
Samudera berjalan lunglai. Tubuhnya seakan tak bertulang, tenaganya hilang entah kemana.
Di keremangan malam, dia tak mampu untuk melanjutkan langkah kakinya. Diapun jatuh terduduk di jalanan yang tak jauh dari rumahnya Cempaka.
Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dari sorot sinar rembulan yang menerpanya malam itu.
Dia malu, karena ternyata cintanya tak berbalas, kasihnya tak sampai.
Dia merasa sangat sakit hatinya tak terperi, cinta yang baru saja tumbuh di hatinya, kini harus terkubur lagi.
Bunga-bunga cinta yang mulai bersemi kini layu sudah, jatuh berguguran bagaikan daun yang kering tertiup angin.
"Ya Allah!... Kenapa kau pertemukan aku dengannya, bila hanya untuk sekejap saja...?"
"Aaaarhk!... Ya Allah!... Kenapa kau tumbuhkan bunga-bunga cinta itu dalam hatiku...? Kalau hanya untuk membuat aku sakit hati." Samudera berteriak sendiri
di tengah keremangan malam yang di sinari cahaya rembulan nan redup temaram.
Tak sedikitpun terlintas di hatinya, kalau dia akan merasakan kekecewaan yang luar biasa.
Dia sudah berbangga hati karena sudah bisa memenuhi keinginan buah hatinya. Ternyata... Itu tak berarti apa-apa bagi kedua Orangtuanya Cempaka.
Hampir satu jam dia terduduk di jalanan sana, meratapi kekecewaan yang dia rasakan.
"Aku harus membalas semua sakit hatiku ini. Ya!... Aku harus melakukan itu. Hanya karena dia lebih dulu kenal dengan anaknya, dia tidak mau menerimaku yang benar-benar dengan tulus mencintainya, hanya karena aku baru di kenalnya"Gumamnya.
Di tatapnya rembulan yang menyinarinya dengan cahayanya.
Setelah terlintas pikiran itu, diapun lalu bangkit sambil mengusap wajahnya dari airmata yang membasahinya.
Sakit hatinya, kecewanya, lukanya kini sudah tergantikan oleh sebongkah dendam. Yang dengan tiba-tiba saja datang menyusup ke dalam hatinya.
"Dia harus merasakan bagaimana rasanya sakit hati itu?Dia juga harus merasakan apa kecewa itu!... Ma'afkan aku Cempaka, aku terpaksa melakukan balas dendam ini, bukanya aku tidak sayang padamu, semua ini akan aku lakukan biar kamu merasakannya"
Samudera beranjak perlahan dari tempatnya.
Baru beberapa langkah Samudera meninggalkan tempat itu, tiba-tiba hujan gerimis turun membasahi bumi.
Tapi dia tidak mempedulikannya,
dia terus melangkah meninggalkan tempat itu, membawa luka yang tertoreh di dadanya. Meninggalkan dendam yang membara di dalam hatinya.
Malampun kian larut, angin malampun berhembus lembut.
"Haruskah aku membalasnya...?Aku sangat mencintainya... Ini bukan salahnya, bukan pula salah ibunya, tapi karena aku mencintainya aku jadi merasakan sakit hati dan kecewa begini. Ya Allah... Aku harus bagaimana...?"Separuh hatinya merasa tidak rela kalau harus menyakiti Cempaka.
Diapun berjalan terseok-seok dengan hati yang bimbang.
Dia masih tak percaya dengan apa yang tengah dia alami sa'at itu. Dia tak percaya dengan semua ini.
__ADS_1
*
"Samudera!... Jangan tinggalkan aku!..."Cempaka terus meratap dan manggil Samudera yang telah pergi meninggalkannya.
"Samudera!... Kembalilah!" Panggilnya lagi histeris, dia berharap teriakkannya akan di dengar oleh Samudera.
Bu Sekar dan pak Jati hanya saling tatap, keduanya merasa bingung harus berbuat apa...?
"Sudah!... Sudah!... Malu kalau terdengar sama tetangga, apalagi kalau Keluarganya Buana dengar. Apa kata mereka nanti...?" Masih saja Keluarga Buana yang jadi alasan bagi bu Sekar.
"Ibu!... Kenapa aku tidak boleh bahagia bu...? Kenapa setiap ada yang sayang kepadaku, selalu saja ada penghalangnya. Kenapa bu...? Kenapa...?"Cempaka terus bertanya, walau pertanyaan itu tak ada yang menjawabnya.
"Kasihan kak Cempaka, kenapa ibu sama bapak tidak suka sama kak Samudera? Padahal dia kan baik, sopan, ganteng lagi orangnya. Jauh kalau dibandingkan dengan kak Buana.
Mana dia sudah berani menyakiti
hatinya kak Cempaka lagi"Seruni menggerutu dengan bibirnya yang di monyong-monyongkan.
"Anak kecil tahu apa...? Kita enggak tahu apa yang ada di pikirannya ibu sama bapak. Tapi,
memang benar kasihan sekali kak Cempaka"Ujar Anyelir.
"Ibu sih, kenapa pula ibu tetap mau besanan dengan bu Seroja.
Yang mau nikah, kan Cempaka, kenapa ibu tidak mengerti juga?
Cempaka itu sudah di sakiti oleh Buana. Walaupun bu Seroja masih bersikap baik sama keluarga kita. Tapi, lihat si Buana yang sudah tega membawa pulang seorang perempuan. Yang mau nikah bukan bu Seroja tapi Buana bu" Bunga menyalahkan ibunya.
"Sudah!... Sudah!... Kalian semua membuat aku menderita saja. Tak puas-puasnya kalian mengoyak-ngoyak perasaanku, menebas kebahagiaan yang mau aku petik, kalian tidak suka melihat hatiku senang, melihat hidupku bahagia, kalian jahaaat!"
Pekik Cempaka sambil berlari meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya.
"Brugh!" Pintu kamar dibantingnya sekuat tenaga.
Dia kecewa, sakit hati, rasanya
dia ingin lari dari rumah itu menyusul Samudera yang juga tengah sakit hatinya.
Namun, dia tak mau melakukan hal nekad itu. Dia tidak mau ibu dan bapaknya menderita karenanya.
Setelah membanting pintu kamarnya, diapun menyusupkan kepalanya ke bawah bantal. Dia nangis sejadi-jadinya di sana.
Dia tumpahkan semua perasaan yang tengah di alaminya.
Cempaka menangis, meratap sepanjang malam.
Langkah kakinya Samudera yang lemah lunglai karena kecewa dan sakit hati yang dirasakannya, masih terbayang di pelupuk matanya Cempaka.
Dia merasa sangat berdosa, dia merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa tadi aku tidak lari saja mengikuti Samudera...?"Pikirnya kalut tak karuan.
Hingga waktu subuh menjelang, tak sekejappun Cempaka memejamkan matanya.
Samudera pun merasakan hal yang sama. Dia pulang dengan keadaan baju yang lusuh.
Ibu dan adik satu-satunya merasa senang melihat Samudera sudah kembali lagi ke rumahnya, setelah mengikuti pendidikan tentaranya selama sembilan bulan.
"Assalamualaikum..."Ucap Samudera sebelum dia masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam...Bu!... Kakak pulang bu!... Kakak sudah jadi Tentara bu!" Adiknya Samudera menyambutnya dengan suka cita. Dia tidak tahu apa yang telah dialami oleh kakaknya itu.
"Terimakasih ya Allah... Anakku sudah kembali dan sudah menyelesaikan pendidikannya."
Ibunya pun tak kalah senangnya.
"Apa kabar bu, dek...?" Sapa Samudera.
"Alhamdulillah... Kami baik-baik saja" Sahut ibu dan adiknya.
"Aku mandi dulu ya bu, gerah" Samudera langsung ke belakang, menuju ke kamar mandi.
Ibu dan adiknya itu merasa kaget juga melihat keadaan Samudera, yang lusuh dan wajahnya yang kusut masai seperti memikul beban yang sangat berat.
"Bu, kenapa ya kakak seperti yang sedang ada masalah?" Adiknya Samudera berbisik pada ibunya. Dia takut kedengaran sama kakaknya.
"Mungkin cape, kakakmu kan habis mengikuti pendidikan tentara. Sudah ah!... Mendingan kita siapkan makanan kesukaannya. Kakakmu pasti sudah kangen dengan masakan ibu"Ucap ibunya sambil beranjak ke dapur, diikuti oleh adiknya.
Mereka akan menyiapkan makanan kesukaannya Samudera.
*
Setelah mendengar suara adzan,
Cempaka segera keluar dari dalam kamarnya. Untuk berwudhu.
Setelah berwudhu, dia segera kembali masuk lagi ke kamarnya.
Tak ada lagi cuci piring kotor, tak ada lagi nyapu dan ngepel lantai rumah, tak ada lagi menyapu halaman serta menyiram tanaman yang tertata rapi di halaman rumahnya.
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, dia berzikir sambil terus menangis.
Airmata itu sepertinya tak bisa berhenti keluar terus dari kelopak matanya.
Dunia seakan gelap terasa, hatinya hancur berkeping-keping,
laksana cermin yang jatuh menimpa sebongkah batu besar.
Hancur sehancur-hancurnya. Tak kan mungkin bisa di sambungkan kembali.
__ADS_1
Dua kali sudah Cempaka merasakan sakit hati yang di sebabkan oleh keluarganya sendiri.