Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Ternyata Kenari


__ADS_3

"Anda siapa?" Kenari nampak terkejut. Dia menatap Amran dengan mata tak berkedip. Kenari sebenarnya masih ingat sama orang yang kini berada di hadapannya.


Namun, dia pura - pura tidak mengenalnya. Dia tidak mau kelakuannya di ketahui oleh orang lain. Terutama oleh ibunya.


"Saya yang tadi pagi di hadang sama ibu di gang depan" Sahut Amran dengan tegas.


"Di mana? Di gang depan mana? Dari tadi saya tidak ke mana - mana. Saya tidak menghadang Anda, saya baru sekarang bertemu dengan Anda , jangan suka mengada-ada! Saya dari tadi ada di rumah, enggak ke mana - mana. Jangan asal kalau bicara! Kenal juga enggak!" Kenari menjawabnya dengan emosi.


"Saya masih ingat sama ibu. Karena, baru tadi pagi kan kita bertemu. Benar kan, ibu yang menghadang saya tadi pagi?" Amran bersikukuh.


"Jangan asal bicara! Jangan seenaknya menuduh orang lain! Buat apa saya menghadang anda? Kenal juga enggak!" Kenari tetap tidak mengaku pernah menghadang Amran. Dia berteriak histeris, ingin meyakinkan semua yang ada di sana.


"Bu, ini sebenarnya ada apa? Dia itu siapa? Kenapa dia menuduh aku menghadangnya? Aku enggak tahu apa-apa, kenal juga enggak sama dia! Gimana ini bu? Aku bingung, tolong aku bu!" Kenari mengadu kepada ibunya. Berharap bu Sekar mau menolongnya.


"Dia itu nak Amran, keponakannya mertua Bunga" Ujar bu Sekar menjelaskan.


"Benar kan, ibu yang tadi menghadang saya? Ibu kan yang tadi menjelek - jelekan Cempaka?" Tanya Amran lagi.


"Jaga mulutmu! Kamu sudah keterlaluan! Bicara seenaknya! Memfitnah lagi! Kalau saya menghadang anda, apa untungnya buat saya? Apalagi ini, di bilangin menjelekkan Cempaka. Dia itu adik kandung saya! Enggak mungkin saya menjelekkan dia!" Ujar Kenari berteriak, dengan mata melotot garang ke arah Amran.


Dia begitu sewot!


"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, bu. Saya sama sekali tidak mengada-ada" Sahut Amran, enggak mau kalah.


"Kenari! Kenapa kamu mesti berteriak begitu? Kalau memang kamu tidak bersalah, ya biasa saja lah bicaranya, enggak usah sewot begitu! Atau, memang kamu merasa melakukan hal yang di tuduhkan oleh nak Amran. Kemudian, kamu ingin menutupinya, begitu kan?" Ujar bu Sekar setengah menyelidik.


"Dia itu siapa, bi?" Amran bertanya dengan berbisik kepada bibinya.


"Itu teh Kenari, kakaknya kak Bunga, Anak sulungnya bu Sekar" Sahut bibinya Amran.


" Apa? Anak sulungnya bu Sekar? Yang bener bi! Apa tidak salah dengar? Kenapa dia sangat beda sekali dengan Cempaka?" Amran merasa tidak percaya.


"Ssst!" Bibinya memberi isyarat supaya Amran diam.


"Emh, eng, enggak bu. Aku, aku cuma kaget saja" Ujar Kenari dengan terbata - bata.


Dia berusaha menyembunyikan mimik wajahnya, yang tengah membohongi ibunya.


"Nak Amran, apa benar yang tadi pagi menghadang di gang depan itu, anak ibu? Iya, emh, ini orangnya?" Bu Sekar bertanya lembut kepada Amran.


"Iya bu, ini orangnya, saya masih ingat betul ,bu. Bajunya juga masih sama. Ibu ini mengatakan, bahwa Cempaka akan menikah dengan adiknya sebentar lagi" Ujar Amran.


"Heh! Jangan ngaco kamu! Untuk apa aku berkata begitu! Kamu ini sudah melewati batasan! Keterlaluan!" Kenari tetap tidak mengakuinya, dia tetap berkelit.


"Kenari, apa benar yang barusan di ucapkan oleh nak Amran? Apa benar, kamu tadi menghadang nak Amran di gang depan, dengan menjelekan dan memfitnah Cempaka, adikmu sendiri?" Bu Sekar bertanya tegas kepada anak sulungnya itu.


" Ibu! Jangan percaya sama omongan orang yang tidak di kenal bu!" Kenari berkilah.


"Kalau dia berbohong, enggak mungkin dia datang ke sini untuk menanyakan kebenarannya! Jawab yang jujur! Iya atau tidak!" Bu Sekar sepertinya tidak bisa menahan emosinya.


Kenari mendelik ke arah Amran.


Sorot matanya memancarkan kebencian yang teramat sangat.


"Apa sih maunya orang ini? Dan, siapa kamu sebenarnya? Kenapa ada si sini?" Bentak Kenari kepada Amran, garang.


"Saya Amran, bu! Saya keponakannya bibiku ini. Kami ke sini untuk menanyakan kabar tentang Cempaka yang ibu katakan mau nikah sama adiknya ibu, benar atau tidak? Makanya, kami langsung menemui orangtuanya Cempaka, biar jelas kebenarannya" Ujar Amran dengan lantangnya.


Dia sengaja berkata seberani mungkin. Karena, dia merasa yakin, ini orangnya yang telah membuat dirinya putar balik lagi, tidak jadi bertandang ke rumahnya Cempaka.


"Jadi, kamu keponakannya ibu?" Kenari bertanya dengan mata menatap ke arah mertuanya Bunga.


"Iya teh Kenari, dia itu Amran, keponakan saya. Dua Minggu yang lalu, sengaja saya kenalkan Amran kepada Cempaka. Siapa tahu mereka bisa berjodoh, saya rasa mereka cocok. Perempuannya cantik, dan yang laki-lakinya ganteng" Perkataan mertuanya Bunga membuat mata Kenari melotot, seperti hendak loncat.


Dia paling tidak suka, kalau ada yang memuji Cempaka. Apalagi, di depan mata kepalanya sendiri.


"Kenapa kamu melotot begitu? Enggak suka?" Sergah bu Sekar. Dia menatap wajah Kenari tak berkedip.


"Sekarang jawab dengan jujur! Semua pertanyaan ibu. Apa maksudnya kamu menghadang


Amran tadi pagi? Buat apa? Dan kenapa kamu sampai mengaku - sebagai calon kakak iparnya?" Tanya bu Sekar lagi, tak kalah sewot dari Kenari.


Kenari diam saja, dia malah menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ibu tidak butuh diam kamu! Tapi, ibu butuh jawaban kamu, sekarang juga!" Lanjut bu Sekar.


"Huuuh, Habis, habis, aku, aku, aku" Kenari tak melanjutkan perkataannya.


"Habis aku apa?" Bu Sekar bertanya lagi.


"Aku tidak suka!" Sahut Kenari perlahan-lahan.


"Kamu tidak suka sama Cempaka? Sama adikmu sendiri! Apa yang membuat kamu tidak suka? Apa salah dia sama kamu?" Ujar bu Sekar dengan kesalnya, hingga bergemeretak giginya menahan emosi.


Kenari diam tak menjawab.


"Jadi, benar kan kamu yang menghadang nak Amran, tadi pagi?" Susul bu Sekar beberapa sa'at kemudian.


"Dan, kamu juga kan, yang mengaku-ngaku bahwa kamu itu calon kakak iparnya Cempaka, dan kamu juga kan yang mengatakan bahwa, Cempaka itu perempuan gak bener? Jasi, semua yang di ungkapkan oleh nak Amran itu benar kan?" Tanya bu Sekar lagi. Matanya tak lepas dari wajahnya Kenari.


Kenari tak berkomentar, dia diam sambil menundukkan kepalanya.


"Kenari, kamu kan sudah dewasa, sudah punya anak pula. Cobalah jangan membuat kesal ibu, apalagi kamu tahu kan, bapakmu baru saja sembuh. Apa maksudnya dengan semua itu? Kenapa kamu tega menjelekkan adikmu sendiri? Kenapa kamu tega memfitnahnya? Kamu sadar tidak, kalau semua perkataan mu itu membuat hancur nama baik adik dan orangtuamu juga? Sadar tidak? Jawab!" Bentak bu Sekar, dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Karena, karena aku tidak suka sama Cempaka. Aku ingin hidup Cempaka hancur, aku tidak mau melihat dia bahagia" Ujarnya, sungguh membuat kaget semua orang yang berada di sana.


"Apa tidak salah dengar? Apa kamu sudah tidak waras? Tega - teganya kamu berbuat begitu terhadap adikmu sendiri. Apa salahnya dia padamu? Dia itu adik yang baik, nurut. Kenapa kamu dzolimi? Kenapa kamu fitnah dia? Kenapa? Kenapa?"


Teriak bu Sekar dengan nafas yang memburu, karena menahan rasa sesak yang bersarang di dadanya.


"Apa maksudnya, apa?" Lanjut bu Sekar lagi. Matanya memerah menahan marah. Tak sedikitpun dia menyangka, kalau anak sulungnya itu akan punya dendam yang teramat dalam, terhadap adiknya sendiri.


Bu Sekar menangis, dia merasa sakit hati karena, sudah gagal dalam mendidik anak sulungnya.


"Sabar ya besan, ini cobaan buat keluarga besan" Mertuanya Bunga memeluknya dengan erat.


Kenari diam mematung, tapi bukan merenung, mengakui kesalahannya. Tapi, dia merasa kesal karena rencana busuknya langsung terbongkar oleh ibunya sendiri.


"Astagfirullahaladzim, sedikitpun ibu tak menyangka kau akan berbuat begitu kepada adikmu sendiri, ya Allah, ampuni aku ya Allah. Aku sudah gagal mendidik anak titipan darimu" Bu Sekar menangis dan meratap di pelukan besannya.


Besannya mengusap - usap pundaknya bu Sekar, dia seperti


merasakan apa yang tengah di rasakan oleh bu Sekar.


"Assalamualaikum, ibu, aku pulang" Tiba - tiba terdengar suara seorang perempuan mengucapkan salam.


Suaranya Cempaka.


"Waalaikumsalam, masuk nak!"


Sahut bu Sekar. Ada nada khawatir di dalam nada suaranya.


Dia khawatir ada suatu kejadian yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dan kejadian yang sangat dia hindari.


Pertengkaran.


"Ada tamu rupanya "


"Orang yang aku benci sudah datang, rupanya" Gumam Kenari.


"Ibu, eeeh ada ibunya kak Sakti. Apa kabar bu?" Seperti biasanya, Cempaka selalu bersikap ramah.


"Alhamdulillah baik, neng"


"Cempaka, baru pulang?" Amran bertanya sopan.


"Hai, kau ikut juga? Iya kak Amran, sudah lama?" Cempaka berbasa-basi.


"Sudah dari tadi" Sahut Amran.


"Mulai, tebar pesona" Gumam Kenari ngedumel.


"Ada apa kak?" Cempaka melirik ke arah kakak sulungnya itu.


"Itu ada orang yang suka tebar pesona, kakak enggak suka! Menyebalkan!" Kenari membuang muka, menunjukkan kebenciannya.


"Siapa kak?" Tanya Cempaka lagi, penasaran.

__ADS_1


"Kamu! Yang suka sok! Kecantikan, sok! Ramah, apalagi kepada setiap lelaki" Ujarnya bergumam, hingga kurang jelas terdengar ditelinga Cempaka.


"Jadi, keramahan adikmu itu yang membuat kamu tidak suka. Hingga, menjelek - jelekkan nya!, memfitnahnya? Itu yang menjadi alasannya, heh?" Sergah bu Sekar.


"Tidak bu! Tidak seperti yang ibu bayangkan! Tidak seperti itu! Masa, aku tidak suka punya adik yang cantik, pintar dan ramah?" Kenari berkelit, wajahnya yang tadi di tekuk cemberut, langsung di buatnya seramah mungkin.


"Lalu? Kenapa kamu tadi pagi menghadang Amran? Waktu dia mau ke sini? Dan, kamu memfitnahnya bahwa Cempaka itu mau menikah satu atau dua bulan lagi dengan adikmu? Kenapa?" Tanya bu Sekar lagi.


Kenari diam membisu.


Tingkah Kenari yang mematung itu, membuat timbul berbagai pertanyaan di hatinya Cempaka.


"Kak Kenari menghadang Amran? Dan, dia memfitnahku. Untuk apa, dia mengatakan bahwa aku mau menikah dengan adiknya sebentar lagi, kenapa?" Batinnya.


"Aku merasa heran, kenapa dia begitu cantik, sangat jauh bila di bandingkan dengan wajahku, dia serba bisa, pintar dan laki - laki yang ingin kenal dekat dengannya, semuanya tampan, ganteng, berpangkat atau pegawai negeri. Kalau bukan pegawai negeri, dia itu punya kedudukan yang lumayan, tidak seperti diriku ini" Kenari menuturkan alasan yang membuatnya tidak suka kepada adiknya sendiri itu.


Penuturan Kenari sungguh membuat semua yang mendengarnya membelalakkan matanya.


Mereka tak percaya dengan pendengarnya.


Mereka tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan Kenari yang seperti itu.


Sungguh tidak masuk akal! Hanya karena kecantikan dan kepintaran yang di miliki oleh sang adik.


Untuk beberapa sa'at, semua terdiam. Tak ada yang berkomentar.


Hanya netra nya saja yang saling menatap satu sama lain.


Mereka merasa bingung dengan alasan yang mendasari rasa dendamnya.


"Hanya karena itu, kakak benci kepadaku?" Cempaka menghampiri Kenari dan menatapnya penuh rasa tidak percaya.


" Kenari, kalau masalah cantik dan tidaknya seseorang, itu sudah di garis kan oleh Allah SWT. Kita sebagai makhluknya, tidak ada yang bisa menawar atau memintanya" Ujar bu Sekar berusaha menahan emosinya.


"Iya teh Kenari, betul itu yang di katakan oleh ibunya teh Kenari. Apapun dan bagaimanapun keadaan wajah kita, kita harus menerimanya dan bersyukur kepada Allah SWT. Karena, itu yang terbaik untuk kita" Mertuanya Bunga menimpali.


" Iya bu, kalau bicara memang gampang, mudah. Karena, bibir tidak bertulang. Karena adik saya cantik, pintar, jadi yang ngedeketinnya juga ganteng, pegawai negeri, punya jabatan atau pangkat. Kalau saya, yang deketin cuma sopir, wajahnya pas - passan. Dia cantik, harusnya saya juga cantik" Ujar Kenari.


Kami yang mendengarnya terasa ingin tertawa ngakak. Terasa lucu kedengarannya.


Namun, semua menahannya sekuat tenaga.


Kalau kami ngakak, bisa jadi Kenari ngamuk habis - habisan sama kita semua.


"Kalau kamu berpikiran seperti itu, berarti kamu tidak bersyukur


sama pemberian Allah SWT. Cobalah, mulai dari sekarang buang jauh - jauh pikiran seperti itu, dan hilangkan dari dalam hatimu. Karena, itu tidak baik, itu akan merusak hati dan kehidupanmu sendiri. Camkan itu! Biar hati dan pikiranmu tenang, hidupmu juga tentram" Bu Sekar mencoba menasihatinya.


Dia berusaha menekan kekesalan yang bergulung di dalam dadanya.


"Iya bu, aku akan berusaha untuk menerima semua kenyataan ini" Sahut Kenari.


"Alhamdulillah, itu yang paling baik anakku!" Bu Sekar tersenyum mendengar jawaban dari anak sulungnya itu.


Dia merasa yakin, kalau Kenari mungkin sudah menyadarinya.


Itu salah besar!


Kenari hanya berpura-pura baik di hadapan ibunya saja.


Di dalam hatinya masih bergulung sejuta dendam, berkecamuk sejuta benci dan rencana untuk menjatuhkan Cempaka, adik kandungnya sendiri!


"Aku tidak akan berhenti sampai di sini, adikku. Sampai kapanpun aku tidak akan rela kalau kamu mendapatkan pasangan hidup, kekayaan yang lebih baik daripada diriku. Aku tidak akan pernah tenang kalau kamu hidup bahagia! Tunggu saja Cempaka! Sa'at itu pasti akan tiba!" Gumamnya.


"Amran, kerja di mana?" Tanya Kenari, setelah menarik nafasnya dalam-dalam, membuang sedikit kesal di hatinya.


"Saya mengajar di smp, teh" Sahut Amran.


"Jadi, kamu seorang Guru smp?" Pekerjaan Amran membuat kaget dan tercengang


bagi Kenari.


"Ooh, syukurlah" Kenari segera menguasai dirinya. Dia berusaha untuk tidak menampakkan kekagetannya.

__ADS_1


"Aku tidak rela kalau suamimu itu seorang Guru" Gumam Kenari.


__ADS_2