Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Tak membawa mahar


__ADS_3

Tidak ada yang tahu kalau Kenari menyelinap ke dalam kamarnya bu Sekar. Dia berjalan dengan mengendap-endap karena takut ketahuan sama orang lain.


Sementara itu di ruang tamu pak Penghulu masih menanyakan tentang apa yang jadi maharnya.


"Kamu kan calon pengantin laki-laki nya, pasti kamu tahu mahar apa yang akan kamu berikan kepada calon istrimu. Biasanya kan dari beberapa hari sebelumnya sudah di siapkan oleh keluarga dari calon pengantin laki-laki. Kenapa ini malah seperti yang kebingungan begini? Sebenarnya acara akad nikah ini sudah di rencanakan atau bagaimana?" Pak Penghulu seperti yang kesal kepada Karmin sang calon pengantin laki-laki.


"Ma'af pak Jati, pernikahan putrinya ini bagaimana? Tadi kata anak sulung anda, seuseurahan nya sudah dari kemarin karena jauh jadi tidak banyak yang datang, dan cuma membawa yang simpel saja, tidak membawa barang yang berat. Sekarang saya tanyakan maharnya berupa apa? Calon pengantin laki-laki nya malah ungak- inguk begitu, seperti yang kebingungan" Lanjut pak Penghulu menegur pak Jati.


"Sebenarnya saya juga tidak mengerti dengan semua ini pak Penghulu. Dalam hal ini anak sulung saya yang mengatur semuanya" Pak Jati tidak menyebutkan yang sebenarnya kalau Kenari itu berbohong tentang seuseurahan nya Karmin kemarin sore.


"Bapak kan sebagai orangtuanya calon pengantin wanita, kenapa bapak mengandalkan anak sulung bapak untuk mengatur semuanya?" Pak Penghulu menyalahkan pak Jati.


"Saya juga merasa bingung pak Penghulu, saya tidak mengerti dengan semua ini" Pak Jati keukeuh pada kebingungan nya.


"Ini bagaimana kelanjutannya? Apakah mau di teruskan atau bagaimana? Sebab kalau pernikahan tanpa adanya mahar dari pihak calon pengantin laki-laki, berarti pernikahannya tidak syah. Karena, mahar adalah salah satu syarat syahnya nikah" Tutur pak Penghulu.


"Karmin, kamu kan pasti sudah tahu kalau mau menikahi seorang gadis atau perempuan itu, kita sebagai laki-laki, harus menyediakan maharnya. Dan kadang mahar itu suka di tanyakan dulu kepada calon istri kita, mau apa maharnya? Apalagi kalau maharnya cincin, biasanya kan di ajari dulu cukup tidaknya itu cincin itu di jarinya. Kalau kamu bagaimana? Apa tidak ada kesepakatan dulu dengan anak kami?" Pak Jati menegur Karmin.


Karmin diam tak bisa menjawabnya. Dia hanya menundukkan kepalanya karena kebingungan. Bagaimana tidak bingung? Semuanya terjadi atas dasar nafsu dan penipuan semata, bukan karena cinta. Karena semua itu terjadi atas dasar rekayasa dan siasatnya Kenari yang bermaksud untuk menghancurkan harga diri dan kehidupannya Cempaka.


"Dari kemarin kamu ada di rumah saya ini, tak sedikitpun kamu membicarakan tentang maharnya. Waktu saya tanya, kamu menjawab bahwa sudah di titipkan sama anak sulung saya. Kalau memang benar kamu sudah menitipkannya pada Kenari, pasti kamu tahu kan apa yang kamu titipkan itu?" Pak Jati nampak kesal dan juga merasa malu.


Karmin tak bisa berkutik lagi, dia menundukkan kepalanya semakin dalam saja. Menyembunyikan wajahnya dan berharap supaya Kenari segera datang menemuinya.


Namun, Kenari yang di nanti belum juga nongol. Karena, dia tengah sibuk mencari-cari cincinnya bu Sekar untuk di jadikan maharnya.


"Kenapa diam saja? Bagaimana ini bisa terjadi?" Pak Jati bertanya lagi.


"Semuanya saya serahkan kepada bu Kenari, pak. Katanya saya tidak usah menyiapkan mahar atau apapun, semuanya sudah dia sediakan katanya" Dengan perasaan ketakutan akhirnya Karmin mengatakannya juga.


"Mahar juga Kenari yang menyiapkan? Tapi, kenapa sampai kamu sendiri tidak tahu bentuk maharnya? Aneh!" Pak Jati nampak kesal.


"Ma'af pak Penghulu saya mau nyari Kenari dulu, biar kita tahu yang sebenarnya" Pak Jati beranjak dari ruang tamu menuju ke ruang tengah hendak mencari Kenari, anak sulungnya.


"Iya pak, saya kasih waktu setengah jam lagi. Karena saya sudah di tunggu di tempat lain nanti jam sebelas siang ini" Sahut pak Penghulu.


"Baik pak" Pak Jati melirik kepada Karmin dengan kesal.


Karmin hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajahnya pak Jati, calon mertuanya.


"Ini bagaimana, kok aneh ya! Masa calon pengantin laki-laki nya tidak bawa maharnya?" Seorang tetangga yang menguping pembicaraan pak Penghulu di ruang tamu, bertanya heran.


"Baru kali ini saya nemu pernikahan tersendat begini gara-gara calon pengantin laki-laki nya tidak bawa mahar. Jangan-jangan ini di sengaja?"

__ADS_1


Ujar seseorang berbisik kepada yang duduk di sebelahnya.


"Kasihan neng Cempaka ya, darimana dia dapat laki-laki model begitu? Dia kan cantik dan berpendidikan. Masa mau sama laki-laki model begitu!" Yang lainnya menyayangkan.


"Dengar-dengar itu kan laki-laki yang di jodohkan oleh kakak sulungnya, siapa tahu Kenari memang berniat tidak baik sama dia, kita semua tahu kan bagaimana sifat nya anak sulungnya bu Sekar?" Ada juga yang terdengar memojokkan Kenari. Karena telah mengetahuinya.


"Kalau memang begitu, saya do'akan pernikahannya tidak jadi saja, karena saya yakin pasti neng Cempaka di paksa sama Kenari. Saya yakin neng Cempaka tidak akan mau sama laki-laki itu, sudah jelek eh pas nikahan tidak bawa apa-apa lagi, jangankan bawa seuseurahan yang bermacam-macam, mahar juga dia tidak membawanya" Celetuk yang lainnya.


Hampir semua orang yang berada di sana, membicarakan kejadian yang baru pertama kalinya terjadi.


Bu Sekar menangis mendengar ocehan orang-orang yang membicarakan kejadian yang tengah menimpa keluarganya waktu itu.


Kenari yang waktu itu tengah berada di dalam kamarnya bu Sekar, dia tersenyum bahagia mendengarkan pembicaraan orang-orang yang berada di sana.


"Rasain kau Cempaka! Tidak ada gunanya punya wajah cantik juga. Hidupmu mulai memasuki ambang kehancuran. Semua orang mencibir karena sang calon suamimu itu tidak membawa mahar sama sekali. Sungguh aib yang sangat luar biasa, ha... Ha... Ha! Bahagianya hati ini" Kenari bergumam bahagia sambil tangannya sibuk membuka tumpukan baju di dalam lemari ibunya, dia berharap dapat menemukan apa yang di carinya.


Sedangkan Cempaka, hanya menangis meratap dalam diam mengetahui semua kejadian yang terjadi kala itu.


Dia diam di dalam kamarnya, di temani oleh adik bungsunya.


"Kenari! Bu! Lihat Kenari tidak?" Pak Jati menanyakan Kenari kepada istrinya yang tengah menangis di ruang tengah, di antara para kerabat dan tetangganya.


" Ibu? Kenapa ibu menangis?" Pak Jati kebingungan.


"Di mana ibu menyimpan perhiasan nya? Seingat aku, ibu punya perhiasan yang lainnya. Tapi, di mana nyimpannya ya?" Dengan menengok ke sekeliling ruangan, Kenari terus mencari barang yang di inginkan nya.


Di dalam lemari baju dia tidak menemukannya. Begitu pula di laci meja, dia tidak menemukan apa-apa.


Hingga akhirnya dia membuka kasur. Dan, di bawah kasur dia melihat sebuah dompet yang lumayan agak besar.


"Akhirnya, aku mendapatkan juga apa yang aku cari" Gumamnya dengan wajah yang sumringah.


"Pasti di sini ibu menyimpan semua perhiasannya"


Diambilnya dompet berwarna coklat tua itu, di bukanya perlahan-lahan.


"Wooow! Ini yang aku cari! Ternyata benar dugaanku, ibu menyimpan benda berharga nya di sini. Ini dia cincin yang aku maksud, ada uangnya lagi. Tak ku sangka, wanita tua itu menyimpan banyak perhiasan dan juga uang. Lebih baik aku ambil saja salah satu cincinnya, dan juga separuh uangnya, biar semua orang terbelalak matanya melihat mahar yang di berikan oleh Karmin kepada Cempaka.Karmin! Karmin, jadi nikah juga kamu" Mata Kenari terbelalak melihat perhiasan dan juga uang yang menumpuk rapi di dalam dompet itu.


Tanpa pikir panjang, di ambilnya uang sebanyak tujuh ratus ribu rupiah, dengan sigap di masukannya ke dalam kantong bajunya.


Sebuah cincin seberat lima gram dan sebuah gelang seberat sepuluh gram, lengkap dengan surat-suratnya di ambilnya juga dari dalam Dompet yang berwarna cokelat tua itu. Kemudian dompetnya di simpan lagi di tempatnya semula.


Setelah merapikan seprei nya kembali, diapun perlahan beranjak menuju ke pintu, dia hendak keluar dari kamarnya bu Sekar, dan ingin menyerahkan perhiasan serta uang yang di cirinya tadi kepada Karmin.

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Kenari segera keluar dari kamar ibunya.


"Kakak, di cariin sama bapak!" Baru saja dia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya bu Sekar, dia sudah di kagetkan oleh Kilat yang kebetulan lewat di depan pintu kamarnya bu Sekar.


"Kilat! Ngagetin saja!" Bentaknya keras hingga terdengar ke seluruh penjuru rumah besar itu.


"Itu seperti suaranya Kenari!" Bi Nani Berseru.


"Ayo bu! Kita samperin dia! Bapak penasaran, apa sebenarnya maksud dan tujuannya dia dengan semua ini" Pak Jati menggandeng tangannya bu Sekar untuk menemui Kenari.


Dengan langkah yang lebar, bu Sekar dan pak Jati menuju ke arah datangnya suara Kenari.


"Kenari! Lagi apa kamu ada di sana?" Pak Jati sangat kaget sekali melihat Kenari berada di Lawang pintu kamarnya.


"Anu, anu, emh itu, itu" Kenari menjawabnya belepotan.


"Anu apa? Itu apa?" Bu Sekar bertanya emosi.


"Aku, aku lagi mencari ibu. Iya mencari ibu" Jawabnya gugup.


"Kenapa mencari ke sana? Kamu tahu kan kalau ibumu berada di belakang. Tadi kan bersama kamu di sana, kamu kan yang memaksa ibumu untuk meminjam cincinnya buat di jadikan mahar! Kenapa mencari ke kamarnya?"Bi Nani menegurnya dengan keras.


"Sebentar, aku mau ke sana dulu. Nanti semuanya aku jelaskan!" Ujar Kenari sambil berlari ke ruang tamu.


"Kenari! Tunggu!" Panggil bu Sekar berteriak. Namun Kenari tak menghiraukannya sama sekali.


" Ma'af pak Penghulu, sudah menunggu lama. Ini yang jadi maharnya pak, tadi saya simpan di tas saya, sayanya lupa tidak memberi tahu kan dulu kepada Karmin" Kenari memberikan perhiasan dan uangnya kepada Karmin.


"Alhamdulillah, akhirnya bu Kenari datang juga. Saya sudah merasa khawatir" Ucap Karmin, kini kepalanya tak menunduk lagi.


"Maharnya adalah perhiasan seberat lima belas gram, berupa cincin dan gelang. Serta uang sebanyak tujuh ratus ribu rupiah" Kenari mengatakan maharnya kepada Karmin.


"Alhamdulillah, akhirnya datang juga yang mengantarkan maharnya. Karena maharnya sudah ada, mungkin acaranya bisa kita mulai sekarang? Mana pak Jati dan istrinya? Tolong di panggilkan karena acaranya akan segera di mulai" Ujar pak Penghulu.


"Iya pak kami di sini" Ujar pak Jati dengan heran.


"Kenari, sebenarnya dari mana kamu mendapatkan semua itu? Apakah Karmin yang membawanya?"Pak Jati menyelidik.


"Dari Karmin, pak. Cuma tadi aku lupa menyimpannya. Ternyata ada di dalam tas ini, tas nya saya temukan di kamarnya Anyelir, semalam aku kan tidur di sana" Kenari berbohong.


"Kenapa tadi kamu mau merebut cincin ibu sebagai maharnya?" Tegur bu Sekar.


"Tadi aku panik, bu. Tasnya belum aku temukan, aku lupa. Makanya aku mau memakai yang ada saja dulu, biar nanti di bayar sama Karmin, begitu bu" Dengan lincahnya Kenari memainkan lidahnya, untuk menutupi semua kebohongannya.

__ADS_1


***


__ADS_2