Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Ternyata sudah punya istri


__ADS_3

Sejak saat itu, setiap istirahat pasti Yanto mengajak Cempaka untuk ke kantin.


Walaupun Cempaka berusaha untuk menghindarinya.


"Sepertinya si Yanto itu, suka sama kamu lho!" Ucap Indah, sa'at itu mereka tengah berjalan menuju ke tempat kerjanya.


"Ya, sepertinya begitulah!" Sahut Cempaka.


"Kamu sendiri, bagaimana?" Indah mencoba menyelami hati sahabatnya itu.


"Enggak tahu, In. Aku sudah merasa jenuh. Rasanya aku lebih baik sendiri saja, tenang, tidak ada yang mengusik waktuku, tidak ada beban dalam pikiranku" Cempaka mengutarakan isi hatinya.


"Eit, jangan ke bablasan begitu dong! Tidak baik itu, pamali!" Indah kelihatan panik.


"Daripada aku sakit hati terus, ya lebih baik sendiri lah!" Cempaka sedikit ketus nada bicaranya.


"Siapa tahu sekarang tidak. Kan, kita tidak tahu hari esok itu bagaimana?"Dengan lembut Indah mencoba menasihatinya.


"Terserah nanti saja, In! Bagaimana baiknya saja, aku cape dengan semua yang telah aku alami selama ini. Kamu enak, Indah. Tunangan mu tidak mudah berpindah ke lain hati, dan sepertinya hubungan kalian bebas hambatan, tidak ada duri penghalang seperti diriku" Lirih Cempaka berucap.


"Puitis juga kata-kata mu itu. tapi, yang bebas hambatan itu, bukannya jalan tol" Indah malah menggodanya.


"Kamu ini, eh, Intan, tuh lihat! Dia sekarang sudah semakin berani menghadang ku di jalanan, tidak cuma mengajak bareng sa'at ke kantin saja" Cempaka berbisik kepada Intan, sa'at matanya menangkap sosok Yanto, yang tengah berdiri di pinggir jalan yang akan di lalui oleh mereka.


"Yanto?" Indah turut berbisik pula.


"Itu berarti dia benar-benar suka sama kamu" Bisik Indah lagi.


"Enggak tahu, aku sekarang sudah tidak punya kepercayaan lagi sama yang namanya lelaki"


"Eeh, jangan begitu! Pamali" Jari telunjuk Indah di angkatnya, dan di arahkan ke bibirnya Cempaka.


"Hai, Cempaka! Baru sampai sini? Aku sengaja menunggumu, biar kita bisa bareng berangkatnya" Yanto menyapanya sambil tersenyum ke arah Cempaka.


"Untuk apa?" Cempaka menjawabnya ketus.


"Untuk bisa bareng jalan ke tempat kerjanya" Sahut Yanto, sedikitpun dia tidak menampakkan kekesalannya.


Cempaka melanjutkan langkah kakinya, tanpa berkomentar apapun. Indah menyusul di belakangnya, juga Yanto.


"Sabar ya" Bisik Indah kepada Yanto, yang berjalan di sampingnya.


"Dia itu sudah punya pacar atau tunangan belum, sih?" Yanto mencari tahu.


Indah menggelengkan kepalanya, tandanya Cempaka masih sendiri.


"Yes! Terimakasih" Ujarnya sumringah, dia senang sekali mengetahui bahwa Cempaka masih sendiri.


"Ada apa sih?" Tanya Cempaka ketus.


"Enggak apa-apa, ayo Cempaka!" Indah menarik tangan Cempaka agak menjauh dari Yanto.


"Dia suka setelah tahu kamu masih sendiri" Bisik Indah.


"Kamu sengaja ngasih tahu dia, bahwa aku masih sendiri?" Cempaka berkata dengan geramnya.


Indah menganggukkan kepalanya.


"Indah!" Cempaka mencubitnya hingga lengannya Indah, memerah.


"Aduh, Cempaka! Sakit!" Indah menjerit dengan mengusap - usap tangannya.


Cempaka berlari meninggalkan Indah dan Yanto.


Cempaka sangat marah sekali.


"Dia sepertinya marah, bagaimana ini?" Yanto merasa khawatir.


"Nanti aku akan minta ma'af kepadanya" Indah menenangkan Yanto, diapun bergegas mengejar Cempaka yang tengah marah.


"Cempaka! Cempaka! Tunggu!"


Indah berlari mengejar Cempaka yang telah berlari jauh darinya.


Cempaka tak menyahut, menoleh pun tidak.la terus saja berlari hingga sampai ke ruang kerjanya.


Walaupun sepuluh menit lagi ke waktu masuk, dia tidak peduli.


Dia langsung menuju ke mesin yang di jaganya.


"Hai, Assalamualaikum" Sapa Cempaka dengan ramah.


"Hai Cempaka, Waalaikumsalam, kau sudah datang. Masih sepuluh menit lagi" Ujar Rina, teman lain ship nya.


"Iya enggak apa-apa, boleh kan aku di sini dulu"


"Tentu boleh dong! Nanti kan kamu yang jagain ini mesin setelah aku pulang" Ujar Rina tak keberatan.


"Aku juga sudah beres-beres mau pulang" Lanjutnya.


"Cempaka?" Indah nampak terengah-engah karena berlari mengejar Cempaka.


"Cempaka, ma'afkan aku" Lanjutnya.


Cempaka diam saja, dia pura-pura tidak mendengarnya.


"Lampunya sudah nyala, berarti waktunya aku pulang. Aku pulang dulu ya!" Rina membuyarkan ketegangan di antara kami.


Dia menunjukkan lampu besar, yang ada di dinding bagian depan ruangan, lampu yang berwarna merah itu telah menyala. Pertanda waktu nya pulang untuk ship sebelumnya, telah tiba.


"Iya, hati - hati ya Rin!" Cempaka menyahutnya.


"Cempaka! Aku di sini, aku minta maaf sama kamu! Aku tidak mau melihat sahabatku begini terus, aku yakin suatu saat kamu pasti akan mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dari yang sebelumnya" Ujar Indah lembut.


"Iya" Jawab Cempaka singkat.


"Jadi, kamu mema'af kan aku kan?" Indah ingin yakin.

__ADS_1


"Iya!" Sahut Cempaka, ketus.


"Ikhlas enggak?" Tanya Indah.


"Ikhlas" Jawabnya singkat lagi.


"Kalau ikhlas, jangan ketus dong nadanya" Indah menggodanya.


"Iya" Cempaka menjawabnya dengan lembut.


"Nah, gitu dong!" Ujar Indah sambil tersenyum, dipeluknya sahabatnya itu.


"Kenapa kamu tidak mau di dekati oleh Yanto?" Selidik Indah penasaran.


"Aku masih trauma" Lirih suara Cempaka.


"Aku tidak mau sakit hati lagi, aku tidak mau di sakiti lagi, aku tidak mau kecewa dan menderita lagi, aku sudah muak dengan semua penderitaan ini" Lanjut Cempaka.


"Aku mengerti, Cempaka! Tapi, bukan berarti kamu harus bersikap seperti itu. Kamu tidak boleh menutup diri" Nasihat Indah.


Tiba-tiba, lampu besar itu menyala, menandakan waktu masuk kerja untuk ship selanjutnya telah tiba.


" Sudah waktunya kita bekerja, sudah, nanti lagi ngobrolnya" Cempaka menyudahi obrolannya.


"Baiklah" Indah pun bangkit dari tempat duduknya.


Kedua sahabat itu mulai bekerja dengan serius, melanjutkan sisa kerjaannya ship yang tadi pulang.


"Cempaka, sudah mau istirahat tuh! Tiga menit lagi" Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar.


Cempaka segera menoleh ke arah datangnya suara.


Yanto, sudah berdiri di ujung mesin. Dia tersenyum sambil menatap ke arah Cempaka.


"Duluan saja!" Sahut Cempaka.


" Kenapa?" Tanya Yanto ingin tahu.


"Tanggung, sebentar lagi benangnya penuh" Ujar Cempaka.


"Baiklah, aku tunggu" Yanto duduk di ujung mesin.


"Sialan! Malah nongkrong di sana" Gumam Cempaka, kesal.


Hampir sepuluh menit, mesin baru berhenti sendiri. Tandanya Cempaka harus memindahkan benang yang sudah tergulung penuh itu, ke dalam roda benang.


Bel tanda istirahat sudah berbunyi sejak tadi. Namum, Yanto belum pergi juga.


"Kita bongkar sekarang? Atau nanti selepas kita istirahat?" Indah kebingungan. Karena, baru kali ini mereka mengalami hal yang seperti ini.


"Aku mau nanya dulu pak Damar, biar jelas" Cempaka segera menuju ke ruangannya pak Damar.


"Cempaka! Kamu mau ke mana? Kantin kan di sana, bukan di situ!" Teriak Yanto.


"Dia mau nyari pak Damar!" Ujar Indah.


"Ini sudah mau di bongkar sekarang? Biar saya bantuin" Yanto segera mengambil roda, lalu mengisinya dengan bobin - bobin benang yang sudah terisi dengan penuh oleh benang.


Dia berlalu saja waktu melewati


mesin yang di jaganya. Dia langsung menuju ke kantin. Karena, kata pak Damar, nanti saja setelah istirahat.


"Aku mau istirahat dulu, ya!" Melihat Cempaka berlalu menuju ke kantin, Indah segera pamit kepada Yanto yang tengah sibuk menata benang di atas roda.


"Yo, i" Ujar Yanto.Dia tak curiga kalau dirinya tengah di kerjain.


Waktu istirahat pertama sudah habis. Benang yang sudah penuh gulungannya, sudah di pindahkan semua ke dalam roda tempat benang, oleh Yanto.Tinggal menunggu di bawa ke tempat steam.


"Cempaka, kemana perginya? Kok! Belum kembali" Matanya menatap ke arah ruangan pak Damar, tapi tak nampak di sana.


"Hai! Sudah beres rupanya! Terimakasih Yanto, kamu baik banget. Ayo istirahat dulu! Biarin benangnya di sini saja, nanti nunggu kang Andi ngambil" Ujar Cempaka setelah dia tiba di sana.


"Iya, sambil nunggu kamu kembali dari ruangannya pak Damar" Sahut Yanto.


"Ayo kita ke kantin!" Ajak Yanto kepada Cempaka.


"Kami baru saja dari kantin, kami sudah istirahat, sekarang giliran kamu yang istirahat. Ayo, silahkan! Terimakasih atas bantuannya ya!" Ujar Cempaka sambil tersenyum.


"Jadi?" Yanto terperanjat menatap Cempaka.


"Iya, kami sudah istirahat, sudah makan, sudah kenyang, sekarang tinggal kamu yang istirahat! Cepat, nanti keburu waktunya habis" Indah menimpali.


"Emh, baiklah aku ke kantin dulu" Yanto lemas menjawabnya.


Dia pun akhirnya pergi dengan membawa perasaan kesal di dalam hatinya.


" Susah banget ngedeketin dia, bikin aku merasa tertantang kalau begini caranya, aku harus mencari akal untuk menaklukkan hatinya" Gumamnya setengah menggerutu.


"Kamu sih, sengaja ya ngerjain dia?" Bisik Indah.


Cempaka malah nyengir.


"Biarin saja !" Ujar Cempaka, acuh.


*


Tak terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepatnya.


Lampu merah tanda telah usai waktu bekerja sudah menyala.


Cempaka dan Indah, sudah siap untuk pulang.


"Cempaka" Suara itu lagi terdengar memanggil namanya.


Dia, Yanto.


Cempaka menoleh dengan malas.

__ADS_1


"Pulang bareng yu!" Ajaknya.


"Aku mau pulang bersama Indah, dia kan searah denganku rumahnya" Sahut Cempaka.


"Kita pulang bertiga" Ucapnya lagi.


"Terserah kamu saja" Ujar Cempaka.


"Cempaka, ayo kita pulang!" Indah menggamit tangannya Cempaka, dan menariknya untuk di bawa keluar dari ruangan itu.


Yanto mengikutinya dari belakang.


"Dia ngikutin kita terus, apa maunya orang itu?” Gumam Cempaka kesal.


"Mungkin dia benar-benar suka sama kamu. Siapa tahu dia mau serius" Indah meredam emosinya Cempaka.


"Biarin saja dia mengikuti kita, tinggal kita lihat saja sampai di mana kegigihannya untuk mendapatkan perhatian darimu"


Ujar Indah.


"Terserah kamu saja, ah!" Ujar Cempaka kesal.


"Indah, kamu jangan pulang dulu! Kamu sekarang pulangnya ke rumahku saja, aku enggak mau dia ngikutin terus sampai ke rumahku" Bisik Cempaka, ketakutan.


"Oke, baiklah!" Indah mengerti.


"Assalamualaikum, ibu aku sudah pulang" Ucap Cempaka setibanya di teras depan rumahnya.


"Waalaikumsalam, syukurlah kalau kau sudah pulang" Sahut bu Sekar.


"Indah, ayo masuk!" Ajak Cempaka kepada sahabatnya itu.


"Hei! Kamu ngikutin aku juga?" Indah pura-pura kaget.


"Aku ingin tahu rumahnya Cempaka" Sahut Yanto, tenang.


"Ada siapa, nak?" Bu Sekar melongokkan kepalanya dari balik pintu.


"Ajak masuk temannya, nak! Masa, berdiri di luar begitu!" Ujarnya lagi.


"Iya bu,, ayo masuk!" Akhirnya Cempaka mempersilahkan kedua temannya untuk masuk, walau dengan sedikit terpaksa.


"Terimakasih, Cempaka. Assalamualaikum" Ucap Indah dan Yanto, bersamaan.


Walau dengan terpaksa, akhirnya Cempaka menerima pertemanan Yanto juga. Dia jadi merasa kasihan, setelah melihat Yanto begitu gigihnya berusaha untuk mendekatinya.


"Ada satu yang harus kau ingat, kalau kau mau berteman dekat dengan Cempaka, sahabatku!" Ujar Indah, di sa'at mereka mau pulang dari rumahnya Cempaka.


"Apa itu?" Yanto bertanya tak sabar.


" Jangan pernah sakiti dia!" Indah menegaskan.


Yanto diam sesa'at.


"Kalau kamu menyakitinya, kamu berhadapan dengan aku! Aku tidak rela dia sakit hati terus- terusan! Dia rapuh!" Ujar Indah lagi, lalu dia keluar dari rumahnya Cempaka.


"Oke, siap bos!" Jawab Yanto penuh semangat.


Sejak sa'at itu, hampir tiap hari, Yanto suka menjemput dan mengantarkan Cempaka pulang. Begitu pula di tempat kerjanya, Yanto selalu mendekati Cempaka, sepertinya dia tidak mau jauh dari Cempaka.


Dua bulan kemudian, sa'at itu Cempaka tengah melaksanakan sholat maghrib. Tiba-tiba, Yeti datang mencarinya.


"Ada Cempaka enggak di dalam?" Suara Yeti terdengar sampai ke dalam musholla, terdengar jelas oleh Cempaka yang tengah melipat sajadah.


"Ada, itu dia di sana!" Ujar salah seorang yang berada di teras musholla.


"Ada apa?" Cempaka segera keluar dari Musholla.


"Cempaka, aku ada sesuatu untuk kamu! Ada berita yang luar biasa" Bisik Yeti di telinganya Cempaka.


"Ada apa?" Cempaka heran di buatnya.


" Sssst! Jangan berisik! Sebaiknya kita berdua saja, jangan biarkan orang lain tahu" Ujar Yeti.


"Memangnya ada apa, sih?" Cempaka semakin penasaran.


"Ikut aku!" Yeti menarik tangannya Cempaka, di bawanya menjauh dari musholla.


Di lorong yang menuju ke kantin suasananya nampak lengang, Yeti pun berhenti di sana.


"Mau ngapain kamu bawa aku ke tempat ini?" Cempaka tidak mengerti.


"Cempaka, kamu itu temanku. Walaupun kita tidak terlalu akrab. Tapi, aku tidak mau kalau kamu sakit hati" Yeti berhenti sebentar, tatapannya tajam tertuju kepada Cempaka.


"Maksudnya apa? Aku tidak mengerti, ada apa ini?" Cempaka semakin tidak mengerti.


" Kamu jangan marah ya, setelah mendengar berita ini" Bisik Yeti.


"Berita apa, Yeti! Jangan berbelit-belit ah!" Cempaka mulai kesal.


"Kamu sekarang kelihatannya lagi dekat dengan Yanto" Ujarnya.


"Aku cuma ngasih tahu saja, bahwa dia itu sudah punya istri, dan punya anak perempuan satu, masih kecil" Lanjut Yeti.


"Apa? Kamu tidak sedang berbohong kan?" Cempaka nampak sangat terkejut.


"Aku kan tetangganya dia, tetangga beda rt. Kalau kamu tidak percaya, cek saja ke rumahnya tanpa sepengetahuan dia" Ujar Yeti lagi.


"Waktu kita berenam main ke rumahnya, kan ada perempuan yang mengantarkan air minum untuk kita, kamu ingat kan? Yang waktu itu gendong anak. Nah! Itulah istrinya Yanto" Yeti menuturkan.


" Apa benar, semua yang kamu ceritakan itu?" Tanya Cempaka lagi, dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


" Benar, Cempaka! Kamu tanyakan saja ke warga di sana, ke tetangganya, kalau kamu tidak percaya sama kabar dari aku ini" Yeti meyakinkan.


"Dia, sudah punya istri" Cempaka berujar lirih.


"Sabar ya Cempaka! Menurutku,

__ADS_1


lebih baik tahu dari sekarang, mungpung belum terlambat, daripada nanti" Yeti menenangkan Cempaka yang mulai menangis.


***


__ADS_2