
"Coba pikirkan dengan baik, dek. Setiap kamu punya kekasih
seorang anggota Polisi, seorang ABRI, yang kau dambakan. Akhirnya hanya perpisahan yang menyakitkan, kau tidak mau kan mengalami perpisahan sebelum ikatan cinta itu terwujud? Enggak mau kan?" Kenari terus menghujani Cempaka dengan perkataannya yang mengingatkan Cempaka kepada kepahitan yang pernah di alaminya.
"Kakak sangat yakin sekali bahwa hatimu tidak mau patah lagi, teriris lagi dan luka lagi, sementara luka yang dulu masih menganga, masih perih dan pedih, tak mau kan? Kalau luka itu di perciki air jeruk nipis, perih menyakitkan" Lanjut Kenari lagi, matanya menatap wajah Cempaka penuh harap.
"Kakak itu sangat sayang sama kamu. Makanya Kakak sekuat tenaga mencarikan pria yang baik dan cocok untuk jadi jodoh pendamping hidupmu. Karena, kakak tidak mau bila kamu harus menderita lagi, kakak tidak akan rela kalau hatimu terkoyak lagi oleh cinta yang palsu, cinta yang hanya sekilas saja datang menyapamu" Kenari tidak memberikan kesempatan kepada Cempaka untuk bicara.
"Adikku, kakak harap kau sudi menerima cintanya dan kasih sayangnya. Kakak ingin tahun ini, bulan ini kau punya pendamping hidup yang menyayangi mu dengan sepenuh hati" Lanjutnya lagi.
" Kakak, sudah selesai bicara nya?" Cempaka merasa kesal karena kakaknya itu bicara terus tiada hentinya.
" Kenapa?" Kenari bertanya heran.
"Kakak dari tadi ngomongin si Karmin saja dengan cintanya, bikin aku kesal saja. Jodoh itu kita tidak tahu kak, lagipula kenapa sih? Kakak itu sepertinya memaksa aku supaya aku mau menikah dengan si Karmin? Dia itu asing bagi kita, kak! kita belum tahu siapa dia sebenarnya?"
"Nanti juga kita akan mengetahuinya, kamu jangan terlalu berprasangka buruk terhadapnya, tidak baik itu! Menurut kakak, terima dia dengan senang hati! Ingat usiamu sudah mendekati kepala tiga! Apa kamu tidak malu begini seumur hidup? Apa kamu masih betah jadi jomblo?
Pasti tidak, kan?" Kenari mulai menekan Cempaka dengan kata - katanya yang sangat tidak di sukai oleh Cempaka.
Yaitu, Jomblo!
Cempaka terdiam, antara kesal dan membenarkan perkataan kakak sulungnya itu.
"Bagaimana?" Tanya Kenari beberapa sa'at kemudian.
"Enggak tahu, kak!" Sahut Cempaka masih bingung.
"Ya sudah, itu terserah kamu saja, yang penting kakak sudah memberi tahu kamu, sudah memberikan kamu masukkan yang kakak rasa itu sangat baik, dan rasanya cocok dengan kamu. Cocok untuk menjadi jodoh pendamping hidup kamu"
Kenari berpura-pura tidak menekannya.
"Tapi, kak! Aku ingin bukan si Karmin yang jadi pendamping hidupku, aku ingin temanku yang jadi jodohku, bukan Karmin" Cempaka menatap wajahnya Kenari.
"Iya, tapi dia kan belum tentu kapan mau serius sama kamu?
Kapan dia mau datang menemuimu dan bicara kepada bapak dan ibu kira? Sedangkan dia, Karmin! Dia benar-benar serius, baru sekali saja ketemu dengan kamu, dia langsung menyatakan cinta dan sayangnya. Itu sudah jadi poin untuk kamu supaya mempertimbangkan cintanya Karmin!" Ujar Kenari.
"Kamu menunggu dan menunggu temanmu yang abri itu, yang belum tentu kepastiannya. Sepertinya memang kamu itu tidak ada nasibnya untuk punya suami seorang anggota Polisi atau abri, dek. Daripada menunggu dan menanti yang tidak pasti, menurut prinsip kakak mending yang pasti - pasti saja sayang"
Lanjut nya.
"Emh, apakah Karmin itu jodoh untukku? Apakah dia yang di kirimkan oleh Allah untukku? Kalau iya, apa buktinya?" Cempaka mempertanyakan hal itu kepada kakak sulungnya.
"Jangan kau pertanyakan itu! Lihat saja buktinya! Kenyataannya! Karmin kan yang datang kepada mu, bukan teman abri mu itu! Bukan yang lain! Tapi, Karmin! Karmin!" Dengan berbagai cara, Kenari terus mendesak Cempaka dengan perkataannya.
__ADS_1
"Ya sudahlah! Mungkin dia itu memang jodohku!" Ujar Cempaka sambil berdiri dan berlalu dari hadapannya Kenari.
"Nah! Itu lebih baik! Coba dari tadi kamu bilang begitu, enggak bakalan aku nyerocos panjang lebar menahan emosi demi untuk mendengarkan kamu mengucapkan kata mau dan sudi menerima Karmin menjadi calon suamimu! Cempaka! Cempaka!" Kenari menggeleng - geleng kan kepalanya dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Akhirnya dia kalah juga! Kenari di lawan! Eyang di tantang! Ya enggak bakalan menang lah!" Gumam Kenari.
Setelah Cempaka berlalu dari hadapannya, Kenari segera bergegas menemui bu Sekar di kamarnya.
"Assalamualaikum, bu lagi apa?'
Ucap Kenari di Lawang pintu kamar ibunya.
"Waalaikumsalam, eh kamu. Biasa, ini lagi beresin lemari berantakan" Sahut bu Sekar.
"Bapak mana, bu?" Kenari menanyakan pak Jati karena tak dia lihat di sana.
"Biasa, di halaman belakang. Ada apa kamu menanyakan bapakmu?"
"Aku mau membicarakan masalah tentang Cempaka"
"Memangnya dia kenapa?"
"Dia mau menikah sama Karmin"
"Maksudnya?"
"Kalau nikah seperti itu, kasihan dia, masa saudaranya yang lain di pesta kan meriah, masa dia tidak. Nanti di sangka nya ibu tidak adil" Bu Sekar ragu.
"Kasihan mana dengan dia jadi perawan tua, jadi jomblo, jadi perbincangan tetangga. Ibu juga sudah tidak sabar kan ingin segera melihatnya menikah, ini sekarang sudah waktunya, kenapa mesti pesta segala? Seadanya saja. Kalau di adakan pesta, takutnya meleset lagi, dia kan suka gitu kalau mau nikah suka ada saja rintangannya" Kenari selalu siap dengan berbagai alasan.
"Biar saya yang meriasnya, cuma mungkin tidak ada kursi pelaminan saja. Mungpung dia mau, bu. Ayo siap-siap! Jangan sampai dia mundur lagi! Nanti kalau Karmin sudah bangun, kita bicarakan pernikahannya ini dengan Karmin dan juga Cempaka. Saya sudah tidak sabar ingin segera melihat dia jadi pengantin" Lanjut Kenari lagi.
"Tapi" Ujar bu Sekar seperti yang bingung.
"Sudahlah tidak usah bingung, tidak usah banyak mikir. Yang paling penting sekarang Cempaka bisa nikah secepatnya dengan Karmin, titik enggak pake koma, enggak pake lama!" Kenari dengan cepat memotong ucapannya bu Sekar.
Bu Sekar yang sudah mulai kena jampi-jampi nya Eyang, mulai bimbang. Antara setuju dan tidak.
"Sekarang kita tinggal bicara sama bapak dan Karmin saja, biarin ke penghulunya nanti besok sama aku saja"
"Ayo, bu! Jangan kita biarkan kesempatan ini! Berita yang sangat-sangat membahagiakan kita semua" Kenari menggandeng tangan ibunya dan di bawanya ke ruang tamu.
"Sebaiknya ibu saja yang memberi tahu bapak, kita temui Karmin saja dulu" Ujar Kenari.
Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, bu Sekar menuruti saja kemauan Kenari, tanpa berkomentar sedikitpun juga.
__ADS_1
"Tok! Tok! Tok! Karmin! Kamu sudah bangun?" Kenari mengetuk pintu kamar tamu dan memanggil Karmin.
"Iya bu" Karmin membuka pintu dan keluar dari kamar dengan wajah yang sumringah. Dia sudah tahu maksud Kenari mengetuk pintu kamar tamu dan memanggilnya.
"Ma'af, kami telah mengganggu istirahatnya" Kenari berbasa-basi, pura-pura.
"Tidak apa-apa, bu. Saya sudah bangun dari tadi" Ujar Karmin dengan bibir yang tersenyum bahagia.
"Saya mau menanyakan sekali lagi tentang niatmu sama adik saya, Cempaka. Bagaimana, apa kamu benar-benar serius?"
Tanya Kenari.
"I, iya emh iya bu" Karmin menjawabnya dengan gugup.
"Alhamdulillah kalau begitu, Cempaka nya juga sekarang sudah mau menikah dengan kamu, kita tidak usah ngutang ngitung harinya, mencari hari yang baik. Sekarang kita tinggal memanggil penghulunya saja"
Ujar Kenari lagi.
"Tapi, saya tidak bawa uang sama sekali, saya punya uang hanya untuk ongkos saja" Ucap Karmin perlahan, sedikit malu.
"Sudah! Jangan banyak pikiran! Masalah itu kita pikirkan nanti saja! Yang penting sekarang, kamu jangan pulang dulu! Sudah, nanti saja pulang nya! Setelah nikah" Ujar Kenari.
"Bagaimana dengan surat NA nya? Kan laki-laki yang mau nikah harus bawa na dari tempat tinggalnya, apalagi ini bukan orang sini?" Ujar bu Sekar.
"Iya Aku lupa, bu. Saking bahagianya" Sahut Kenari.
"Nanti setelah makan, kamu pulang dulu ngambil na, tapi jangan lama-lama! Saya kasih waktu dua hari, bisa kan?" Kenari segera mengaturnya.
"Ayo sekarang kamu makan dulu! Biar segera bisa pulang ke Indramayu untuk meminta na, dan segera pula kamu balik lagi ke sini. Tidak usah memikirkan apa-apa, yang penting mendapatkan na saja" Ujar Kenari lagi.
"Iya, yang penting kamu dapat na nya" Ucap bu Sekar.
Bu Sekar sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengiyakan saja setiap apa yang di ucapkan oleh Kenari.
Begitu pula dengan pak Jati, diapun seperti yang di sumbat saja mulutnya. Hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar apapun.
Padahal sebelumnya tak pernah pak Jati seperti itu.
Beberapa sa'at setelah selesai makan, Karmin pun berpamitan hendak pulang kembali ke Indramayu untuk membuat na.
"Saya pamit dulu, bu, pak! Dek Cempaka, saya pamit dulu" Karmin berpamitan.
"Iya, silahkan! Jangan lupa besok sore harus balik lagi ke sini ya dengan n'a nya!" Ujar Kenari mengingatkan.
"Hati-hati ya" Entah kekuatan apa yang mempengaruhi otaknya Cempaka, hingga mulutnya bisa mengucapkan perkataan itu. Ucapan yang dapat membuat hati Karmin dan juga Kenari bersorak bahagia. Kenari dan Karmin saling tatap penuh arti.
__ADS_1
"Terimakasih ya dek, Assalamualaikum" Karmin mengucapkan salam setelah mencium tangannya bu Sekar dan Kenari serta pak Jati.
"Waalaikumsalam" Sahut mereka sambil tersenyum menatap punggungnya Karmin dengan penuh harapan.