Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kembalinya Samudera


__ADS_3

Tepat jam tujuh malam, Samudera baru tiba di jalan yang menuju ke rumahnya Cempaka.


Dia berjalan dengan sangat tergesa-gesa. Karena ingin segera sampai di rumah besar yang ber cat hijau apel itu.


"Dimana kamu Cempaka?" Gumamnya sambil berjalan setengah berlari biar segera sampai di rumahnya bu Sekar.


Tak berapa lama Samudera pun akhirnya sampailah di halaman rumahnya bu Sekar dengan nafas yang terengah-engah karena dia berjalan dengan cepat.


Dia duduk di teras rumah itu, sambil menyeka keringatnya yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Diapun lalu mengatur nafasnya.


"Tenang, Samudera. Kau harus tenang"gumamnya pada diri sendiri sambil mengusap dadanya yang terlihat naik turun karena cape.


"Bismillahirrahmanirrahim..." ucapnya setelah dia merasa tenang, nafasnya tidak terengah-engah lagi.


Diapun lalu berdiri dan melangkahkan kakinya ke depan pintu. Dia sudah mantap akan menanyakan dimana sebenarnya Cempaka berada?


"Tok!... Tok!...Tok!... Assalamualaikum..." ucapnya sambil mengetuk pintu rumahnya bu Sekar.


Dalam hatinya dia berharap, Keluarga bu Sekar akan bersimpati setelah mengetahui kegigihannya dalam berusaha untuk mencari Cempaka. Walaupun Cempaka tak di temukannya.


"Assalamualaikum..." dia mengulanginya mengucapkan salam.


"Apa enggak ada di rumah gitu?


atau... Sudah pada tidur. Tapi, jam delapan juga belum." Gumamnya lagi. Dia menengok ke sekeliling halaman, sambil menunggu diapun lalu duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Seperti ada yang mengucapkan salam" Ujar bu Sekar.


"Kilat!...Coba kau lihat, siapa yang datang?" Bu Sekar menyuruh anak laki-lakinya.


"Iya bu" diapun berlari ke ruang tamu.


"Waalaikumsalam...” Sahutnya.


"Siapa ya?" Tanya Kilat, sebelum dia membukakan pintu untuk tamunya.


Dia mengintip dari balik tirai, ingin memastikan siapa yang datang ke rumahnya.


"Saya, Samudera dek" Terdengar suara laki-laki agak bergetar di luar sana.


"Kal Samudera? sebentar ya kak!" Kilat segera membuka pintunya sambil tersenyum ramah.


"Silahkan duduk kak!" Ucapnya setelah dia salim kepada Samudera. Kilat sepertinya merasa kagum menatap Samudera dengan pakaian seragam tentaranya.


"Sebentar ya kak, aku panggilkan kak Cempaka nya" Bisik Kilat perlahan.


"Kak Cempaka nya sudah pulang...? kapan...?"Samudera bertanya sambil memegangi tangannya Kilat. Dia ingin tahu jawabannya.


"Ssst... Sebentar ya kak" Bisiknya


sambil berlari ke kamarnya Cempaka.


Dia sengaja tidak kembali ke tempat ibunya berada. Yaitu di ruang makan. Dia ingin supaya kakaknya bisa bertemu dengan Samudera.

__ADS_1


Dari ruang tengah dia langsung ke kamarnya Cempaka.


"Assalamualaikum... Kakak, buka pintunya. Ini Kilat, di depan ada kak Samudera cepat kak mungpung ibu sama bapak belum tahu" Setengah berbisik Kilat mengatakannya dari balik pintu kamar kakaknya itu.


Cempaka yang tengah merenung sambil nyender di balik pintu, langsung dapat mendengarnya. Dia terlonjak kaget dan senang.


Segera dia membuka pintu kamarnya.


"Benarkah itu?" Tanyanya memastikan.


"Iya kak, cepat sana" Bisiknya lagi.


Dengan mata yang sembab karena Habis menangis, Cempaka segera bergegas keluar dari kamarnya. Dia berlari menuju ke ruang tamu.


"Samudera!..."dia memanggil namanya.


"Cempaka!..." Samudera bangkit dari duduknya, dia segera menghampiri Cempaka yang berada di hadapannya.


Keduanya sudah saling merindukan, mereka bertatapan mengumbar rindu.


"Itu suaranya Cempaka, berarti yang datang itu Samudera. Bunga, ibu ke depan dulu. Tadinya Cempaka mau ibu umpetin lagi biar dia tidak bertemu dengan Samudera. Eeh... Ternyata Cempaka sudah tahu duluan kedatangannya Samudera"Ucap bu Sekar sambil bergegas menuju ke ruang tamu.


"Assalamualaikum... "terdengar suara bu Sekar dari belakang Cempaka.


"Waalaikumsalam..." jawab Cempaka dan Samudera sambil menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara.


"Ibu... Apa kabar?" Samudera segera menghampirinya sambil meraih tangannya bu Sekar, kemudian menciumnya.


"Alhamdulillah... Baik" sahutnya sambil duduk di sofa.


"Pak, apa kabar...?"Samudera segera mencium tangannya pak Jati.


"Pantesan saya tidak menemukan Cempaka di sana. Ternyata, Cempaka nya sudah ada di sini” ujar Samudera, dia tidak sedikitpun merasa curiga kalau dirinya tengah di kelabui.


Kalau tidak diberitahu oleh Kilat, tidak mungkin sa'at itu dia akan bertemu dengan Cempaka.


"I... Iya..."bu Sekar menjawabnya dengan terbata-bata.


"Bagaimana di perjalanan, lancar?" Pak Jati mencoba menetralkan suasana yang nampak tegang.


"Alhamdulillah pak, cuma...Tadi di jalan saya sempat kesal karena tidak bisa menemukan Cempaka, saya tanya ke setiap sekolah. Tapi, tidak ada yang tahu, itu membuat saya bingung"


Ujar Samudera.


"Tapi, Alhamdulillah saya sangat bahagia sekali. Karena Cempaka nya sudah berada di rumah" Ujarnya lagi dengan senyuman yang terhias di bibirnya.


"Ya enggak akan ketemu, orang yang di cari diam di rumah" Bathin bu Sekar.


"Berapa lama di sana?" setelah bisa mengendalikan dirinya, bu Sekar bertanya karena merasa penasaran.


"Satu mingguan bu, karena sa'at itu saya tidak pulang dulu ke rumah. Tapi, langsung berangkat ke sana" Jawabnya.


"Hah!"Bu Sekar terbelalak kaget.

__ADS_1


"Ooh!" Begitu pula dengan pak Jati.


"Ya Allah... Benarkah ucapan mu itu Samudera?"Tanya Cempaka lirih.


Air mata terlihat memenuhi kelopak matanya Cempaka. Dia tak kuasa membayangkan Samudera yang kesana-kemari mencarinya, sedangkan dirinya tidak kemana-mana.


Cempaka tak kuasa menahan tangisnya, diapun menangis terharu di hadapan kedua Orangtuanya.


"Cempaka, kenapa kau menangis?" Samudera bertanya dengan lembut sambil menatap Cempaka penuh kasih.


"Kamu di sana... Tidur dimana selama mencariku?" Cempaka bertanya penasaran.


"Ooh... Itu rupanya yang membuat kamu sedih. Aku tidur dan mandi di Masjid, Cempaka. Sudah jangan sedih, aku kan sudah di sini" Ujar Samudera sambil tersenyum.


Padahal bukan itu yang membuat Cempaka menangis.


"Mendingan kita makan dulu yu, itu sudah ibu siapin tadi makanannya. Kami juga belum makan malam" Bu Sekar mengajaknya makan.


Mereka pun lalu makan bersama.


Cempaka yang sudah beberapa hari tidak mau makan, kini dia makan dengan lahapnya.


Perubahan itu membuat bu Sekar, pak Jati dan juga Bunga saling pandang. Dalam hati mereka, semua itu karena ada Samudera di dekatnya.


Selesai makan malam, mereka kembali lagi ke ruang tamu. Sedangkan Bunga dan bu Sekar berbincang di ruang makan.


"Bu, tadi ibu lihat kan? Cempaka begitu bahagia berada di dekat Samudera" Ucap Bunga sambil menatap wajah ibunya.


"Ibu tahu nak, tapi ibu merasa bingung" Sahutnya sambil menghela nafas panjang.


"Aku kasihan sama dia bu, sebentar lagi aku kan mau nikah dengan Sakti. Keluarganya Sakti sudah mempersiapkan segalanya, tinggal mencari waktu yang tepat saja. Katanya tahun-tahun ini. Jadi, kalau Samudera sekarang melamar Cempaka, aku sangat setuju bu. Biar sakit hatinya karena Buana segera terobati" Bunga berkata panjang lebar.


"Entahlah nak, ibu tidak bisa mengambil keputusan secepat itu. Ibu menghargai keputusannya bu Seroja, kasihan dia kalau tiba-tiba mengetahui Cempaka yang begitu dia inginkan jadi mantunya, tiba-tiba sudah di lamar orang lain" sahut bu Sekar, dia tetap ingin besanan dengan ibunya Buana.


"Kalau begitu terserah ibu saja, aku cuma menyarankan saja. Tapi, ibu perlu tahu bahwa adikku itu sudah tidak sudi lagi menunggu Buana, dia sudah membencinya setelah dia melihat Buana dengan perempuan itu, yang katanya calon isterinya dia. Cempaka sudah tidak mengharapkan Buana lagi bu" Bunga mengutarakan apa yang dia tahu tentang adiknya itu.


"Bagaimana nanti saja ah, ibu ke depan lagi... Nemenin bapak mau membicarakan masalah ini" Bu Sekar beranjak meninggalkan Bunga.


Bunga pun mengangkat bahunya


lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak bisa menyakinkan ibunya.


"Ayo sambil di cicipi kuenya" bu Sekar berbasa-basi.


"Iya bu terimakasih, sudah saya cicipi" Sahut Samudera.


"Bu, pak. Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan" Samudera berkata perlahan.


"Maksudnya...?" dengan cepatnya bu Sekar bertanya. Matanya melirik kepada suaminya. Dia sebenarnya sudah faham apa yang akan di sampaikan oleh Samudera.


"Kalau ibu sama bapak izinkan, saya ingin melamar Cempaka" ucap Samudera sambil menatap mengembangkan senyumnya.


"Haah...?" bu Sekar dan pak Jati terperanjat kaget mendengar apa yang telah di ucapkan Oleh Samudera.

__ADS_1


Kedua suami istri itu tidak langsung menjawabnya, mereka nampak kebingungan.


__ADS_2