
"Assalamualaikum... Mbak" Pagi itu sekitar jam sembilanan seorang wanita paruh baya mengucapkan salam di depan pintu rumahnya wak Iyem.
"Waalaikumsalam... Sebentar!" Teriak wak Iyem dari dapur.
"Seperti Suaranya Sutirah" Gumamnya sambil bergegas ke ruang tamu.
"Oalah kamu, ayo masuk!"
"Iya mbak, saya ingin ketemu sama istrinya Karmin yang baru itu"
Tamu perempuan itu berbisik di telinganya wak Iyem.
"Kamu pasti tidak akan percaya" Sahut wak Iyem berbisik pula.
"Maksudnya?" Wanita yang bernama Sutirah itu bertanya heran.
"Lihat saja nanti!"
" Bikin saya penasaran saja, memangnya kenapa dengan istrinya Karmin yang baru itu mbak?" Yang baru datang itu menanyakan istrinya Karmin yang baru. Siapa lagi kalau bukan Cempaka.
"Ssst! Lihat saja nanti!"
"Mana dia, mbak?" Wanita paruh baya itu merasa tidak sabar.
"Di belakang" Sahut wak Iyem.
"Nok ( Neng)? Sini Nok ! Ada mertuamu" Wak Iyem menggamit lengannya Cempaka dan membimbingnya untuk di bawa ke ruang makan, untuk di pertemukan dengan ibunya Karmin atau mertuanya Cempaka.
"Nok siapa wak?" Cempaka tak mengerti, tapi dia mengikuti langkahnya wak Iyem tanpa membantah.
"Nok kamu! Nok itu sama dengan Neng, kalau di Bandung"
"Ooh... Nok itu berarti Neng"
" Ayo, Ikut uwak! " Jelas wak Iyem.
" Ke mana wak?"
"Bertemu dengan mertua kamu"
"Kita sekarang mau ke rumah mertua aku, uwak? Sebentar aku siap-siap dulu" Cempaka mencoba untuk melepaskan pegangannya wak Iyem.
"Sudah! Kamu sudah cantik tidak dan-dan juga. Lagipula kita bukan mau ke rumah mertuamu. Karena mertuamu sudah ada di rumah uwak, tuh! Lagi nungguin di sana, ayo!" Wak Iyem membimbing Cempaka menuju ke ruang tengah di mana Sutirah atau mertuanya Cempaka sengaja di suruh menunggu di sana oleh wak Iyem.
"Tirah, lihat! Siapa yang ku bawa? Nah ini menantu mu! Cah ayu wong Bandung, wong kota bisa gelem karo wong desa, Karmin lagi lanange, Aneh!" Wak Iyem nyerocos sambil mendudukkan Cempaka di samping ibu Sutirah, ibunya Karmin.
"Oalah... Cah ayu... Cah ayu! Matamu kenapa? Kok! Bisa-bisanya demen karo Karmin? ( Oalah... Anak cantik... Anak cantik! Matamu kenapa? Kok! Bisa suka sama Karmin?)" Sutirah menarap wajahnya Cempaka tak berkedip, Setelah dekat, dia mengguncangkan bahunya Cempaka berulang kali.
Tak henti-hentinya dia berdecak sambil geleng-geleng kepala karena merasa heran.
"Kula gak percaya Karmin bisa dapat istri yang ayu tenan kaya gini, oalah...
Nok! Nok!"
Cempaka hanya diam tak berkomentar. Karena, dia tak mengerti akan perkataan yang di ungkapkan oleh ibu mertuanya.
"Ayu tenan, Nok bagaimana ceritanya kamu bisa mau sama Karmin?"
"Di jodohin sama kakak" Sahut Cempaka pelan.
"Di jodohin sama kakak? Apa tidak salah dengar?" Bu Sutirah balik bertanya.
"Iya bu" Sahut Cempaka perlahan.
"Punya kakak kok! Gitu, apa ndak salah pilih ngejodohin karo Karmin?"
Bu Sutirah menarap wajahnya Cempaka dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya.
"Karminnya mana?" Tanya bu Sutirah sejurus kemudian.
"Sudah berangkat kerja, bu" Sahut Cempaka.
"Semoga saja dia jadi benar kerjanya"
Gumam bu Sutirah.
"Memangnya kenapa, bu?" Cempaka tak mengerti.
"Dia kan kerjanya sering keluyuran, tidak betah diam di tempat kerja"
"Kenapa bisa begitu?"
__ADS_1
"Enggak tahu, ibu juga pusing kalau mikirin dia"
"Semoga saja ke depannya tidak begitu lagi" Wak Iyem menimpali.
"Ma'af, tadi kan ibu bilang kalau ibu itu merasa pusing mikirin Karmin, maksudnya itu bagaimana? "
Bu Sutirah tidak langsung menjawabnya. Tapi, dia malah saling tatap dengan wak Iyem.
"Dan, kenapa sepertinya ada sesuatu yang tidak baik tentang Karmin?"
Tanya Cempaka pula.
"Enggak apa-apa Nok. Semoga kamu betah di sini ya Nok ya, mungkin ini semua sudah menjadi takdir dari yang Maha Kuasa, kamu jadi istrinya Karmin, kalau ada apa-apa ngomong saja sama Emak atau sama wak Iyem. Melas temen awak mu Nok( kasihan sekali dirimu Neng)" Bu Sutirah mengusap kepalanya Cempaka.
Cempaka semakin tak mengerti, semakin merasa heran dengan sikap dan perkataan ibu tak tentang Karmin.
"Karmin itu sebenarnya kenapa?" Bathinnya bertanya.
Hingga siang hari mertuanya Cempaka berbincang banyak dengan Cempaka, membuat rasa penasaran yang kian menyeruak dari dalam hatinya.
Namun, Cempaka tak mendapatkan
jawaban yang dia harapkan.
Bu Sutirah dan wak Iyem selalu mengalihkan pembicaraannya setiap kali Cempaka bertanya tentang Karmin.
"Emak mau pamit pulang dulu ya Nok, nanti kamu nginep di rumah Emak ya!" Ujarnya sebelum dia pulang.
"Kenapa aku tidak langsung di bawa ke rumah Emak saja waktu pindahan? Kenapa mesti ke rumah wak Iyem dulu? Ada apa ini sebenarnya?" Beberapa pertanyaan terlontar dari mulutnya Cempaka.
Wak Iyem dan mak Sutirah saling tatap dengan wajah yang penuh kebingungan.
Keduanya nampak merasa bingung, apa yang mesti di jadikan alasan yang tepat dan membuat Cempaka percaya.
"Uwak kan tinggal sendirian jadi Karmin membawanya ke sini dulu, besok-besok boleh tinggal di rumah Emak, Emak juga senang kalau kamu tinggal sama Emak" Bu Sutirah membuat alasan.
"Iya, mak"" Cempaka tidak bisa bertanya lebih banyak lagi, percuma pikirnya. Karena pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
"Sekarang Emak mau pulang dulu ya Nok ya" Bu Sutirah mengelus kepalanya Cempaka penuh kasih.
Cempaka menganggukkan kepalanya, dan mengantarkan sang ibu mertua hingga naik ojeg di jalan depan rumahnya wak Iyem.
Sekembalinya ibu mertua, Cempaka tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Pikirannya jadi menduga-duga tentang kelakuannya Karmin. Hatinya bertanya-tanya tak menentu.
"Siapa sebenarnya Karmin itu?" Gumamnya, netranya jauh menatap ke jalan yang tadi di lalui oleh ibu mertuanya.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan dariku, tapi apa yang mereka tutupi?"
Gumamnya lagi.
Saking antengnya Cempaka dengan pertanyaan yang menggulung di benaknya, suara mesin motornya Karmin pun tak terdengar olehnya.
Sejak Cempaka di bawa pindah ke rumahnya wak Iyem, setiap jam istirahat Karmin selalu pulang dulu untuk makan siang bersama Cempaka dan juga wak Iyem.
"Dek! Lagi apa?" Bahkan pertanyaan Karmin pun tak terdengar olehnya.
"Hai! Siang-siang melamun!" Karmin menepuk pundaknya Cempaka perlahan.
"Astagfirullahaladzim... Ngagetin saja!" Cempaka terperanjat di buatnya.
"Kamu lagi ngeliatin apa? Sampai serius gitu" Tanya Karmin melemah, sejak Cempaka mau tidur bareng, dia jadi lembut terhadap Cempaka.
Entah untuk menutupi kelakuan yang sebenarnya atau entah apa.
"Ngeliatin Emak" Sahut Cempaka.
"Emak siapa?" Kini balik Karmin yang terkejut.
"Emaknya kamu" Cempaka berlalu masuk ke dalam rumah, langsung ke dapur hendak membuatkan air buat Karmin.
"Emak ke sini?" Karmin mengejar langkahnya Cempaka, dia sepertinya tidak percaya.
"Iya, tuh cangkir bekas teh manisnya juga belum aku beresin" Cempaka menyajikan secangkir teh manis hangat buat Karmin.
Karena wak Iyem terus-terusan memberikan nasihat kepada Cempaka, akhirnya dia mau menerima Karmin sebagai suaminya.
Dan, diapun mau melayani Karmin sebagai seorang istri.
"Emak bicara apa?" Karmin nampak was-was.
"Bicara banyak tentang kelakuan kamu yang tidak baik itu!" Belum sempat Cempaka menjawab pertanyaan nya Karmin, wak Iyem sudah menjawabkan nya.
__ADS_1
"Wak?" Karmin sangat terkejut sekali, dia duduk lemas.
"Kenapa cemas begitu? Merasa kalau kelakuanmu itu tidak bener, segera berubah jadi wong bener jangan hanya terkejut dan cemas begitu! He... He... "Susul wak Iyem sambil terkekeh merasa lucu dengan sikap Karmin saat itu.
Cempaka menyimak semua perkataannya wak Iyem dan juga sikap Karmin kala itu sambil menyiapkan makanan untuk makan siang mereka.
"Dek, Emak bicara apa saja?" Karmin melirik Cempaka dengan pertanyaan yang terdengar gusar.
"Seperti yang uwak katakan barusan"
Ujar Cempaka santai.
"Yang bener, nok" Karmin seakan tak percaya.
" Memang itu bener, sudah ah! Sekarang kita makan dulu saja, nanti selesai makan aku jelaskan semuanya" Cempaka mengakhiri pertanyaan Karmin.
Dia sengaja membuat Karmin penasaran. Karena, dirinya juga masih penasaran dengan semua yang seakan-akan di sembunyikan oleh mereka.
Tanpa banyak tanya lagi, akhirnya mereka pun makan siang bersama.
Namun, wajah Karmin masih menunjukkan wajah yang resah karena takut rahasianya terbongkar dengan begitu cepatnya.
Dia merasa ketakutan kalau dirinya yang sudah punya istri itu, sudah di ketahui oleh Cempaka.
"Tapi, kalau dia sudah tahu saya yang sebenarnya, tidak mungkin dia tidak berubah sikapnya pada saya. Pasti dia ngamuk dan marah-marah, tapi ini biasa saja. Berarti, Emak tidak bicara tentang itu" Bathinnya menceracau, sedangkan netranya tak lepas menatap wajahnya Cempaka yang duduk di depannya.
Di tatap seperti itu, Cempaka cuek saja. Dia pura-pura tak melihatnya.
Sedangkan wak Iyem, sambil makan netranya bolak-balik menatap Karmin yang menatap Cempaka dan melirik lagi ke arah Cempaka yang tetap cuek.
"Biar dia juga merasakan keresahan juga" Bathin Cempaka. Dia tersenyum dalam hati.
Hingga makan siang selesai, tak ada satu katapun terucap dari mulut mereka.
Hingga akhirnya,
"Dek, ayo ceritakan tentang pembicaraan tadi bersama Emak. Sekarang kan sudah usai makanya"
Karmin menagih janjinya Cempaka setelah dia menyeruput habis air minumnya.
"Nanti saja! Sebentar lagi juga Karmin harus masuk kerja lagi" Wak Iyem seperti sengaja membuat keponakannya resah.
"Iya betul kata uwak, nanti saja ngobrol nya" Cempaka mengedipkan sebelah matanya kepada wak Iyem yang di balas oleh senyuman.
"Sudah! Sekarang balik lagi sana ke tempat kerja! Awas! Kalau bolos lagi! Ingat! Jauh-jauh dari Bandung kamu bawa si Nok ke sini, jangan sampai kamu telantarkan!" Ancam wak Iyem.
"Tapi nanti pulang kerja, Nok cerita ya semua yang di bicarakan sama Emak"
Karmin memelas.
"Iya, aku akan ceritakan semuanya"
Ujar Cempaka sambil tersenyum.
"Lihat kamu tersenyum, hati saya jadi tenang, adem rasanya" Karmin merayu.
"Gombal!" Cempaka mendelik.
"Ini yang bikin saya nekad nikahin dia"
Ujar Karmin.
"Hah? Nekad nikahin aku? Maksudnya?" Cempaka kini yang terkejut mendengar ucapan Karmin yang tiba-tiba spontan meluncur dari bibirnya.
"Enggak! Enggak apa-apa" Karmin mengulurkan tangannya kepada Cempaka pamit mau kerja lagi.
"Enggak apa? Kamu jahat!" Cempaka mencubit lengannya Karmin.
"Aaaaw! Sakit dek"
Setelah mencium punggung tangannya wak Iyem, dia segera menyambar kunci motor dan bergegas keluar dari rumah.
"Assalamualaikum" Ucapnya.
"Waalaikumsalam" Sahut Cempaka dan wak Iyem.
Dengan kesal Cempaka menatap kepergian Karmin.
Seribu tanda tanya bertahta di dalam hatinya.
***
__ADS_1