
"Ini maksudnya bagaimana, bu?
Calon pengantin laki-laki nya sudah di sini, tidak ada seuseurahan pula. Apalagi pelaminan dan tamu undangan, keluarga dari pihak laki - lakipun tak ada, ini pernikahan macam apa?Mau di taruh di mana muka kita, bu? Kenapa ibu menyerahkan semuanya pada Kenari, kenapa bu?" Ketika Kenari tengah merias Cempaka, pak Jati menanyakan semua kejanggalan yang terjadi di rumahnya sa'at itu.
"Ibu juga tidak tahu, pak. Ternyata Karmin telah memberikan surat na nya kepada Kenari, tanpa sepengetahuan kita. Dan Kenari langsung memberikannya kepada pihak kua. Kalau sudah di catat di sana, kita mau bagaimana lagi? Ibu juga bingung ini pak. Rasanya tidak tega ibu menyaksikan anak kita menikah dengan cara begini" Ujar bu Sekar mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Kenapa kita bisa kecolongan oleh anak sulung kita, bu? Kita sudah sering berlaku tidak adil terhadap anak kita, Cempaka. Setiap ketidak adilan ini, pasti yang jadi dalangnya selalu Kenari, anak pertama kita bu, bukan orang lain. Kita semua benar-benar sudah di perdaya oleh Kenari, anak kita sendiri" Pak Jati mengeluhkan kelakuannya Kenari sambil menitikkan air mata penyesalan.
"Sudah tidak ada waktu lagi pak, sekarang sudah jam delapan pagi, sebentar lagi penghulu datang ke rumah kita. Ibu yakin penghulu akan bertanya keheranan dengan semua yang serba dadakan ini. Karena beberapa kali kita menikah kan anak kita dengan Penghulu yang sama, tidak seperti ini caranya"
"Sekarang ibu mengerti dengan perkataannya Kenari tempo hari itu. Dia mengatakan bahwa pernikahan Cempaka ini adalah pernikahan yang pertama dan teraneh di kampung kita ini, dan mungkin juga di tempat lainnya. Iya benar, karena pernikahan anak kita sekarang ini beda dengan pernikahan pada umumnya, pak" Bu Sekar mulai menitikkan air matanya.
"Pernikahan tanpa adanya seuseurahan yang selalu identik dengan bawaan tanda kasih sayang dari keluarga pengantin laki-laki. Tanpa pelaminan, di mana tempat bersandingnya sepasang pengantin baru yang saling mencintai, tanpa tenda dan tanpa tamu undangan yang datang dengan ucapan selamatnya untuk kedua mempelai" Tutur bu Sekar dengan air mata yang mulai berderai membasahi kedua pipinya.
"Juga tanpa mas kawin sepertinya bu. Karena, Karmin tak terlihat membawa apapun selain membawa dua stel baju gantinya dan na yang telah di berikan nya kepada Kenari. Jadi, sedikitpun tak ada tanda rasa cinta yang di berikan oleh Karmin untuk anak kita, bu. Pernikahan macam apa ini bu? Di dalam agama kita, pemberian dari pihak pengantin laki-laki yang berupa mahar itu adalah syarat syahnya nikah, bu. Lalu ini bagaimana dengan pernikahan anak kita?" Pak Jati pun tak lepas dari berbagai tanda tanya nya.
"Iya pak, anak kita di paksa untuk mau menikah dengan si Karmin itu, sedangkan di dalam agama kita, agama islam. Sarat syahnya nikah itu harus di dasari dengan rasa saling cinta, saling sayang dan tidak adanya paksaan. Sedangkan Cempaka menerimanya dengan sangat terpaksa, berarti dua syarat syahnya nikah sudah tidak ada di sana, jadi ya Allah bagaimana dengan pernikahan anak kami ini?" Bu Sekar merasa sangat khawatir karena ternyata, dua poin dari syarat syahnya nikah tidak terpenuhi.
"Assalamualaikum" Di tengah perasaan galaunya pak Jati dan bu Sekar, tiba-tiba terdengar suara berat seorang laki-laki mengucapkan salam dari pintu depan rumah mereka.
Yang tiada lain itu adalah suara miliknya bapak Penghulu yang datang atas undangannya Kenari, untuk menikahkan Cempaka dan Karmin.
"Waalaikumsalam" Jawab pak Jati dan bu Sekar.
"Pak, ini bagaimana? Itu suaranya pak Penghulu, dia sudah datang, dia sudah siap untuk menikahkan Cempaka, anak kita" Bu Sekar menangis merasa khawatir.
"Kita temui dulu saja, bu sebelum Kenari menemuinya" Ucap pak Jati sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya pak, ibu ikut" Bu Sekar pun berdiri dari tempat duduknya.
Sementara itu, Kenari sudah merasa selesai membuat wajah Cempaka semenor mungkin.
Begitu mendengar suara pak Penghulu mengucapkan salam, dia segera bergegas menuju ke ruang tamu, yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari kamarnya Cempaka.
"Penghulu nya sudah datang, sudah jangan banyak tingkah!" Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Cempaka yang tengah bersedih.
Setibanya Kenari di ruang tamu, pak Penghulu sudah duduk di sofa yang ada di sana, di temani oleh Karmin yang sejak tadi sudah duduk di sana dengan kostum pengantinnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, bapak dan ibu belum ke sini" Gumamnya.
"Pak Penghulu, selamat datang di rumah kami, saya perkenalkan, ini calon pengantin prianya. Jadi, seuseurahan nya kemarin sore, dan tidak banyak yang datang karena jauh asal kampung halamannya. Jadi di buru simpelnya saja" Ujar Kenari langsung mengenalkan Karmin.
"Ooh, ini calon pengantin laki-laki nya? Tapi, masih bujangan kan? Sesuai dengan yang tertera di na nya" Pak Penghulu menatap wajahnya Karmin sepertinya agak ragu.
"I, iya masih bujangan pak" Kenari langsung saja menyambarnya tanpa menunggu jawaban dari Karmin.
"Assalamualaikum" Pak Jati dan bu Sekar baru tiba di ruang tamu. Mereka kalah cepat datang menyambut pak Penghulu. Karena, tadi mereka tengah berada di ruang makan yang letaknya lumayan agak jauh dari ruang tamu.
Kenari tersenyum merasa menang dapat mendahului kedua orangtuanya, dalam penyambutan kepada pak Penghulu. Dan dia juga telah menyampaikan kebohongannya kepada pak Penghulu.
"Waalaikumsalam, pak Jati, bu. Bagaimana kabarnya?" Pak Penghulu yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, menyambut kehadirannya bu Sekar dan pak Jati.
"Terimakasih sudah bisa hadir di rumah kami" Ujar pak Jati.
"Iya pak, itu kan tugas saya, sudah menjadi kewajiban saya. Alhamdulillah, bapak sekarang sudah mau menikahkan putrinya lagi, calonnya cukup jauh juga ya pak. Tapi, saya salut dengan niat mulia nya, walaupun jauh tapi tidak sampai telat. Buktinya dia sudah dari kemarin ya berada di rumah bapak ini" Ujar pak Penghulu.
"Iya pak" Sahut pak Jati.
"Pelaksanaannya jam sembilan ya pak? Berarti tinggal beberapa menit lagi. Bagaimana calon pengantin wanita nya sudah siap juga?" Tanya pak Penghulu mengingatkan.
"Emh, sebentar pak Penghulu" Sahut nya. Dia mencolek lengannya Kenari memberikan isyarat.
Kenari langsung dapat mengerti, dia segera menggamit tangan ibunya dan membawanya ke ruang tengah.
"Ma'af sebentar ya pak" Ucap Kenari meminta izinnya.
Pak Penghulu menganggukkan kepalanya.
Setengah di seret, bu Sekar di bawa ke vaviliun yang terletak di samping rumah.
"Bu, buat mahar nya biar pakai cincin ibu saja dulu, pinjam. Kemarin Karmin lupa membawanya" Ujar Kenari.
"Enggak bisa begitu, nak. Ini pernikahan, acara yang sakral bukan nya main-main! Urusannya dengan Allah SWT" Bu Sekar menolaknya. Dia tidak mau melepaskan cincin dari jarinya.
"Sebentar saja, bu! Pinjam" Kenari mencoba menarik tangannya bu Sekar untuk melepaskan cincin nya.
__ADS_1
"Untuk mahar tidak boleh pinjam, pamali! Masa yang mau nikah tidak bawa maharnya?"
"Sebentar, bu. Pinjam sebentar barang beberapa menit saja. Setelah selesai akad nikahnya langsung di kasihkan ke ibu lagi"
"Apalagi itu, yang namanya mahar itu jadi milik pengantin wanita pemberian dari pengantin laki-laki" Bu Sekar mempertahankan cincin di jarinya.
"Ini apa-apaan, Kenari?" Bi Nani yang menyaksikan kejadian itu, langsung menegurnya.
"Bukan urusan bi Nani, tidak usah ikut campur!" Bentaknya.
"Bagaimana bibi tidak ikut campur? Ini tidak bisa di biarkan, anak macam apa kamu ini? Memaksa ibunya sendiri untuk berbuat curang. Apa aku tidak salah dengar? Masa untuk maharnya harus minjam cincin ibumu? Laki-laki macam apa yang kau jodohkan untuk adikmu itu hah? Benar yang kak Sekar katakan, pernikahan itu suatu yang sakral tidak bisa di permainkan! Mana bisa maharnya pinjam dulu cincin nya calon mertua" Bi Nani membentak Kenari.
"Dasar gendut, ikut campur saja urusan orang" Sungut Kenari.
"Ngomong apa kamu, Kenari? Aku bukan ikut campur. Aku hanya menasihati kamu, meluruskan sesuatu yang salah yang tengah berlangsung di hadapan mata kepala bibi, ini semua demi Cempaka! Keponakanku. Bibi tidak mau melihat neng Cempaka yang baik itu terus-terusan di kadalin sama buaya betina macam kamu itu!" Bi Nani terlihat sangat emosi, suaranya keras hingga terdengar sampai ke dapur.
"Itu seperti ada orang yang berantem, kenapa ya?" Orang - orang yang sudah hadir dan yang tengah bantuin di sana saling bertanya satu sama lain.
Begitu pula dengan para tetangga yang turut hadir di sana.
"Ibu, kalau ibu tidak mau melepaskan cincinnya, berarti pernikahan Cempaka pastinya akan batal ini. Ayo dong bu, pinjam sebentar saja demi Cempaka" Ujar Kenari lagi tetap
memaksanya.
"Tidak bisa Kenari, tidak bisa! Mahar itu adalah syarat syahnya nikah. Dan, mahar itu harus diberikan oleh calon pengantin laki-laki, bukan pinjam dari calon mertuanya, nanti bagaimana hukumnya?" Ujar bu Sekar, dia tetap menolaknya.
" Ya baiklah kalau tidak boleh, enggak apa-apa bu" Kenari melepaskan tangannya bu Sekar.
" Nah gitu dong, mengerti!" Ujar bi Nani. Dia lalu menghampiri kakaknya.
"Kak, anak sulung mu itu kak. Apa dia tidak tahu aturan pernikahan gitu? Dia kan sudah pernah nikah, sudah punya anak, dan juga dia Sekolah nya di mts lagi. Di mana pelajaran agama lebih banyak di pelajari daripada sekolah umum" Ucap bi Nani sambil geleng-geleng kepala.
"Aku juga tidak mengerti dengan jalan pemikirannya? Apa sebenarnya yang ada di otaknya sa'at ini?" Bu Sekar menangis sendu. Dia sedih dengan perlakuan anak sulungnya itu, mana di depan orang banyak lagi.
Sementara itu Kenari menyelinap ke kamar ibunya. Dia tahu ibunya masih menyimpan cincin yang lainnya di sana. Dia akan mencurinya dan akan di berikan nya kepada Karmin untuk mahar pernikahannya dengan Cempaka.
Segala cara di lakukan oleh Kenari yang licik itu.
__ADS_1
***