Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Mencari kebenaran


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasanya, pagi - pagi sekali Cempaka sudah bangun.


Sebelum Adzan subuh berkumandang.


Seperti biasanya, Cempaka mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud.


Dia mengadukan nasibnya kepada Allah SWT di waktu dini hari, di mana orang lain masih terlelap tidur, masih tenggelam dalam mimpinya masing-masing.


"Allahu Akbar Allahu Akbar!"


Tak lama terdengar gema Adzan berkumandang dari Masjid yang tak jauh dari rumahnya bu Sekar.


"Alhamdulillah, waktu sholat subuh sudah tiba" Cempaka segera melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk.


"Adik - adikku belum pada bangun" Gumamnya, selesai sholat dan wirid serta mengaji.


Rutinitas paginya sebelum dia mengerjakan pekerjaan rumah.


"Kilat! Ayo bangun! Sudah waktunya Sholat Subuh!" Cempaka membangunkan adik laki-laki nya.


"Seruni, bangun dek!" Satu persatu kedua adiknya dia bangunkan. Sedangkan kedua orangtuanya, sudah bangun sebelum gema Adzan Subuh berkumandang.


"Huaaah, masih ngantuk dan dingin lagi" Kilat menguap sambil menggeliat, merentangkan kedua tangannya


di atas kepalanya.


Seruni pun tak mau kalah, diapun menggeliat sambil menguap lepas.


"Sudah! Jangan banyak menguap dan menggeliat, jelek!


Kelihatan pemalasnya!" Ujar bu Sekar mengingatkan kedua anaknya.


"Iya, bu" Sahut Kilat dan Seruni.


Mereka berdua beriringan pergi ke kamar mandi, hendak mengambil air wudhu.


"Mau masak apa bu? Untuk sarapan hari ini?" Cempaka menghampiri ibunya yang sudah asyik dengan rutinitasnya di dapur.


"Ibu mau bikin nasi kuning saja, biar cepat. Kamu bikin telor dadar ya! Tapi, sebelumnya cuci berasnya dulu! Ibu mau menyiapkan bumbu tumpengnya" Ujar bu Sekar, membagi - bagi tugas.


"Iya bu" Cempaka segera mengambil beras sesuai kebutuhan. Setelah selesai di cuci, kemudian beras itu di aroni nya dengan menggunakan air santan, biar nasinya jadi gurih dan nik'mat rasanya.


Setelah semuanya selesai mereka kerjakan, kemudian mereka menatanya di atas meja makan, untuk di nikmati bersama keluarga.


"Bu, pak, aku mau pergi dulu sebentar" Cempaka pamit kepada kedua orangtuanya, setelah mereka selesai sarapan pagi.


"Baru jam tujuh kurang sepuluh menit, bukannya kamu masuk kerjanya nanti siang? Biasanya kan jam setengah dua kamu berangkatnya" Bu Sekar bertanya penasaran.


"Cempaka masuk ship malam hari ini, bu. Sekarang Cempaka ada perlu dulu sebentar, boleh kan, bu, pak?" Cempaka menjelaskan dan meminta izin kepada kedua orangtuanya.


"Ooh, sudah ganti ship lagi?" Pak Jati bertanya memastikan.


"Iya pak, kami dua hari sekali ganti ship nya" Sahut Cempaka menjelaskan.


" Memangnya kamu mau ke mana, nak?" Bu Sekar ingin mengetahui kemana anak gadisnya itu akan pergi.


"Aku mau ke rumah temanku, bu, pak. Ada sesuatu yang perlu di sampaikan. Enggak jauh kok! Kami masih satu kelurahan" Ujar Cempaka.


"Dengan siapa kamu ke sananya? Ibu harap jangan sendirian, ajak sahabatmu, Indah!" Bu Sekar menyarankan.


"Iya bu, aku mau mengajak Indah untuk menemaniku, semoga saja dia tidak lagi sibuk dan dia mau menemaniku" Ujar Cempaka lagi.


"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati ya! Dan, jangan lama-lama di sananya! Eh, teman yang akan kalian kunjungi itu, perempuan atau laki-laki?" Tanya pak Jati.


"Deg!" Pertanyaan dari bapaknya itu terasa menonjok ulu hatinya Cempaka.


"Emh, emh, laki-laki, pak" Jawab Cempaka ragu.


"Siapa dia?" Tanya bu Sekar.


"Yang suka ke sini, bu, pak. Dia menyuruhku ke sana bersama Indah dan teman-teman yang lainnya. Katanya ada acara syukuran di rumahnya" Cempaka terpaksa berbohong kepada kedua orangtuanya.


"Ma'afkan aku, ibu, bapak, karena aku terpaksa membohongi kalian" Bathinnya.


"Syukuran nya di rumah orangtuanya kan? Kalau acaranya aneh-aneh, sebaiknya kalian langsung pulang saja ya!"


Bu Sekar merasa khawatir.


"Iya bu, pak, akan aku ingat itu"


Cempaka menenangkan kedua orangtuanya.


"Aku berangkat dulu ya bu, pak. Assalamualaikum" Ujar Cempaka setelah mencium tangan kedua orangtuanya.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya nak! Ingat pesan ibu tadi!"


"Baik bu, aku pergi dulu"


"Hati - hati nak!"


"Iya"


Cempaka pun berlalu menuju ke rumahnya Indah, meninggalkan kedua orangtuanya yang menatapnya hingga tak terlihat.


"Assalamualaikum, Indah!" Cempaka berseru memanggil sahabatnya dari teras rumahnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, hai Cempaka! Pagi-pagi sudah ke sini, ada apa? Bukannya kita kerja ship malam, kan? Jam sepuluh nanti!" Indah menemuinya dengan keheranannya.


"Kamu mau kan anterin aku?"


Tanya Cempaka.


"Ke mana? Sepertinya serius ini.


Ada apa sih?" Indah malah balik bertanya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang cepat ganti baju! Dan pamit sama kedua orangtuamu kalau kamu mau ngantar aku!" Tegas suara Cempaka memerintah sahabatnya itu.


"Kok! Maksa gitu sich! Kalau aku tidak mau, bagaimana? Kamu mau apa?" Indah malah menantangnya.


"Aduh, Indah sayang, sahabatku yang paling baik sedunia, tolong aku dong! Tolonglah sahabatmu ini! Masa, kamu tega membiarkan sahabatmu dalam kesusahan" Cempaka menangkupkan kedua belah tangannya di depan dadanya, dia memohon kepada sahabatnya itu, supaya mau menemaninya.


"Sudah, enggak usah memohon begitu, aku hanya bercanda saja. Masuk dulu, yu! Aku mau ganti baju dulu, dan pamit sama kedua orangtuaku" Indah membawa Cempaka masuk ke dalam rumahnya.


Dia tidak tega melihat sang sahabat memohon seperti itu.


"Alhamdulillah, terimakasih ya temanku, sahabatku" Senyum Cempaka yang indah itu mengembang kembali di bibirnya yang merah.


Tak berapa lama, Indah sudah siap untuk berangkat menemani Cempaka.


"Bu, pak, aku pinjam dulu Indahnya sebentar ya" Ujar Cempaka minta izin kepada kedua orangtuanya Indah.


"Kalian mau ke mana?" Ibunya Indah bertanya tempat yang akan mereka tuju.


"Ke rumahnya teman kerja, bu"


Sahut Cempaka.


"Ooh, iya silahkan! Tapi, jangan lama-lama ya! Nanti kalian kan harus kerja" Bapaknya Indah mewanti-wanti.


"Iya bu, pak. Kami akan segera pulang. Kami pamit dulu bu, pak, Assalamualaikum" Cempaka berpamitan, kemudian mencium tangan kedua orangtuanya Indah.


"Waalaikumsalam, hati - hati!"


Ujar bapak dan ibunya Indah sambil mengantarkan kepergian Indah dan Cempaka.


"Iya bu, pak" Sahut kedua sahabat itu.


"Sebenarnya kamu mau ngajak aku ke mana?" Indah ingin tahu tujuan yang sebenarnya.


" Kita akan ke rumahnya Yanto!"


Jawab Cempaka perlahan.


"Hah? Mau ke rumahnya Yanto? Sepagi ini mau ke rumahnya dia? Mau apa? Kamu kangen?" Indah begitu kaget mendengar bahwa Cempaka mau ke rumahnya Yanto.


"Nanti kamu akan tahu jawabannya di sana! Sebenarnya aku bukan mau ke rumahnya, tapi aku mau ke rumah tetangga dekatnya! Kata kamu aku kangen? Tidak! Sama sekali aku tidak merasa kangen!" Cempaka menjawabnya dengan tegas.


Cempaka diam tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


Dia malah mempercepat langkah kakinya, sepertinya dia ingin segera sampai ke jalan besar, di mana mobil angkutan umum banyak berlalu-lalang.


"Cempaka! Pelan-pelan dong jalannya!" Indah kewalahan mengimbangi langkah kakinya Cempaka.


"Ayo! " Cempaka mengajak Indah untuk menaiki mobil angkutan umum yang telah berhenti di depan mereka.


Indah pun tak banyak komentar lagi, dia menuruti apa yang sahabatnya itu katakan.


Walau hati bertanya-tanya, tapi Indah diam saja. Dia sepertinya


tidak berani bertanya ini - itu lagi di hadapan orang lain kepada Cempaka.


Kira-kira sepuluhmenit mereka naik angkutan umum, tibalah mereka di depan gang yang menuju ke rumahnya Yanto.


"Kiri!" Suara Cempaka memberhentikan angkutan umum yang tengah melaju.


Tak perlu di ulangi, mobil angkutan umum pun menepi, untuk kemudian berhenti tepat di samping gang Pemuda.


Setelah Cempaka membayar ongkosnya, angkutan umum pun melaju kembali menuju ke tujuannya.


"Sebenarnya kamu mau ada perlu apa, sama si Yanto itu? Apa tidak bisa di tunda sampai nanti malam? Nanti malam, kita kan ketemu sama dia" Indah sepertinya agak ngedumel.


"Indah, sahabatku yang tercinta.


Dengarkan aku baik-baik ya! Kalau kamu ingin tahu tentang si Yanto yang sebenarnya. Dia itu sudah punya istri dan punya anak perempuan satu!" Tutur Cempaka.


"Apa? Dia sudah punya anak dan istri? Kata siapa?" Indah kelihatan kaget dan panik setelah mendengar kabar tentang Yanto.


"Kata Yeti, dia kan tetangganya dia. Cuma beda RT saja. Jadi dia pasti tahu tentang dia. Makanya sekarang aku ajak kamu ke sini itu, untuk mencari tahu kebenarannya tentang si Yanto itu. Yeti yang menyuruh aku untuk melakukan ini, biar aku merasa yakin" Sahut Cempaka.


"Aku, aku merasa takut mendengarnya, ma'afkan aku sahabatku, aku sungguh tidak tahu tentang dia yang sebenarnya" Indah memeluk Cempaka sambil menangis, menyesali perkataannya tempo hari, yang menyemangati agar Cempaka mau menerima Yanto.


"Sudah, tidak usah menangis! Aku tidak menyalahkan kamu, waktu itu kamu juga tidak tahu kan, siapa dia sebenarnya?" Ujar Cempaka sambil membalas pelukan sahabatnya.


"Sudah ya sahabatku, ayo kita lanjutkan misi kita ini!"Ajak Cempaka sambil melepaskan pelukan sahabatnya itu.


Indah dan Cempaka saling melepaskan pelukannya masing-masing. Kemudian keduanya saling tersenyum lebar.


Merekapun melanjutkan perjalanannya kembali, menuju sebuah rumah yang paling dekat dengan rumahnya Yanto.


"Rumah ini yang akan kita datangi" Bisik Cempaka.

__ADS_1


Di teras rumah itu, nampak seorang ibu-ibu muda yang tengah menyuapi anaknya.


"Assalamualaikum, ma'af mengganggu waktunya" Cempaka mengucapkan salam, tepat di depan pintu pagar rumah itu.


"Waalaikumsalam, tidak apa-apa. Emh, mau ketemu siapa ya?" Tanya Yang punya rumah dengan ramah.


"Eeh, silahkan masuk dulu! Tidak baik kalau ngobrol berjauhan seperti ini" Tuan rumah membukakan pintu pagar rumahnya.


"Terimakasih, mbak" Cempaka dan Indah masuk ke halaman rumah itu, kemudian mereka duduk di kursi yang ada di sana.


"Saya mau cari rumahnya mbak Ranti, di mana ya rumahnya? Barangkali mbak tahu"


Tanya Cempaka perlahan.


" Oh rumahnya mbak Ranti istrinya mas Yanto, bukan?" Tanya yang punya rumah.


"Mas Yanto mana ya mbak?" Cempaka menyelidik.


"Mas Yanto, yang kerjanya di pabrik textile. Itu kan rumahnya yang cat biru" Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah rumah yang terhalang dua rumah dari rumah itu.


"Jedeeer!"


Penjelasan mbak yang punya rumah itu, terasa bagaikan petir yang menyambar di siang hari, di pendengarnya Cempaka.


"Ja, jadi be, benar Yanto itu sudah punya anak dan istri?" Gumam Cempaka dengan dada yang terasa sesak.


"Maksud mbak, apa ya?" Tuan rumah bertanya heran.


"Eng, enggak apa-apa" Sahut Cempaka gugup.


"Itu mas Yanto lagi gendong anaknya! " Mbak yang punya rumah tiba-tiba mengarahkan telunjuknya ke arah rumahnya Yanto, yang kebetulan orangnya ada di depan rumahnya.


"Deg!"


Perkataan yang diucapkan oleh tuan rumah itu, terasa menohok ulu hatinya Cempaka.


" Cempaka" Indah menggenggam tangannya Cempaka dengan erat. Ia pasti merasakan apa yang tengah di rasakan oleh sahabatnya sa'at itu.


"Mbak Ranti itu bukan? Yang tadi di cari sama mbak-mbak ini. Kalau iya, nah itu orangnya. Sama seperti saya, lagi nyuapin anaknya" Ucapan yang punya rumah itu sudah tidak bisa di dengarnya lagi dengan jelas oleh Cempaka.


Dia sudah tidak kuat lagi untuk menahan sejuta perasaan yang kini tengah berkecamuk di dalam hatinya.


Cempaka tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menunduk lesu menahan pilu.


"Terimakasih mbak! Kami permisi dulu, Assalamualaikum"


Indah segera mengambil langkah untuk segera berpamitan kepada tuan rumah.


Indah tidak mau keadaan sahabatnya itu di ketahui oleh tuan rumah.


"Oh, iya silahkan! Silahkan! Waalaikumsalam" Jawab yang punya rumah dengan ramah.


"Ayo kita pulang!" Bisik Indah perlahan.


Indah membimbing Cempaka untuk pergi dari tempat itu.


Cempaka sepertinya tak kuasa dengan apa yang telah di dengar dan di saksikan oleh mata kepalanya sendiri itu.


Kakinya terasa lemas, susah untuk di bawanya melangkah.


Tangannya memegang erat-erat pinggangnya Indah.


"Ayo Cempaka, kuatkan hatimu! Kita harus pergi dari rumah ini" Bisik Indah.


Cempaka hanya mengangguk perlahan, sementara itu matanya terasa panas di penuhi buliran air mata yang tak bisa dia bendung lagi. Akhirnya air mata itu luruh di kedua pipinya.


Cempaka menangis di pelukan sahabatnya.


"Yang kuat ya sayang, aku selalu bersamamu" Bisik Indah mencoba untuk sekedar menenangkannya.


Cempaka tak menjawab, dia larut dalam dukanya.


"Ma'af! Mbaknya kenapa, sakit?"


Karena masih dekat dengan pagar rumahnya, tuan rumah itu bertanya melihat Cempaka yang nampak lemah lunglai.


"Enggak apa-apa, mbak" Sahut Indah berbohong.


"Mari mbak, kami permisi!" Ujar Indah sambil memapah Cempaka biar segera menjauh dari tempat itu.


"Tadi bukannya mencari mbak Ranti? Itu bukan, orangnya?" Si mbak itu merasa heran karena, Indah dan Cempaka malah balik arah.


"Bukan itu orangnya, mbak. Bukan mbak Ranti itu yang kami cari" Indah memberikan alasan.


"Ooh, saya kira mbak Ranti itu" Ujarnya.


"Bukan, mbak!" Sahut Indah lagi.


Cempaka terus di papah oleh Indah, hingga mereka menjauh dari rumah perempuan itu.


"Kita duduk di sini dulu, tenangkan hatimu sahabatku!" Indah berhenti di sebuah pos ronda yang ada di pinggir jalan.


"Sudah sayang, jangan kau buang percuma air matamu itu,


jangan kau tangisi dia, sekarang kuatkan hatimu, lupakan semua tentang dia, kamu harus bersyukur kepada Allah SWT, karena kamu sudah di beritahu dari awal. Coba kalau kamu tahunya nanti setelah kalian resmi menikah. Sungguh! Aku tak dapat membayangkannya"

__ADS_1


Ujar Indah sambil mengusap air matanya Cempaka.


***


__ADS_2