Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Entahlah ko


__ADS_3

Sepulangnya dari rumahnya pak Ustadz Rahman, Cempaka jadi pendiam lagi. Keceriaannya seakan hilang entah kemana.


Dia jadi tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Jadi acuh terhadap makhluk yang namanya


laki-laki. Dia merasa takut terhadap semua laki-laki yang mencoba mendekatinya.


Dia takut kalau laki-laki itu punya istri, apalagi punya anak.


Cempaka jadi sangat tertutup.


Dia tidak mau kalau ada laki-laki yang mendekatinya, seperti waktu itu.


Dia kebagian lembur, jadi pulang jam enam sore. Mobil angkutan umum hanya sampai jam setengah enam. Jadi sudah terlewat setengah jam. Mau tidak mau dia harus pulang dengan berjalan kaki.


"Cempaka, pulang bareng yu! Sepertinya angkutan umum sudah enggak ada, sudah jam enam lebih lima nih!" Gema, yang satu bagian dengannya mengajaknya untuk pulang bareng. Lagipula mereka satu arah. Jadi pantaslah kalau Gema mengajaknya pulang bareng.


"Enggak ah, aku jalan kaki saja"


Cempaka menolaknya.


"Mendingan ikut Gema, sudah waktunya maghrib nih! bentar lagi juga gelap" Puspa menyuruh Cempaka untuk ikut pulang bersama Gema.


"Enggak ah, terimakasih banyak. Sok saja duluan" Ujar Cempaka. Dia tetap menolaknya.


"Ayo!... Kita kan searah. Sudah mulai gelap nih!" Ajak Gema lagi.


Dia lalu turun dari motornya, lalu meraih tangannya Cempaka.


"Kamu takut pacarmu marah? Hingga enggak mau aku ajak bareng! Bilangin sama pacarmu kalau enggak boleh bareng sama orang lain, yaa antar jemputlah!"


Ucap Gema sambil menarik pelan tangannya Cempaka.


"Naah, harus begitu rupanya. Aku titip ya! Kasihan dia kalau harus jalan sendirian. Sebentar lagi juga malam" Ujar Puspa sambil mendorong badannya Cempaka supaya mendekati motornya Gema.


"Enggak akan ada yang marah, kan?" Tanya Gema sambil duduk di jok motor bagian depan.


Tangan yang satunya memegang stang motor, sedangkan tangan yang satunya lagi memegangi tangannya Cempaka.


"Enggak akan ada yang marah kok! pacarnya juga kabur! Mungkin Cempaka takut pacar kamu atau istri kamu nanti yang marah." Puspa menimpali.


"Apalagi kayak gitu, berarti kita tenang dong! Enggak akan ada yang memarahi kita. Aku suka enggak tega kalau melihat perempuan jalan sendirian, apalagi sudah mau malam begini. Mana orangnya teman kerja, cantik lagi" Gema bercanda.


Akhirnya Cempakapun duduk di boncengan sepeda motornya Gema.


"Kalian hati-hati ya!" Ujar Puspa sambil duduk di boncengan motor suaminya.


"Iya kalian juga hati-hati!" Ujar Cempaka.


Mereka pun lalu melajukan motornya untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Rumah kamu di gang yang mana?" Gema bertanya kepada Cempaka.


"Ituu di gang ke tiga kalau dari sini" Sahut Cempaka menunjukkan gang yang menuju ke rumahnya.


"Lumayan jauh juga ya, tapi masih lebih jauh saya tentunya"


Ujar Gema.


"Sepuluh sampai lima belas menitan lah kalau jalan kaki. Kamu sendiri di mana rumahnya?" Cempaka balik bertanya.


"Tetangga desa dengan desamu"


Sahut Gema.


Cempaka tidak berkata lagi, dia takut menjadi tertarik kepadanya.


"Kamu suka berangkat jam berapa?" Setelah melewati gang ke dua, Gema bertanya lagi.


"Jam tujuh lebih, kadang jam setengah delapan" Sahut Cempaka.


"Mulai besok, bareng saya saja ya! Nanti saya jemput ke rumahmu! Biar ada teman ngobrol" Ujarnya.


"Makasih, gimana besok saja ya"

__ADS_1


Cempaka menolak secara halus.


"Kenapa? Sepertinya kamu tidak suka kalau berangkat bareng saya. Memangnya ada apa?" Gema sepertinya merasa heran.


"Enggak apa-apa, aku takut merepotkan kamu" Cempaka menjawab pelan.


"Allaaah, takut merepotkan segala. Memangnya saya gendong kamu!"


"Itu di depan gang yang menuju ke rumahku. Sudah di sini saja!"


Cempaka menghentikan laju motornya Gema.


"Oke! " Ujar Gema. Dia tidak menghentikan mesin motornya. Tapi, dia malah membelokkan motornya memasuki gang yang menuju ke rumahnya Cempaka.


"Sudah! Berhenti di sini!" Seru Cempaka.


Gema tidak mendengarnya, dia terus melaju memasuki gang itu.


"Kamu mau ke mana? Sudah turunin aku di sini!" Seru Cempaka lagi, setengah berteriak.


"Rumah kamu masih masuk lagi?


Masih jauh enggak?" Tanya Gema.


"Sudah di sini saja! Itu rumahku di belakang rumah ini." Cempaka menunjukkan rumahnya.


Gema membelokkan lagi motornya, memasuki gang beberapa meter lagi, dan sampailah mereka di halaman yang luas, halaman rumahnya Cempaka.


"Astaghfirulahaladziiim... Kami ini, di suruh berhenti dari depan, malah terus saja sampai di halaman rumahku" Cempaka menggerutu.


"Tanggung, dari depan kan lumayan kalau kamu jalan sampai ke rumahmu" Ujar Gema


sambil tersenyum.


"Sudah biasa, paling cuma empat menitan jalan kaki" Sahut Cempaka.


"Besok aku jemput ya!" Ucap Gema sebelum dia menyalakan mesin motornya.


"Saya pulang dulu ya, sudah maghrib" Ucapnya.


"Iya, terimakasih! Hati-hati" Ucap Cempaka.


"Assalamualaikum..." Gema melajukan motornya menuju ke jalan besar.


"Waalaikumsalam..." Cempaka menjawab salamnya Gema.


Diapun segera masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum..." Ucapnya.


"Waalaikumsalam... Kok! Baru pulang nak?" Bu Sekar bertanya heran.


"Iya buu, ada lemburan satu jam. Jadi pulang jam enam" Cempaka salim kepada ibu dan bapaknya.


"Tadi itu siapa?" Bu Sekar ingin tahu rupanya.


"Itu teman satu kerjaan buu, kebetulan dia rumahnya di sebelah kampung kita. Jadi sekalian jalan dia ngajak aku supaya bareng, karena angkutan umum sudah enggak ada. Yaa terpaksa aku nebeng buu" Cempaka menjelaskan.


"Syukurlah ada yang peduli. Kalau jalan kaki, pasti belum sampai ya nak ya!" Ucap Bu Sekar.


"Iya buu, Alhamdulillah. Aku mau wudhu dulu ya buu, pak" Cempaka beranjak dari hadapan ibu dan bapaknya.


*


Keesokkan harinya, jam tujuh tepat, Cempaka sudah berangkat dari rumahnya. Dia enggak mau sampai Gema datang ke rumahnya untuk menjemputnya.


Dia bergegas menuju jalan besar yang suka di lalui oleh angkutan umum.


Sudah sepuluh menit dia berdiri di pinggir jalan sana, tapi mobil angkutan umum baru lewat dua mobil saja, mana penuh lagi.


"Aduuuh... Ini bagaimana? sudah hampir setengah delapan kok! mobil dapat angkutan" Gumamnya.


"Haai! Sudah lama nunggu?" Tengah dia gelisah menunggu angkutan umum, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menyapanya.

__ADS_1


Cempaka menoleh ke arah asal suara.


"Deg!" Cempaka terhenyak kaget.


Suara itu ternyata milik Gema, teman laki-lakinya yang mengantarkannya kemarin sore.


"Lumayan. Enggak ada mobil" Ujar Cempaka. Dia berharap ada angkutan umum yang tiba-tiba lewat di depannya.


"Ngapain nunggu angkutan umum, kan mau saya jemput. Ayo naik!" Ujarnya.


"Aduuh, aku merasa risih" Gumam Cempaka ragu.


"Sudah, ayo! Lihat sudah jam berapa ini! Kalau nunggu angkutan umum nanti kesiangan yang ada" Ujar Gema lagi.


"Benar juga kata Gema, yaa... Sudahlah kali ini aku ikut dia saja" Bathinnya.


Gema segera melajukan motornya menuju ke tempat kerjanya setelah Cempaka naik di boncengannya.


"Aiih... Sepertinya berlanjut nih!"


Puspa menggodanya, ketika keduanya sudah sampai di tempat parkir motor.


Kebetulan, Puspa juga baru saja


keluar dari tempat parkiran.


"Kebetulan saja, tadi angkutan umumnya pada penuh" Kilah Cempaka.


"Tungguin dong!" Gema berlari kecil menyusul Cempaka dan Puspa yang sudah berjalan duluan.


"Kenapa saya di tinggalin? Mentang-mentang sudah sampai" Gema ngedumel.


"Ya iyalaah..., habis mau ngapain lagi?" Ujar Cempaka santai.


"Huuh, dasar!"Ujar Gema sambil mensejajarkan langkahnya.


"kamu dari sana enggak ada teman yang kerja di sini?" Tanyanya.


"Enggak" Cempaka menjawab singkat.


"Memangnya kenapa? Kok kamu jadi perhatian gitu sama Cempaka, ada apa nih?" Puspa menggodanya.


"Yaa mau tahu saja. Soalnya kemarin waktu aku nganterin dia, saya enggak lihat yang pulang kerja" Ujar Gema.


"Enggak ada! Dari sana cuma aku sendiri yang kerja di sini" Ujar Cempaka.


"Kalau begitu, berangkat dan pulangnya barengan dengan saya, itu kan lebih baik ya puspa ya?" Gema melirik ke arah Puspa.


" Aku setuju itu! Enggak ada yang akan marah ini, tenang saja!" Ujar Puspa.


Cempaka diam saja tak berkomentar. Dia pura-pura tidak mendengarnya.


Dia tidak mau sakit hati lagi. Apalagi Gema termasuk laki-laki yang lumayan ganteng dan juga berpendidikan. Dia punya jabatan yang penting di tempat kerjanya.


Jadi, otomatis banyak perempuan yang mendekatinya.


Seperti waktu itu, sudah seminggu Cempaka dan Gema berangkat dan pulang selalu bersama.


"Cempaka, ternyata Gema itu suka lho! Sama kamu!" Ujar Puspa.


"Enggak tahu" Sahut Cempaka.


"Cempaka! Sepertinya kamu cocok deh sama si Gema itu" Ujar Puspa, sa'at itu mereka tengah istirahat di kantin.


"Entahlah... Aku masih trauma. Aku takut nanti ada lagi hal-hal yang aneh-aneh yang menjadi kendalanya. Aku enggak mau sakit hati lagi. Oleh-oleh dari pak Ustadz Rahman juga masih membekas di hatiku" Ujar Cempaka tak bersemangat.


"Siapa tahu itu tidak benar?"


"Sudahlah Puspa, aku mau berteman saja dengan siapapun"


Cempaka menyudahi pembicaraan tentang dirinya dan Gema.


Puspapun diam tak berkomentar lagi. Apalagi bel tanda waktu istirahat sudah habis.

__ADS_1


__ADS_2