
Hingga tengah malam mereka menunggu kedatangan seseorang yang di katakan oleh pak Ustadz tadi.
Namun, yang di tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Membuat mereka merasa bosan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk segera beristirahat.
"Sebaiknya kita sekarang istirahat saja dulu" Ujar pak Jati mengomando.
"Seruni, kamu temani kak Cempaka ya, kasihan dia. Kalau ada apa-apa kamu beri tahu bapak dan ibu, atau kakak-kakak kamu yang lainnya, ya"
"Asyik tidur sama kak Cempaka" Seruni bersorak kegirangan.
Dia segera menghampiri Cempaka dan memeluknya.
"Ayo kak, aku senang tidur bareng kakak"
Seruni berkata manja.
"Karmin, kamu tidur di kamar tamu saja ya. Saya rasa pasti Cempaka sa'at ini tidak akan mau tidur sama kamu, dia masih shock. Untuk menjaga jiwanya yang baru saja terguncang, saya minta kesadaranmu supaya Cempaka bisa menenangkan hatinya dulu"
Ujar pak Jati menatap Karmin.
"Iya pak, saya mengerti"
Sahut Karmin perlahan.
"Lagipula belum syah nikahnya juga, karena belum tahu bentukan maharnya seperti apa? Jadi, selama belum ada maharnya, kamu belum di nyatakan syah sebagai suaminya Cempaka, ingat itu!"
Ujar bu Sekar dengan tegas.
"Benar apa yang di katakan oleh ibu, karena di dalam agama kita, agama islam. Mahar itu adalah salah satu syarat syahnya pernikahan. Saya juga waktu menikahi kak Bunga, ya langsung ada maharnya, dan di pakai hingga sekarang, ini buktinya"
Sakti mengangkat tangannya Bunga, dia menunjukkan sebuah Cincin nikah yang tersemat di jari manisnya.
"Mahar itu sebagai tanda cinta seorang suami kepada istrinya. Kalau seandainya tidak ada cincin atau perhiasan emas, perhiasan perak pun boleh, atau uang semampunya juga boleh, yang penting kesepakatan antara keduanya"
Lanjut Bunga.
Karmin menganggukkan kepalanya.
"Aku juga tahu itu, aku juga pernah ngalamin, cuma kalau ini kan semua nya yang ngatur kan Kenari, kakak kamu sendiri. Wong ini bukan keinginan ku" Bathin Karmin.
"Kalau begitu, saya mau istirahat dulu"
Dia menatap kepada Cempaka, seakan minta izin. Namun,. sedikitpun Cempaka tak menghiraukannya.
Di tatap seperti itu, Cempaka bangun dari duduknya, lalu melangkahkano kakinya menuju ke kamarnya.
"Bu, pak dan kakak-kakak semuanya, aku tidur duluan ya, Assalamualaikum"
Ucap Cempaka, Karmin sengaja tak dia sebut Supaya dia mengerti.
Setelah pamitan, Karmin berlalu menuju ke ruang tamu di mana kamar tamu berada di sampingnya.
"Dasar sialan! Malam pertama bukannya indah, ini malah sebaliknya.
Kenapa sih mesti kerasukan segala? Menjerit histeris lalu tubuhnya lemas, bikin kesal saja. Lagipula, bu Kenari itu malah menghilang, pergi ke mana dia? Enggak tahu gitu saya di sini di cuekin sama istri saya sendiri"
Karmin menggerutu di dalam hatinya.
Semua kekesalannya dia berusaha untuk memendamnya.
Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada di kamar tamu.
"Dasar sial! Mau untung malah mendapatkan malu" Ujarnya menggerutu.
"Ayo bu, kita istirahat dulu, sudah tengah malam ini*
Pak Jati berlalu ke dalam kamarnya.
Satu persatu meninggalkan ruang tengah, hingga akhirnya ruangan yang besar itu sepi tanpa seorang pun di sana.
Tak lama kemudian suasana rumah besar itu lengang, sunyi dan sepi.
Sesekali terdengar dengkuran halus dari setiap kamar.
Mereka terbuai oleh mimpi-mimpinya masing-masing.
Cempaka pun tertidur lelap hingga fajar menyingsing.
🌺🌺🌺
"Alhamdulillah Cempaka tidur dengan lelapnya"
Bu Sekar tersenyum melihat Cempaka yang tengah mengepel lantai.
"Iya bu, Alhamdulillah"
Sahut Cempaka dengan senyumannya.
Bunga dan Anyelir sedang di dapur, menyiapkan makanan buat sarapan.
Semua nampak sibuk dengan rutinitasnya masing-masing.
Karmin seperti yang salah tingkah. Dia duduk diam di sofa di ruang tamu.
Semuanya pada sibuk, jadi tidak ada yang menemaninya ngobrol. Lagipula seluruh anggota keluarga belum bisa menerima kehadiran Karmin di rumah itu. Apalagi Cempaka yang menjadi istrinya.
🌺🌺🌺
"Kamu minta cuti berapa lama dek?"
__ADS_1
Bunga bertanya kepada adiknya, kala itu mereka tengah berkumpul di halaman belakang
sambil menantikan kedatangan
orang yang di maksud oleh pak Ustadz, tadi malam.
"Aku tidak minta cuti, kak"
Cempaka menjawabnya perlahan.
Karmin menoleh ke arah Cempaka, seperti yang merasa bersalah.
"Maksudnya bagaimana? Kenapa tidak minta cuti? Itu kan sudah biasa kalau mau nikah minta cuti dulu. Biasanya suka di kasih cuti tiga atau empat hari, waktu kakak juga"
Bunga menjelaskan kepada adiknya.
Cempaka diam, belum menjawabnya.
"Kalau tidak minta izin cuti dulu, nanti bagaimana kalau masuk lagi?"
Sakti, suaminya Bunga bertanya, dia perhatian pada adik iparnya.
"Enggak tahu, kak. Bagaimana nanti saja"
Lemas suaranya Cempaka.
"Berapa lama kak Cempaka enggak masuk kerja?"
Tanya Petir, matanya melirik ke arah Karmin yang duduk agak menjauh dari mereka.
Dia sudah menduga semuanya pasti gara-gara Karmin yang pura-pura kena musibah, dan dia minta untuk di jenguk oleh Cempaka, hingga kakak iparnya itu tidak masuk kerja.
"Kurang lebih sudah satu mingguan dengan hari ini"
Jawab Cempaka, diapun melirik kearah Karmin dengan pandangan mata yang kesal.
"Satu minggu tidak masuk kerja
dengan tanpa kabar apapun?"
Anyelir bertanya heran, dengan kedua bola matanya yang membulat, terbelalak.
"He eh" Cempaka menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau nanti kakak di keluarin dari tempat kerjanya kakak?" Tanya Anyelir lagi.
"Ya kakak nganggur, kalau di keluarin. Enggak apa-apa biar mereka berdua merasa puas!"
Cempaka berujar sinis, lagi-lagi mata indahnya mendelik kepada Karmin.
"Mereka siapa, kak?"
Anyelir merasa penasaran.
Mereka kan yang telah membuat hidup aku hancur begini. Kerja ku berantakan, pria yang selama ini aku dambakan, terpaksa aku abaikan karena dia! Ingin menikahi perempuan, buat mahar juga enggak punya! Maunya modal gratisan saja! Pria macam apa?"
Cempaka berujar pedas, di tujukan kepada Karmin. Dia keluarkan kekesalannya kepada Karmin.
"Sayang ya kak, mesti keluar dengan cara seperti itu"
Ujar Petir menyayangkan.
"Sudah lama dek kerja di sana?"
Tanya Sakti.
"Jalan empat tahun, kak"
"Lumayan lama juga, ya?"
"Dia kan wakil kepala produksi, karena adikku sekolahnya tinggi untuk ukuran perempuan zaman sekarang. Di Kampung ini dan beberapa kampung sekitarnya, hanya adikku seorang yang sekolahnya sampai kuliah"
Bunga menjelaskannya dengan bangga.
"Aduh, sayang sekali" Petir dan Sakti berujar berbarengan. Matanya menatap Cempaka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yah, begitulah. Aku berkorban untuk sesuatu yang tak berguna" Sergah Cempaka dengan geram.
Sedikitpun Karmin tidak berucap. Lidahnya seperti yang kelu, dan mulut yang terbungkam.
Entah perasaan apa yang ada di dalam dadanya.
Meminta ma'af pun tidak dia lakukan.
Itu membuat Cempaka semakin bertambah kesal dan emosi.
"Sabar nak, istighfar"
Bu Sekar mengingatkan, Karena, melihat anaknya dalam keadaan emosi kepada Karmin dan Kenari.
"Iya bu" Sahut Cempaka singkat.
"Tarik nafas lalu enduskan biar sedikit plong"
Bunga menyarankan kepada adiknya.
Cempaka pun mengerjakan semua yang di sarankan oleh ibu dan kakaknya.
🌺🌺🌺
"Kenapa ya, yang di maksudkan oleh pak Ustadz semalam itu belum juga kelihatan batang hidungnya?"
__ADS_1
Pak Jati sepertinya sudah merasa kesal, menunggu tamu yang di katakan oleh pak Ustadz semalam.
"Kita tunggu hingga menjelang waktu sholat dhuhur, pak"
Bu Sekar dengan sabar menyahut pertanyaan suaminya.
"Aku juga sudah tidak sabar, pak" Seru Anyelir mengepalkan tangannya.
"Kira-kira siapa yang datang, ya?" Sakti bertanya.
"Siapa lagi kalau bukan kak Kenari?"
Teriak Cempaka yakin.
Semua mengalihkan pandangannya kepada Cempaka, begitu juga dengan Karmin.
"Kenapa Kenari?"
Bu Sekar bertanya heran.
"Itu menurut aku, bu. Tapi, lihat saja nanti siapa yang datang sebelum dhuhur ke rumah kita ini. Kalau bukan kak Kenari, berarti aku salah"
Lanjut Cempaka meralatnya.
Tapi Cempaka sudah merasa yakin seratus persen kalau tamu yang di maksud oleh pak Ustadz itu, adalah Kenari! Sang kakak jahatnya.
🌺🌺🌺
"Sudah jam setengah dua belas.
Tapi, belum ada juga tanda- tandanya bakal ada orang yang bertandang ke rumah kita ini"
Bunga bergumam setengah ngedumel kesal.
"Tenang saja, kak. Baru setengah dua belas. Dia masih di jalan"
Cempaka meyakinkan.
"Sok tahu kamu!"
Bunga menjentik hidung mancungnya Cempaka dengan gemas.
"Sakit, kakak!" Teriak Cempaka.
"Kenapa hidungnya kak Cempaka mancung, bu? Hidung aku kenapa tidak mancung?"
Si bungsu Seruni berceloteh.
"Sudah dari sananya, kita tidak bisa nawar"
Sahut bu Sekar sambil tersenyum.
"Enak ya kak Cempaka punya hidung mancung"
Seruni memujinya sambil menatap wajahnya Cempaka dengan tak' jub terpesona.
"Enak apanya? Menderita terus,
di sakiti, di khianati ya iya"
Ujar Cempaka ketus.
Sementara itu...
Lima belas menit lagi menjelang waktu sholat dhuhur,
Di jalan yang menuju ke arah rumahnya bu Sekar, terlihat seorang perempuan yang tengah berjalan agak tergesa-gesa sambil menggendong anak perempuan nya.
Dan-danannya yang agak menor mulai sedikit memudar dari wajahnya yang hampir penuh dengan flex hitam. Entah akibat kb, atau akibat kosmetik yang tidak cocok, atau juga akibat sengatan sinar matahari.
Dia sengaja berdan-dan menor untuk menutupi flek hitam yang menempel di wajahnya itu.
"Aduh, berat sekali kamu ini. Mana tidur lagi!"
Perempuan itu menggerutu sendiri. Anak balita yang di gendongannya itu, rupanya tertidur pulas hingga menambah berat beban bagi yang menggendongnya.
"Tinggal sepuluh menit lagi"
Anyelir bergumam sendiri, matanya menatap jarum jam dinding yang tergantung di dinding ruang tengah.
"Sebentar lagi, dia tengah di jalan, sudah masuk gang yang menuju ke rumah kita"
Ujar Cempaka dengan penuh keyakinan.
"Kamu begitu yakin sekali, seperti yang terlihat saja sama kamu"
Bunga protes.
"Itu filing aku, kak. Dia sekarang sudah semakin dekat saja dengan ramah kita. Kok! Dadaku jadi berdebar begini ya?"
Cempaka meraba dadanya.
"Dada ibu juga sama"
Bu Sekar meraba dadanya juga.
"Kenapa bisa samaan begitu ya? Sepertinya kita semua punya perasaan yang sama terhadap orang itu"
Ujar Cempaka.
"Assalamualaikum" Dari pintu samping terdengar suara seorang perempuan yang mengucapkan salam, tepat beberapa menit sebelum waktunya sholat Dzuhur tiba.
__ADS_1
Itu adalah suara miliknya Kemari, anak sulungnya pak Jati dan bu Sekar.
***