
"Karena semuanya sudah hadir di sini, dan maharnya juga sudah di temukan, apakah acara akad nikahnya bisa di mulai?" Pak Penghulu bertanya kepada para hadirin yang berkumpul di sana.
"Sudah pak Penghulu, silahkan saja untuk segera di mulai" Kenari segera memberikan jawaban.
Dia sudah tidak sabar ingin segera membuat adik yang paling di bencinya itu mati kutu, terhina di hadapan seluruh warga kampung itu.
"Baiklah, acara akad nikahnya akan saya mulai. Namun, sebelumnya saya ingin melihat mempelai wanitanya, sebab dari tadi saya di sini, mempelai wanitanya seperti yang bersembunyi. Saya ingin menanyakan dulu kepadanya, apakah dia benar-benar bersedia untuk di nikahkan dengan mempelai pria dengan tidak adanya paksaan atau bagaimana? Karena ini semua adalah termasuk syarat syahnya nikah. Saya takut di kemudian hari saya yang di salahkan atas pernikahan ini" Ujar pak Penghulu.
"Tidak pak, sama sekali tidak ada paksaan dari siapapun juga, pernikahan ini adalah keinginannya. Dia belum keluar dari kamarnya karena adik saya itu merasa malu dengan tingkahnya yang telah memaksa kedua orangtua kami untuk segera menikahkannya. Karena mendadak, jadinya ya begini ini acaranya tidak seperti saudaranya yang lain, tapi tidak apa-apa katanya yang penting segera nikah dengan mas Karmin, begitu pak Penghulu" Kenari lagi yang menyambar.
Pak Jati dan bu Sekar mendelikan matanya ke arah Kenari dengan kesal.
"Tidak begitu pak Penghulu, itu semuanya bohong. Itu karangan dia saja, jangan di percaya. Lebih baik pak Penghulu menanyakannya langsung kepada orangnya" Ujar bu Sekar.
"Baiklah kalau begitu, saya minta kepada mempelai wanita untuk segera hadir di ruangan ini, cukup di balik tirai saja karena, kalian belum syah menjadi pasangan suami istri"
Dengan sigap Kenari segera berlari ke kamarnya Cempaka, hingga langkahnya menabrak orang-orang yang di laluinya.
Bi Nani yang berada dekat pintu ke ruang tengah, tidak tinggal diam, diapun segera berlalu menuju ke kamarnya Cempaka.
Melihat bi Nani berjalan ke kamarnya Cempaka, Kenari mempercepat langkahnya,.dia takut di dahului oleh bi Nani, dia takut bi Nani akan mempengaruhi Cempaka yang sudah mulai kena jampi-jampi nya Eyang.
"Bi Nani, tunggu!" Teriaknya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, saling tatap dan saling tanya tak mengerti.
Bi Nani lebih dulu sampai di pintu kamarnya Cempaka dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Neng, huh, neng Cempaka, huh,hah, huh, buka pintunya neng, ini bibi" Ucap nya dengan nafas yang turun naik karena terburu-buru.
"Masuk saja bi" Sahut Cempaka dengan suara yang bercampur dengan isak tangisnya.
"Neng, sebelum akad nikah bibi mau bertanya sekali lagi, apakah neng di paksa sama Kenari dalam perjodohan ini atau tidak?" Tanya bi Nani.
"Iya,.bi. Aku tidak mau menikah sama dia, uhk, uhk,uhk" Cempaka menangis sambil memeluk bibinya.
Bertepatan dengan itu, Kenari tiba di pintu kamarnya Cempaka.
"Sudah bi Nani, jangan mempengaruhi Cempaka terus. Kasihan dia, terus saja di korek kesedihannya. Dia itu berusaha untuk melupakan semua kenangan pahitnya, makanya dia ingin segera menikah dengan Karmin, ayo Cempaka kita ke depan, pak Penghulu sudah menunggu kamu, beliau akan segera memulai acara akad nikahnya" Kenari menarik tangannya Cempaka dengan kasar.
Cempaka terlepas dari pelukannya bi Nani, setengah di seret dia di bawa oleh Kenari ke pintu yang menuju ke ruang tamu.
"Aduh kasihan sekali neng Cempaka" Para tetangga dan kerabat yang berkumpul di ruang tengah dan terlewati oleh Kenari yang menyeret Cempaka, saling berucap kasihan sambil menyingkir dari tempatnya. Karena, takut terlindas oleh tubuh Cempaka yang tengah di seret oleh Kenari.
__ADS_1
"Kenari! Lepaskan adikmu!" Teriak bi Nani.
"Kak Kenari, kasihan kak Cempaka" Seruni yang dari tadi berada di kamarnya Cempaka, berteriak sambil menangis, dia memburu kakaknya dan berusaha untuk menahannya.
"Apa-apaan sih bocah ini? Sana! Tahu apa kamu?" Tubuh mungil Seruni di tendangnya hingga tersungkur di pangkuan para tamu.
"Kakak! Lepaskan kak! Aku bisa jalan sendiri uhk, uhk, kakak?" Teriakan dan tangisnya Cempaka tak membuat hatinya Kenari luluh, malah terlihat semakin beringas saja seperti yang kesetanan.
"Kakak! Lepaskan! Kasihan dia!" Anyelir dan Bunga yang tengah berada di ruang makan segera berteriak sambil bergegas menghampiri Kenari.
Kedua kakak beradik itu segera menarik tangannya Cempaka yang satunya lagi, bermaksud supaya terlepas dari cengkeramannya Kenari.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah tolong aku" Cempaka berteriak histeris hingga terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah besar itu.
"Anak kita bu, Cempaka" Pak Jati, bu Sekar dan semua yang berada di ruang tamu, berhamburan menuju ke ruang tengah, di mana Cempaka sedang di seret oleh Kenari.
"Kenari! " Pak Jati berteriak emosi melihat perlakuan Kenari terhadap Cempaka. Tak ubahnya seperti yang tengah menyeret tahanan saja.
"Astagfirullahaladzim" Pak Penghulu serta semua yang menyaksikan kejadian itu, mengucapkan istighfar sambil menggeleng- geleng kan kepalanya, mereka tersentak kaget dengan apa yang mereka saksikan di depan matanya.
"Plak!" Bu Sekar menampar pipinya Kenari dengan sangat keras.
"Adikmu itu bukan tahanan! Lepaskan!" Teriak bu Sekar Histeris.
Kenari melepaskan cengkeramannya.
"Aku tidak akan menamparmu kalau saja kelakuanmu itu waras, seperti kakak kepada adiknya, bukan seperti yang kerasukan setan begitu? Kenapa kamu seret Cempaka seperti itu? Kenapa? Kenapa?" Bentak bu Sekar.
"Kamu merasa tersinggung karena aku tampar, apakah adikmu merasa nyaman kau seret seperti pesakitan begitu? Aku tidak akan menamparmu kalau kamu tidak bertindak kasar begitu kepada adikmu! Punya otak itu gunakan untuk kebaikan bukan untuk kejahatan! Apalagi ini kepada adik kandungmu sendiri" Lanjut bu Sekar.
Setelah Cempaka terlepas dari cengkeramannya Kenari, bi Nani dan Seruni segera memeluknya sambil menangis.
Bunga dan Anyelir serta kerabat yang lainnya mengusap-usap lengannya Cempaka yang tadi di cengkram kuat oleh Kenari, hingga menimbulkan bekas memerah.
"Sabar ya neng" Ucapan itu terucap dari mulut mereka yang berkumpul di sana. Semua bersimpati kepada Cempaka yang malang.
"Kalau terjadi apa-apa terhadap Cempaka, awas kamu ya! Kamu harus bertanggung jawab! " Ujar bu Sekar sambil menghampiri Cempaka dan memeluknya erat-erat.
Cempaka menangis di pelukan ibunya, dia tumpahkan semua kepedihan, kehancuran yang dia alami sa'at itu.
Pemandangan yang mengharukan itu, membuat semua mata yang menyaksikan, turut meneteskan air mata haru.
Untuk beberapa sa'at suasana hening di ruangan itu, tak ada yang membuka suara satupun juga. Semua larut dalam kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Kenari mengatupkan kedua baris giginya hingga bergemeretak menahan emosi yang meluap-luap di dalam dadanya.
Pak Penghulu seperti yang serba salah. Beberapa kali dia menatap jam tangan yang di pakainya, seperti yang tengah menghitung detik demi detik yang terus berjalan tanpa bisa dia cegah.
Jam sepuluh telah berlalu, pak Penghulu berbisik kepada pak Ustadz yang berada tidak jauh dari tempat nya berdiri.
"Ma'af pak Ustadz, saya harus bagaimana ini? Sedangkan jam sebelas tepat, saya di tunggu di tempat lain untuk akad nikah juga. Sedangkan sekarang sudah jam sepuluh lewat, saya merasa bingung jadinya"
"Sebentar pak Penghulu, saya coba komunikasi dengan pak Jati, orangtua mempelai wanita" Pak Ustadz beranjak ke arah pak Jati yang tengah duduk di dekat Cempaka yang masih menangis terisak.
"Ma'af pak Jati, saya mau mengganggu waktunya sebentar. Saya mewakili pak Penghulu yang merasa kebingungan dengan peristiwa ini, jadi bagaimana kelanjutannya?" Dengan hati-hati pak Ustadz menyampaikan nya.
"Huuh, pak Ustadz, saya juga merasa bingung dan tidak bisa memutuskan sekarang, saya merasa tidak tega melihat anak saya" Setelah mengenduskan nafasnya membuang rasa yang menggumpal dalam dada, pak Jati berujar lemah. Seakan-akan beban berat tengah menghimpit tubuhnya.
"Saya juga mengerti pak, namun itu pak Penghulu bagaimana? Sementara beliau jam sebelas siang ini di tunggu di tempat lain, dengan acara yang sama" Ujar pak Ustadz, mengingatkan.
"Karena maharnya sudah ada, rasanya tidak perlu di tunda lagi, tidak baik menunda-nunda suatu perbuatan yang baik" Entah darimana datangnya, tiba-tiba di tengah-tengah mereka sudah ada seorang laki-laki tua yang tak di kenal.
Semua mata menatap kepadanya.
"Siapa itu?" Ucap seseorang.
"Enggak tahu" Sahut yang lainnya.
"Kak, siapa kakek tua itu?" Bi Nani mencolek lengan bu Sekar.
"Enggak tahu" Bu Sekar menatap wajah kakek tua itu, perlahan dia bangun dari duduknya.
"Apa pak Ustad mengenalnya?" Tanya pak Jati.
"Saya kira sesepuh keluarga bapak" Ucap pak Ustadz menduga-duga.
Dari sekian banyak orang yang berada di sana, hanya Kenari yang tidak merasa kaget.
Tentu saja dia tidak merasa kaget, karena yang datang dengan tiba-tiba itu adalah orang yang sangat dia nanti-nantikan kehadirannya.
Siapa lagi kalau bukan Eyang.
Laki-laki tua yang akan jadi penyelamatnya.
Tapi, dia pura-pura tidak mengenalnya supaya orang lain tidak menaruh curiga kepadanya.
Hanya di dalam hatinya saja dia tertawa terbahak-bahak bahagia. Karena dia merasa yakin, semua orang akan terhipnotis dan akan tunduk kepada semua perkataannya.
__ADS_1
"Akhirnya dewa penyelamat datang juga, sesuai dengan janjinya tempo hari, Eyang akan datang ke rumah orang tuamu. Tunggu saja kehadiran Eyang di sana, eh benar saja Eyang akhirnya datang juga menepati janjinya" Bathin Kenari bahagia.
***