
Setelah mengetahui semuanya tentang Yanto. Pulangnya, Indah mengantarkan Cempaka sampai ke rumahnya.
Mata yang sembab dengan wajah yang murung, membuat kedua orangtuanya merasa heran dan bertanya-tanya.
"Assalamualaikum" Indah dan Cempaka mengucapkan salam, setibanya mereka di rumahnya bu Sekar.
Mereka sudah kembali dari mencari kebenarannya, yang ternyata memang benar adanya.
"Waalaikumsalam, eh Indah? Masuk nak!" Sahut bu Sekar. Dia mempersilahkan Indah untuk masuk ke rumahnya.
Dia belum mengetahui keadaan anaknya.
"Bagaimana acara syukurannya? Apa sudah selesai?"Tanya bu Sekar.
"Sudah bu" Jawab Indah.
"Cuma sebentar ya, syukuran apa katanya, nak?" Bu Sekar bertanya lagi.
"Bukan acara syukuran, bu. Tapi, kami telah menyelidiki seseorang" Ujar Indah.
"Indah!" Cempaka sepertinya tidak setuju dengan caranya.
"Kenapa?" Indah balik bertanya kepada sahabatnya itu.
"Menyelidiki bagaimana?" Tanya bu Sekar, penasaran.
"Menyelidiki seorang pria yang sudah punya istri. Tapi, kini dia tengah mendekati seorang gadis yang cantik jelita" Indah berkata dengan lantangnya.
"Indah!" Cempaka mencubit lengannya Indah. Karena, Indah bicaranya hampir saja keceplosan.
"Sakit, tahu!" Indah meringis sambil mengusap-usap lengannya.
"Ini ada apa sebenarnya? Sepertinya ada yang dirahasiakan dari ibu" Bu Sekar tak mengerti.
"Emh, itu bu, Aku harap ibu jangan kecewa"
Cempaka berucap dengan gugup.
"Memangnya kenapa? Eh! Apa tidak salah lihat ini mata ibu?" Bu Sekar menggosokkan tangannya ke matanya.
"Kenapa bu?" Indah yang bertanya kali ini.
"Sepertinya Cempaka habis menangis,.apa betul itu? Dan, kenapa mesti nangis segala? Apa ada yang menyakitimu" Bu Sekar memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
Cempaka diam tidak langsung menjawabnya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, hingga seluruh wajahnya terbenam tak terlihat.
"Kenapa? Apa kalian berantem di jalan?" Bu Sekar semakin penasaran saja di buatnya.
"Indah, ayo cerita sama ibu! Jangan bikin orang tua merasa penasaran" Ujar bu Sekar lagi.
"Yanto itu sudah punya istri dan anak satu" Ujar Indah perlahan.
"Apa?" Bu Sekar bertanya kaget.
Beliau sampai terlonjak saking kagetnya.
"Iya bu" Cempaka mengiyakan.
"Jadi, apa maksudnya dia datang ke sini mendekati Cempaka? Mengantarnya, menjemputnya. Kurang ajar!" Bu Sekar emosi mendengarnya.
"Dari mana kabar itu, nak?" Tanya bu Sekar lagi.
"Pertama kami dengar dari teman kami yang rumahnya satu RW dengannya. Awalnya aku tidak percaya, bu. Tapi, temanku itu menyarankan agar aku mendatangi tempat tinggalnya. Tanyakan saja pada tetangga dekatnya, benar apa tidak kabar dariku ini, begitu katanya bu. Makanya tadi pagi aku bersama dengan Indah pergi ke sana" Cempaka berhenti sejenak untuk menarik nafasnya.
"Kami tadi mencari tahu kepada tetangga dekatnya. Dan, ternyata benar apa yang di katakan oleh Yeti, teman kami itu. Bahwa dia sudah punya anak dan istri" Indah yang melanjutkan penuturannya Cempaka.
"Astagfirullahaladzim, bisa - bisanya dia hendak mempermainkan perempuan. Apa dia tidak menyadari, kalau dia itu terlahir dari rahim seorang perempuan? Tidak bisa di biarkan ini, nak! Dia tahu enggak kalau kalian ke sana?" Bu Sekar sepertinya merasa khawatir.
"Tidak, bu. Waktu kami di tunjukkan orangnya, kami berbohong bahwa bukan orang itu yang kami cari. Ma'afkan aku ya ibu, aku tadi sudah berbohong kepada ibu. Kalau aku terus terang, aku takut ibu dan bapak tidak memberi izin untuk mencari kebenaran ini" Lanjut Cempaka, sekalian minta ma'af karena telah membohongi
kedua orangtuanya.
"Sudah ibu maafkan, kamu tidak apa-apa kan?" Selidik bu Sekar sambil menatap wajah anaknya.
"Tidak apa-apa bu, cuma dadaku terasa sesak. Hatiku sakit, bu. Kenapa setiap laki-laki yang mendekati aku, ujung-ujungnya hanya membuat aku sakit hati" Lirih suara Cempaka mengungkapkan perasaannya.
"Aku kecewa, ibu. Uhk! Uhk! Uhk! Kenapa kebahagian tidak pernah memihak aku? Kenapa aku bernasib seperti ini? Apa salah dan dosaku, ibu? Aku itu harus bagaimana? Sudah mengalah, di fitnah, di bohongi, di sakiti, bahkan aku di dzolimi sama keluarga sendiri, padahal aku nurut sama orang tua. Ibu, aku harus bagaimana? Aku juga sama menginginkan hidup yang bahagia seperti orang lain" Isak tangis dan ceracauannya Cempaka, membuat Indah dan bu Sekar saling tatap dalam haru.
"Sabar ya nak! Sabar ya sayang!" Bu Sekar memeluk Cempaka dengan erat.
"Mengapa, bu? Ada yang benar-benar berniat serius kepadaku, ada saja penghalangnya. Aku cape bu, aku lelah bila harus terus - terusan menderita dan di sakiti begini" Tutur Cempaka, dia sepertinya ingin menumpahkan semua kekesalannya.
" Ma'afkan ibumu, anakku" Ujar bu Sekar.
Akhirnya ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis haru.
Indah pun tak kuasa menahan haru, diapun menangis sambil memeluk sahabatnya itu.
Beberapa sa'at mereka larut dalam kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
"Cempaka, aku juga minta ma'af. Karena aku kamu jadi mau menerima cintanya Yanto.
Kalau saja waktu itu, aku tidak menyemangatimu untuk menerima cintanya, pasti sekarang kamu tidak akan merasa sakit hati lagi" Indah berkata dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Sudahlah, mungkin ini semua sudah menjadi takdirku. Nasibku mungkin harus begini"
Cempaka menjawabnya lirih.
Luka yang baru beberapa sa'at
mengering itu, kini tertoreh lagi bahkan semakin dalam terasa.
"Cempaka, sekali lagi tolong ma'afkan aku" Indah memohon.
"Sudah aku ma'afkan" Sahut Cempaka, dia mencoba untuk tersenyum, walau senyumannya itu terasa pahit.
"Awalnya Cempaka tidak suka waktu Yanto mendekatinya. Namun, waktu itu aku mencoba
membujuknya supaya dia mau menerimanya. Dengan harapan supaya Cempaka tidak sendirian lagi. Selain itu, aku ingin mengobati luka hatinya. Tapi, ternyata tidak sesuai yang di harapkan. Malah sebaliknya, bukan menyembuhkan tapi, malah membuat lebih parah lagi lukanya itu. Aku merasa sangat bersalah dalam hal ini, aku sangat menyesal sekali" Indah mengutarakan penyesalannya.
"Sudah lah Indah, kamu tidak perlu berbicara begitu. Semu sudah menjadi jalan hidupku, sudah takdirku" Sahut Cempaka.
"Kau memang sahabatku yang paling baik, semoga saja semua kebaikanmu itu di balas oleh Allah SWT berpuluh-puluh bahkan berjuta-juta kali lipat"
"Aamiin ya rabbal alamin, terimakasih atas do'anya sahabatku" Cempaka tersenyum tipis.
Untungnya semua adegan yang berlangsung sa'at itu, tidak di ketahui oleh pak Jati. Karena, kebetulan waktu itu pak Jati sedang berada di halaman belakang. Beliau tengah mengasih pakan kepada ikan-ikan peliharaannya.
Bisa menghilangkan stres katanya.
Di masa pensiunnya itu, beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Menikmati pemandangan indah, ikan-ikan yang berenang kian kemari, dengan aneka macam warna yang menawan.
"Nanti kalian kerja ship malam, kan?" Tanya bu Sekar, setelah beberapa sa'at mereka terdiam.
"Iya bu" Serempak jawab Indah dan Cempaka.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu, tidur dulu biar nanti tidak ngantuk" Bu Sekar memberikan saran.
"Atau kalian mau makan dulu?" Tawarnya.
"Makan lagi mungkin, bu. Tadi pagi kami kan sudah makan" Ucap Indah, meralat ucapannya bu Sekar.
"Oiya, ya. Maklum ibu ini sudah tua" Sahut bu Sekar sambil tersenyum.
Cempaka dan Indah pun turut tersenyum.
"Kamu tidur di sini saja ya! Kedua orang tua kamu kan sudah tahu kalau kamu ke sini" Ujar Cempaka.
"Silahkan kalian istirahat dulu!"
Ujar bu Sekar, sambil merentangkan tangan kanannya.
"Baiklah ibuku yang cantik dan baik hati" Sahut Cempaka dan Indah.
Sebelum beranjak dari ruang tengah, Cempaka dan Indah mencium pipi kiri dan kanannya bu Sekar dengan penuh kasih.
Bu Sekar tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu, dari anak dan sahabat anaknya.
Cempaka dan Indah saling bergandengan tangan, berjalan bersama menuju ke kamarnya Cempaka.
"Assalamualaikum" Baru saja keduanya tiba di depan pintu kamarnya Cempaka, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam dari teras depan, suara seorang laki-laki.
"Waalaikumsalam" Cempaka dan Indah menjawabnya pelan. Mereka saling pandang satu sama lain, mereka merasa kaget karena mereka sangat hapal dengan suara itu.
"Suara si Yanto" Bisik Indah.
"Iya" Sahut Cempaka pelan.
"Waalaikumsalam, sebentar" Bu Sekar menyahutnya.
Cempaka dan Indah tidak jadi masuk ke kamarnya. Tapi, mereka balik lagi ke ruang tengah, mereka ingin tahu mau apa maksud dan tujuannya dia datang ke rumahnya bu Sekar.
"Bu, bagaimana kabarnya?" Suara Yanto dengan sopan dan juga ramah.
Sikap sopan dan ramahnya itu yang membuat lawan jenis jadi tertarik kepadanya, begitu pula dengan kedua orangtuanya Cempaka waktu itu.
"Alhamdulillah, baik" Suara bu Sekar sedikit ketus. Mungkin bu Sekar tidak bisa untuk menyembunyikan kekesalannya.
"Emh, kalau neng Cempaka nya ada, bu?" Terdengar Yanto menanyakan Cempaka.
"Ada, tapi dia lagi istirahat, nanti kan mau kerja ship malam" Sahut bu Sekar lagi.
"Ooh, boleh saya bertemu sebentar saja, ada yang perlu saya sampaikan" Yanto sepertinya sedikit memaksa.
"Sama saya saja, nanti saya sampaikan sama dia" Bu Sekar makin ketus nada bicaranya.
"Saya ingin memberikan ini buat neng Cempaka, sebagai tanda kasih sayang saya kepadanya" Ujar Yanto, tangannya di julurkannya ke atas meja, dan dia menyimpan sesuatu di sana.
Sebuah cincin kira-kira seberat dua graman terletak di atas meja.
__ADS_1
"Maksudnya apa?" Tanya bu Sekar tak mengerti.
"Emh, saya ingin melamar neng Cempaka dengan cincin ini" Ujar
Yanto perlahan.
"Kalau begitu, tunggu sebentar ya! Saya kasih tahu anak saya dulu, apa dia bersedia menerimanya atau bagaimana. Dan juga saya mau tahu pendapat suami saya, karena saya tidak bisa memutuskannya sendiri" Ujar bu Sekar.
Bu Sekar tidak bertindak gegabah, walaupun sudah tahu siapa sebenarnya laki-laki yang kini ada di hadapannya itu. Bu Sekar mencoba untuk menahan emosinya.
Bu Sekar segera bergegas meninggalkan tamunya yang tersenyum-senyum sendiri.
Di dalam hatinya, Yanto merasa bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan si cantik Cempaka.
"Kalian!" Bu Sekar begitu kaget, ketika tiba di ruang tengah berpapasan dengan Cempaka dan Indah yang tengah menguping pembicaraan Yanto dan bu Sekar.
"Sini!" Bu Sekar menarik tangannya Cempaka dan Indah ke ruang makan, biar menjauh dari ruang tamu.
"Dia mau melamar kamu. Dasar laki-laki kurang ajar!" Gerutu bu Sekar kesal.
"Ada apa ini? Kok! Bisik - bisik di dapur" Pak Jati yang baru masuk, habis dari halaman belakang, menyapanya heran.
"Bapak" Ketiganya menoleh bersamaan.
"Ada apa?" Tanya nya lagi sambil mendekat.
"Ssst! Bapak pelanin suaranya"
Bisik bu Sekar.
"Iya, ada apa?" Pak Jati bertanya lagi, kini dengan berbisik.
"Sebelumnya kami mohon agar bapak tidak marah, tidak emosi setelah mendengar kabar buruk ini. Bapak janji ya, untuk tidak emosi! Tidak marah!" Ujar bu Sekar sambil menatap tajam.
"Iya, iya bapak janji tidak emosi"
Pak Jati menjulurkan kelingkingnya untuk berjanji.
"Pak, si Yanto itu ternyata sudah punya istri, punya anak satu" Bisik bu Sekar.
"Apa? Si Yanto yang suka sama anak kita?" Pak Jati kaget sekali.
"Iya pak, tapi untungnya anak kita belum resmi jadi miliknya. Anak kita masih di lindungi oleh Allah SWT, kalau seandainya sudah resmi tunangan apalagi resmi menikah, iiih ibu tidak tahu bagaimana malunya kita"
Bisik bu Sekar lagi, beliau sampai bergidik ngeri membayangkannya.
"Ya syukurlah kalau begitu" Pak Jati sedikit lega.
"Tapi, pak. Di depan" Bisik bu Sekar lagi, matanya mengerling ke arah ruang tamu.
"Memangnya ada apa di depan?" Pak Jati bertanya heran.
"Yanto mau melamar anak kita"
"Apa dia itu sudah tidak waras?
Kurang ajar!" Pak Jati sedikit emosi.
"Pak, Yanto belum tahu kalau kita ini sudah mengetahui siapa dia itu sebenarnya"
"Ooh, baiklah kalau begitu, mari kita hadapi bersama-sama, bapak harap semua harus bisa menahan emosinya masing-masing, kita upayakan jangan sampai orang lain tahu selain kita berempat! Faham kan, maksud bapak?" Pak Jati mengatur rencana.
Setelah semuanya selesai di bicarakan, bu Sekar dan pak Jati yang pertama masuk ke ruang tamu, dengan menahan emosi supaya tidak meledak.
"Assalamualaikum" Ucap pak Jati.
"Waalaikumsalam, bapak? Sehat pak?" Sapa Yanto ramah, seperti biasanya.
"Ma'af lama menunggu" Bu Sekar berbasa-basi.
"Bapak dengar dari ibu, katanya ada yang mau melamar anak bapak, benarkah itu?" Pak Jati memulai pembicaraan.
"I, iya pak!" Sahut Yanto menunduk malu.
"Alhamdulillah, bapak sama ibu mengucapkan terimakasih sama nak Yanto, yang sudah punya niat yang sangat baik" Pak Jati diam sejenak, beliau mengatur emosinya yang sudah menggunung di dalam hatinya.
"Iya pak, semoga saja putri bapak bersedia menerimanya"
Sahut Yanto bahagia.
Matanya melirik ke arah pintu yang ke ruang tengah, dia berharap Cempaka akan muncul dari sana.
"Lalu, mana orang tuamu? Masa, melamar anak gadis cuma sendirian?"
"Emh, kedua orang tua saya di, di luar kota pak. Jadi, tidak bisa datang ke sini" Sahut Yanto agak gugup.
"Ini saya hanya bisa bawa ini saja, tolong jangan di lihat ukurannya yang hanya dua gram saja" Ujarnya lagi, sembari menunjukkan sebuah cincin berukuran dua gram.
"Kedua orangtuanya berada di luar kota, kalau di sini bersama siapa?" Bu Sekar menyambar dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Kalau mbak Ranti itu, siapanya kamu?" Tiba-tiba! Indah keluar dengan pertanyaan yang tak pernah di duga olehnya.
***