
Keesokkan harinya Kenari di panggil oleh bu Sekar.
"Assalamualaikum..." Kenari mengucapkan salam setelah dia berada di depan pintu rumahnya bu Sekar.
"Waalaikumsalam... Masuk!" Jawab bu Sekar membentaknya.
"Ada apa buu? Kok! Ibu bentak aku?" Kenari sepertinya tidak suka dengan sikap ibunya itu.
"Kamu merasa bersalah tidak?"
"Apa maksudnya buu? Kenari tidak mengerti" Kenari semakin kaget saja mendapatkan ibunya yang nampak marah kepadanya.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu! Kamu apakan adikmu itu?"
Bentak ibunya ketus.
"Aku tidak pura-pura ibuu. Aku bawa Cempaka untuk berobat spiritual ibuu, aku ingin dia segera dapat jodoh" Kenari menjelaskan dengan nada yang agak meninggi.
Dia merasa tidak bersalah.
"Mau kau jodohkan dengan tikus maksudmu?Apa itu tandanya seorang kakak sayang kepada adiknya?" Geram bu Sekar.
"Aku makin tidak mengerti ibuu. Masa, aku menjodohkan adikku dengan tikus! Bagaimana ibu ini?" Sangkal Kenari.
"Masih saja pura-pura tidak mengerti dengan apa yang ibu maksudkan. Memang kamu ini sengaja ya, menjerumuskan adikmu ke tempat seperti itu! Itu tempat apa? Dan ritual apa? Sampai di peuyeum di peuyeum segala! Memangnya adikmu itu singkong atau beras ketan? Hingga harus di peuyeum segala?" Ibunya begitu memuncak kekesalannya.
"Oooh..., rupanya itu yang membuat ibu jadi emosi begitu?
Ibu jangan salah faham. Ibu pasti dengar dari mak Asih ya, kalau
Cempaka lagi di peuyeum. Itu maksudnya agar Cempaka bisa di urus dengan serius oleh gurunya mak Asih. Jadi Cempakanya tidak mesti bolak-balik ke rumahnya mak Inah. Bisa cape dan juga bisa boros ongkos buu." Kenari mencoba menenangkan ibunya.
"Enggak akan lama kok! Cuma tiga hari dia di sana. Tapi, kalau Cempakanya mau, bisa sampai empat puluh hari buu. Itu katanya lebih bagus hasilnya. Karena, semua yang menghalanginya bisa hilang, bisa bersih sama sekali." Lanjut Kenari lagi.
"Adikmu sampai di gigit tikus segala. Berarti itu bagaimana?"
Bentak ibunya lagi.
"Di gigit tikus?... Cempaka di gigit tikus? Kenapa bisa?" Kenari kelihatannya kaget.
"Iya kak! Tuh lihat! Kakiku sampai berdarah gara-gara di gigit tikus sialan itu!" Cempaka keluar dari kamarnya sambil menunjukkan kakinya yang bekas di gigit tikus.
"Kamu?..., Sudah pulang? Bukannya paling sebentar selama tiga hari tiga malam di peuyeum nya? Kenapa sudah ada di rumah lagi?" Kenari merasa kaget dengan kehadiran Cempaka di rumah ibunya.
"Aku tadi pagi kabur kak!" Sahut Cempaka dengan santainya.
"Kabuur?... Kamu kabuur? Kenapa kabur dek? Baru semalam di sana sudah berani kabur. Kamu ini gimana sih?"
Kenari menyesalkan sikapnya Cempaka yang kabur dari rumahnya mak Inah.
"Iya kak, aku kabur dari rumahnya mak Inah. Karena, aku enggak mau tidur sama tikus! Tempatnya sangat kotor sekali, banyak sarang laba-labanya. Kakak tahu enggak? Di mana aku tidur? Di atas para, di atas plafon rumah. Langsung melihat genteng! Mana gelap lagi, enggak boleh ada cahaya, aku ini di samain sama seekor tikus kak!" Cempaka menjelaskan apa yang dia alami tadi malam di rumahnya mak Inah.
__ADS_1
"Haah? Yang benar Cempaka! Masa, kamu di suruh tidur di para, kotor dan banyak tikusnya lagi. Masa iya ah!" Kenari pura-pura merasa kaget. Padahal dia sangat senang hatinya.
"Rasain Cempaka! Biar kulitmu tidak halus lagi, kamu harus tidur sama tikus, emang enak?" Bathin Kenari bersorak-sorai.
" Kalau kakak tidak percaya, sana silahkan! Kakak lihat sendiri!" Ucap Cempaka kesal.
"Jangan-jangan, kamu sengaja kan menjerumuskan adikmu itu?"
Tanya bu Sekar
"Apa maksudnya semua ini Kenari?" Bu Sekar membentak Kenari dengan begitu geramnya.
"Enggak buu... Enggak... Bukan itu maksudku" Kenari mengelak.
"Kamu pasti sudah pernah kan ke rumahnya mak Inah? Kamu juga pasti tahu bagaimana tempatnya
plafon yang suka di pake meuyeum itu? Kenapa kamu tega
menyuruh adikmu untuk melakukan hal itu? Bisa-bisanya kamu berbuat serendah itu sama adikmu sendiri" Bu Sekar sangat marah sekali.
"Dimana kamu simpan otakmu itu? Di dengkul? Kemarin kamu sudah berjanji akan melindungi Cempaka. Lalu, sekarang apa?
Suamimu sampai meninggalkan mu karena sikap iri dengkimu itu.
Kenapa sekarang masiiih saja iri sama adikmu itu? Ibu tak habis
pikir dengan hatimu itu. Bukannya di jaga, di lindungi, ini malah sengaja di jerumuskan! Kamu ini kakak macam apa?"
"Ibuu, jangan percaya sama satu pihak buu, siapa tahu Cempaka mengatakan itu karena, dia tidak mau di peuyeum di sana! Saya rasa enggak mungkin mak Inah
memperlakukan Cempaka seperti tikus begitu." Kenari masih membela diri.
"Jadi ibu harus percaya sama siapa? Sama kamu?" Bu Sekar melotot kepada Kenari.
"Ma'af bu, aku kira Cempaka tidak akan di simpan di tempat itu. Aku enggak bakalan membawa Cempaka ke tempat mak Inah lagi" Kenari seperti biasa berpura-pura mengalah dan menerima apa yang di katakan oleh ibunya.
"Tenang saja Cempaka! Suatu hari nanti aku akan membuatmu menyesal seumur hidup" Kenari membathin.
"Sekarang kamu menang, karena di bela oleh ibu. Tunggu saja sa'at nya nanti! Kamu akan tercengang, kecewa, sedih dan emosi bergulung menjadi satu di dalam hatimu!" Bathin Kenari. Hatinya tetap saja di penuhi dengan kebusukan.
"Kenapa kamu diam membisu, Kenari? Jangan-jangan... Kamu sedang merencanakan sesuatu.
Hayo? ngaku" Bu Sekar sepertinya mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh anaknya.
"Emh... Bukan itu bu, aku cuma
Cuma... Takut benar apa yang di
katakan oleh Cempaka. kok aneh ya, mak Inah bisa tega begitu?"
"Ya sudah, dari mulai sekarang kamu jangan bawa-bawa adikmu itu ke tempat yang enggak benar!" Bu Sekar menyudahi pembicaraannya.
__ADS_1
"Iya bu, kalau begitu aku pulang dulu ya. Aku kerja siang, aku belum siap-siap" Kenari pamitan.
Sejak perceraian itu, Kenari kerja di sebuah perusahaan rajut sweater.
"Assalamualaikum buu" Ucapnya.
"Waalaikumsalam..." Sahut bu Sekar dan Cempaka.
"Kakakmu itu, jadi berubah. Waktu masih punya suami si Raka, sombongnya minta ampun. Sampai ibu malu sama tetangga, akan kesombongannya itu. Sekarang, setelah bercerai. Selain sombong, di tambah lagi dengan iri dan dengki. Padahal, dia itu ibu sekolahin di sekolah agama, bukan sekolah umum. Tapi, kenapaaa ya, ilmunya itu tidak nempel" Bu Sekar sangat menyayangkan perubahan akan sikap anaknya itu.
"Biasanya dari pergaulan buu"
Ujar Cempaka.
"Sepertinya begitu nak, semoga saja kamu tidak seperti kakakmu itu" Bu Sekar berharap.
"InsyaAllah tidak akan buu" Cempaka menenangkan.
"Nak, kalau kita ke tempatnya mak Ijah, bagaimana? Dia itu kan orangnya pintar dan rajin ngaji. Banyak orang yang suka di lihat nasibnya. Dan... Suka kejadian. Dulu juga waktu kakakmu Bunga, dia kan termasuk susah juga jodohnya. Ibu coba sering main ke sana. Mak Ijah selalu mengatakan bahwa jodohnya Bunga itu suka ke Kampung kita, malahan sering bertemu. Eeh... Ternyata benar saja, kakak ipar mu itu kan sering ke sini, ke rumah sahabatnya" Ujar bu Sekar.
"Iya gitu buu?" Tanya Cempaka.
"Iya benar. Semoga saja kamu juga dapat di lihat olehnya. Dan, yang bagus kelihatannya." Harap bu Sekar.
"Amiin buu, kalau aku gimana ibu saja" Cempaka setuju.
"Bagaimana kalau hari ini saja?
Nanti kalau adik-adik dan bapakmu sudah pulang, kita berangkat ke sana." Ajak ibunya.
"Emangnya ibu hapal jalannya?"
Cempaka was-was.
"Kamu ini, tenang! Jangan khawatir! Ibu hafal banget tempatnya. Desanya tetanggaan dengan desanya Sakti, suaminya Bunga" Ujar bu Sekar.
"Ya baiklah kalau begitu, aku setuju."
"Tapi, buu..., apa orang lain juga ada yang begini nasibnya? Iya... Seperti nasibku ini, mau ada yang melamar enggak jadi. Sudah dua kali ya bu!" Dengan lugu nya Cempaka bertanya.
"Yaa banyak, nak! Namanya juga manusia, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka" Ujar bu Sekar sedih.
"Mengapa ya buu? Aku mengalami nasib seperti ini? Katanya wajahku ini cantik. Tapi, kenapa selalu mendapat kendala terus? Harusnya yang cantik itu mudah jodohnya." Cempaka berharap.
"Semuanya tergantung Allah SWT. Mungkin Allah SWT sedang mengujimu. Kita harus sabar dan ikhlas, perbanyak dzikir dan berdo'a kepada Nya" Bu Sekar mencoba menenangkan anaknya.
Cempaka mengangguk perlahan.
Angannya melayang kembali ke seseorang yang dia cintai. Namun kini dia telah jadi milik perempuan lain.
Teriris, pedih dan perih serta kecewa membahana di dalam jiwa. Cempaka belum bisa melupakan nya.
__ADS_1