
"Bu! Bapak! Tolong! Tolong!" Anyelir berteriak memanggil kedua orangtuanya dengan panik.
"Bapak! Ibu! Kak Cempaka pingsan! Bu! Pak! Kalian di mana?" Kilat segera berlari mencari kedua orangtuanya, sambil tak henti-hentinya dia berteriak memanggil kedua orangtuanya.
"Bu! Itu suaranya Kilat, anak kita. Kenapa dia berteriak histeris begitu?" Pak Jati terlihat panik mendengar suara anak laki-lakinya yang berteriak memanggilnya.
"Iya, pak! Ayo kita masuk pak!" Bu Sekar segera bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Di dapur, mereka bertemu dengan anak laki-lakinya itu.
"Bu, ibu! Kak Cempaka pingsan!" Kilat berteriak panik.
"Ya Allah! Cempaka! Kenapa bisa pingsan, kenapa?" Bu Sekar nampak panik, segera berlari ke ruang tengah.
"Bu! Pak! Kak Cempaka! Uhk!"
Anyelir menangis histeris di samping tubuh Cempaka yang masih tergeletak di depan pintu kamarnya Seruni.
"Kakak! Bangun kak! Bangun!"
Seruni menggoyang - goyangkan tubuhnya Cempaka yang terdiam.
"Ya Allah, Cempaka! Kenapa nak? Kenapa bisa jadi begini?" Bu Sekar bertanya panik.
"Enggak tahu, bu. Waktu kami lagi di dalam kamarnya Seruni, tiba-tiba ada suara sesuatu benda yang jatuh. Lalu, aku membuka pintu, dan melihatnya. Ternyata, kakak sudah tergeletak pingsan di sini" Tutur Anyelir sambil menangis, panik.
"Iya bu, uhk! Kakak bangun kak!"
Seruni terus menangis tak berhenti.
"Nak, bangun nak!" Bu Sekar duduk di samping Cempaka, bu Sekar mengelus-elus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Coba di kasih minyak angin, bu! Biar dia segera siuman" Ujar pak Jati.
Beliau juga nampak khawatir, apalagi Cempaka sudah beberapa kali tidak sadarkan diri seperti sekarang ini.
"Tolong cari kan minyak angin, cepat!" Bu Sekar begitu panik dan merasa khawatir sekali.
Anyelir segera mengeluarkan minyak angin yang selalu dia bawanya kemanapun juga dia pergi.
"Ini bu, kebetulan aku membawanya" Dengan air mata yang masih menetes karena panik, Anyelir memberikan sebotol minyak angin kepada ibunya.
"Coba sini!" Bu Sekar segera mengambil botol minyak angin yang di sodorkan oleh Anyelir.
Bu Sekar mengoleskan minyak angin itu di bawah hidungnya Cempaka.
Tak hanya itu, telapak kaki dan kakinya Cempaka serta pelipisnya juga di olesi minyak angin, sambil di pijat- pijatnya dengan lembut.
"Kakak, bangun dong! Kakak sadar!" Seruni menangis sambil meratap.
Setiap yang harus di olesi minyak angin sudah di olesi oleh bu Sekar. Kakinya yang dingin sudah di urutnya dengan memakai minyak angin.
Tapi, Cempaka belum siuman juga. Bu Sekar makin panik saja.
"Pak! Anak kita pak! Uhk! Uhk! Kenapa dia belum sadar juga?"
Bu Sekar mulai menangis.
"Panggil dokter! Cepat! Uhk! Ibu tidak mau terjadi apa-apa terhadap Cempaka" Bu Sekar berteriak histeris, sambil terus menangis.
"Iya sebentar, bapak akan meminta bantuan pak hansip untuk memanggil dokter, biar cepat" Pak Jati segera berlalu keluar, untuk menemui pak Hansip.
Pak Jati berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumahnya pak hansip.
"Assalamualaikum, pak Jati , ada apa? Sepertinya sedang terburu-buru." Pak Ustadz mengucapkan salam dan bertanya kepadanya.
"Waalaikumsalam, pak Ustadz. Saya mau mencari pak Hansip"
Sahut pak Jati dengan cemas.
"Ooh, ada apa? Sepertinya pak Jati panik, kalau boleh tahu, ada apa ya pak Jati?" Pak Ustadz mencoba bertanya lebih lanjut.
"Cempaka pak Ustadz" Sahut pak Jati perlahan, wajahnya menunduk lesu.
"Memangnya neng Cempaka kenapa?" Pak Ustadz khawatir.
"Dia pingsan lagi pak Ustadz, sudah di kasih minyak angin, di gosok-gosok telapak kaki dan tangannya, tapi masih belum siuman juga. Saya sangat khawatir sekali pak Ustadz" Ujar pak Jati dengan suara yang tercekat karena terasa ada yang menghalangi tenggorokannya.
Tangisan yang serasa mau meledak keluar dari tempatnya.
"Apa? Neng Cempaka pingsan lagi? Boleh saya lihat pak Jati?" Pak Ustadz juga nampak khawatir.
"Boleh pak Ustadz. Tapi, saya mau mencari dulu pak Hansip, biar dia menjemput dokter untuk memeriksa anak saya" Ujar pak Jati. Kepanikan masih nampak sangat jelas di wajahnya.
"Baiklah pak Jati, mari saya temani!" Ujar pak Ustadz.
__ADS_1
Merekapun segera bergegas menuju ke rumahnya pak hansip.
Setelah dari rumahnya pak hansip, mereka segera bergegas kembali ke rumahnya bu Sekar.
Sesampainya di sana, Cempaka masih belum siuman. Tubuhnya masih tergeletak di lantai, di depan pintu kamarnya Seruni.
"Cempaka! Bangun nak! Bangun sayang! Uhk! Uhk!" Bu Sekar masih mencoba untuk membangunkan Cempaka.
"Kakak! Sadar kak! Bangun kak!
Bangun kak! Uhk! Uhk!" Anyelir, Kilat dan Seruni pun masih duduk di dekat tubuhnya Cempaka, sambil menangis dan meratap memanggil- manggil nama kakaknya yang masih belum siuman juga.
"Assalamualaikum, bu, Bagaimana anak kita sudah siuman?" Pak Jati mengucapkan salam sambil menanyakan keadaannya Cempaka, dengan panik.
"Assalamualaikum" Ucap pak Ustadz.
"Waalaikumsalam, belum pak, anak kita belum siuman" Sahut bu Sekar sambil tak henti menangis.
"Mari masuk pak Ustadz" Ujar pak Jati.
"Baiklah, terimakasih" Pak Ustadz masuk ke ruang tengah.
"Sebaiknya neng Cempaka di pindahkan ke tempat yang lebih nyaman dulu, kasihan kalau tergeletak di lantai begitu" Ujar pak Ustadz.
"Iya, baik pak Ustadz. Saya minta tolong untuk memindahkannya" Pak Jati meminta tolong pak Ustadz untuk membantu memindahkan Cempaka.
Kemudian pak Jati dan pak Ustadz memindahkan Cempaka ke atas bale-bale yang ada di ruang tengah.
Setelah Cempaka di pindahkan, pak Ustadz lalu memeriksa keadaannya Cempaka.
"Bisa minta air putih bu?" Ujar pak Ustadz kepada bu Sekar.
"Iya pak, sebentar" Bu Sekar segera bergegas pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Tak lama kemudian, bu Sekar sudah kembali lagi dengan segelas air putih di tangannya.
"Ini pak Ustadz" Ujar bu Sekar.
"Akan saya coba dengan cara saya, sebelum dokter datang" Ujar pak Ustadz sambil menerima segelas air putih yang di sodorkan oleh bu Sekar.
"Bismillahirrahmanirrahim," Pak Ustadz memulainya dengan mengucapkan basmalah.
Sejenak tidak ada yang bersuara, semua larut dalam kekhawatiran yang menyelimuti perasaannya masing-masing.
Walau sudah di usapnya di keringkannya, namun air mata itu masih saja menetes membasahi pipi mereka.
Semuanya merasa khawatir, merasa cemas dengan keadaannya Cempaka yang belum siuman juga.
"Sepertinya, neng Cempaka terlalu banyak tekanan di dalam bathinnya, jiwanya sepertinya terguncang, hatinya sangat rapuh, karena terus - menerus di timpa masalah yang sangat berat, kasihan sekali dia, masih terlalu muda untuk menerima kenyataan hidup seperti ini" Ucap pak Ustadz, setelah beberapa saat terdiam.
"Lalu, harus bagaimana pak Ustadz? Saya khawatir" Bu Sekar bertanya cemas, sambil mengusap air mata dengan ujung kerudungnya.
"Kita pasrahkan saja kepada Allah SWT, kita berdo'a memohon kesembuhan untuk neng Cempaka" Ujar pak Ustadz.
"Dia itu terlalu sering mendapatkan masalah yang beruntun. Seperti tadi pagi dia di kejar-kejar oleh laki-laki yang bernama Yanto, dalam keadaan mabuk alkohol, namun Alhamdulillah sudah bisa di atasi. Sepertinya ada suatu hal yang terlalu menusuk ke dalam relung hatinya, hingga dia merasa tidak kuat untuk menerimanya. Ya, jadi begini akibatnya" Ujar pak Ustadz lagi.
"Namun ma'af! Apa setelah masalah tadi, ada masalah baru yang menimpanya lagi? Masalah yang pastinya sangat berat untuk di dengar atau di hadapi oleh neng Cempaka" Lanjut pak Ustadz lagi.
"Saya rasa, setelah masalah tadi, tidak ada masalah yang lainnya. Tadi dia baik-baik saja, bahkan tadi dia sempat membantu saya di belakang, ngasih makan ayam dan nyiram tanaman. Baru beberapa menit dia meninggalkan kami di halaman belakang, katanya mau nyari Anyelir, adiknya. Tapi, tak lama kemudian adik-adiknya menjerit-jerit memanggil kami"
Pak Jati menuturkan yang dia tahu.
"Apa karena tadi dia tidak menerima jawaban yang dia inginkannya?" Gumam bu Sekar.
"Memangnya kak Cempaka bertanya tentang apa kepada ibu?" Tanya Anyelir, dia mengusap air matanya.
"Tentang dirimu, Anyelir" Jawab bu Sekar lirih.
"Maksudnya?" Anyelir balik bertanya.
" Tentang pernikahan mu dengan Petir, dan tentang kehamilan mu yang tadi sempat dia dengar di kamarnya. Waktu Kilat dan Seruni saling rebutan adik bayinya, yaitu Kilat mengharapkan bayinya laki- laki, dan Seruni mengharapkan yang sebaliknya" Lanjut bu Sekar lagi.
"Mungkin yang menyebabkan kak Cempaka pingsan adalah, pembicaraan kita tadi di dengar oleh kak Cempaka? Kalau benarKak Cempaka tadi mendengarnya,pasti dia merasa sakit hatinya, pasti hancur jiwanya setelah mengetahui ternyata, keluarganya sendiri yang telah membuatnya menderita lahir dan batin selama ini. Bu, aku harus bagaimana bu?"
Anyelir meringis meratap, menyesali semuanya, dan dia pun merasa ketakutan.
"Assalamualaikum" Ada orang yang mengucapkan salam dari luar.
"Sepertinya dokter sudah datang" Seru pak Jati, beliau segera bangkit dan bergegas menyambutnya.
"Waalaikumsalam, mari masuk pak dokter! Pak hansip, terimakasih telah mengantarkan pak dokter ke rumahku" Ucap pak Jati.
"Sama-sama pak Jati" Sahut pak Hansip.
"Terimakasih pak, boleh saya lihat pasiennya?"Tanya dokter kemudian.
__ADS_1
"Ini pak dokter, di sini!" Bu Sekar menunjukkan di mana putrinya berbaring.
"Sudah berapa lama tidak sadarkan dirinya?" Tanya dokter, sebelum dia memeriksa keadaannya Cempaka.
"Satu jam lebih" Anyelir menyahut, di iringi dengan deraian air mata di pipinya.
"Ya Allah, sudah lama juga" Ucap dokter.
"Coba saya periksa dulu"
Semua bergeser memberikan jalan buat dokter, untuk memeriksa kondisinya Cempaka yang masih tak sadarkan diri.
"Ya Allah, semoga anakku tidak apa-apa, segera sadarkan dia ya Allah" Do'a bu Sekar.
"Sadarkan kakakku ya Allah Uhk! Uhk! Uhk!" Ujar Cempaka di iringi dengan tangisan Yang pecah tak terbendung.
Dia sangat merasa bersalah sekali.
"Bu, apa kakak mendengar semua yang tengah aku perbincangkan tadi bersama adik - adikku? Gitu?" Dengan mata yang sembab karena menangis, Anyelir menduga-duga.
"Memangnya apa yang kamu perbincangkan dengan adik- adikmu itu?"Tanya Bu Sekar ingin penasaran.
"Tadi aku mewanti-wanti kedua adikku, supaya jangan kasih tahu apapun tentang pernikahanku dengan Petir, juga tentang kehamilanku, begitu bu"
Tutur Anyelir ragu.
Kilat dan Seruni mengangguk dengan ragu juga.
"Tadi kalian bicaranya di mana?"
Bu Sekar bertanya makin penasaran.
"Di kamarnya Seruni" Ujar Anyelir, sambil menunjuk ke arah kamarnya Seruni.
"Hah? Sepertinya Cempaka tadi mendengarkan semua pembicaraan kalian tadi, waktu dia lewat di sini. Tadi kan Niatnya Cempaka mau mencari kamu, Anyelir! Katanya banyak yang ingin dia tanyakan kepadamu!"Tutur bu Sekar panik sekali.
"Dia sepertinya terlalu banyak tertekan, dan terlalu banyak penderitaan yang dia terima secara beruntun, ini bathinnya yang terguncang, bu" Ujar dokter, setelah memeriksa keadaannya.
"Ma'af, kalau boleh tahu, apa selama ini ada suatu masalah yang di hadapi oleh Cempaka? Yang mungkin belum terpecahkan, dan belum ada solusinya barangkali?" Ujar dokter sambil menatap bu Sekar.
"Emh, saya rasa tidak ada pak dokter. Tadi Cempaka baik-baik saja" Bu Sekar tidak mengatakan yang sebenarnya. Bu Sekar mencoba untuk menutup masalah yang sebenarnya ada di keluarganya, terutama yang berhubungan dengan Cempaka.
"Emh, kalau ibu tidak mengetahuinya, cobalah adakan pendekatan dari hati ke hati, barangkali saja ada suatu masalah yang tengah menimpanya. Namun, ibu dan keluarga tidak mengetahuinya" Ujar dokter.
"Ba, baiklah dokter, nanti akan saya coba untuk bicara dengannya bila dia sudah siuman" Sahut bu Sekar.
"Tapi, anak saya akan siuman kan, dokter?" Pak Jati, turut bertanya penasaran.
"InsyaAllah, akan siuman. Semoga saja tidak lama lagi dia akan siuman" Dokter mencoba menenangkan.
"Ini saya buatkan resepnya, nanti tolong berikan setelahnya tersadar nanti" Di ulurkannya secarik kertas resep kepada bu Sekar.
"Emh" Tiba-tiba Cempaka membuka matanya, dia siuman setelah tak sadarkan diri selama hampir dua jam.
"Alhamdulillahirobbil alamiin, Cempaka! Kau sudah siuman, nak" Bu Sekar begitu bahagia mengetahui anaknya sudah tersadar kembali.
"Cempaka, ini ibu, nak" Bu Sekar memeluk Cempaka yang baru saja siuman.
"Alhamdulillah ya Allah" Pak Jati dan semua yang berada di sana, mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Karena, do'anya di kabulkan oleh Allah SWT, Cempaka sadar dari pingsannya.
"Alhamdulillah Mbak Cempaka sudah siuman, kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa, obatnya di berikan ya bu! Semoga tetap sehat ya mbak!" Ucap dokter pamitan.
"Iya pak dokter, terimakasih" Ujar bu Sekar.
"Baiklah kalau begitu, Assalamualaikum" Ucap pak dokter sambil beranjak meninggalkan ruang tengah rumahnya bu Sekar.
Pak Jati mengantarnya hingga ke teras rumahnya.
"Kalau begitu, saya juga pamit pulang dulu, semoga neng Cempaka segera sembuh,
Assalamualaikum" Ujar pak Ustadz.
"Terimakasih atas do'anya, waalaikumsalam" Sahut bu Sekar.
Pak Ustadz pun beranjak mengikuti pak dokter dan pak Jati, keluar dari rumahnya bu Sekar.
"Pak Jati, kita perlu hati-hati sekali, jiwanya neng Cempaka terlalu rapuh. Saya kasihan sekali melihatnya, kita harus benar-benar menjaga perasaannya" Ujar pak Ustadz, berbisik kepada pak Jati.
"Iya pak Ustadz, saya juga begitu kasihan sekali dengan nasibnya Cempaka. Saya tidak nyangka dia akan bernasib seperti ini"
"Dan, di antara semua penderitaannya, kami sebagai orangtuanya malah ikut menyakiti perasaannya, uhk" Pak Jati menangis.
"Memang seharusnya itu tidak perlu terjadi" Pak Ustadz sangat menyayangkan sikapnya pak Jati waktu itu.
***
__ADS_1