
"Waalaikumsalam, silahkan masuk!"
Jawab kami semua.
"Tepat beberapa menit sebelum waktunya sholat Dzuhur tiba, seperti yang di katakan oleh pak Ustadz semalam. Dan, siapa yang datang?"
Cempaka tersenyum kepada Bunga sambil menunjuk ke arah pintu samping.
"Kenari yang datang!" Bisiknya.
"Kau benar dek, filing mu hebat"
Puji Bunga, dia menempelkan telunjuknya di tengah-tengah bibirnya, memberi isyarat kepada Cempaka supaya diam.
"Oke" Sahut Cempaka dengan hanya menggerakkan bibirnya saja, tanpa bersuara.
"Lagi pada ngumpul rupanya" Kenari berbasa-basi.
"Iya" Singkat jawab bu Sekar.
"Aku mau nidurin dulu Cemara, di kamarnya siapa, ya? Di kamar tamu saja gitu?" Kenari meminta pendapat.
"Di kamarnya Seruni saja, kamar tamu masih di pakai" Ujar Cempaka.
"Kenapa? Siapa yang tidur di sana?" Kenari menatap wajahnya Cempaka dengan heran.
"Enggak kenapa-kenapa" Cempaka menjawabnya singkat.
Sedangkan yang lain tak ada yang berkomentar.
"Siapa yang tidur di sana?"
Kenari balik bertanya, dia merasa penasaran.
"Lihat saja kalau tidak percaya!"
Cempaka menjawabnya dengan santai.
"Ya sudah, tidurkan dulu anaknya di kamarnya Seruni! Bukannya kamu tadi merasa pegal?"
Bu Sekar mengomentari.
Dia ingin segera mengajukan beberapa pertanyaan kepada Kenari, tentang kepergiannya yang tanpa pamit kemarin itu. Dan, tentang kotak perhiasan maharnya pernikahan Cempaka yang kemarin tiba-tiba hilang.
Kenari berlalu menuju kamarnya Seruni untuk menidurkan Cemara.
Setelah menidurkan Cemara, Kenari tidak langsung kembali ke ruang tengah, namun dia pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki. Atau mungkin untuk menenangkan hatinya dulu.
Dengan langkah yang sedikit ragu, dia kembali ke ruang tengah di mana kedua orangtua dan adik-adiknya berkumpul.
"Kemarin kamu ke mana?"
Tanya bu Sekar, setibanya Kenari di ruang tengah.
"Emh, itu bu, emh... Ada perlu dulu" Dia menjawabnya dengan suara yang gemetaran.
"Ada perlu ke mana? Kenapa sampai tidak pamit segala? Apa kamu merasa tersinggung dengan omongannya bi Nani?"
Ujar bu Sekar lagi dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Emh... Aku hanya pulang ke rumah saja, menghindari Keributan dengan bi Nani"
Dia beralasan.
"Pulang ke mana? Ke rumah siapa?" Bentak bu Sekar mulai kesal.
"Ke rumah aku, bu" Kenari mulai menciut nyalinya.
"Semalam kamu nginap di rumahnya siapa? Jawab yang jujur!" Gertak bu Sekar semakin kesal.
Kenari diam tak bisa menjawabnya. Dia kira kepergiannya kemarin itu tidak ada yang mengetahuinya.
Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Dia berusaha untuk mencari jawaban yang tepat. Berharap supaya kedua orangtuanya mempercayainya.
"Kenapa kamu diam? Kamu nginap di mana? Di rumahnya siapa?"
"Di rumah neneknya Cemara"
Sahutnya berbohong. Padahal yang sebenarnya dia ke rumahnya Eyang!
"Ada apa? Kenapa tidak bicara sama ibu kalau kamu mau ke sana?" Tanya bu Sekar lagi.
__ADS_1
"Neneknya Cemara sakit, aku ter buru-buru" Jawabnya sangat pelan hampir tak terdengar.
"Semoga saja jawaban mu itu benar dan bisa di pertanggung jawabkan" Ujar bu Sekar memberi penekanan.
"Kenapa ibu bilang begitu?"
Kenari bertanya kaget dan ketakutan sepertinya.
"Iya semoga saja apa yang kamu katakan itu benar adanya"
Kenari diam, dia duduk di dekat
Seruni.
" Kalau perhiasan emas yang di pakai untuk maharnya Cempaka, itu dapat dari mana? Dan punya siapa?" Tiba-tiba pak Jati menanyakan maharnya Cempaka.
"Dan, kenapa kamu tiba-tiba bisa membawanya tepat di sa'at mau di mulainya acara akad nikahnya? Dari awal kan tidak ada barang itu? lalu tiba-tiba jadi ada, dari mana?"
Bu Sekar bertanya pula.l
Kenari terperanjat kaget, walaupun dia sudah menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu.
Semua mata menatapnya, semua ingin mendapatkan jawabannya.
"Karmin kan tidak bawa apa-apa, kenapa waktu ijab qobul jadi ada maharnya? Itu punya siapa? Pinjam perhiasan dari siapa? Dan sekarang mana mahar itu? Adikmu perlu tahu apa yang jadi maharnya?"
Pak Jati menambahkan beberapa pertanyaan lagi pada Kenari.
"Mahar itu kan milik istri sepenuhnya, jadi Cempaka harus memakainya" Bunga ikut nimbrung.
"Perhiasan itu punya teman, sekarang sudah aku kembalikan
lagi" Jawab Kenari berbohong.
"Jadi?" Bu Sekar melotot kepada Kenari, tak percaya.
"Iya, jadi mahar yang kemarin itu hanya pura-pura saja, karena Karmin tak punya uang untuk membeli perhiasan itu. Aku pikir ya sudah pinjam saja dulu yang penting ada maharnya. Aku pinjam ke temanku, karena waktu ku pinjam sama ibu, ibu tidak memberikannya"
Kenari memberikan alasan lagi.
Semua orang geleng-geleng kepala, merasa tidak habis pikir dengan tingkahnya Kenari yang
menyepelekan masalah mahar.
Semua merasa tak menyangka kalau itu kejadian yang sebenarnya yang di karang oleh Kenari.
Apalagi kalau mereka semua tahu yang sebenarnya, entah apa yang akan terjadi pada kedua orangtuanya.
"Kamu tega melakukan hal itu? Apa kamu tidak berpikir kalau pernikahan itu bukan main-main? Pernikahan itu acara yang sakral, bukan hanya berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita saja. Tapi, urusannya dengan Allah"
Bu Sekar berujar sambil menahan rasa sesak di dalam dadanya.
"Ini bagaimana,pak? Anak kita, Cempaka. Bagaimana kehidupan selanjutnya?" Bu Sekar menangis membayangkan status pernikahan anaknya.
Sambil menundukkan kepalanya, bibir Kenari mengulaskan senyuman liciknya. Dia merasa bahagia karena upayanya untuk menjatuhkan kehidupan adiknya itu sudah berhasil.
Sekali dayung, beberapa pulau terlampaui.
Sekali telak, beberapa kerugian dan penderitaan langsung di dapatkan oleh Cempaka.
Pertama, dengan seminggu tidak kerja tanpa adanya alasan yang jelas, pasti dia dikeluarkan dengan tidak terhormat oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Kedua, dengan adanya Cempaka menikah dengan Karmin, otomatis jalinan cinta yang tengah di rajutnya dengan
Hendra sang anggota abri itu "putus" sudah, tak mungkin bisa di sambung lagi, di sini terlihat Cempaka yang tak setia.
Ketiga, dia menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai.
Ke empat, menikah dengan tanpa adanya mahar seperak pun. Berarti, sebagai seorang perempuan tidak di hargai sama sekali oleh laki-laki yang jadi menikahinya.
Ke lima, dia di permalukan di depan umum, di depan kerabat dan tetangga yang datang sa'at itu.
Ke enam, dia di jadikan istri kedua atau istri simpanan oleh Karmin.
Ke tujuh, sebentar lagi kau akan ku buat punya hutang yang akan aku rekayasa, supaya kamu mengusahakan uang itu.
Ke delapan, hidupnya akan hancur sehancur-hancurnya.
Menderita semenderita-menderitanya.
Kesembilan, Karmin mu telah mengkhianati mu sebelum kau resmi menikah dengannya.
Semua harapan, karier dan angannya yang kau rajut, kau rintis selama ini, hancur sudah dengan pernikahan mu dengan si Karmin itu.
__ADS_1
Memang aku sangat pintar dalam hal ini.
Kenari berucap dalam hatinya.
Kebahagiaan tengah menyelimuti hatinya yang kotor dan licik penuh iri dan dengki.
Sepertinya setan telah merasukinya.
"Ini ternyata yang kau gadang-gadangkan bahwa pernikahan nya Cempaka adalah pernikahan yang paling aneh! Dan belum ada di Kampung ini dan sekitarnya, pernikahan yang begini? Yang mempermalukan keluarga! Kau sudah merusak kehidupannya Cempaka! Kau jahat! Mau di taroh di mana muka orang tuamu ini, hah?! Mengapa kau lakukan ini? Jawab!"
Bu Sekar histeris, dadanya turun naik menahan emosi yang telah menyelimuti hati dan pikirannya.
"Aku kecewa punya anak kamu!"
Bentaknya lagi.
Bu Sekar menangis sambil memeluk Cempaka yang berurai air mata.
"Kita sudah gagal mendidik anak sulung kita, bu" Ucap pak Jati penuh haru.
"Tidak usah bersedih dan menangis segala, sekarang Karmin belum punya maharnya, ya sudah maharnya ngutang dulu saja, nanti kalau Karmin sudah punya uang cukup baru di bayarkan sesuai dengan beratnya dan banyak nya mahar tersebut, apa susah nya sih?"
Usul Kenari dengan nyinyir.
Menyebalkan.
"Tidak semudah itu, kak. Ini pernikahan beneran bukan main-main" Sakti sepertinya tak tahan dengan semua itu.
"Eith! Kamu hanya menantu! Ingat! Menantu tidak ada hak untuk bicara, tidak perlu ikut campur!" Bentak Kenari.
"Kakak juga tidak berhak untuk mengatur kehidupannya Cempaka! Sama sekali tidak berhak! Tidak perlu ikut campur!Perjodohan macam apa ini? Apa ini sengaja biar Cempaka menderita dan malu dengan kejadian ini? Tetangga semua tahu ini semua kelicikan kakak. Dalang di balik ini semua, kak Kenari, kan?"
Bunga menampar Kenari dengan perkataannya yang mengena dengan kelakuannya
Kenari.
"Ya sudah, kalau memang sudah tahu. Tinggal pilih saja jawabannya bila di tanya orang lain. Mau maharnya ngutang dulu atau maharnya ada. Apa susahnya, tinggal beli perhiasan imitasi yang mirip dengan maharnya yang kemarin itu, sudah selesai"
Kenari dengan santainya memberikan masukan.
"Ya Allah, astagfirullahaladzim"
Semua merasa kesal mendengar perkataan nya Kenari.
Kenari tidak mempedulikan semua itu, dia berlalu ke kamar tidur tamu.
"Harus bagaimana ini, bu?"
Pak Jati belum menemukan jalan keluarnya.
"Bagaimana kalau kita tanyakan kepada pak Ustadz saja, pak?"
Bu Sekar mengusulkan.
"Iya bu, coba saja kita tanyakan pak Ustadz, bagaimana menurut beliau?" Ada secercah harapan di sana.
"Iya bu, apa sekarang saya ke rumahnya pak Ustadz?"
Sakti menawarkan diri untuk pergi menjemput pak Ustadz.
"Sebaiknya setelah sholat dhuhur saja, kita pasti bertemu dengan pak Ustadz di Masjid"
Usul pak Jati.
"Baik, pak. Apa kita berangkat ke Masjid sekarang? Sebentar lagi gema Adzan dhuhur pasti akan berkumandang" Ujar Sakti.
"Tenang dan sabar ya, bu. Bapak mau ke Masjid dulu. Anak-anak jaga ibu kalian! Bapak mau siap-siap dulu, Adzan dhuhur sudah terdengar"
"Baik pak, bapak juga hati-hati ya"
***
"Assalamualaikum, kami berangkat dulu ke Masjid" Ucap pak Jati, Kilat dan kedua menantunya.
"Karmin, mana?" Sakti menanyakan Karmin sebelum dia keluar dari pintu.
"Masih di kamar" Ujar Bunga.
Sedangkan Karmin, masih di dalam kamar tamu, tengah bicara dengan Kenari.
Sepertinya Kenari sengaja biar Karmin tidak ikut ke Masjid.
Supaya Cempaka tambah kesal.
__ADS_1
******