel. Kakaknya dapat, adiknya sebentar lagi menyusul. Mana lebih mantap lagi, masih orisinil"


Bathin Karmin, dia melepaskan pandangannya keluar jendela bis yang tengah dia tumpangi saat itu.


Dalam hatinya dia ingin tertawa ngakak atas hokinya yang telah mendapatkan durian runtuh secara tiba-tiba. Sekali tebas, Dua pohon durian lagi yang langsung dia dapatkan.


Bagaimana tidak merasa bahagia?


Kenyataan yang langka itu


jarang terjadi di dunia ini. Dan, kejadian yang langka itu, dia mendapatkannya dengan sekaligus!


"Mimpi apa aku? Bisa mendapatkan keberuntungan begitu besarnya secara sekaligus, rasanya aku masih tak percaya"


Dia tersenyum sendiri, dia tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Jangga, Trisi!"


Hingga teriakan sang kondektur lah yang mampu membuyarkan lamunannya Karmin.


"Sudah sampai, terasa begitu nikmatnya naik bis sambil mengenang keindahan dan keberuntungan yang tengah aku dapatkan saat ini" Karmin meregangkan kedua tangannya setelah dia turun dari bis.


"Min, dari mana?"


Karmin menoleh ke arah datangnya suara.


"Woy, Parjo. Kula habis dari Bandung"


Senyuman Karmin mengembang sempurna, menyiratkan kebahagiaan yang tengah memenuhi relung hatinya.


"Ooh, jenguk Mayang. Kepriben kabare Mayang ( Bagaimana kabarnya Mayang)?"


"Apik( baik)"


"Aku balik duluan yo!"


"Yo!"


Karmin berlalu dengan ojeg yang di tumpangi nya.


Dia sengaja tidak mengabarkan kebahagiaannya kepada temannya itu. Dia ingin membuat kejutan kala memboyong Cempaka ke kampung halamannya nanti.


"Kalau Cempaka di bawa ke rumahku, rasanya itu tidak mungkin. Karena Mayang suka pulang dua atau tiga bulan sekali. Lalu, aku bawa ke mana dia? Ke rumah ibuku, bagaimana aku mengatakannya pada ibu dan bapak ketika mereka bertanya"


Karmin belum menemukan jalan keluar nya.


"Ah! Aku ingat sekarang! Akan aku bawa dia ke rumahnya wa Iyem saja. Iya betul! Rumah wa Iyem kan besar, kamarnya ada empat, dia kan tidak punya anak, dia pasti suka kalau Cempaka ku ajak ke sana, hitung-hitung menemani dia"


Ide cemerlang muncul di dalam benaknya Karmin.


"Ke Trisi bae kang! Ke Trisi saja bang)"


Karmin menyuruh tukang Ojeg supaya dia mengantarkan ke Trisi, ke rumahnya wa Iyem.


Tanpa banyak cakap, tukang Ojeg yang tadinya mau belok ke rumahnya Karmin, langsung tancap gas lagi menuju ke rumahnya wa Iyem.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, sampailah ojeg itu di halaman rumahnya wa Iyem.


Kebetulan wa Iyem tengah duduk di teras depan, tengah nyantai melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan depan rumahnya.


"Wa, sehat?"


Karmin menyapanya setelah nya dia di hadapannya.


"Sehat? Kamu baru pulang dari Bandung?" Wa Iyem mengerutkan keningnya.


"Iya wa, saya mendapatkan durian runtuh" Karmin tersenyum bahagia.


"Sejak kamu nganterin si neng cantik itu, baru pulang lagi sekarang?"


Wa Iyem geleng-geleng kepala tak mengerti.


"Tidak, wa. Setelah sehari di sana aku balik sini buat ngurusin na, lalu saya balik lagi ke Bandung"


"Na? Na kan buat persyaratan nikah"


"Iya wa, aku senang sekali"


"Kamu ngurusin na nya siapa?"


Dengan dahi yang mengkerut, wa Iyem bertanya penasaran.


"Buat saya, wa. Saya yang menikah"


"Jadi, kamu mendapatkan durian runtuh itu kamu menikahi si neng cantik itu? Kenapa dia bisa mau sama kamu?" Wa Iyem bertanya dengan wajah yang merasa aneh.


Karmin bercerita dengan wajah sumringah, dan juga bola mata yang berbinar bahagia.


"Kok, bisa?"


Wa Iyem tak habis pikir.


"Berkat kelihaiannya Kenari, kakaknya itu. Dia yang ngotot menjodohkan aku dengan Cempaka, dia melakukan berbagai cara untuk berlangsungnya ijab qobul itu. Dan akhirnya syah juga pernikahan kami"


Senyuman itu terus mengembang di bibirnya Karmin.


"Selama di Bandung, kamu tinggal di kontrakannya Mayang?"


"Bukan wa, sama sekali aku tidak menemui Mayang. Aku tinggal di rumahnya Cempaka yang cantik itu. Malahan, aku sudah menikahinya"


Bola matanya membulat bahagia.


"Kenapa kakaknya berbuat begitu sama adiknya sendiri,ya?"


Wa Iyem masih tak habis pikir. Benaknya belum bisa menerima kalau Karmin sudah menikahi Cempaka yang cantiknya gak ketulungan.


"Lalu istri kamu mau di kemanain?"


Korek wa Iyem.


"Dia kan di Bandung lagi nyari duit. Jadi tidak akan tahu kalau aku di sini sedang berbulan madu dengan Cempaka yang cantik jelita"

__ADS_1


Dengan entengnya Karmin bicara.


"Boleh kan wa, kalau Cempaka tinggal di sini menemani uwa, supaya uwa tidak sendirian lagi"


Karmin mulai mengeluarkan jurus rayuannya.


Wa Iyem tidak langsung menjawabnya, netra tuanya menatap Karmin tidak percaya.


"Uwa, rumah uwa kan besar, kamarnya saja ada empat. Yang di pakai sama uwa kan cuma satu kamar, satu kamar lagi di pakai tempat padi dan beras, berarti dua kamar yang di depan itu kan kosong. Boleh ya wa, daripada di tempatin dedemit, mendingan di tempatin aku sama istri muda ku"


Karmin cengengesan.


"Terus terang uwa masih tak percaya dengan apa yang kamu ucapkan tadi.


Tak mungkin gadis kota dan cantiknya minta ampun, bisa kecantol sama kamu yang berkulit hitam buluk gitu. Mana sudah punya istri lagi, kerjaan juga baru magang"


"Dia kan tidak tahu kalau aku sudah punya istri, wa. Dia tahunya aku masih bujangan. Nah, nanti kalau Cempaka sudah di sini, uwa jangan bilang kalau aku sudah punya istri, dan jangan bilang kalau aku hanya seorang pekerja magang" Karmin merengek.


"Itu namanya bohong! Dosa tahu! Berarti selama ini kamu menipu dia.Itu tidak baik, walau di sembunyikan serapat apapun juga, lambat laun dia pasti tahu siapa dirimu sebenarnya"


Wa Iyem mencoba mengingatkan.


"Tolonglah wa, untuk sementara saja. Untuk meyakinkan dia saja, nanti untuk selanjutnya aku akan pikirkan lagi kemana akan ku bawa dia biar selalu aman, kalau untuk Mayang aku sudah punya jawaban kalau dia bertanya nanti. Aku bilangin saja karena dia tidak bisa punya anak, beres kan? Aku yakin Mayang tidak akan berkutik lagi. Ini untuk Cempaka, jangan sampai dia tahu kalau ternyata dia itu di madu"


"Boleh kan wa, boleh ya?"


Wa Iyem menatap lekat wajahnya Karmin.


Dia jadi merasa bingung di hadapkan pada kenyataan yang begitu sulit untuk di pilih.


"Uwa harus bagaimana? Ini sulit bagi uwa. Karena uwa juga seorang perempuan, ini dilema buat uwa"


Netra tuanya menatap nanar wajahnya Karmin.


"Kalau uwa menutupi kebenaran tentang kamu, berarti uwa telah ikut campur mendzolimi neng Cempaka yang tidak salah. Kalau di kasih tahu yang sebenarnya, dia juga pasti sakit hati, kecewa dan pastinya menderita.


Uwa jadi bingung, uwa harus bagaimana?"


Netra tuanya mulai di bayangi dengan genangan air mata.


"Tolong aku, wa. Uwa pura-pura tidak tahu saja"


"Kamu kan keponakan uwa, tidak mungkin kalau uwa tidak tahu tentang kamu!" Titik bening mulai luruh melewati pipi keriputnya.


Wa Iyem menangis.


"Lalu aku harus bagaimana wa? Harus kemana aku membawa dia? Aku kan sudah mengatakan kepada keluarganya kalau aku kerja di bri, kan tidak mungkin kalau aku tinggalkan istri mudaku di rumah orangtuanya, sementara aku di sini"


Karmin berusaha mendesak wa Iyem.


Wa Iyem diam tak bergeming. Terang saja membuat Karmin salah tingkah. Dia ketakutan uwa nya tidak mengizinkannya.


"Uwa, tolonglah wa!" Ujar Karmin.


Setelah beberapa saat wa Iyem terdiam, diapun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan berat hati.

__ADS_1


******


__ADS_2