Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Mendatangi kepala cabang


__ADS_3

"Dek! Saya mau ke depan dulu ada perlu" Dengan tergesa-gesa Karmin pamitan kepada Cempaka sore itu, entah mau ke mana.


"Ke depan ke mana? Aku boleh ikut?" Cempaka mengekor dari belakang.


"Gak usah ya, cuma sebentar kok! Emh... Mau nanyain uang sama teman, enggak enak kalau kamu ikut.


Enggak apa-apa kan?" Karmin tidak mengizinkan Cempaka untuk ikut.


Cempaka diam tak menjawab, hanya mukanya saja yang cemberut.


"Jangan cemberut ah! Besok kita kan pergi ke kantor bareng wak Iyem, sekarang temenin wak Iyem dulu ya!


Uwak! Saya pergi dulu!" Teriak Karmin di akhir kalimat.


Tanpa menunggu adanya Jawaban, dia langsung menghidupkan mesin motornya dan menancap gas, melesat meninggalkan Cempaka yang kesal karena tak di bolehkan ikut.


"Ke mana Karmin, Nok?" Tergopoh-gopoh wak Iyem menghampiri Cempaka yang diam mematung di ujung teras.


"Entah! Aku ikut enggak boleh" Rutuk Cempaka. Dia hentakan bokongnya di kursi yang ada di teras depan.


"Sepertinya ada sesuatu" Gumam wak Iyem perlahan.


" Karmin seperti yang menyembunyikan sesuatu, aku enggak suka!" Lanjut Cempaka lagi.


"Kita sehati, tapi semoga saja tidak ya Nok ya" Wak Iyem menenangkan Cempaka. Padahal dalam hatinya dia menduga yang enggak-enggak pada Karmin.


"Iya wak!"


"Besok jadi kita ketemu dengan kepala cabang, pak siapa tu?" Wak Iyem mengalihkan pembicaraan.


"Pak Sukria"


"Iya itu! Pak Sukria" Wak Iyem tersenyum lebar, memamerkan gigi ompong nya.


"Aku merasa Karmin punya rencana "


Gumam Cempaka.


"Sepertinya surat peringatan itu tidak benar" Ujar wak Iyem pula.


"Kok! Kita bisa sehati ya wak?" Cempaka menatap wak Iyem heran.


"Jangan-jangan dugaan kita benar"


Melemah di ujung suara wak Iyem.


Yang tengah di perbincangkan sa'at itu baru saja sampai di ruangannya pak Sukria, sang kepala cabang.


Ternyata Karmin bukan menemui temannya. Tapi, menemui pak Sukria sang kepala cabang di mana dia bekerja selama ini.


"Gawat pak!" Datang - datang Karmin mengagetkan pak Sukria yang tengah membereskan buku-buku yang berserakan di atas mejanya, sepertinya dia akan segera pulang.


"Kamu! Gawat apanya? Bikin kaget saya saja" Sergah pak Sukria.

__ADS_1


"Istri dan uwak saya besok mereka mau ke sini mau ketemu sampean! Mau menanyakan tentang surat peringatan itu" Ujar Karmin setelah dia duduk di hadapannya pak Sukria.


"Enggak apa-apa kalau mereka mau ke mari, ya silahkan saja jangan di larang" Pak Sukria menjawabnya dengan tenang.


Karmin mengerutkan keningnya heran melihat atasannya bisa setenang itu.


"Mereka suruh datang ke mari, suruh langsung ke ruangan saya ini. Jangan sampai mereka berbicara dengan orang lain di kantor ini selain dengan saya. Nanti akan saya jelaskan kalau itu aturan baru di kantor ini, nanti saya juga akan menekankan supaya istrimu itu berusaha mencari uang untuk membayar denda bohongan itu. Di sini saya akan ikut andil, yang penting saya dapat bagiannya... Ha... Ha... Ha... Karmin! Karmin! Gitu saja sudah blingsatan kayak kebakaran jenggot saja" Pak Sukria menertawakan Karmin.


"Tapi, pak..."


"Sudah jangan banyak tapi! Kalau kamu melarangnya, mereka akan curiga kalau itu surat rekayasa. Besok sama kamu bawa mereka ke hadapan saya jangan di lepas, bimbing terus sampai ke depan mata saya ini"


"Nanti akan saya perlihatkan bahwa banyak nasabah yang macet itu adalah nasabahnya kamu. Sedangkan para pegawai lain yang nasabahnya lancar bayarnya akan segera di angkat menjadi pegawai tetap, bukan honorer lagi, yang otomatis gajinya juga akan lebih besar lagi, di sini akan saya tekankan supaya istrimu itu mau membayarkan denda rekayasa yang kita bikin, pokoknya kamu tenang saja, bagaimana saya saja yang penting kita berhasil memperdaya istrimu itu sesuai dengan permintaan dari kakaknya" Lanjutnya lagi.


Karmin manggut-manggut sepertinya dia mengerti dengan akal bulus atasannya itu.


"Sudah sana pulang! Jangan membuat istri dan uwak mu makin curiga" Pak Sukria mengusir Karmin supaya secepatnya pulang ke rumahnya.


"Baik pak, saya pulang sekarang. Bapak memang cerdas kalau dalam hal tipu menipu he... He..." Karmin terkekeh.


"Kamu kan dalangnya!" Pak Sukria meninju perlahan lengan atasnya Karmin.


"Ha... Ha... Ha!" Mereka tertawa berdua seakan bahagia mau memperdaya Cempaka yang lugu.


*


"Ayo kita berangkat sekarang! Mungpung masih pagi, jadi belum banyak orang di sana" Karmin sudah siap untuk berangkat.


"Uwak naik ojeg saja ya! Biar dek Cempaka sama saya" Atur Karmin.


Berniat untuk mencari kebenaran tentang surat peringatan yang di tujukan kepada Karmin.


Sayang, wak Iyem dan Cempaka masih bisa di bodohi oleh Karmin.


Seandainya mereka tahu, percuma saja mereka datang ke tempat kerjanya Karmin juga. Karena tidak ada artinya sama sekali.


"Silahkan masuk!" Pak Sukria menyambut wak Iyem dan Cempaka dengan ramah.


Menyembunyikan kebusukannya.


"Pantesan sekarang Karmin jadi betah di rumah" Pak Sukria berbasa-basi.


"Ini bagaimana pak, sejak kapan ada peraturan yang memberatkan pegawai seperti ini? Terus terang kami merasa keberatan dengan peraturan yang tidak adil itu!" Tanpa basa-basi, wak Iyem langsung pada pokok permasalahan. Nada bicaranya wak Iyem penuh dengan penekanan.


"Ma'af sebelumnya bu, mbak. Peraturan ini bukan saya yang bikin. Tapi, ini dari pusat. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja para pegawai khusus nya para pegawai yang masih honorer seperti mas Karmin ini. Supaya lebih giat lagi dalam praktek kerja di lapangannya" Sahut pak Sukria dengan tenang.


"Itu bukan meningkatkan kinerja pak, tapi itu menjadi beban yang berat bagi kami keluarganya. Yang punya hutang orang lain, masa kami yang kena denda" Ujar Cempaka tegas.


"Memang, sekilas seperti memberatkan para pegawai. Tapi, di balik itu ada sebuah keuntungan yang sangat berarti bagi pegawai tersebut. Yaitu bila dia benar-benar melaksanakan kinerjanya dengan baik, dia tidak akan kena denda, malahan akan di angkat menjadi pegawai tetap, yang punya penghasilan yang tetap dan pasti serta nilainya lumayan di setiap bulannya" Lanjut pak Sukria.


"Kalau pegawai yang kena denda itu tidak mampu membayar, apakah sesuai bila ancamannya adalah di keluarkan? Sedangkan yang berhutang nya juga siapa? Yang menanggung bebannya siapa pula, aneh! Tidak masuk akal!" Cecar Cempaka kesal.


"Jangan di lihat seberapa banyak dendanya, tapi lihatlah hasilnya mbak. Suami mbak akan menjadi pegawai tetap. Itu akan sangat menguntungkan bagi mbak sekeluarga, semoga mbak faham maksud saya" Ujar pak Sukria.

__ADS_1


"Bukan faham tidak nya, tapi adil tidak peraturan yang memberatkan para pegawai nya? Atau jangan-jangan ini peraturan hanya berlaku untuk Karmin saja!" Ketus nada suaranya Cempaka.


Ucapan nya Cempaka sangat mengena, membuat pak Sukria menatap wajahnya Karmin beberapa sa'at.


Karmin seperti yang cemas di tatap oleh pak Sukria seperti itu. Dia menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana aku tidak menurut bapak kepala cabang? Bagaimana kalau seandainya bapak yang mendapatkan sangsi seperti itu? Apa mau langsung di terima ataukah protes seperti kami ? " Tegas Cempaka lagi. Ucapan nya makin menciutkan nyali nya seorang Karmin.


"Kalau bayar denda nanti akan di angkat jadi pegawai tetap. Dengan kata lain itu berarti nyogok atau nyuap! Jangan menekan pegawai rendahan pak kalau jadi seorang pemimpin" Makin tegas Cempaka berujar.


Pak Sukria terperanjat mendengar perkataan Cempaka yang di luar dugaannya.


Para pegawai lain yang sudah mulai berdatangan, saling tanya satu dengan yang lainnya.


"Sepertinya ada ribut-ribut di dalam ruangannya pak Sukria" Tanya seseorang perlahan.


"Pak Sukria berdebat dengan siapa?" Tanya yang lain.


"Tadi saya lihat Karmin ke sini bersama wak Iyem dan perempuan muda yang cantik, kalau menilik pakaiannya sih seperti wong kota" Ujar seorang perempuan, rekan kerja mereka.


"Siapa ya?"


"Entahlah" Sahut yang tadi bertanya.


Mereka agak mendekatkan kupingnya ke arah ruangannya pak Sukria.


"Mereka sepertinya tengah membahas tentang peraturan. Peraturan apa ya?"


"Nanti kita tanya pak Sukria saja, atau kepada Karmin kalau mereka sudah keluar dari ruangannya pak Sukria" Yang lain mengusulkan.


"Benar itu, semua yang di ucapkan oleh si Nok itu benar. Pak Sukria sebagai seorang pemimpin itu harusnya mengkaji dulu apa-apa yang akan di sampaikan kepada bawahannya, merugikan apa enggak peraturan seperti ini? Bisa-bisa kosong tanpa pegawai ni kantor kalau peraturan seperti itu di berlakukan!" Wak Iyem angkat bicara.


"Dan, masyarakat makin banyak yang tidak lancar dalam membayarnya. Karena dia tahu pasti akan di limpahkan sebagai denda kepada para pegawainya" Timpal Cempaka, netranya tajam menatap kearah matanya pak Sukria, membuat salah tingkah orang yang di tatapnya.


"Karmin ternyata bohong, katanya istrinya itu lugu, nyatanya dia pintar sekali. Apa yang harus saya ucapkan untuk membuatnya tidak memperdebatkan masalah ini?" Pak Sukria membathin.


"Bagaimana pak? Apa bisa di pertimbangkan aturan yang di tekankan kepada Karmin itu?" Cempaka bertanya sekaligus menyudutkannya.


" Heeemh... Uuuuh! Ma'afkan saya mbak, dalam hal ini saya tidak bisa merubah aturan yang telah di tetapkan oleh pusat. Dengan sangat berat sekali aturan itu harus kami laksanakan" Ujar pak Sukria setelah menarik nafas dan mengendusnya kembali.


Sedangkan Karmin hanya menunduk tak berkutik sedikitpun juga. Rasa cemas sangat jelas tersirat di wajahnya.


"Kita pulang wak! Tidak ada gunanya kita memohon kebijaksanaan nya juga. Kalau ini benar aturan dari pusat berarti pimpinan pusat yang telah semena-mena terhadap bawahannya. Tapi, kalau ini cuma akal-akalan nya dia, tunggu saja Allah SWT akan membalas semua ke curangannya itu. Kamu mau pulang sekarang atau tidak? " Cempaka menatap Karmin yang sedari tadi diam membisu.


"I... Iya saya pulang juga" Sahutnya terperanjat kaget.


"Assalamualaikum..." Cempaka berlalu meninggalkan ruangannya pak Sukria, di ikuti oleh wak Iyem dan Karmin yang tersenyum dan memberikan isyarat kepada pak Sukria.


Di balas dengan acungan tangannya yang di kepalkan, memberinya semangat kepada Karmin.


"Waalaikumsalam..." Sahut pak Sukria.


Semangat supaya Karmin jalan terus untuk melancarkan tugas yang selanjutnya.

__ADS_1


Mengetahui yang sedang berdebat mau keluar, para pegawai yang tengah menguping itu segera membubarkan diri, kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


***


__ADS_2