
Kabar yang didapatkan oleh Kenari, sungguh tidak enak untuk di dengar.
"Permintaan apaan?... Memangnya aku ini apa?... Seenaknya saja, setelah dia melahirkan dia akan menceraikannya, lalu menikahi aku. Mana mau perempuan di ceraikan setelah melahirkan?... Kalau benar dia tidak bersalah, pasti dia berani datang ke sini. Iya kan kak?" Cempaka begitu kaget mendengar kabar tentang Buana yang di dapat oleh kakaknya itu.
Dia nyerocos dengan begitu kesalnya.
"Kesannya aku ini dijadikan cadangan kalau begitu, sudah enggak usah pedulikan aku lagi, makan saja tuh perempuan itu. Lihai nian dia menjebak laki-laki untuk dijadikan ayah dari bayi yang di kandungnya"Sungut Cempaka sambil mencibir.
"Kita tidak bisa menyalahkan Buana sepenuhnya, karena dia baru mengenalnya kan belum lama, sedangkan dia sudah hamil enam bulan, berarti benar Buana kena jebak tahan ktp. Kasihan juga ya" Tutur Kenari, matanya menatap jauh seakan-akan dia tengah membayangkan Buana.
"Kasihan tapi kurang ajar!... Coba kalau dia tidak menghindar dariku, dia ngomong baik-baik, pasti aku tidak akan se kesal ini"
Cempaka menggerutu lagi.
"Aku sih tidak apa-apa enggak jadi menikah dengan Buana, cuma... Aku merasa malu saja, karena sudah banyak orang yang tahu tentang hubungan kami. Dan juga, ibu sama ibunya dia yang paling menderita, karena mereka berdua ngebet banget kan pingin besanan. Kalau aku sih... Senang-senang saja, asalkan ada penggantinya yang lebih baik dari dia"Ujar Cempaka dengan nada bicara yang cuek bebek.
"Kamu tidak merasa sakit hati?"
Kenari sepertinya penasaran dengan sikapnya Cempaka.
"Sakit sih sakit, tapi kalau langsung ada obatnya, sakitnya langsung sembuh dong kak" Jawaban Cempaka makin membuat Kenari makin penasaran saja.
"Amiin... Ya syukurlah kalau memang begitu, semoga saja" Ujar Kenari.
"Tapi aku bingung lho! Sama bapak dan ibu, kenapa mereka begitu mengharapkan Buana untuk menjadi menantunya?..."
Kenari merasa tidak mengerti.
"Bapak sama ibu merasa malu sama tetangga, kalau aku tidak jadi menikah dengan Buana. Itu saja, hanya jaga image saja" Ucap Cempaka sekenanya.
"Sssst... Kalau ngomong hati-hati lho! Kalau bapak sama ibu dengar, gimana hayo?" Kenari menegurnya.
"Kak!... Kalau misalnya sa'at ini aku sudah punya teman dekat lagi, bagaimana kak?... Kakak setuju enggak?"Cempaka mencoba ingin mengetahui pendapat kakaknya.
"Emh... Kalau menurut kakak sih bagus juga, jadi tidak kelamaan sakit hatinya. Kakak setuju banget deh, semoga saja kamu segera mendapatkan penggantinya yang lebih baik daripada si Buana itu" Ujar Cempaka.
Jelas saja jawabannya Kenari sangat membuat Cempaka bahagia.
Itu jawaban yang selama ini di tunggu-tunggunya.
__ADS_1
"Terimakasih kakak tersayang ku" Cempaka memeluk dan mencium kakaknya itu hingga berkali-kali.
"Apa-apaan sih kamu ini?... Bahagia banget nampaknya, jangan-jangan...
Kenari tidak melanjutkan perkataannya, tapi dia menatap tajam ke arah adiknya itu.
Matanya seakan tengah mencari-cari suatu jawaban di bola mata adiknya.
"Jangan-jangan apa kakak?" Cempaka mencoba mengelak, dia mencoba untuk menutupinya.
Kenari menatap wajah adiknya itu seakan tidak ingin berkedip, walaupun hanya sekali kedipan
saja.
"Sudah ada ya?... Ayo jangan bohong sama kakak!" Kenari mencubit pipinya Cempaka dengan gemas.
"Kalau memang aku sudah punya teman dekat lagi, memangnya kakak mau bantuin aku?" Cempaka ragu.
"Bantuin apa dulu?" Kenari sedikit curiga.
"Aku sudah punya teman baru kak, sekarang dia lagi menempuh pendidikan tentaranya" Ucap Cempaka dengan ceria. Sedikitpun sudah tidak nampak lagi kesedihan di sana.
"Kami bertemu waktu aku di kasih tugas sama bapak, untuk menjadi pengawas ujian di sd Ujung jaya satu, kebetulan di desa Ujung kan ada sahabatku sewaktu kami sekolah dulu" Ujar
Cempaka.
"Kalau begitu, kakak ikut bahagia. Kakak pulang dulu ya, nanti bapak sama ibu curiga lho! Aku kelamaan ngobrol sama kamu, di kamarmu lagi" Kenari akhirnya pamitan.
"Iya kak!" Sahut Cempaka, diapun lalu mengikuti kakaknya keluar dari kamarnya.
Baru saja Cempaka dan Kenari beberapa langkah keluar dari kamarnya.
"Kalian berdua, tidak merencanakan ke rumahnya Buana lagi kan?" Tiba-tiba bu Sekar menegurnya dari ruang tengah.
"Eng... Enggak bu, enggak akan ke sana, lagian aku sudah ikhlas kok kalau dia sama yang lain, asalkan... Aku sama yang lain juga yang aku suka" Ujar Cempaka agak gelagapan menjawabnya. Dia sengaja memancing reaksi ibunya.
"Jangan dulu nak, jangan bikin ibu malu!... Nanti setelah ada kabar dari Buana atau Keluarganya, barulah kau mau langsung menikah juga ibu enggak akan melarangnya, asalkan... Bunga, kakakmu sudah menikah, rencananya kan beberapa bulan lagi" Saran ibunya yang tetap pada komitmen nya semula, menunggu kabar dari Buana.
Kenari menatap Cempaka, lalu menatap ibunya dengan wajahnya yang nampak seperti yang tengah kebingungan.
__ADS_1
Dia tidak mengerti dengan sikap ibunya itu, yang tetap Keukeuh harus menunggu kabar dari Buana dulu.
"Iya bu!... Enggak akan ya kak ya?"Ucap Cempaka sambil bertanya kepada Kenari.
"Iya bu!...Kita tidak akan ke sana"
Ujar Kenari juga.
Dia tidak jadi pulang ke rumahnya, diapun lalu duduk di depan ibunya.
Cempaka pun lalu duduk di samping Kenari.
"Kalian lagi pada ngomongin apa sih?... Nampaknya serius banget"
Bu Sekar sepertinya merasa penasaran.
"Itu bu, tadi aku ketemu sama bi Rora, bibinya Buana itu. Katanya perempuan yang waktu itu datang ke rumahnya bu Seroja, bersama kedua Orangtuanya itu, adalah benar calon isterinya Buana. Mereka ke sini mau memastikan supaya Buana segera melamarnya, begitu katanya bu. Menurut ibu, bagaimana ini?... Buana kan calon suaminya Cempaka" Ujar Kenari, dia ingin tahu reaksi ibunya.
"Kalau memang begitu, kenapa Buana atau ibunya tidak bicara langsung saja ke kita dengan baik-baik, Ibu belum percaya kalau itu kabar dari orang lain, bukan kabar dari Buana sendiri atau dari ibunya" Bu Sekar tidak tergoyah sedikitpun.
Dia belum bisa percaya.
"Bu, kalau menurutku biarin lah Buana dengan orang lain, biarin mereka berpisah sekarang, daripada nanti kalau sudah menikah dan punya anak, dengan demikian kita sudah tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnya. Bisa di katakan dia itu tidak seratus persen sayangnya sama Cempaka. Dan, kita jadi tahu kalau ternyata Keluarganya itu tidak bertanggung jawab" Kenari mengungkapkan pendapatnya.
"Jangan dulu berburuk sangka begitu nak!... Itu tidak baik!"Ujar bu Sekar, lagi-lagi tetap pada pendiriannya.
"Kalau seandainya ada yang suka dan berniat baik kepada Cempaka, ibu setuju kan?" Pancing Kenari.
"Ya pasti setuju.Tapi nanti, kalau benar-benar Buana sudah memberikan kabar yang sebenarnya kepada kita" Sahut bu Sekar, matanya memandangi
wajah anak sulungnya itu sambil tersenyum.
"Jadi, ibu mau tetap menunggu kabar dari Buana?... Walaupun Bibinya sendiri yang sudah mengatakannya kepada aku, bahwa sudah ada perempuan lain yang memintanya untuk segera di lamar, walaupun itu dengan cara yang aneh menurutku" Kenari meyakinkan ibunya.
"Sudahlah jangan mancing-mancing keributan nak, kita tunggu saja berita selanjutnya dari Buana" Ujar bu Sekar lagi.
Kenari menatap Cempaka sambil mengangkat bahunya. Dia merasa sudah habis kata-kata untuk meyakinkan ibunya.
Cempaka pun geleng-geleng kepala, dia merasa aneh dengan sikap ibunya itu. Dia jadi bingung sendiri, dia sudah kehabisan cara untuk meyakinkan ibunya.
__ADS_1