
Dengan di antar oleh pak Jati dengan memakai motornya, Cempakapun berangkat menuju ke desa Ujung, desa tempat tinggal sahabat tercintanya dulu semasa sekolah.
Setelah berkeliling tanya sana-sini, akhirnya Cempaka menemukan alamat rumah sahabatnya itu.
Mawar masih tinggal di sana bersama kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum..." Ucap Cempaka, setelah sampai di depan rumah yang di tunjukkan oleh seorang ibu muda tetangganya Mawar.
"Terimakasih mbak, sudah mengantarkan kami" Ucap pak Jati.
"Sama-sama pak, saya permisi Assalamualaikuum" Ucap ibu muda itu, sambil beranjak meninggalkan kami berdua di depan rumah sahabatku itu.
"Waalaikumsalam... "Jawaban dari dalam rumah bercat hijau apel itu.
"Ceklek!..." Terdengar suara pintu yang di buka.
Dan, seorang perempuan muda berkulit putih bersih muncul dari balik pintu. Tak salah lagi, dia adalah Mawar, sahabatnya Cempaka, teman sebangkunya dulu semasa sekolah di SPG.
"Cempaka?... Kau Cempaka kan?" Serunya kegirangan.
Dia segera menghampiri kami yang berdiri di ujung teras rumahnya.
"Iya aku Cempaka, kamu apa kabar ? Aku kangen sekali" Seru Cempaka sambil menghambur ke pelukannya Mawar, sahabatnya.
"Angin apa yang telah membawamu kemari?... Gimana kabarmu?... Apa sengaja kau datang menemuiku, atau... Kau hanya mampir saja?" Cercarnya dengan beberapa pertanyaan.
"Satu-satu dong bertanya nya. Pertanyaan yang mana dulu yang mesti ku jawab?..." Ujar Cempaka
sambil mendelikkan matanya kepada sahabatnya itu.
"Saking senapngnya aku melihatmu berada di hadapanku" Ucapnya sambil nyengir kuda. Ciri khasnya kalau merasa bersalah.
"Yang jelas bukan angin ribut dan bukan juga angin ****** beliung.
Kabarku Alhamdulillah baik-baik saja seperti yang kamu lihat. Dan juga aku sengaja datang kesini, ke rumahmu ini, bukan hanya sekedar mampir. Tapi... Aku mau
nginap di rumahmu ini, itu juga kalau kamu izinkan. Bagaimana?... Kau puas dengan jawabanku ini?" Sahut Cempaka dengan panjang lebar.
"Benarkah yang kau ucapkan itu?
Kau mau nginap di rumahku?" Mawar begitu sumringahnya setelah mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
"Yang bertemu sahabat, sampai lupa sama bapaknya sendiri, sampai lupa sama yang nganterin" Pak Jati menggoda anaknya sambil memperlihatkan wajah yang cemberut.
"Haah!... Astaghfirulahaladziiim...
Ya Allah... Ma'afkan aku bapak, aku sampai lupa, saking bahagianya bertemu dengan sahabatku ini" Cempaka segera melepaskan pelukannya Mawar, dan segera menghampiri Orangtuanya.
Mawar juga segera mengikuti Cempaka, menghampiri pak Jati.
__ADS_1
"Saya minta ma'af pak, saya tidak
peduli sama bapak. Bagaimana kabarnya pak?... " Ucap Mawar sambil menjabat tangannya pak Jati. Dia sepertinya merasa bersalah.
"Enggak apa-apa... Bapak juga maklum. Bapak cuma bercanda. Bagaimana kabar bapak sama ibumu?" Pak Jati tersenyum melihat tingkah Mawar yang merasa bersalah itu.
"Alhamdulillah.... Bapak sama ibu sehat-sehat saja. Mari pak, silahkan masuk, kita berbincang nya di dalam saja" Ucap Mawar, seakan menebus rasa bersalahnya.
"Ku kira kau tidak akan menyuruh
kami masuk" Ucap Cempaka sambil mencubit hidung sahabatnya itu.
"Kamu!..." Mawar mendelik sambil menarik tangan sahabatnya itu.
Merekapun lalu mengikuti langkah sahabatnya itu, memasuki rumahnya yang asri.
"Ada tamu rupanya" Ucap ibunya Mawar sambil duduk di depan tamunya.
"Ini sahabat Mawar waktu di spg mah, dan ini bapaknya. Mamah ingatkan waktu ada tiga orang teman Mawar yang dulu pernah ngerjain tugas sekolah dan nginap disini?... Nah!... Ini salah satunya" Mawar menjelaskan kepada ibunya.
"Ooh... Iya... Iya mamah ingat "
Sahutnya sambil menatap Cempaka.
"Begini bu, kami datang ke sini itu mau merepotkan ibu sekeluarga di sini. Sebelumnya kami mohon ma'af. Karena tidak memberi kabar terlebih dahulu" Tutur pak Jati.
"Maksudnya merepotkan bagaimana?" Ibunya Mawar bertanya tak mengerti.
"Kamu ditugaskan di sini?... Berarti kamu akan tinggal di rumahku selama satu minggu?... Begitu kan pak?... Cempaka betul kan begitu?" Mawar langsung nyerocos lagi saking senangnya.
"Itu juga kalau tidak keberatan...
Dan, kalau tidak membuat repot Keluarga di sini" Ucap Cempaka.
"Sama sekali tidak merepotkan!
Malahan kami sangat senang mendengarnya, mau satu bulan atau satu tahun juga kami tidak merasa keberatan" Ucap Mawar dan ibunya.
"Asyik... Kamu akan tinggal bersamaku, mimpi apa aku semalam? Pagi ini mendapatkan kabar yang baik dan menyenangkan begini" Mawar kembali memeluk Cempaka lagi.
"Kalau begitu, saya titip Cempaka. Sebelumnya saya minta maaf kalau kami telah merepotkan ibu sekeluarga. Dan mumpung belum panas, saya mohon pamit, nanti InsyaAllah minggu depan saya kesini lagi untuk menjemput anak kami" Pak Jati mohon pamit.
"Kami tidak merasa keberatan pak, salam buat ibu ya pak" Ujar ibunya Mawar.
"Cempaka, bapak pulang dulu. Kamu baik-baik di sini ya!... Jangan membuat kesal ya..." Pak Jati menasihati Cempaka.
"Baik pak" Sahut Cempaka sambil tersenyum bahagia.
"Saya titip anak saya bu, saya permisi dulu. Assalamualaikum"
__ADS_1
Pak Jati berpamitan pada keluarga nya Mawar.
"Hati-hati kamu di sini ya!"
"Iya pak, bapak juga hati-hati di jalannya ya" Ucap Cempaka manja.
"Kamu ngehonor di sana kan?" Tanya Cempaka setelah punggung pak Jati tak terlihat lagi.
"Iya... Sejak keluar dari spg sampai sekarang" Sahut Mawar.
"Kau mau kan mengantar aku ke sekolah itu?... " Cempaka memohon.
"Enggak mau!... Cari saja sendiri"
Sahut Mawar mengagetkan Cempaka.
"Haah!... Kamu enggak mau nganter aku?" Cempaka nampak sangat kaget sekali, dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Mawar.
"Huus!... Mawar!... Kok bicaranya begitu?" Ibunya menjentik hidungnya Mawar dengan gemas.
"Ha... Ha... Ha... Kalian tertipu!...
Enggak akan aku berbuat begitu kepada sahabatku ini, sudah ah jangan menangis!... Nanti cantiknya hilang lho!" Seloroh Mawar sambil memeluk Cempaka yang nampak kaget.
"Kamu!... Bikin ibu kesal saja. Ayo bawa masuk temanmu itu, jangan kau bercandain terus, kasihan" Ucap ibunya Mawar.
Setelah minta izin kepada ibunya, Mawar berangkat mengantar Cempaka untuk menemui kepala sekolahnya, yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan sekolah Ujung jaya itu.
Sekolah Ujung jaya tidak jauh dari rumahnya Mawar. Kalau di tempuh dengan jalan kaki pun hanya memerlukan waktu sekitar lima menitan saja.
Pak Hamid, kepala sekolah sd Ujung jaya menerimanya dengan senang hati.
Setelah dirasa cukup perbincangan mereka, Mawar dan Cempaka pun kembali ke rumahnya Mawar untuk mempersiapkan keperluan di hari esoknya.
"Kita makan bakso dulu yu!" Mawar mengajak Cempaka untuk mampir dulu ke warung bakso.
"Kau masih ingat kegemaran kita. Ku kira kamu sudah tidak suka lagi dengan yang namanya
bakso" Canda Cempaka.
"Tak mungkin aku melupakan makanan enak itu. Kecuali... Kalau harganya selangit. Kalau ingat bakso atau lagi makan bakso, aku selalu ingat sama urat yang bisa membuat gigimu terbelah menjadi dua ha... Ha..."
Mawar mengingatkan kenangan itu sambil tertawa ngakak.
"Ha... Ha... Ha... Kau masih ingat rupanya!... Dasar!... Bakso urat sialan. Sampai sakit dan berdarah gigiku ini karena urat sialan itu, jadi baksonya tidak aku habiskan" Timpal Cempaka sambil tertawa pula.
"Apa di sini bakso uratnya nakal juga?... Kalau nakal, aku enggak mau ah! Tapi, ada bakso yang lainnya kan?" Cempaka ketakutan.
"Di sini bakso uratnya baik-baik, empuk dan enak, tidak bikin gigi terbelah dua, tidak akan bikin pelanggan merasa kapok" Sahut Mawar, sambil menarik tangannya Cempaka ke kedai bakso yang sudah ada di depan mata.
__ADS_1
Tak banyak cerita lagi, keduanya langsung menyantap bakso yang katanya tidak membuat pelanggan kapok.