Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kenari melarikan diri


__ADS_3

"Ini bagaimana pak, kok! semua guru-guru pada hadir, siapa yang ngundang?" Bu Sekar bertanya setelah mereka agak menjauh dari keramaian para tamu undangan.


"Itu yang bikin bapak bingung, bu. Kita kan tidak mengundang siapapun selain kerabat dekat. Karena, kita kasihan sama Cempaka" Pak Jati menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Kita seperti di jebak pak. Kalau kita menghindari para tamu undangan, itu tak mungkin. Masa, anak kita yang jadi pengantinnya, kita enggak ada di tempat. Kalau kita diam di sana, kita bingung menjawab pertanyaan para tamu undangan. Aduuuh, bagaimana ini?"


"Benar itu bu, kita ada yang menjebak. Tapi, siapa ya?" Pak Jati nampak keras berpikir.


Dari kejauhan, nampak para tamu undangan makin banyak yang berdatangan, semakin membuat ketar-ketir bu Sekar dan pak Jati.


Apalagi para tamu undangan itu, guru-guru dan rekan-rekannya pak Jati di kantor.


Makin membuat pak Jati dan bu Sekar panas dingin.


" Besan, kenapa di sini?" Bu Tari menghampiri tempat bu Sekar dan pak Jati dengan senyuman penuh arti.


" Emh, emh, kami, kami lagi ngadem dulu" Bu Sekar gelagapan menjawabnya.


Bu Tari hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri besannya sa'at itu.


"Kalian kena ulah anakmu sendiri. Kenari memang cerdik dan juga licik" Bathinnya sambil terus tersenyum.


"Ayo bu, pak! Kita temui mereka, itu kan rekan-rekan besan semua. Rasanya kurang pantas kalau kita di sini terus" Bu Tari menggamit lengannya bu Sekar, membawanya ke tempat para tamu undangan yang tengah menyantap hidangan.


Mau tidak mau pak Jati pun mengikutinya dari belakang.


"Pak Jati, selamat ya atas pernikahan putrinya. Tapi, kenapa ya acaranya tidak di rumahnya pak Jati sendiri?" Seorang tamu nyeletuk.


"DEG!"


Terasa ada yang menonjok ulu hatinya pak Jati dan bu Sekar.


Suami istri itu saling pandang, bingung.


"Emh, kebetulan besan kami yang menginginkan pestanya di adakan di sini" Dengan pipi bersemu merah, bu Sekar menjawabnya.


" Ooh, baik sekali ya besannya"


Puji sang tamu.


"Pak, ibu sudah gerah diam di sini" Bu Sekar mengusap keringat yang mengucur membasahi wajahnya.


" Mana baru jam sebelas lebih lagi, para tamu undangan tengah ramai-ramainya pada berdatangan" Gumam bu Sekar.


Dengan keadaan begitu, pak Jati dan bu Sekar tidak bisa berpikir jernih.


Mereka tidak bisa menebak, siapa yang sudah bikin ulah mengundang semua rekan-rekan kerja nya tanpa sepengetahuannya.


"Adzan Dhuhur juga belum bu, acaranya masih lama ini" Pak Jati berkeluh-kesah.


"Bu Sekar, pak Jati, selamat ya"


Entah sudah berapa ratus kali bu Sekar dan pak Jati menerima ucapan itu.


"Terimakasih pak, bu" Setiap membalas ucapan selamat itu, hati bu Sekar dan pak Jati seakan teriris sembilu nan tipis.


Wajah Cempaka makin terasa menempel di kelopak matanya.


*


Sementara itu Cempaka tengah asyik bergelut dengan soal-soal ujian semesternya.


Dia berusaha untuk fokus supaya mendapatkan nilai yang baik.


Sedangkan Anyelir dan kakak-kakaknya serta keluarganya pak Andro, nampak asyik menikmati pesta pernikahan itu. Mereka larut dalam suasana yang riang gembira.


"Teh Kenari, bagaimana nanti pak Jati dan ibu, mengetahui bahwa kita yang mencuri data Guru-guru itu, untuk kemudian mengundangnya. Bapak bisa marah ini" Bu Tari berbisik kepada Kenari, di tengah ramainya para tamu undangan.


Bu Tari merasa cemas juga.


"Kita mengelak saja bu" Dengan entengnya Kenari menyahut.


"Perlu kita pikirkan" Ujar pak Andro.


"Bagaimana nanti saja pak, yang penting sekarang kita nikmati saja kemeriahan pestanya" Enteng nian Kenari mengucapkannya.


"Betul itu pak, sekarang kita pura-pura tidak tahu saja" Ucap Bunga pula.


"Baiklah kita pura-pura saja" Dalam hati Kenari pun merasa ketar-ketir. Takut orang tuanya menginterogasinya.


"Allahu Akbar Allahu Akbar!" Suara Adzan Dhuhur berkumandang dari Masjid. Menandakan waktunya sholat dhuhur sudah tiba.


"Alhamdulillahirabilalamin, akhirnya waktu sholat dhuhur datang juga" Gumam pak Jati dan bu Sekar kegirangan.


Dengan begitu, mereka bisa sejenak terhindar dari pertanyaan para tamu undangan.


"Ayo pak! Kita ke musholla dulu"


Senyuman tersungging di bibirnya bu Sekar.

__ADS_1


Pak Jati pun tak menunggu di ajak dua kali, dia langsung mengikuti ajakan istrinya untuk ke Musholla, mengerjakan sholat dhuhur sekaligus menghindar dari para tamu undangan dengan pertanyaannya yang bikin mereka panas dingin tak karuan.


*


"Siapa ya yang tega melakukan hal ini pada kita?" Keluh pak Jati setelahnya mereka selesai melaksanakan shalat dhuhur.


"Apa bapak enggak ada perasaan curiga pada seseorang?" Pancing bu Sekar.


"Entahlah, bapak belum bisa berpikir ke arah sana" Sahutnya.


"Jangan-jangan, anak kita pak! Bapak ingat kan beberapa hari yang lalu, Kenari menyuruh Cempaka untuk mengambil arsip data di ruang kerja bapak?" Rupanya ingatan bu Sekar mulai terarah.


"Maksudnya? Kenari yang membuat ulah semua ini? Tapi, apa maksudnya?" Pak Jati masih ragu.


"Bapak, selama ini Kenari belum pernah menyuruh Cempaka minjam arsip data Guru-guru. Buat apa? Coba bapak ingat-ingat!"


"Iya benar bu, sepertinya Kenari yang bikin ulah. Astaghfirullahaladzim... Kalau benar dia yang berulah, berani sekali anak itu, tidak berpikir panjang bagaimana efeknya" Pak Jati geleng- geleng kepala.


"Demi apa pula dia berani melakukan hal konyol itu. Bisa-bisanya dia mengelabui Cempaka untuk mengambil arsip data tanpa sepengetahuan bapak, ya Allah"


Pak Jati nampak tidak habis pikir dengan tingkah anak sulungnya itu.


"Tapi, semoga saja semua praduga kita itu tidak benar ya pak" Bu Sekar mencoba menenangkan hati suaminya.


" Kalau bukan Kenari, siapa lagi bu yang berani begitu. Bapak ingin segera selesai saja acara pesta ini, bapak ingin segera tahu kebenarannya, siapa sebenarnya yang jadi dalang atas semua ini?" Pak Jati berkata lemas.


"Iya pak, sekarang bagaimana selanjutnya? Tidak mungkin kan kita diam di sini terus. Mau tidak mau kita harus menghadapinya" Bu Sekar tak kalah gundah.


Dengan terpaksa, pasangan suami-istri itu, beranjak dari tempat duduknya.


Dengan langkah yang gontai, mereka kembali menghampiri kerumunan para tamu undangan untuk menyambutnya.


*


"Assalamualaikum bu Sekar, pak haji, kemana saja? Kok! Kita baru bertemu, padahal kita dari tadi di sini" Seorang tamu menyambutnya dengan pertanyaan yang agak menyinggung.


"Waalaikumsalam... Kami dari musholla dulu bu" Bu Sekar berusaha bersabar.


"Eh, ngomong-ngomong, kenapa tidak di adakan di rumahnya bu Sekar saja pestanya?" Lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari mulut sang tamu.


"Besan kami yang menginginkannya" Lanjut bu Sekar lagi sambil berusaha lembut, walau hati dalam keadaan sebaliknya.


"Saya perhatikan, sepertinya Ibu dan bapak kelihatannya sedang tidak fit" Salah seorang sepertinya memperhatikan keadaan bu Sekar dan pak Jati.


"I,iya, emh, mungkin kami sedikit ke cape an" Sahut pak Jati dengan senyuman yang di paksakan.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu" Ujar salah seorang tamu.


Bu Sekar meliriknya dengan sudut matanya. Ternyata, itu tetangganya yang beda RT.


"Iya, saya juga dari tadi mencarinya. Tapi, sepertinya dia tidak ada di sini. Kasihan dia ya bu, sudah di tinggal kawin sama Buana, tidak di restui kisah cintanya dengan siapa tuh? Yang anggota ABRI itu? Eeh, sekarang di langkahi oleh adiknya" Ibu yang di sebelahnya menyambutnya dengan antusias.


"Enggak nyangka ya, ternyata pak Jati dan bu Sekar itu pilih kasih, kasihan Cempaka. Sepertinya dia sengaja di umpetin biar tidak menyaksikan pesta ini" Sahut tamu undangan yang lainnya.


"Kalau Cempaka tidak di sembunyikan, tidak mungkin dia sekarang tidak ada di sini" Sahut ibu yang pertama berujar tadi.


"Kenapa enggak tegas ya sama anak. Pak Jati dan bu Sekar sepertinya kalah sama anak-anaknya. Padahal, pak Jati dan bu Sekar itu kan orang berpendidikan, terhormat, terpandang lagi. Tapi, kenapa sikapnya bisa begitu ya?" Timpal yang lainnya lagi.


Perkataan dan ucapan yang tidak enak di dengar, begitu santer bergulir dari mulut-mulut usil para tetamu.


Ingin rasanya bu Sekar mendamprat mereka yang bicara seenaknya itu. Namun, para tamu undangan itu, tidak salah berpikiran begitu. Memang itu keadaannya.


"Pak" Bisik bu Sekar, dia sudah tidak kuat dengan ocehan para tamu undangan.


"Ma'af kami tinggal sebentar" Telinga pak Jati sudah tidak kuat lagi mendengar semua ocehan para tamu undangan.


"Iya pak, silahkan" Sahut salah seorang tamu.


" Ini benar, sepertinya ada yang tidak beres" Seseorang nyeletuk lagi penuh keyakinan.


"Kalau mereka tidak merasa bersalah, tidak mungkin mereka seperti yang gelisah begitu dan langsung pergi meninggalkan kita di sini, ini benar-benar ada yang tidak beres, bikin penasaran saja" Sahut yang lainnya lagi.


Melihat ke dua orang tuanya terjebak kelimpungan, Kenari dan Anyelir mulai gelisah. Mereka tidak mengira kalau para tamu undangannya akan ada bahkan banyak yang berkata usil begitu.


"Kak, gimana kalau bapak sama Ibu curiga sama kita?" Anyelir berbisik was-was.


Kenari tidak segera menjawabnya, karena dia sendiri sudah ketar-ketir hatinya.


Dia sedang memikirkan alasannya, bila nanti kedua orangtuanya benar-benar menginterogasinya.


"Kakak!" Anyelir mencubit tangan kakaknya.


Karena, Kenari tidak segera menjawabnya.


"Apa?" Kenari ngegas.


"Gimana ini kak? Aku takut di marahin sama ibu dan bapak" Anyelir meringis ketakutan.


" Enggak tahu, kakak juga bingung. Sudah, jangan banyak nanya. Sekarang sambut saja tamu-tamunya dengan senyum yang ramah. Kakak mau ada perlu dulu" Kenari berlalu meninggalkan Anyelir dan Petir di kursi pelaminan.

__ADS_1


" Kakak mau kemana?" Anyelir cemas.


"Ssst!" Kenari menyimpan telunjuk di bibirnya.


Anyelir merenggut ketakutan.


"Sudah diam saja, Kak Kenari mungkin mau ada perlu dulu" Ujar Petir menenangkan istrinya.


Dari kejauhan Anyelir melihat kakaknya pergi meninggalkan rumah mertuanya, meninggalkan pesta yang tengah berlangsung.


Anyelir makin ciut hatinya. Dia ketakutan kalau kakaknya akan menghindar dari tanggung jawabnya. Dia takut Kenari melarikan diri.


"Bu, ini gimana?" Anyelir mengadu ke bu Tari, sang mertua.


"Gimana apanya neng?" Bu Tari tak mengerti. Karena, dia baru saja tiba di sana.


"Kak Kenari pergi, anaknya juga di bawa" Anyelir cemas.


"Ke mana? Kan, acaranya belum selesai, kenapa pergi?" Mendengar Kenari pergi, bu Tari pun nampak cemas.


Dia takut Kenari melarikan diri.


"Kalau Kenari melarikan diri, bagaimana jadinya? Kalau bu Sekar dan pak Jati menanyakan tentang para tamu undangan yang guru-guru; itu gimana?" Gumam bu Tari was-was.


"Teh Kenari pamitnya mau ke mana neng?" Bu Tari bertanya penasaran.


"Enggak bilang apa-apa bu, cuma dia bilang mau ada perlu dulu" Anyelir mulai berkaca-kaca matanya. Rasa takut jelas membayang di wajahnya.


Riasan pengantin tak mampu menutupi kecemasannya.


Hari beranjak sore, kumandang Adzan sholat Ashar telah menggema satu jam yang lalu.


Pak Jati dan bu Sekar sudah kembali dari musholla. Kini mereka tidak ragu dan bingung seperti waktu dhuhur tadi. Kini mereka sudah merasa yakin. Bahwa yang bikin ulah semua ini adalah anak sulungnya.


Mereka sudah menyiapkan beberapa pertanyaan untuk anak-anaknya, terutama untuk Kenari, anak sulungnya. Yang sudah pasti dia yang jadi dalangnya.


Tetapi sayang, bu Sekar dan pak Jati tidak mengetahui kalau anak sulungnya yang licik itu sudah melarikan diri, lari dari tanggung jawabnya.


Sebelum jam lima sore, para tamu undangan sudah tidak ada yang datang lagi.


Anyelir semakin ketar-ketir.


Kenari belum kelihatan kembali. Entah pergi ke mana dia bersama anaknya.


"Aku ke kamar duluan ya, mau ganti baju sudah gerah" Anyelir ingin menghindar dari tatapan kedua orangtuanya.


"Iya, aku juga sudah gerah mau mandi" Petir pun ketakutan juga, dia tidak mau di tinggal sendirian.


"Pak, kita jangan dulu pulang sebelum kita tahu siapa dalang yang sebenarnya" Bu Sekar geram.


" Sebaiknya kita temui dulu yang punya rumah, sepertinya mereka tahu semuanya" Pak Jati juga tak kalah geram.


Dengan hati yang kesal, keduanya masuk ke dalam rumahnya bu Tari. Mereka menelisik semua ruangan satu demi satu. Namun, bu Tari dan pak Andro tidak mereka temukan.


Sepertinya, bu Tari dan pak Andro sudah mencium bau-bau kalau besannya akan mencarinya.


Karena itu, mereka segera mengamankan diri, masuk ke kamarnya.


"Pada kemana? Kok! Di setiap ruangan enggak ad mereka" Bu Sekar bertanya kesal.


"Mereka sepertinya sudah ngumpet bu! Kita kalah cepat"


Sesal pak Jati.


"Bunga?" Bu Sekar memanggil anaknya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Hah? Ibu! Bapak!" Bunga sangat terkejut mendengar ibunya memanggil namanya.


"Kenapa kamu terkejut begitu?"


Pak Jati pura-pura tidak tahu.


"Emh, enggak apa-apa bu, cuma kaget saja. Ada apa bu?" Bunga mencoba menyembunyikan perasaan takutnya.


"Kamu melihat mertuanya Anyelir?"


"Enggak bu"


" Kemana ya? Masa langsung menghilang. Ibu sama bapak mau pamit pulang, sudah sore"


"Pengantin nya juga kemana lagi?"


"Bunga, kamu tahu enggak, siapa yang mengundang Guru-guru dan rekan kerja bapak?"


" Eng, enggak tahu pak" Dengan gelagapan Bunga menjawabnya.


" Kakakmu ke mana?" Pak Jati Geram.


"Enggak tahu juga" Sahut Bunga.

__ADS_1


***


__ADS_2