
Keesokan harinya selepas shalat subuh Karmin dan kakaknya berangkat menuju ke Bandung, hendak menjemput Cempaka.
Tak terkirakan girangnya hati Karmin, karena keinginannya telah terpenuhi.
"Ingat! Janji kamu kemarin! Untuk tidak menyakiti dan mengecewakan lagi Cempaka dan keluarganya!"
Sebelum berangkat, Kunto mengingatkan kembali adik iparnya.
"Iya, dengerin tuh!" Mbak Siti pun ikut nimbrung. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia tidak suka dengan kelakuan adiknya itu. Walaupun itu semua bukan niatan Karmin.
"Iya mbak" Karmin mundur sedikit dari jangkauannya mbak Siti, dia takut kupingnya di jewer.
"Bismillahirrahmanirrahim, ayo kita berangkat kang!" Kunto memberikan komando kepada sopir yang di sewanya.
"Siap kang! Bismillahirrahmanirrahim"
Ucapnya sebelum dia menancap gas menjalankan mobilnya.
Mobil Daihatsu warna merah marun itupun melaju membelah sunyi nya waktu subuh hari.
Karmin tersenyum seiring melajunya mobil Daihatsu merah marun itu.
Di dalam hatinya tumbuh harapan yang membumbung tinggi memenuhi relung hatinya hingga terus menuju puncak ubun-ubunnya.
Yang belum dia dapatkan dari Cempaka, akan segera di raihnya.
Di rumahnya wak Iyem, enggak bakalan dia dapat menghindar seperti di rumah orangtuanya sendiri.
"Pokoknya aku akan menggunakan segala macam cara, supaya aku bisa mendapatkannya. Biarkan saja dia tahu aku yang sebenarnya, tapi nanti setelah aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga yang dia miliki dan dia pertahankan selama ini"
Bathin Karmin.
Tanpa dia sadari, bibirnya membuat suatu senyuman yang kentara sekali oleh mbak Siti, kakak sulungnya.
"Kenapa kamu tersenyum sendiri?"
Mbak Siti bertanya sewot.
Netranya menatap wajahnya Karmin dengan tajam.
"Enggak, enggak apa-apa. Siapa yang tersenyum?" Karmin mungkir.
"Kamu enggak tersenyum! Tapi, bibirmu itu yang membuat senyuman.
Awas ya! Jangan bilang kalau kamu sudah punya niatan jelek sama Cempaka!" Mbak Siti menduga-duga.
"Jangan suka su'udzon dong kak!"
Karmin memelas.
"Siapa yang su'udzon? Mbak hanya menduganya. Karena, mbak merasa aneh dengan kelakuan mu yang tiba-tiba senyam-senyum sendiri, seperti yang tidak waras!" Ujar mbak Siti sewot.
"Ingat dek! Kamu sudah berjanji sama mas. Awas saja kalau melanggar janjinya!" Kunto ikut nimbrung.
"Iya mas" Sahut Karmin perlahan, dia tidak mau memperpanjang debat dengan kakaknya itu.
Suasana di dalam mobilpun kembali senyap, hanya alunan musik yang terdengar merdu, menemani sepanjang perjalanan.
Mengiringi detak jantungnya Karmin, yang berpacu kencang tak menentu.
Debaran dadanya membuncah hingga tak bisa di kendalikan.
Dia sudah tidak sabar ingin segera memetik sesuatu yang Cempaka miliki. Dia ingin segera menikmati ranumnya buah yang dijaga oleh Cempaka selama ini.
******
Sebelum waktu Dzuhur, mereka telah sampai di gang yang menuju ke rumahnya bu Sekar.
__ADS_1
"Masuk saja kang! Biar kita tidak jalan terlalu lama" Karmin mengaturku.
"Iya kang!" Mobilpun di arahkan perlahan memasuki gang.
Beberapa menit kemudian, sampailah di depan rumahnya bu Sekar.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai!"
Ujar Karmin, kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya, matanya cerah berbinar.
"Oh ini rumahnya? Bagus sekali rumah mertua kamu" Kunto memujinya.
" Orang terpandang di Kampung ini, rumahnya juga paling bagus" Karmin bangga.
" Anehnya kok! Mau- maunya sama si Karmin buluk" Gumam mbak Siti sembari merapikan bajunya.
"Apalagi nanti kalau sudah bertemu dengan orangnya, mbak ku ini akan ngomong apa?" Gurau Karmin, dia membuka pintu pagar rumahnya bu Sekar, yang kini sudah menjadi mertuanya.
"Assalamualaikum" Ucap Karmin setibanya di depan pintu ruang tamu.
"Gede banget ini rumah"Mbak Siti menggelengkan kepalanya.
"Pada kemana ya min? Kok! Seperti enggak ada orangnya" Kunto melihat ke sekelilingnya.
" Rumahnya besar banget, jadi salam kita tidak kedengaran" Sahut mbak Siti.
Tanpa bicara, Karmin berlalu ke samping rumah. Di sana terlihat pintu samping terbuka sedikit.
"Assalamualaikum" Ucap Karmin.
"Waalaikumsalam" Seruni membalas salamnya sambil menoleh ke arah datangnya suara.
"Bu! Itu ada yang kemarin nikah!" Teriak Seruni kepada ibunya yang tengah berada di dapur.
"Yang kemarin nikah, siapa?" Bu Sekar segera menghampiri Seruni.
"Itu yang kak Cempaka nya enggak mau, tapi di paksa sama kak Kenari"
Semua celotehan bocah itu jelas terdengar oleh Karmin, dan keluarganya yang waktu itu berada di teras samping rumahnya bu Sekar.
"Tuh dengar! Cempaka itu di paksa nikah sama kamu! Harusnya kamu jangan mau!" Mbak Siti mencubit lengannya Karmin.
"Aduh! Sakit mbak!" Karmin mengeluh sambil mengusap-usap lengannya.
"Tidak sesakit hatinya Cempaka yang kau tipu dan kau bohongi!" Ujarnya lagi, netranya melotot kesal.
"Jangankan Cempaka, adiknya juga enggak suka sama kamu! Dasar! Tidak tahu malu! Bisanya malu-maluin saja!" Mbak Siti terus ngedumel, memarahi adiknya.
"Sudah, dek. Malu, nanti yang punya rumah mendengarnya" Kunto melerai.
"Biarin! Biar semuanya tahu kalau dia itu siapa sebenarnya!" Mbak Siti tak mau diam.
"Ssst!" Kunto menempelkan telunjuknya di tengah-tengah bibirnya memberi isyarat supaya diam kepada istrinya.
"Dasar!" Mbak Siti kesal.
"Yang hitam itu, bu. Kak Cempaka kan
Tidak mau nikah sama orang itu, Kak Cempaka kan sudah punya calon suami yang ganteng, yang abri itu. Tapi, kak Kenari maksa terus supaya kak Cempaka mau sama dia itu. Dasar kak Kenari jahat ya bu!" Lanjut Seruni lagi dengan bibir yang monyong seakan ikut kesal.
"Eh, enggak boleh begitu ah! Suruh masuk dong, mas Karmin nya" Ujar bu Sekar, dia berjalan menghampiri anaknya.
"Kalau sudah gede, Seruni enggak mau nikahnya di paksa sama orang yang Seruni enggak suka" Ujarnya lagi, dia berlari ke kamarnya Cempaka. Bukannya mempersilahkan
Karmin masuk.
"Brug!" Suara pintu kamarnya Cempaka terdengar di banting oleh Seruni.
__ADS_1
"Eh ada Seruni, ada apa? Kenapa pintunya di banting?" Dengan lembut Cempaka bertanya.
"Aku kesal!" Sahutnya sambil berdiri di balik pintu yang barusan di banting nya. Dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya, wajahnya di tekuk cemberut.
"Kesal sama siapa?"
"Tuh! Orang yang hitam itu datang lagi!"
"Siapa?" Cempaka tak mengerti.
"Yang kemarin nikah sama kakak, kakaknya kan enggak mau, jadi aku kesal, sebel banget sama dia!" Ujarnya.
"Haaah! " Cempaka sangat kaget sekali, dia terhenyak. Dadanya seketika terasa sesak, nafasnya turun naik menahan perasaan yang terasa menyesak di dalam dadanya.
Cempaka sangat kaget sekali mendengar Karmin sudah datang kembali.
"Dia datang lagi, berarti dia akan memboyong ku ke Kampung halamannya. Aku harus bagaimana ini? Aku tidak mengenal dia dengan benar, aku tidak mengenal keluarganya dan juga aku tidak mengenal daerahnya. Harus bagaimana aku ya Allah" Gumamnya dengan tangan kanannya memegangi kepala, sedangkan tangan kirinya memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.
"Kakak, kenapa kak? Kakak sakit?"
Seruni panik.
Gadis kecil itu segera mengambil gelas yang berisi air, yang ada di atas meja, lalu di berikan nya kepada kakaknya itu dengan penuh perhatian.
Sementara itu, bu Sekar membukakan pintu untuk Karmin dan keluarganya, dan mempersilahkannya
masuk.
"Silahkan masuk!"
"Terimakasih,bu" Karmin dan keluarganya pun masuk mengikuti bu Sekar, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
"Perkenalkan, saya Siti, kakaknya Karmin, dan ini suami serta anak saya"Mbak Siti memperkenalkan diri.
"Saya ibunya Cempaka" Sahut bu Sekar.
"Ma'af, kemarin kami tidak bisa datang, karena acaranya begitu mendadak. Dan ma'afkan kami karena bapak sama emak tidak bisa ikut ke sini, maklum mereka sudah sepuh" Mbak Siti begitu sopan nya meminta ma'af.
"Tidak apa-apa, kami maklum. Kami juga di sini tidak tahu sama sekali, semuanya begitu mendadak, semuanya anak sulung kami yang mengaturnya, dan kami juga bingung sampai-sampai tidak bisa berbuat apa-apa" Ujar bu Sekar berkata apa adanya.
"Ada tamu rupanya" Pak Jati yang mendengar teriakannya Seruni, segera datang menghampiri.
"Ini bapaknya anak-anak" Bu Sekar mengenalkan suaminya.
"Sebentar saya tinggal dulu" Bu Sekar
Berlalu ke belakang, dan tak lama kemudian diapun kembali dengan membawa nampan yang berisi beberapa cangkir air minum dan toples makanan ringan.
"Silahkan minum dulu!"
"Terimakasih,bu" Sahut mbak Siti.
"Emh, ma'af bu, boleh saya bertemu dengan neng Cempaka?" Mbak Siti memintanya pada bu Sekar.
"Oh, iya. Sampai lupa, tentu saja boleh, sebentar ya" Bu Sekar segera beranjak ke kamarnya Cempaka.
"Nak, Cempaka! Ada di dalam? Boleh ibu masuk?" Ujarnya.
"Kak! Ibu!" Seruni terbelalak.
Cempaka mengangguk lemah.
"Tolong bukain pintunya, dek!" Cempaka mengusap air mata di pipinya.
" Ibu!" Cempaka memburu Ibunya, ketika bu Sekar muncul di lawang pintu kamarnya.
Bu Sekar balas memeluknya, di belainya rambut Cempaka yang tergerai panjang hingga ke paha itu dengan penuh kasih sayang. Sebagai seorang ibu, dia faham apa yang tengah di rasakan oleh anaknya ketika itu.
__ADS_1
Seruni pun ikut memeluk kakak kesayangannya itu.
******