Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kenari terus berusaha


__ADS_3

"Eyang, airnya tidak mempan ah! Belum ada reaksinya! Adik saya masih nentang waktu saya ajak dia menengok Karmin yang pura-pura sakit itu" Sesampainya di tempatnya Eyang, Kenari langsung mengadu.


"Tidak mungkin, neng! Kau kan bukan hanya sekali ini saja datang ke Eyang, Kamu sudah sering membuktikannya kan. Kenapa sekarang dengan lancangnya kamu berkata begitu? Menyalahkan Eyang" Nampaknya Eyang marah dan tersinggung mendengar perkataannya Kenari


"Ma'afkan saya, Eyang. Saya tidak bermaksud begitu, saya cuma kesal karena adikku tidak langsung suka sama Karmin, laki-laki yang aku jodohkan kepada adikku itu, saya ingin adikku sekarang jadi nurut sama saya, semua yang saya katakan dan perintahkan kepada dia akan langsung dia lakukan, Eyang" Suara Kenari melemah, dia ketakutan mengetahui Eyang marah.


"Dari sini, harus langsung ke tempat yang di tuju, dan harus langsung bertemu dengan orangnya. Jangan di bawa singgah dulu" Begitu kata Eyang sebelum Kenari pergi meninggalkan rumahnya.


Karena itu, Kenari segera bergegas pulang dari tempatnya Eyang. Dia tidak mau


gagal lagi rencananya seperti tempo hari itu.


"Sudah jam setengah empat sore, aku harus segera memberikan air ini kepada si Cempaka! Bapak dan ibu juga harus meminumnya! Supaya mereka mendukung aku, dan kalau mereka sudah mendukung aku, pasti mereka akan membantu untuk membujuknya" Kenari tersenyum sendiri.


"Si Cempaka kan orangnya paling nurut sama ibu dan bapak. Iya benar, sebaiknya aku tuang saja air dari Eyang ini ke dalam teko" Gumam Kenari merasa senang karena sudah mendapatkan idenya.


"Kali ini aku harus berhasil, tidak boleh gagal! Cempaka, kau harus jadi istrinya si Karmin! Bagaimana pun caranya" Gumamnya.


"Sudah tidak sabar rasanya ingin segera melihat si Jomblo berlinang air mata penderitaan, dan penderitaan itu akan selamanya bertahta di dalam kehidupanmu" Gumam Cempaka, sejurus kemudian.


Karena berjalan dengan tergesa-gesa, tak lama kemudian Kenari sampai juga di rumah ibunya.


"Assalamualaikum" Dengan terengah-engah Kenari mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" Bu Sekar menjawab salamnya Kenari.


"Mana Cempaka,bu!" Masih terengah-engah dia menanyakan adiknya.


"Ada apa, kok! Seperti yang kecapean?" Bu Sekar bertanya heran.


"Aku terburu-buru, bu. Sebentar aku mau ke belakang dulu" Kenari berlalu melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Bu Sekar hanya melihat sekejap, dia sama sekali tidak merasa curiga dengan tingkah anak sulungnya itu, pasti mau ke kamar mandi, itu pikirnya.


Setelah berada di dapur, Kenari melihat sekeliling ruangan, takut ada yang memperhatikan.


Pak Jati seperti biasa lagi asyik dengan ayam - ayamnya.


"Tenang, enggak ada orang di sini!" Gumamnya sambil tersenyum.


Perlahan Kenari mendekati tempat air minum yang bisa di buka tutupnya. Biasanya ibunya suka menuangkan air minum yang sudah di rebus ke sana.


Dengan perlahan dan sangat hati-hati sekali, Kenari memutar tutup tempat air minum itu. Netra nya melirik ke sana ke mari, mengintai. Karena takut tiba - tiba ada yang memergokinya.


Setelah tutupnya terbuka, dengan cepat Kenari menuangkan air dari botol kemasan yang telah di beri jampi-jampi oleh Eyang, dukun kepercayaannya.


"Kenari, kau kah yang menuang air?" Teriak bu Sekar dari ruang tengah. Mungkin suara cucuran air dari botol yang di tuangkan oleh Kenari terdengar hingga ke ruang tengah.

__ADS_1


"Hah!" Kenari panik, matanya melotot dan menoleh ke arah ruang tengah.


"I, iya bu, aku haus" Jawab Kenari sambil segera menutup kembali tutup tempat air minum itu dengan rapat.


"Aah, untung ibu tidak ke sini. Aman, sekarang tinggal aku menunggu reaksinya" Ucapnya tersenyum, tak lupa dia membawa segelas air ke ruang tengah untuk dirinya. Yang tentunya bukan air yang telah di campur nya tadi.


"Ibu mau di bawain air minum enggak?" Harapannya semoga ibunya mau minum. Jadi, bisa langsung kena tuh jampi-jampi nya si Eyang, pikir Kenari.


"Ibu enggak haus " Sahut ibunya.


"Huuuh, dasar!" Sungut Kenari.


Dengan mimik wajah yang di buat semanis mungkin, dia masuk ke ruang tengah dengan membawa segelas air untuk di minumnya sendiri.


"Bu, Cempaka ada di rumah gak?" Kenari bertanya lagi setelah dia duduk di depan ibunya.


"Ada, tadi di belakang bantuin bapak sama adik-adiknya" Sahut bu Sekar.


"Hah, di belakang?" Kenari tersentak kaget. Dia sangat terkejut mendengar Cempaka ada di belakang.


"Kenapa kamu seperti yang kaget begitu?" Bu Sekar menatapnya penuh rasa heran.


"Eng, enggak bu enggak apa-apa, cuma tadi aku kan ke belakang. Tapi, sepertinya aku tidak melihat adikku di sana" Ujar Kenari.


"Untung tadi aku tak di pergoki sama adik-adikku" Bathin Kenari.


"Kalau begitu aku ke sana dulu ya bu" Kenari segera beranjak mau menemui Cempaka di belakang.


Yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, menoleh ke arah datangnya suara.


"Kenari, mau apa dia ke sini?" Gumam pak Jati, matanya melirik ke arah Cempaka, seakan ingin meminta penjelasannya.


"Pastinya dia akan mengajakku


ke Indramayu untuk menengok si Karmin itu" Sahut Cempaka perlahan.


"Sepertinya begitu" Pak Jati menghentikan pekerjaannya. Dia beranjak menuju ke bangku yang berada di teras belakang.


Kemudian duduk di sana sambil memandangi Kenari yang sibuk menuangkan air ke dalam gelas.


"Tak seperti biasanya, ada apa?" Pak Jati bertanya penasaran.


"Enggak apa-apa pak, aku hanya ingin saja membantu menyiapkan air minum ini. Dan, kebetulan tadi aku membeli makanan, sepertinya cocok deh di makan sambil istirahat dari aktivitas yang melelahkan ini" Ujar Kenari.


"Hanya itu?" Tanya pak Jati.


"Maksud bapak?" Kenari balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu tidak sedang merayu adikmu kan? Supaya dia mau di ajak nengokin si Karmin itu kan?" Ujar pak Jati yang dapat membuat Kenari tersipu, memerah pipinya karena ketahuan akal bulusnya.


"Emh, iya pak. Aku ingin mengajaknya ke sana, aku tidak tenang rasanya, teringat terus sama Karmin dan aku takut kenapa-kenapa" Kenari mengatakan yang sebenarnya.


"Boleh ya pak? Ini kan untuk kebaikan" Lanjutnya.


"Masalahnya kita kan belum tahu siapa dia sebenarnya" Pak Jati nampak ragu.


"Dia kan temanku, pak. Dia orang yang baik"


"Yang jadi pertanyaan di hati bapak adalah, kalau memang dia baik menurut kamu. Kenapa kamu tidak jadikan suami kamu saja, kamu kan sendirian tidak punya suami. Sepertinya kamu pantas menikah dengannya, dia sepertinya bukan bujangan, dia sepertinya seorang duda dan pantas menikah denganmu" Ujar pak Jati.


"Bapak! Usiaku kan lebih tua daripada usia Karmin. Karena itu aku perkenalkan dia dengan Cempaka" Ujar Kenari memberikan alasan.


"Usia tidak jadi masalah, paling cuma beda beberapa tahun saja. Nabi Muhammad juga dengan Siti Khadijah usianya terpaut sangat jauh" Tiba-tiba Cempaka menimbrung percakapan antara Kenari dan pak Jati.


"Iya, benar itu!" Ujar pak Jati.


"Tapi, aku kan sudah merasa punya suami, sedangkan Cempaka kan belum pernah menikah, jadi aku pikir lebih baik di jodohkan saja dengan adikku"


Kenari tidak kehabisan kata untuk di jadikan sebagai alasan.


"Itu terserah kamu, tapi yang penting adikmu itu mau atau enggak? Ingat! Jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain!" Ujar pak Jati.


"Ya sudah, sekarang kalian semua minum dulu biar hilang penatnya" Kenari membelokkan arah pembicaraan.


Dengan tidak merasa curiga sedikitpun, Kilat dan Seruni meminum air yang di berikan oleh Kenari. Sedangkan Cempaka dan pak Jati hanya meminum air yang dari botol, yang di bawanya tadi pagi.


"Cempaka tidak meminum air yang aku berikan" Bathin Kenari.


"Kau sudah bawa air sendiri?" Tanya Kenari kepada Cempaka.


Cempaka menganggukkan kepalanya.


"Ini makanannya, ini sangat enak sekali, ayo di coba!" Kenari menyodorkan makanan yang dia bawa kepada Cempaka.


Cempaka mengambilnya satu, begitu juga dengan kedua adiknya.


Hanya pak jati yang tidak ikutan mengambilnya.


"Airnya tidak di minum, tapi makanannya yang di makan, tak apalah salah satu kau masukkan ke dalam perutmu" Bathin Kenari, dia berusaha untuk bersabar.


"Dek! Bagaimana usulan kakak tadi pagi, apa sudah kau pikirkan?" Dengan lembut Kenari memulai percakapan.


"Enggak tahu, kak!" Sahut Cempaka, dia asyik mengunyah makanan yang di bawa Kenari.


"Sebentar lagi pasti jampi-jampi yang manjur dari Eyang itu masuk ke dalam perutmu, lalu menuju ke otakmu. Tidak akan lama lagi pasti akan bereaksi dan hati kamu pasti akan luluh" Bathin Kenari tersenyum di dalam hatinya.

__ADS_1


Kemenangan telah menantinya di depan mata.


***


__ADS_2