
"Bu, ini bagaimana? Aku kan enggak suka sama orang itu, kenal juga enggak" Cempaka mengadu pada ibunya.
"Kira - kira kamu mau enggak?"
"Enggak mau bu, rasanya aneh. Masa, baru lihat photonya kok! Langsung mau nikahin aku, aneh kan?"
"Apa, jangan - jangan?" Bu Sekar menghentikan ucapannya, matanya memandangi Cempaka.
"Jangan - jangan apa, bu?"
"Seperti yang sudah-sudah" Bu Sekar mengingatkan Cempaka akan kelakuannya Kenari waktu dulu.
"Iya bu, aku juga takut"
"Lalu, ini bagaimana? Balas jangan suratnya? Aku jadi bingung bu. Kalau di balas, berarti aku mau sama dia. Tapi, kalau tidak di balas, ibu juga tahu sendiri kak Kenari itu macam apa? Pasti dia menjelekkan aku lagi ke mana-mana, seperti dulu itu" Cempaka jadi kebingungan sendiri.
"Boleh ibu baca suratnya?"
"Ini bu, silahkan" Cempaka memberikan surat itu kepada ibunya.
"Lha? Ini seperti melamar kata-katanya. Kenari itu gimana sih? Seenaknya saja tanpa bertanya dulu kepada orangnya"
"Aku harus bagaimana bu?"
"Bingung ibu juga kalau begini"
"Eh, begini saja. Kamu kan belum ketemu sama orangnya dan kamu juga kan enggak mau sama dia. Ya, bilang saja terus terang kalau kamu tidak suka" Ujar bu Sekar setelah beberapa saat terdiam.
"Atau begini saja, kamu balas saja suratnya sebagai teman saja, tidak lebih dari itu" Lanjut bu Sekar.
"Oh iya bu, benar itu saja jawabannya! Terimakasih bu" Cempaka menggoyangkan bahu ibunya, saking senangnya. Karena ibunya telah menemukan jawabannya.
"Semoga saja dengan jawaban kalimat yang sederhana itu, dia akan mengerti" Ucap bu Sekar.
"Iya bu, akan aku coba. Dan, aku akan sedikit berbohong kalau aku sudah punya calon, enggak apa-apa kan bu, sedikit berbohong demi keselamatan kita?" Ujar Cempaka minta pendapat dari ibunya.
__ADS_1
"InsyaAllah enggak apa-apa"
"Terimakasih bu, kalau begitu aku mau mandi dulu sudah terlalu sore, sebentar lagi mau masuk waktu shalat Maghrib" Cempaka sedikit merasa tenang.
"Iya nak"
Cempaka berlalu ke kamar mandi. Sedangkan bu Sekar melanjutkan rajutannya yang tadi sempat terhenti.
"Kenari - kenari, apa lagi yang ada di pikiranmu? Semoga saja kali ini dia benar-benar memperjuangkan adiknya itu, semoga saja tidak ada ujung-ujungnya seperti yang sudah-sudah" Bu Sekar berharap dalam gumamnya.
Selesai mandi, Cempaka membuka kembali surat yang di berikan oleh Kenari tadi. Dia baca kembali hingga berulang kali. Dia mencari sudut di dalam hatinya yang mungkin ada sedikit terbersit harapan untuk menerima cintanya.
Namun, berkali-kali dia mencoba. Tapi, dia tidak menemukannya, karena memang rasa itu tidak ada untuk dirinya. Yang ada malahan rasa was-was serta khawatir yang menyelimuti hati dan perasaannya.
"Ah, malas aku. Sedikitpun aku tidak merasa tertarik dengan semua perkataan yang dia curahkan di dalam tulisan ini. Malah sebal aku membacanya juga. Beda dengan ketika berkenalan dengan Buana dan Samudera dulu, semuanya begitu indah bikin jantungku berdebar tak menentu"
"Buana, Samudera, kenapa di antara kalian tidak satupun yang menjadi jodohku? Padahal dari keduanya ada kecocokan di dalam diriku. Tapi, kenapa hanya datang sekilas dalam kehidupanku? Kenapa terlalu banyak rintangan yang menghadang untuk bersamanya, kenapa ya Allah?"
"Andai saja waktu itu Aku nekad untuk menerima Buana atau Samudera dengan tidak menghiraukan keluargaku, mungkin kini aku tidak akan sengsara dan menderita seperti sekarang ini" Angannya Cempaka malah melanglang buana mengingat dua orang kekasihnya yang dulu pernah singgah di dalam hatinya.
"Buana yang selalu lembut bila menyapaku, dia tak pernah meninggalkan shalat berjamaah di Masjid, walaupun hari tengah hujan lebat. Buana yang penuh sopan santun dan selalu menjagaku, dia tak pernah macam-macam padaku, dia yang ta'at beribadah dan selalu menjaga pergaulannya. Itu yang membuat ku tertarik padanya. Buana, apa kabarmu sayang? Apa kau masih mengingat aku? Cinta pertamamu. Aku begitu sulit untuk melupakanmu, wahai cinta pertamaku" Cempaka larut dalam kenangannya bersama Buana, cinta pertamanya.
Diapun menangis mengingat akan masa itu, masa yang sangat membuat hati dan perasaannya hancur tak terperi.
Tatapan matanya menyusuri langit-langit kamarnya, seperti ada sesuatu yang tengah dia cari. Sedikitpun tak ada terbersit kata untuk membalas surat cinta dari Karmin, orang yang belum pernah dia temui, orang yang belum pernah dia kenal.
"Jalinan cintaku dengan Buana, pupus sudah oleh keegoisannya kak Bunga. Tak mungkin lagi aku bisa meraih cintanya. Kala itu aku sudah merelakan hati dan perasaanku hancur oleh kak Bunga. Kenapa pula sa'at ada yang datang untuk menggantikan Buana, kedua orangtuaku malah bersikeras takut malu sama tetangga. Hanya karena Buana belum memberikan pernyataan putus kepadaku. Padahal nyata- nyatanya Buana sudah menikah dengan perempuan lain karena tradisi tahan ktp di daerah di mana Buana di tugaskan" Gumam Cempaka lirih.
"Samudera yang baik, yang gigih memperjuangkan cintanya kepadaku, dia rela menderita hanya karena mencari aku, mencari cintanya yang ternyata di sembunyikan oleh kedua orangtuaku di kamarku sendiri. Aku bersalah sa'at itu, kenapa ku biarkan dia pergi untuk mencariku ke luar kota? Dan dia pulang dengan tangan hampa, ma'afkan aku Samudera, ma'afkan aku!" Cempaka menangis kembali, menyesali semua yang telah dia lakukan sa'at itu kepada Samudera.
"Kenapa aku diam saja di kamarku sa'at itu? Sedangkan di ruang tamu ku dengar dia akan pergi untuk mencariku ke luar kota. Betapa bodohnya aku kala itu! Samudera, dimana kau kini? Dimanapun kau berada, tolong ma'afkan aku! Kala itu aku takut orang tuaku bermasalah dengan keluarganya Buana. Ma'afkan aku Samudera, mungkin hidupku jadi begini karena aku bersalah padamu, aku dan kedua orangtuaku telah menyakiti perasaanmu" Air mata penyesalanpun jatuh bergulir dari sudut matanya Cempaka yang bulat itu.
"Samudera, andai kita bisa bertemu, aku ingin meminta ma'af yang tulus padamu, biar hidupku tak terbebani oleh bayang-bayang penyesalan ini. Aku menyesal karena telah menolak mu dengan cara berbohong padamu, padahal aku mencintaimu,walaupun itu demi orangtuaku. Sebenarnya aku berharap kau jadi pengganti Buana ku yang telah menjadi milik orang lain" Bisik Cempaka pada angin yang menyapanya lewat jendela kamarnya.
"Cempaka! Kamu tidur enggak?"
__ADS_1
Suara Kenari membuyarkan lamunannya Cempaka.
"Tok! Tok! Tok! Cempaka! Buka pintunya!" Ulang Kenari sambil mengetuk pintu kamarnya Cempaka berulang kali.
"Emh, kakak sulungku ini mau apalagi? Malam - malam begini, kerjaannya mengganggu orang saja" Cempaka menggerutu kesal sendiri. Sedikitpun dia tidak ingat akan surat yang di berikan oleh Kenari tadi sore.
Cempaka tidak langsung menyahut atau membukakan pintu kamarnya, dia malah anteng memandangi photonya Buana dan Samudera, dua pria yang pernah dan masih dia sayangi hingga kini.
"Masa baru lepas Maghrib dia sudah tidur!" Kenari ngedumel.
"Mungkin dia lelah, jadi ketiduran" Bu Sekar membelanya.
"Aku ke sini mau memastikan tentang surat balasan darinya, buat mas Karmin. Kasihan dia sampai enggak jadi pulang ke Indramayu, karena ingin mengetahui balasannya yang membahagiakan dari Cempaka"
Ujar Kenari Sambil menghentakkan bokongnya di kursi yang ada di ruang tengah.
"Ibu juga enggak tahu kalau masalah itu. Setahu ibu, masalah cinta itu urusannya dengan hati, tidak bisa di paksakan" Ujar bu Sekar mencoba menasihatinya.
" Untuk usia Cempaka sekarang ini, tidak penting lagi dengan masalah hati dan cinta, yang paling penting adalah ada pria yang sudi menikahinya, itu saja!" Ujar Kenari.
"Enggak bisa begitu! Memangnya Cempaka itu kenapa gitu? Hingga harus segitunya. Seperti yang sudah tidak ada harga dirinya lagi. Kamu jangan kurang ajar begitu menilai adikmu sendiri! Dia baik-baik saja, tidak apa-apa, dia tidak membuat malu keluarga! Urusan jodoh itu Allah yang mengatur! Seenaknya saja kalau ngomong itu, asal nyablak saja!" Bu Sekar tersulut emosinya mendengar perkataannya Kenari yang menjelekkan Cempaka.
"Ya sudah kalau ingin Cempaka jadi jomblo terus, jadi perawan tua dan enggak laku, aku tidak akan ikut campur, terserah saja kalau merasa nyaman punya anak jomblo" Ujar Kenari Sambil berlalu dari hadapan ibunya.
"Dasar anak kurang ajar! Tidak tahu sopan santun!" Bu Sekar ngedumel mengiringi langkahnya Kenari.
"Kalau si Cempaka tidak mau membalasnya, biar aku saja yang bikin surat balasannya! Bodo amat! Yang penting dia harus nikah dengan si Karmin! Bagaimana pun caranya" Gumam Cempaka dengan langkah yang penuh amarah.
Setibanya di rumah, Kenari segera mengambil kertas dan ballpoint, dia akan menulis surat balasan untuk Karmin.
"Kepada mas Karmin yang kehadirannya aku tunggu siang dan malam. Yang selalu hadir dalam setiap mimpi - mimpiku.
Ternyata kini sudah tiba waktunya Allah kirimkan pangeran pujaan di dalam kehidupanku, aku bersedia untuk menjadi istrimu, secepatnya ku tunggu kehadiranmu! Dari aku yang selalu merindukan belaian cinta dan kasih sayang dari seorang pria, aku menunggumu" Kenari menuliskan kata-kata itu untuk membalas suratnya Karmin.
"Sepertinya kata - kata itu cocok buat Karmin, dia pasti akan suka dan langsung berbunga-bunga hatinya. Cempaka, kau tak mau membalasnya, biar aku saja yang akan membalasnya, dan besok pagi akan aku berikan kepada si Karmin dengan catatan, bahwa itu adalah surat dari adikku yang cantik, Cempaka si bunga desa" Kenari senyam - senyum sendiri, tangannya sibuk melipat surat balasan untuk Karmin.
__ADS_1
Dia begitu tega memakai nama adiknya.
***