
Semua yang di sarankan oleh mak Asih, guru spiritualnya Kenari. Sudah di laksanakan oleh Cempaka.
Pertama Cempaka di suruh mandi kembang sebelum Maghrib tiba. Lalu, ba'da maghrib nya dia bakar kemenyan
dengan sembunyi-sembunyi.
Keduanya Cempaka di suruh mandi kembangnya jam dua belas malam, di tengah-tengah perempatan jalan.
"Aduuh..., ini bagaimana? Mana malam Jum'at Kliwon lagi. Aku takut ada yang lihat" gumam Cempaka, sebelum dia berangkat ke simpang empat untuk melaksanakan apa yang di sarankan oleh mak Asih.
"Tinggal sepuluh menit lagi kak"
Ujar Kilat, adik laki-lakinya yang mau mengantarnya.
"Aku malu, takut ada yang lihat"
Cempaka masih belum beranjak dari teras rumahnya.
"Cepat kak! Aku ngantuk nih. Kalau masih lama, ya sudah, enggak akan aku antar." Kilat mengancam.
"Ya sudah sana! mungpung sepi"
ujar bu Sekar yang sejak tadi ada di sana.
"Aku berangkat dulu ya buu" Akhirnya Cempaka turun juga dari teras rumahnya, menuju simpang empat yang tak berapa jauh dari rumahnya.
Sambil nengok kanan-kiri, Cempaka berjalan dengan ragu. Dia takut bertemu dengan tetangganya.
Apalagi kalau bertemu dengan tetangganya yang pada reseh itu. Aduuuuh...
Bisa jadi bahan berita sejagat raya.
Kira-kira lima menitan Cempaka berjalan. Akhirnya diapun sampailah di perempatan jalan yang di tuju.
Kilat dengan bu Sekar menunggu
Cempaka agak jauh dari tempat itu. Dengan mengendap-endap, Cempaka menuju ke tengah-tengah perempatan jalan itu. Karena, katanya harus tepat di tengah-tengah jalan. Biar semua halangan dan rintangan yang ada di badannya hilang terbawa oleh air yang mengaliri empat jalan tersebut.
Sebelum dia melakukan ritual
mandi kembang tujuh rupanya, matanya memutar, menatap ke sekeliling tempat itu.
"Aman, sepertinya enggak ada yang melihatku mandi di sini." Cempaka bergumam sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim... Aku buang semua penghalang yang ada di dalam tubuhku, yang menghalangi jodoh dan rizkiku" Cempaka menghadapkan badannya ke arah kiblat. Setelah itu dia memejamkan kedua bola matanya. Daaan,
"Byuuuur!"
Satu ember air kembang tujuh rupa di guyurkan dari atas kepalanya, langsung membasahi seluruh tubuhnya yang terbalut kain basahan.
Cempaka menggigil kedinginan.
Setelah seember air itu habis tak tersisa, Cempaka segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, dengan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, ke bekas jatuhnya bunga-bunga tujuh rupa yang berhamburan di atas jalan itu.
Setelah berjalan tiga langkah, Cempakapun segera berlari meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Ayo! Kita cepat pulang!" ujar Cempaka ketika melewati adik dan ibunya yang tengah menunggunya.
"Iya ayo! Keburu ada orang lain. Kilat, kamu jangan ceritakan hal ini kepada yang lain ya! Kasihan kakakmu, nanti dia malu jadi bahan gunjingan orang lain" bu Sekar mengingatkan Kilat, adiknya Cempaka.
"Baik buu" ucap Kilat sambil berjalan mengikuti langkah ibunya. Sedangkan Cempaka sudah berada jauh di depan, hampir sampai ke teras rumah.
"Assalamualaikum..." ucapnya sebelum memasuki rumahnya.
Dia segera mengganti kain basahan dengan baju tidurnya.
"Aku bakar kemenyan dulu ya bu"
Ujar Cempaka.
Cempaka segera mengeluarkan tempat bakar kemenyan dari bawah meja kompor.
Lalu dia membakar arang yang sudah di taruhnya di atas perapian, tempat bakar kemenyan.
Setelah apinya berubah menjadi bara yang merah menyala. Cempaka lalu meremukkan kemenyan yang segede ibu jari tangannya itu. Yang di kasih oleh mak Asih.
Dia remukkan kemenyan itu dengan menggunakan palu sampai sehalus pasir. Supaya dia mudah untuk menaburkannya di atas bara yang merah membara.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ucap Cempaka sebelum dia menaburkan bubuk kemenyan di atas bara yang merah merona.
"Prepet... , prepet..." Suara kemenyan yang ditaburkan di atas bara itu begitu nyaring bunyinya.
Bau khas dari kemenyan yang di bakar itu, mulai menyeruak memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah itu.
Asapnyapun nampak menari-nari
"Hatciiih!... Hatciiih!" Cempaka hingga bersin-bersin di buatnya.
Karena belum terbiasa, Cempaka sampai bersin-bersin karena asap kemenyan yang dibakarnya.
Dia baru kali itu melakukan bakar kemenyan, tepat di depan hidungnya.
"Haaduuuuh!" Apa memang harus begini kalau orang yang ingin cepat dapat jodoh? Bikin ribet saja, merepotkan sekali!" Cempaka menggerutu.
"Yaa enggak gitu juga, itu cuma ikhtiar sebagian orang saja. Ibu juga dulu enggak pakai bakar kemenyan dan mandi kembang segala. Itu kan saran dari kakakmu, ibu juga tidak begitu percaya dengan hal itu. Tapi, apa boleh buat? Kamu juga mau di ajak sama kakakmu itu." Ucap bu Sekar.
"Iya buu!" Cempaka segera membersihkan tangannya dari bau kemenyan.
"Ya sudah, sana keringkan rambutnya! Lalu segera istirahat,
tidur. Sudah larut malam gini, ibu juga mau tidur, ngantuk banget"
bu Sekar segera masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Kilat sudah sejak tadi dia memejamkan matanya, sebelum Cempaka membakar kemenyan.
"Iya buu, selamat tidur, Assalamualaikuum" Ucap Cempaka.
"Waalaikumsalam" sahut ibunya.
Rumahpun nampak sunyi dan sepi, semua penghuninya sudah masuk ke kamarnya masingmasing untuk segera beristirahat.
"Banyak kembang begini, bekas apa ya?" Tetangga bu Sekar yang punya warung, dan sa'at itu mau berangkat ke pasar. Tertegun sebentar di depan kembang yang berhamburan di sana.
__ADS_1
"Sepertinya tadi malam ada yang mandi kembang di perempatan jalan ini. Tapi, siapa ya?" Gumamnya lagi.
"Tapi, biarinlah, yang penting tidak menggangu orang lain" Gumamnya lagi sambil melangkah meninggalkan perempatan jalan itu.
Baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba...
"Ada yang mandi kembang, di perempatan jalan!" Teriak seseorang, yang baru saja melewati perempatan jalan itu.
"Hai!..., ada yang mandi kembang
di perempatan!" Teriaknya lagi.
Teriakkannya yang membahana,
membuat seisi kampung pada keluar dari rumahnya masing-masing.
"Siapa yang mandi kembang?"
Bu Hanah berteriak dengan suara yang lantang. Dia berlari ke
perempatan jalan itu.
"Mana yang mandi kembang? Di mana yang mandi kembang?" Bi Tati dan bi Irah, dua ibu-ibu yang terkenal paling heboh di kampung itu lari tergopoh-gopoh menghampiri orang-orang yang sudah berkumpul di perempatan
jalan itu.
Hari masih pagi, matahari juga belum keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi, perempatan jalan yang berada di tengah kampung itu, sudah ramai
di penuhi oleh orang-orang yang
merasa penasaran, Mereka penasaran dengan kabar tentang ada orang yang mandi kembang tujuh rupa di sana.
"Aduuuh! Saya takut ada orang yang membuang sial di sini!" ujar bi Tati, setelah dia sampai di sana.
"Jangan-jangan..., ada orang yang melakukan pesugihan di kampung kita ini. Kembang ini adalah salah satu syaratnya." bi Irah menimpali perkataannya bi Tati.
"Jangan dulu su'udzon ibu-ibu, enggak baik lho!" sergah bi Rora.
"Iya ibu-ibu semuanya, kalau ada apa-apa, kita jangan asal tuduh!
Kita jangan su'udzon, jangan suka gegabah. Sudah bubar! Ada yang mandi kembang tujuh rupa saja sudah heboh begini. Sebelum kita menuduh orang lain, sebaiknya kita teliti dulu, apa maksudnya semua ini. Kalau salah sangka nanti kita yang malu sendiri." ujar Pak Ustadz, yang di tuakan di kampung itu.
"Ada apa ini? Kok! Sudah pada ngumpul di sini?" Mang Dira yang baru saja tiba di tempat itu, merasa kebingungan.
"Ini mang Dira, ada bekas orang yang mandi kembang tujuh rupa di sini, kami merasa khawatir"
Ujar pak Ustadz.
"Oooh..., saya kira ada apa?" mang Dira yang bukan penduduk asli kampung itu, menjawab santai.
"Mang Dira, kenapa tidak heran atau terkejut?" Bi Irah langsung bertanya, karena merasa heran.
"Di Kampung saya, orang mandi kembang itu sangat banyak sekali. Itu hal yang lumrah, hal yang biasa, tidak merugikan orang lain. Bukan pesugihan, paling-paling ada yang buang sial atas kesialan hidupnya selama ini. Itu saja, lagipula tidak akan nular ke kita kesialannya. Kenapa mesti di permasalahkan?" Ujar mang Dira dengan lantang.
"Tuuh! Dengar, apa kata mang Dira. Biarkan saja, selama itu tidak merugi kita" ujar pak RT atau pak Jati yang baru saja tiba di tempat itu ikut menimpali.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian semuanya bubar!" pak rt Jati, membubarkan warganya.