Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Jodohnya pria beristri


__ADS_3

Sa'at itu kebetulan tanggal merah, jadi kerja libur.


Pagi-pagi sekali Puspa sudah datang ke rumahnya Cempaka.


Dia akan mengantarkan Cempaka untuk menemui Pak Ustadz, yaitu orang yang dulu pernah mengobati Puspa, di kala dia mengalami prustasi.


Patah hati karena, tunangannya Puspa menikah dengan orang lain, dia di jodohkan dengan saudaranya sendiri yang baru datang dari luar pulau.


Sa'at itu, Puspapun mengalami masa-masa kecewa, sakit hati dan menderita seperti halnya Cempaka sa'at ini.


Hanya dia tidak di barengi dengan hal-hal mistis, jadi tidak terlalu berat seperti Cempaka sekarang.


"Suamimu tidak apa-apa, kamu pergi sama aku?" Cempaka masih ragu.


"Enggak, enggak apa-apa. Dia kerja lembur. Tadi aku barengan berangkat dari rumah, aku anterin dia ke tempat kerjanya sebelum aku ke sini. Nanti, pulangnya aku jemput lagi. Jadi kami pulang bareng lagi" Sahut Puspa.


"Memangnya di mana kerjanya?"


Cempaka belum tahu.


"Sebelahan dengan tempat kerja kita. Yang gerbangnya warna biru


itu. Tenang saja, aku sudah minta izin kok! Dia juga sudah ngizinin" Ujarnya.


"Baiklah kalau begitu" Cempaka merasa tenang mendengarnya.


"Kita berangkat sekarang?" Puspa sepertinya sudah tidak sabar lagi. Dia ingin sekali membuat Temannya itu terlepas dari penderitaan yang kini tengah membelenggunya.


"Boleh, aku pamit dulu sama kedua orangtuaku ya." Cempaka berlalu menuju ke dalam rumahnya. Hendak menemui ke dua Orangtuanya.


"Mau berangkat sekarang?" Bu Sekar bertanya kepada Puspa.


"Iya buu, mungpung masih pagi. Biar tidak kepanasan di jalannya"


Puspa memberikan alasan.


"Ibu nitip Cempaka ya neng ya!"


"InsyaAllah bu, pak. Semoga saja


Cempaka bisa di tangani oleh pak Ustadz Rahman, seperti saya dulu" Ucap Puspa sambil tersenyum kecil.


"Bu, pak..., kami berangkat dulu ya." Cempaka berpamitan kepada kedua orangtuanya.


"Kalian hati-hati ya"


"Iya buu, Assalamualaikum..."


Kamipun berangkat dengan menggunakan sepeda motor milik Puspa.


"Waalaikumsalam... Cepat kembali ya nak ya." Ucap Bu Sekar.


Motorpun melaju meninggalkan


rumahnya bu Sekar, menuju sebuah Desa yang berada di sebelah selatan kampung tempat tinggalnya Cempaka dan Keluarga.


"Jauh enggak, pa?" Cempaka memecah kesunyian.


"Enggak, enggak sampai satu jam kok!" Sahutnya.


"Tenang saja, nanti juga sampai"


Lanjutnya lagi.


Pepohonan dan pesawahan yang kami lalui, sungguh indah di pandang mata.


"Ini kaan... SD Ujung Jaya satu"


Gumam Cempaka ketika mereka melaju di depannya.


"Ada apa dengan Sekolah ini?" Tanya Puspa.


"Teman kita kan ngehonor di sini, si Mawar itu. Rumahnya juga dekat dari sini" Cempaka teringat kembali akan Samudera, kasih tak sampainya.


"Mawar yang sebangku dengan


kamu itu bukan? Yang agak bule itu ya!" Puspa rupanya masih ingat.

__ADS_1


"Iya... I... Itu" Cempaka tergagap menjawabnya. Karena ingatannya tengah melayang kepada Samudera.


"Samudera!... Apakah kau masih ingat aku?" Bathinnya, berbisik lirih. Tanpa di minta, peristiwa waktu itupun terbayang kembali di pelupuk matanya. Langkah gontai Samudera sa'at meninggalkan rumahnya terlintas kembali. Pedih, perih.


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu


menangis!" Puspa menghentikan laju sepeda motornya.


"Kenapa berhenti? Memangnya kita sudah sampai?" Cempakapun lalu turun dari motor yang di tumpanginya.


"Kamu tadi kenapa? Aku khawatir, jadi aku hentikan motornya. Sepertinya kamu menangis" Puspa menatap mata Cempaka.


"Enggak apa-apa, aku hanya merasa sedih saja bila melintasi sd Ujung jaya itu" Sahut Cempaka pelan.


"Memangnya kenapa sedih?"


Puspa semakin merasa penasaran.


"Itu salah satunya aku menjadi menderita dan kecewa" Ucap Cempaka.


"Maksudnya?" Selidik Puspa.


"Ceritanya sangat panjang, nanti aku ceritakan" Ujar Cempaka.


"Ya sudah! Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Tinggal separuh jalan lagi" Puspa menghidupkan sepeda motornya kembali.


Setelah Cempaka naik di belakangnya. Motorpun melaju kembali perlahan.


Setelah melewati beberapa perkampungan, pesawahan dan juga beberapa gunung. Akhirnya


merekapun sampailah ke suatu jalan setapak, yang di kiri kanannya pesawahan terhampar sepanjang mata memandang.


Di ujung pesawahan itu, berdiri dengan kokohnya bukit-bukit kecil berjejer. Sungguh! Pemandangan yang sangat indah sekali. Sangat memanjakan mata yang memandangnya.


"Masih jauh?" Tanya Cempaka.


"Ituu! Di depan sana kan ada beberapa rumah. Naaah di sanalah rumahnya pak Ustadz Rahman itu" Puspa menunjuk ke arah depan, di mana di sana nampak ada beberapa rumah penduduk.


"Sebentar lagi berarti" Ujar Cempaka.


"Iya... Tempatnya indah ya! Kamu suka enggak di bawa ke sini?"


"Semoga saja jodohmu ada di sini!" Puspa menggodanya.


"Amiin" Ucap Cempaka.


Kamipun memasuki gerbang yang menuju perkampungan yang hanya di tempati oleh beberapa rumah saja.


"Kok! Cuma berapa rumah, kayaknya penduduknya hanya sedikit" Cempaka nampak celingukan memandangi rumah-rumah yang terbuat dari kayu atau rumah panggung yang berjejer rapi saling berhadapan.


Tapi, jaraknya saling berjauhan dari satu rumah ke rumah yang lainnya.


Setelah di hitung, rumahnya cuma ada sepuluh rumah saja.


"Cuma sepuluh rumah?" Ujar Cempaka heran.


"Iya... Ini katanya perkampungan baru, jadi belum banyak penduduknya" Ujar Puspa.


"Kamu berniat tinggal di sini? Enak, adem banget hawanya sejuk, segar belum ada polusi udara, bikin jantung kita sehat"


Ujar Puspa.


"Mau deh kalau punya uangnya"


Puspa menghentikan motornya, tepat di depan rumah yang paling ujung. Tidak jauh dari rumah itu, nampak ada sebuah bangunan lagi. Tapi, bentuknya tidak seperti sebuah rumah. Setelah di amati, ternyata itu sebuah mushola.


"Ini rumahnya pak Ustadz Rahman" Ucap Puspa, dia memarkirkan motornya di bawah pohon mangga yang tumbuh di halaman rumahnya pak Ustadz.


"Asri dan teduh ya! Bikin betah"


Cempaka menatap ke sekeliling halaman rumahnya pak Ustadz.


"Ayo kita masuk!" Ajak Puspa.


"Assalamualaikum..." Ucap Puspa, setelah mereka berada di depan pintu rumahnya pak Ustadz yang setengah terbuka.


"Waalaikumsalam..." Terdengar suara berat seorang laki-laki, menjawab salamnya Puspa dari dalam rumah.

__ADS_1


"Eeh... Ada tamu. Ayo masuk neng!" Sambutnya ramah.


"Terimakasih pak Ustadz" Kamipun lalu masuk ke ruang tamu. Kemudian duduk di tikar yang sudah tergelar di sana.


"Neng Puspa..." seorang ibu yang baru datang dari Belakang


menyapa Puspa.


Sepertinya Puspa sudah sering ke sini, mereka nampak akrab.


"Iya mak, kenalkan ini teman saya namanya Cempaka" Ujar Puspa mengenalkan Cempaka.


"Cempaka" Sambil salim kepada ibu-ibu itu.


"Saya Halimah, istrinya pak Ustadz Rahman" Ujarnya sambil tersenyum menatap wajahnya Cempaka.


"Neng cantik sekali" Bu Halimah memujinya.


"Alhamdulillah ibuu " Sahut Cempaka.


Setelah berbasa-basi sebentar, Puspa lalu menjelaskan maksud kedatangannya.


"Neng Cempaka, bapak minta ma'af, bila saja apa yang akan saya katakan itu tidak sesuai dengan apa yang neng Cempaka harapkan" Pak Ustadz Rahman berkata perlahan-lahan.


Sepertinya Pak Ustadz Rahman akan mengatakan sesuatu yang


tidak mengenakan telinganya Cempaka.


"Neng Cempaka, sabar yaa, sepertinya neng tidak akan menikah dengan laki-laki yang masih bujangan" Ujar pak Ustadz Rahman perlahan.


"Maksud pak Ustadz?" Cempaka menatap balik wajahnya pak Ustadz Rahman, lalu menatap wajahnya Puspa.


Semua yang ada di sana saling tatap satu sama lain.


"Pak Ustadz, kenapa bicara begitu? Apa maksudnya?" Puspa nampak panik.


Dia merasa bersalah karena sudah mengajak Cempaka menemui pak Ustadz Rahman. Niatnya mau cari solusi,


mau cari obat biar hatinya Cempaka tidak terlalu sedih dan


menderita.


Tapi, kenyataannya..., Cempaka mendapatkan kabar yang tidak enak untuk di dengar.


Mana perkataannya pak Ustadz Rahman suka benar lagi.


Waktu dirinya pertama menemui pak Ustadz Rahman, beliau pernah bilang bahwa jodohnya itu tempat kerjanya berdekatan dengan tempat kerja dirinya.


"Dia bukan orang dekat, dia orang luar kota, perawakannya tinggi. Dia itu orangnya baik, penyayang."


"Kalian akan bertemu di warung yang dekat dengan tempat kerja kalian, dalam waktu dekat"


Itu yang di katakan oleh pak Ustadz Rahman waktu itu. Dan...


Ternyata perkataannya itu benar.


"Sekarang pak Ustadz Rahman mengatakan bahwa Cempaka tidak akan berjodoh dengan laki-laki yang masih bujangan. Aku takut dia akan berjodoh dengan yang sudah punya istri. Aduuh jangan sampai ya Allah"


Bathin Puspa panik.


"Ini kan menurut pirasat saya, neng Cempaka akan di ma..., du.


Semoga saja ini tidak benar ya neng ya" Ujar pak Ustadz Rahman lagi, dengan suara yang terputus-putus.


"Tidaaaak!... Aku enggak mau di maduuu! Aku masih gadis, jadi jodohku juga harus bujangan! Aku enggak mau di maduuu!"


Cempaka berteriak histeris.


"Cempaka sabar ya, ma'afkan aku ya! Aku enggak tahu kalau akan ada perkataan yang tidak di inginkan" Ujar Puspa, dia merasa bersalah.


Cempaka terus menangis meratap. Sembilu nan tipis itu kini mengiris luka hatinya lagi.


Perih... Pedih.


Luka itu terasa semakin dalam.


Derita itu semakin kokoh menerpa jiwa.

__ADS_1


Kidung nestapa kini berdendang kembali, merana, meratap.


Entah sampai kapan.


__ADS_2