Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kenari yang berbahagia


__ADS_3

Karmin berjalan dengan perasaan hati yang berbunga-bunga.


"Sebentar lagi kau akan jadi milikku, rasanya sudah tidak sabar lagi aku, Cempaka! Cempaka! Akhirnya hatimu luluh juga. Bu Kenari memang jago bersiasat! Dia punya Eyang yang jadi andalannya. Sungguh beruntung aku ini" Gumam Karmin. Senyuman kemenangan tak lepas dari bibirnya yang hitam karena terlalu banyak merokok.


Langkah kakinya terasa ringan, karena pengaruh hati yang tengah di landa cinta yang salah, cinta yang bukan pada tempatnya, yang seharusnya tidak usah terjadi.


Cinta yang salah tempat, yang akan membuat sang Dewi yang dia cintai menderita, sakit hati, terperdaya, tersiksa dan sengsara, ujung-ujungnya merana.


Cempaka dan keluarganya yang kena pengaruhnya jampi-jampi Eyang, sedikitpun belum menyadari kalau mereka tengah di perdaya oleh Kenari, anggota keluarganya sendiri, saudaranya sendiri.


Sekilas memang terlihat bahwa Kenari itu orang yang baik. Kakak sulung yang penuh perhatian terhadap adiknya, namun kenyataannya dia telah menggiring adik dan kedua orangtuanya menuju ke kehancuran hidupnya.


" Kenapa ya waktu aku ke Indramayu, tidak di bawa ke rumah orangtuanya? Dan Karmin juga memberikan alamatnya, bukan alamat orangtuanya" Hal itu sempat singgah di dalam benaknya Cempaka.


"Mungkin dia belum bicara sama kedua orangtuanya. Atau mungkin karena, mau bikin kejutan? Harusnya aku jangan berpikiran macam-macam ah! Tidak baik rasanya, lebih baik aku jalani saja dulu" Dengan mudahnya Cempaka menenangkan hatinya.


Padahal sebelumnya sedikitpun dia tidak suka sama laki-laki yang bernama Karmin itu. Yang baru dia kenal dan belum tentu bagaimana akhlak dan keturunannya.


"Cempaka, adikku tersayang ma'afkan aku ya, aku sengaja membuatmu menderita, merana


dan sengsara" Gumamnya perlahan, di iringi dengan senyuman kemenangan dari seorang Kenari yang bersarang dendam dan dengki di dalam hatinya.


"Sebentar lagi rasa dendamku yang selama ini memenuhi relung hatiku ini, akan terbalaskan" Gumamnya.


"Tak sabar rasanya mata ini melihat kau berduka, tak sabar rasanya telinga ini mendengar kau merana, meratapi nasibmu yang hancur se hancur- hancurnya" Gumam Kenari sambil senyum-senyum sendiri.


"Kakak! Kenapa kak?" Cempaka merasa heran melihat Kenari senyam-senyum sendiri.


Kenari tak menyahutnya, tak meresponnya, bibirnya tetap tersenyum. Seperti ada yang tengah membuatnya bahagia.


"Kenapa dia bu?" Cempaka bertanya kepada ibunya yang berada dekat disampingnya.


"Entahlah" Bu Sekar mengangkat bahunya, dia juga tak faham dengan perubahan yang terjadi pada anak sulungnya itu.


"Kenari!" Suara bu Sekar terdengar menggelar memanggil nama anak sulungnya itu sambil melemparkan bantal kursi ke bahun nya.

__ADS_1


"Aduuh! Ada apa ini?" Kenari terkejut, matanya menatap ke sekeliling nya.


"Siapa yang melempari aku pakai bantal kursi?" Teriaknya emosi.


"Ibu yang melempar bantal kursi, masih untung hanya di lempari bantalnya saja, bukan sama kursinya" Ucap bu Sekar.


"Ibu, memangnya kenapa ibu melempari aku dengan bantal kursi?" Kenari bertanya tak mengerti.


"Kamu yang kenapa? Dari tadi senyam-senyum sendiri kayak orang yang stres saja layaknya"


"Iya kak, aku panggil juga enggak nyahut, ada apa sih? Sepertinya kakak lagi bahagia banget, hingga tidak menghiraukan sekeliling" Ujar Cempaka sambil menatapnya.


" Emh, oh itu? Bagaimana aku tak bahagia Cempaka, adik yang paling aku sayangi sebentar lagi mau menikah, mau punya suami, mau punya pendamping hidup. Dan, aku sendiri yang akan meriasnya. Coba bayangkan! Kakak mana yang tidak akan bahagia?" Ujarnya sambil memeluk Cempaka dengan erat, penuh kasih sayang, kelihatannya.


Tapi tidak yang sebenarnya!


Sungguh berbalik tiga ratus enam puluh derajat, kenyataannya.


"Benarkah itu?" Tanya Cempaka.


"Kakak, bisa saja kakak ini" Cempaka tak menyadarinya kalau dia sebenarnya tengah di giring ke dalam perangkap yang sangat menyakitkan.


"Senang bapak melihatnya, kalian rukun sekali" Pak Jati berkomentar sambil menatap pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


"Iya pak, kalau melihat anak-anak kita rukun seperti itu, bahagia rasanya hati ini melebihi dari mendapatkan emas segunung" Ucap bu Sekar.


"Iya gitu bu? Kalau menurut aku sih mendingan mendapatkan emas segunung, kita bisa sedekah kepada orang yang membutuhkan" Cempaka berucap, dan mengendurkan pelukan kakaknya. Kemudian dia melepaskan nya lalu duduknya pindah ke sebelah ibunya.


"Ini kan namanya peribahasa, nak. Tapi memang, tiada yang lebih bahagia bagi kedua orangtua selain melihat anak-anak nya rukun, akur seperti itu. Jauh dari pertengkaran dan permusuhan"


Ujar bu Sekar lagi.


" Kamu tidak menanyakan anakmu?" Tanya bu Sekar, mengingatkan Kenari.


"Ooh iya, dia di mana sekarang? Dari tadi aku belum melihatnya, saking bahagianya hati ini jadi lupa sama anak sendiri" Kenari celingukan mencari anaknya.

__ADS_1


"Semalam dia tidur bersama ibu, tadi pagi beberapa menit sebelum kamu pulang, yang suka mengasuhnya datang ke sini, dan di bawa ke rumahnya. Katanya kangen, dan kasihan sama ibu takut kerepotan di sini, gitu katanya" Ujar bu Sekar.


"Ya sudah, aku tenang kalau begitu. Aku jadi fokus mengatur acaranya pernikahan kamu dek! Kamu mau kan aku yang meriasnya nanti?" Kenari bertanya pada Cempaka.


"Iya" Cempaka menjawabnya dengan singkat.


"Semoga saja tidak ada kendala pada Karmin ya dek ya! Semoga dia mendapatkan kelancaran" Ujar Kenari penuh harapan.


"Bu, aku mau pulang dulu. Mau nyapu dulu di sana takutnya berantakan" Kenari berpamitan hendak pulang dulu ke rumahnya. Padahal yang sebenarnya dia bukan mau pulang ke rumahnya. Tapi, mau ke rumahnya Eyang, mau menemuinya.


Kenari mau laporan bahwa rencananya sudah mulai sedikit berhasil, tinggal menunggu finish nya saja. Selain itu dia juga mau meminta jampi-jampi nya Eyang yang lebih paten lagi, lebih ampuh lagi. Supaya tidak lekas melemah jampi-jampi yang kemarin nya.


"Kamu istirahat yang cukup, biar wajahmu bercahaya waktu di dandani besok" Ucap Kenari kepada Cempaka.


Cempaka hanya mengangguk saja tidak menjawab apapun. Di hatinya muncul kebimbangan dan pertanyaan akan siapa dan bagaimana sebenarnya orang yang akan dia nikahi itu.


Cempaka masih ragu, dia belum sepenuhnya terbius oleh jampi-jampi nya Eyang.


"Assalamualaikum" Ucap Kenari seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pintu samping, hendak pulang katanya.


"Waalaikumsalam" Sahut mereka.


"Bu, kenapa ya hatiku merasa tidak enak gini. Rasanya seperti yang bingung gitu" Ujar Cempaka setelah Kenari menjauh dari rumahnya.


"Bingung bagaimana?"


" Ya, bingung saja. Kenapa aku mau di jodohkan oleh kak Kenari sama si Karmin. Sedangkan aku belum tahu siapa si Karmin itu? Dan bagaimana dia itu sebenarnya?"


"Kalau begitu pikirkan dulu masak-masak, sebelum semuanya terjadi. Sebenarnya ibu juga sama, nak. Kadang mengizinkan kamu di nikahi oleh si Karmin itu. Tapi, separuh hati ibu tidak merelakannya, entah apa yang ada di dalam hati ibu ini, sepertinya akan ada sesuatu tapi entah apa itu?" Ternyata ibunya pun merasakan hal yang sama, yang di rasakan oleh Cempaka.


"Semoga saja semuanya akan baik-baik saja, semoga saja tidak akan ada hal yang tidak kita harapkan terjadi pada kita semua Amiin" Ujar bu Sekar mencoba untuk menenangkan hatinya Cempaka dan juga hatinya sendiri yang sama-sama merasa bingung.


"Amiin ya Robbal Alamin" Ucap Cempaka.


Sementara itu Kenari dengan riangnya berlalu menuju ke rumahnya Eyang.

__ADS_1


***


__ADS_2