Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Perempuan yang menghadang Amran


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, pak Jati sudah di izinkan untuk pulang, karena kesehatannya sudah berangsur membaik.


"Pak Jati besok sudah boleh pulang kembali ke rumah, di jaga makanan dan istirahatnya yang cukup. Dan, jangan banyak pikiran ya pak ya" Ujar dokter dengan ramah.


"Alhamdulillahirabilalamin, terimakasih ya Allah, terimakasih dokter, akhirnya saya bisa pulang kembali ke rumah. InsyaAllah akan saya perhatikan dokter" Pak Jati yang sudah bisa bicara lagi, bertutur bahagia.


"Alhamdulillah ya Allah" Ucap bu Sekar penuh bahagia. Jelas rona di wajahnya begitu ceria.


Walaupun pak Jati belum bisa berjalan seperti sedia kala. Tapi, lumayan lah sudah bisa berjalan walau dengan tertatih-tatih.


"Ibu siap-siap dari sekarang ya pak. Ibu sudah tak sabar ingin segera melihat rumah kita. Dua minggu sudah kita tidak melihat dan menempati rumah kita. Semoga saja semuanya rapih" Bu Sekar berharap.


"Ada Cempaka, InsyaAllah rumah kita rapi dan bersih, bu" Ujar pak Jati dengan ucapan yang masih terbata-bata.


Bu Sekar segera merapikan baju dan perlengkapan lainnya ke dalam tas besar.


Keduanya sudah tidak sabar ingin segera besok pagi saja.


*


Keesokan harinya, jam enam pagi Cempaka sudah berangkat menuju ke Rumah sakit, mungpung lagi libur. Kilat dan Seruni juga di bawanya serta, kebetulan mereka juga sedang libur sekolahnya.


"Assalamualaikum" Tepat jam setengah tujuh pagi, mereka sudah berada di teras ruang rawat inap.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah kalian datang di waktu yang tepat! Pagi ini bapak sudah boleh pulang anak-anak" Bu Sekar menyambut ketiga anaknya dengan sumringah.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih orang tuaku sudah sembuh" Cempaka dan kedua adiknya begitu bahagia ketika mendengar penuturan dari ibunya.


"Seruni dan Kilat juga ikut?" Pak Jati menatap kedua anaknya.


"Iya pak, mungpung hari ini aku libur sekolahnya. Selama bapak di rawat di sini, baru kali ini aku menjenguk bapak ke sini" Kilat dan Seruni mendekati pak Jati.


"Aku ingin pergi bersama bapak ke Masjid lagi, sholat berjamaah lagi dengan bapak, aku kangen sama bapak" Kilat memeluk pak Jati erat - erat.


"Bapak juga kangen sekali sama kalian semua, bapak juga kangen akan hal itu, kangen pergi ke Masjid, sholat berjamaah bersama jagoan bapak, bersama seluruh warga kampung" Ujar pak Jati sambil memeluk kedua anaknya.


Cempaka dan bu Sekar ikut larut dalam suasana itu.


"Mulai sa'at ini, bapak, ibu dan semuanya sehat selalu ya bu" Ujar Cempaka haru.


"Amiin ya Allah" Balas bu Sekar.


"Sudah jam tujuh lebih, jam berapa kita pulang bu?" Pak Jati sudah tidak sabar lagi.


"Kata dokter jam delapan pak, sebentar lagi. Cempaka, ibu mau nebus resep obat buat bapakmu dulu" Ujar Bu Sekar.


"Biar aku saja bu, mana resepnya?" Cempaka segera bangkit dari duduknya.


"Baiklah kalau begitu, ini resepnya. Ibu siap-siap di sini ya nak" Bu Sekar menyerahkan selembar kertas resep obat buat di tebus Cempaka.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ayo anak-anak kita beres-beres dulu! Jangan sampai ada yang ketinggalan!" Bu Sekar mengecek kembali semua barang - barangnya.


Beberapa sa'at setelah Cempaka kembali dari apotek, dokter memeriksa kembali kondisinya pak Jati.


Dan, pak Jati di persilahkan untuk pulang kembali ke rumah.


Dengan catatan menuruti semua yang di sarankan oleh dokter.


*


Beberapa jam setelah pak Jati berada kembali di rumah, tetangga pada berdatangan menjenguknya. Walaupun mereka sudah menjenguknya di Rumah sakit.


"Setelah bapak sehat, semoga Cempaka segera mendapatkan jodohnya" Ujar bu Seroja ketika dia menengok pak Jati.


"Semoga saja bu, minta do'a nya saja bu" Sahut bu Sekar, sekedar menyahut obrolannya bu Seroja.


"Belum di coba di bawa ke orang pintar, bu?" Celetuk bi Marni dengan pertanyaannya.


"Enggak bi, mungkin belum di kasih saja sama Allah SWT" Sahut bu Sekar.


"Di barung saja bu Sekar, selain kita memohon pada Allah SWT, tidak ada salahnya kita bertanya kepada orang pintar, siapa tahu ada sesuatu yang menghalangi jodohnya Cempaka" Bi Ijah menimpali.


"Iya, bi. Terimakasih atas sarannya" Singkat bu Sekar.


"Tuh kan bu, tetangga kita juga menyarankan untuk di bawa ke orang pintar atau ke dukun, biar cepat dapat jodoh!" Tiba-tiba suara Kenari terdengar tanpa di ketahui kapan datangnya.


"Iya, iya, nanti!" Bu Sekar menghentikan ocehannya Kenari, biar tidak ngelantur berkepanjangan.


"Tapi, saya dengar-dengar, kalau Cempaka itu ada yang ngeguna - guna biar susah jodohnya. Apa benar itu bu?" Bu Dahlia ikut nimbrung.


"Enggak tahu bu, memangnya bu Dahlia tahu dari mana? Itu cuma katanya saja" Sahut bu Sekar, dia balik bertanya.


"Denger dari orang - orang, bu. Katanya, di guna - guna sama saudaranya sendiri ya?" Bu Dahlia bertanya lagi.

__ADS_1


"Kalian ini, sudah pada tua malah ngerumpi yang enggak - enggak! Kalian menuduh aku yang ngeguna - guna si jomblo itu hah?" Kenari sewot enggak karuan.


"Kenapa neng Kenari marah - marah sama kita?" Bu Dahlia sepertinya tersinggung.


"Memangnya neng Kenari merasa ngeguna - gunain neng Cempaka? Sampai marah begitu!" Bi Marni pun sedikit emosi.


"Sepertinya iya, ibu - ibu! Kalau tidak merasa, tidak akan tersinggung dia" Ujar bi Ijah.


"Aduuh, ma'af semuanya. Suami saya itu baru pulang dari Rumah sakit, tolong jangan membahas yang enggak - enggak! Kamu juga Kenari, kalau tidak merasa melakukan, ya tidak usah marah - marah! Tidak usah tersinggung!" Bu Sekar segera melerai keributan yang terjadi di rumahnya itu.


"Ibu - ibunya yang memulai bu! Sepertinya mereka mancing - mancing emosi aku" Sahut Kenari, tidak mau di salahkan seperti biasanya.


"Ma'af semuanya, saya mau istirahat dulu. Terimakasih karena telah repot - repot datang ke sini menengok saya" Pak Jati mencoba menyuruh semuanya supaya bubar.


"Baiklah pak, ma'afkan kami telah mengganggu istirahatnya"


Bu Seroja segera minta ma'af.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Segera sehat ya pak! Assalamualaikum" Mereka pun berlalu meninggalkan rumahnya bu Sekar.


Tinggal Kenari yang terlihat mangkel. Sepertinya dia marah kepada ibu - ibu tadi.


Dia merasa tersinggung. Karena, kelakuan dzolimnya ternyata sudah di ketahui oleh para tetangga sekitar.


Bu Sekar pura - pura tak mengetahuinya. Dia sibuk menata kamar yang sudah dua minggu tak di tempatinya.


Sedangkan pak Jati, langsung memejamkan kedua kelopak matanya, setelah ibu - ibu yang menjenguknya bubar.


"Aku pulang dulu bu, Assalamualaikum" Akhirnya Kenari pun berpamitan untuk pulang.


"Waalaikumsalam" Sahut bu Sekar lega.


"Ya Allah, ku mohon sadarkan anak sulungku itu ya Allah" Gumam bu Sekar sambil geleng-geleng kepala.


Setelah semuanya bubar, pak Jati membuka matanya kembali.


"Yang sabar ya pak!"


"Iya bu, ibu juga yang sabar ya"


" Beda sekali dengan Cempaka"


Gumam pak Jati.


"Semoga saja besok atau lusa dia berubah pak"


*


"Neng Cempaka, besok ikut ibu yu!" Ajak mertuanya kak Bunga, waktu menengok pak Jati di keesokan harinya.


" Ma'af bu, sepertinya enggak bisa. Saya kan kerja" Cempaka menolak halus.


Padahal sebenarnya dia sudah tahu maksud dari mertuanya kak Bunga itu.


Kalau tidak membawanya ke orang pintar, pasti akan menjodohkannya dengan seseorang pilihannya.


"Libur saja dulu barang sehari atau dua hari! Ini penting neng"


Lanjutnya lagi, memaksa.


"Baru minggu lalu saya cuti tiga hari, bu. Kalau besok minta cuti lagi, tidak mungkin di kasih" Cempaka punya alasan yang tepat.


"Ooh, begitu. Sayang sekali" Ujarnya seperti yang menyesal.


"Kalau hari minggu libur kan?"


"Saya kuliah bu, pulang jam dua"


"Pulang kuliah langsung ke rumah ibu saja ya! Nanti pulangnya di anterin"


"InsyaAllah bu kalau hari minggu"


"Sampai jumpa di hari minggu ya neng, ibu tunggu!" Ujarnya sebelum dia berpamitan kepada bu Sekar dan pak Jati.


*


Hari minggu yang di tunggu, tibalah sudah.


Sepulang kuliah, Cempaka ke rumah mertuanya Bunga. Dia merasa penasaran, ada apa gerangan dan mau apa?


"Assalamualaikum" Cempaka mengucapkan salam, kepada si empunya rumah.


"Waalaikumsalam" Sahut sang punya rumah.


"Alhamdulillah, akhirnya neng Cempaka datang juga"


"Iya bu, kan sudah janji" Cempaka pun duduk di sofa, setelah di persilahkan oleh tuan rumah.

__ADS_1


"Ibu ada sesuatu buat neng Cempaka" Ujarnya.


"Maksudnya?" Cempaka tak mengerti.


" Ada yang mau ibu kenalkan sama neng Cempaka! Sebentar lagi dia ke sini" Bisik Ibunya kak Sakti.


"Assalamualaikum" Suara seorang laki-laki Terdengar dari luar.


"Waalaikumsalam... Nah! Panjang umurnya. Baru saja di bicarakan, eeh sudah datang orangnya" Ibunya kak Sakti menyambutnya dengan senang hati.


"Hai Amran! Kenalkan ini neng Cempaka, adiknya kak Bunga istrinya kak Sakti" Ibunya kak Sakti langsung mengenalkan Cempaka kepada pria yang baru saja tiba, yang ternyata namanya Amran.


"Cempaka" Sambil mengulurkan tangannya, menerima uluran tangannya Amran.


"Semua orang berusaha untuk menjodohkan aku, mereka sepertinya merasa risih. Karena aku belum bersuami" Bathin Cempaka.


Setelah ngobrol ngaler-ngidul, Cempaka pamitan pulang. Karena sudah sore.


Amran mengantarkan Cempaka sampai ke rumahnya.


Pertemanan pun di mulailah sejak sa'at itu.


Hingga suatu hari, setelah dua minggu mereka berteman.


" Mau ke mana mas?" Hari itu, Amran hendak ke rumahnya Cempaka. Dia di tegur oleh seorang perempuan, tepat di belokan jalan yang menuju ke rumahnya Cempaka.


"Mau ke rumahnya Cempaka" Jujur dia menjawab.


"Ke rumahnya Cempaka? Mas siapanya dia?" Tanya perempuan itu.


"Saya temannya, bu" Sahut Amran.


" Dasar perempuan gak bener, dia kan sudah tunangan dengan saudara saya. kok! Sekarang menjalin hubungan lagi dengan orang lain sih!" Katanya, seperti yang kesal.


" Maksudnya?" Amran tersentak kaget.


"Iya, si Cempaka itu kan dua bulan lagi mau nikah dengan adik saya, dia itu sudah tunangan mas! Jadi, buat apa mas sekarang ke rumahnya?" Perempuan itu nyerocos lagi.


Amran mengerutkan dahinya, dia jadi bingung di buatnya.


"Masa, bu? Dia kan, masih sendiri" Ujar Amran ragu.


"Ya iya lah, dia memang begitu! Saya juga sudah menyuruh adik saya untuk memutuskannya. Tapi, entah di apain sama si Cempaka itu, adik saya tetap saja mau menikahinya" Perempuan itu menatap wajah Amran, dia ingin tahu reaksinya.


"Tapi, kata saudara saya, Cempaka itu dulu sempat bertunangan, tapi enggak jadi karena tunangannya malah menikah dengan perempuan lain. Cempaka di tinggalkan begitu saja" Ujar Amran.


"Saudara mas belum tahu siapa dia sebenarnya. Menurut saya, sudah! Mending balik lagi saja. Buat apa menemuinya? Jelas - jelas dia itu pandai mengelabui laki - laki. Kalau saya jadi mas, enggak akan banyak mikir lagi, buat apa cape - cape ke sana? Akhirnya bakal kecewa!" Ujarnya lagi.


Amran nampak ragu mendengar penuturan dari orang itu.


" Apa benar yang di katakan ibu barusan?" Amran bertanya, ragu.


"Itu terserah mas nya, mau percaya mau enggak ya terserah. Yang penting, saya sudah memberitahunya. Menurut saya, mending di pikirkan lagi mungpung belum terlanjur jauh. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kenal dengannya?" Perempuan itu bertanya, menyelidik.


"Baru dua mingguan, bu" Sahut Amran menjawab sejujurnya.


"Baru dua mingguan, pantas saja belum tahu segalanya tentang dia. Saya itu kasihan sama masnya. Jangan sampai bertambah lagi korbannya" Ucap perempuan itu lagi.


Amran nampak ragu, perempuan itu tersenyum kecil.


Kemenangan akan berpihak padanya, itu pikirnya.


"Sudah jangan banyak mikir! Saya sebagai calon kakak iparnya juga sudah resah dengan kelakuannya itu. Sudah kami peringatkan, tapi tetap saja dia itu tidak mau berubah! Tetap saja mengatakan kepada orang lain bahwa dirinya itu di sakiti, di tinggal kawin tanpa alasan, padahal yang sebenarnya dianya sendiri yang enggak bener" Tuturnya lagi.


"Orang kampung sini, hampir semuanya sudah tahu bagaimana kelakuan dia yang sebenarnya. Sekali lagi saya cuma mengingatkan saja" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Amran yang menjadi bimbang.


"Bu! Bu! Sebentar bu!" Amran memanggil perempuan itu, dia mencoba untuk menahannya.


"Iya mas, ada apa?" Perempuan itu menghentikan langkahnya, dia membalikkan badannya kembali.


"Kok! Saya merasa ragu ya. Kalau boleh tahu, nama ibu siapa ya?" Amran ingin mengetahui nama ibu - ibu itu.


"Mas enggak percaya sama saya?" Perempuan itu malah nyolot.


"Bukan begitu, saya cuma ingin tahu saja" Amran jadi gelagapan. Dia tidak menduga kalau ibu-ibu itu akan emosi dengan pertanyaannya.


"Ya sudah, kalau tidak percaya, tidak apa-apa, saya enggak maksa! Silahkan saja, bukan saya ini yang rugi! Di kasih tahu malah nanyain nama segala!" Perempuan itu bersungut-sungut sambil kembali lagi melangkahkan kakinya, berlalu meninggalkan Amran yang kebingungan sendiri.


"Bu! Bu! Saya cuma ingin tahu nama ibu saja, bukan apa-apa" Seru Amran sambil menatap kepergian perempuan itu.


Tapi, perempuan itu tidak mengindahkannya, menoleh pun tidak.


"Bagaimana ini? Apa benar Cempaka seperti itu? Apa semua perkataan ibu-ibu tadi itu benar adanya?" Amran jadi bingung sendiri.


"Aku harus bagaimana? Percaya atau tidak ya, sama perkataannya ibu-ibu tadi? Kalau percaya, takut nya dia itu berbohong. Kalau tidak percaya, takutnya kabar itu benar" Amran bergumam tak tenang.


Dia jadi termenung sendiri, dahinya berkerut tanda dia berpikir keras, menentukan apa yang harus dia pilih? Harus percaya atau tidak sama perkataannya ibu-ibu tadi?

__ADS_1


Akhirnya, Amran memutuskan untuk pulang.


__ADS_2