
"Ibu sama bapak, kok! Belum pada pulang? Anyelir dan yang lainnya juga sama" Cempaka mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di ruang tengah.
Dia baru saja pulang dari kampus.
"Sepi, enggak ada orang. Semua pada sibuk dengan urusannya masing-masing" Gumamnya, dia sender kan punggungnya di
senderan sofa.
Netra nya lurus menatap ke pintu kamarnya Anyelir.
"Sejak acara tunangan itu, Adikku jadi jarang pulang. Rasanya sejak sa'at itu aku baru sekali bertemu dengannya. Dia jadi sering nginap di rumahnya kak Bunga, tidak seperti biasanya" Bathinnya di penuhi dengan tanda tanya.
"Tapi, biarin saja dah, urusan dia. Kenapa mesti aku pikirkan?" Gumamnya lagi.
"Assalamualaikum" Terdengar suara ibu dan bapak mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, ibu, bapak baru pulang rupanya" Cempaka segera membukakan pintu untuk kedua orangtuanya.
"Kamu sudah pulang nak?" Sapa bu Sekar sambil masuk dan langsung duduk di sofa.
"Iya bu, ini minum dulu bu, pak"
Cempaka menyodorkan dua cangkir air putih hangat kepada ke dua orangtuanya.
"Bagaimana acaranya bu?" Cempaka berbasa-basi.
"Menjengkelkan!" Rupanya bu Sekar masih terbawa emosi waktu di rumahnya bu Tari.
"Menjengkelkan bagaimana? Ah, ibu saja mungkin yang merasa jengkel" Pak Jati mengedipkan sebelah matanya
ke arah istrinya.
Bu Sekar menatap suaminya dengan sedikit kaget. Untung saja suaminya memberikan isyarat. Kalau enggak, bisa-bisa bu Sekar keceplosan.
"Jengkel kenapa bu? Dan, siapa yang membuat ibu jengkel?" Cempaka, memijit- mijit pundak ibunya.
"Itu, itu, gara-garanya ada tamu undangan yang bajunya sama dengan baju yang di pakai oleh ibumu" Pak Jati berbohong.
"Ooh, gitu?"
"Iya, gara-gara itu ibu jadi jengkel hingga di bawa pulang rasa jengkelnya" Ujar pak Jati lagi.
"Kenapa, rasa jengkelnya di bawa ke rumah? Kenapa enggak di tinggalkan di sana saja?" Seloroh Cempaka sambil tersenyum.
"Kamu ini, ada-ada saja" Mereka bertiga tertawa ceria.
Cempaka memang suka humor, dia itu enggak bisa kalau tidak guyon.
"Adik-adikku kok! Belum pulang ya bu?" Cempaka menanyakan adik-adiknya.
"Emh, emh, ibu, ibu tidak tahu" Seperti yang di tonjok ulu hatinya, bu Sekar kaget luar biasa. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Cempaka.
"Kenapa ibu gugup begitu menjawabnya?" Cempaka menatapnya seperti yang tengah menyelidik.
"Enggak apa-apa nak" Bu Sekar mengelak.
"Bapak ke belakang dulu ah, gerah. Mau mandi dulu" Pak Jati sepertinya menghindari pertanyaan dari Cempaka. Dia takut keceplosan. Dia tidak mau Cempaka tahu hal yang sebenarnya terjadi.
"Iya pak" Cempaka tak curiga.
"Kenari tidak pulang ke mari, apa dia pulang ke rumahnya gitu?" Gumam pak Jati sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Sebaiknya aku lihat.dulu ke rumahnya, siapa tahu dia sudah ada di sana" Pak Jati segera berbalik arah, tidak jadi ke kamar mandi.
"Bu, bapak mau ke rumahnya Kenari dulu"
"Enggak jadi mandi?"
"Enggak ah, nanti saja pulang dari rumahnya Kenari" Ujar pak Jati.
"Apa tidak sebaiknya bapak mandi dulu, Cempaka saja yang ke rumahnya kak Kenari? Bapak kan baru datang, pasti cape" Cempaka menawarkan diri.
"Iya betul pak! Ya sudah, Cempaka saja yang ke rumahnya Kenari ya nak ya?" Bu Sekar antusias sekali.
Sebelah matanya dikedipkan ke arah suaminya.
"Iya,iya, bapak mau mandi saja. Makasih ya" Pak Jati faham isyarat dari istrinya.
" Aku pergi dulu ya bu, pak! Assalamualaikum" Cempaka berlalu setelah pamitan pada kedua orangtuanya.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya neng"
" Bu, ibu memang cerdas. Kita jadi bisa membicarakan ulahnya Kenari tanpa di dengar oleh Cempaka. Bapak tadi tidak kepikiran ke sana, makasih ya bu ya" Setelah Cempaka berangkat menuju rumahnya Kenari.
"Gimana kalau Kenari tidak ada di rumahnya pak? Ibu agak khawatir" Bu Sekar menatap lurus kepada pak Jati.
"Iya juga ya, sepertinya Kenari sudah merasa tidak nyaman, dia sepertinya sudah mencium akan kita tanya-tanya tentang arsip itu, makanya dia segera pergi tanpa pamit sama kita"
"Iya juga pak, kalau Kenari benar-benar ada perlu, bukan menghindari kita, pasti dia pamit dulu sama kita"
"Anak sulung kita itu memang licik! Dari dulu sukanya bikin ulah melulu! Tidak berubah- berubah, heran!" Pak Jati geram. Kini dia sudah semakin yakin kalau yang mengundang semua Guru-guru dan rekan kerjanya itu adalah dia, Kenari.
__ADS_1
Dia yang sudah mempermalukan dirinya di depan rekan-rekannya. Entah demi apa?
"Assalamualaikum, kak? Kak Kenari? Ini aku, Cempaka. Buka pintunya kak! Assalamualaikum!" Cempaka yang baru sampai di rumahnya Kenari, mengucapkan salam sambil berteriak dari teras depan.
"Kenari nya enggak ada neng Cempaka! Tadi saya lihat dia berangkat sambil bawa koper, sepertinya mau pergi jauh dan lama" Bi Ijah yang rumahnya bersebelahan dengan Kenari, memberi tahu kepada Cempaka.
"Bibi tahu enggak, kak Kenari mau ke mana?" Tanya Cempaka ingin tahu.
"Waktu saya tanya, dia hanya.bilang mau pergi dulu, ada perlu penting katanya"
"Oooh, trimakasih ya bi. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Cempaka pun berlalu meninggalkan rumahnya Kenari, untuk kembali ke rumahnya.
*
"Assalamualaikum" Ucap Cempaka.
"Waalaikumsalam, bagaimana, kakak kamu nya ada enggak?" Pak Jati tak sabar.
"Enggak ada pak, kata bi Ijah, tadi berangkat. Tapi, enggak tahu mau ke mana, memangnya
ada apa pak?" Cempaka menatap penasaran.
"Enggak ada apa-apa" Pak Jati tertunduk lesu.
"Benar-benar anak sulung kita ini" Gumamnya.
*
Sementara itu di rumahnya buTari.
"Bapak sama Ibu sudah pergi, ayo kita keluar!" Anyelir nampak kesenangan. Karena, dia bisa terbebas dari pertanyaan kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah! Untuk sementara kita bisa terbebas" Ucap Petir dengan meregangkan kedua tangannya, seakan terbebas dari masalah yang sangat besar.
"Ayo kita keluar!" Anyelir menarik tangan suaminya untuk segera keluar dari kamarnya.
"Bu, pak, Alhamdulillah kita bebas!" Serunya ketika mereka sudah berkumpul bersama kedua orangtuanya di ruang tengah.
"Alhamdulilah, satu masalah yang sangat kita takutkan sudah berlalu. Semoga saja besan kita tidak akan menanyakannya lagi di lain waktu." Pak Andro berharap.
"Iya, Alhamdulillah. Tapi, ibu merasa tidak enak hati pak. Masa, di acara hajatan anak-anak kita ini, besan kita mau pamitan pulang, kita nya malah ngumpet. Ibu malu pak!"
"Ini harus bagaimana pak? Bersatunya anak-anak kita ini malah bikin masalah baru, kita ikut-ikutan lagi dalam masalah ini. Karena, kita yang menyetujui rencananya Kenari" Lanjut bu Tari, kecemasan jelas nampak di wajahnya.
"Kak Anye, kapan kita pulang?" Tiba-tiba Kilat dan Seruni sudah cemberut di ambang pintu.
Sepertinya mereka mendengarkan percakapan dari tadi. Mereka seperti yang kesal.
"Iya, sebentar lagi kita pulang" Anyelir asal menjawab.
"Kalian tidur di sini saja malam ini, besok pagi baru kalian pulang" Ujar bu Tari.
"Besok aku harus Sekolah bu" Ucap Kilat.
"Kalau begitu, sebentar lagi saja ya, ibu mau siapin dulu sesuatu"
Bu Tari segera beranjak ke ruang prasmanan. Dia akan menyiapkan hidangan untuk di hantarkan ke bu Sekar.
"Kak Bunga dan kak Sakti saja yang nganterin Kilat dan Seruni ya kak! Aku mau nginap di sini saja, kan mau bukain kado" Anyelir meminta kakaknya untuk mengantarkan kedua adiknya itu.
"Iya, iya" Sahut Bunga.
"Assalamualaikum." Suara Kenari terdengar dari teras depan.
"Suara kak Kenari!" Anyelir terlonjak. Dia segera menuju ke ruang tamu yang tengah di bereskan.
"Kakak dari mana? Ayo masuk! Bapak sama Ibu sudah pulang"
Anyelir menarik lengan kakaknya untuk di bawanya masuk ke ruang tengah.
"Kamu dari mana?" Bu Tari langsung menyambutnya.
"Aku dari rumah, bawa dulu baju ganti untuk beberapa hari" Sahutnya.
"Memangnya mau ke mana?" Bu Tari bertanya heran.
"Aku mau ngumpet dulu bu, untuk sementara, sampai bapak dan ibu tidak marah lagi karena peristiwa tadi" Ucapnya cemas.
"Tinggal di sini saja! Enggak usah pergi ke mana-mana. Cuma, ibu minta kepada semua yang berada di sini, dan tahu keberadaannya Kenari, ingat! Jangan sekali-sekali membocorkannya kepada siapapun juga! ingat itu!" Bu Tari mewanti-wanti.
"Iya bu, baik bu" Kilat dan Seruni menjawab sambil manggut-manggut mengerti.
"Kalau begitu kita siap-siap untuk pulang ke rumah!" Bunga mengomando adik-adiknya supaya berkemas-kemas untuk kembali ke rumah.
"Asyik kita pulang sekarang! Tapi, aku takut salah bicara" Kegirangan Seruni melemah, karena dia ingat harus menjaga rahasia besar kakak-kakaknya, juga keluarganya bu Tari.
"Gimana nanti saja, yang penting kita jangan banyak omong kalau lagi bersama kak Cempaka" Usul Kilat mengingatkan.
__ADS_1
"Iya kak'
"Ini tolong di bawa ya! Tolong sampaikan kepada ibu sama bapak, permintaan ma'af yang sebesar-besarnya dari kami, karena tadi kami tidak bisa menyambutnya dengan baik. Dan juga, kami tidak bisa menemuinya waktu mereka pamit pulang" Ujar bu Tari.
"InsyaAllah bu, nanti saya sampaikan" Sahut Bunga.
"Ayo semuanya, kami pamit pulang dulu bu, pak, Assalamualaikum" Bunga dan adik-adiknya pun berpamitan pulang, di antar kan oleh salah seorang kerabatnya bu Tari yang membawakan hantaran untuk bu Sekar sekeluarga.
"Fajar, nanti di sana kamu jangan cerita-cerita tentang pernikahan Anyelir dan Petir ya! Katakan saja, ini hantaran oleh-oleh dari saya, dari besan. Gitu aja, ingat!" Sebelum mereka berangkat, bu Tari mewanti-wanti Fajar, keponakannya yang akan mengantarkan mereka.
"Iya bi, baik akan saya ingat! Tapi, kalau boleh saya minta teman dong buat pulang nya."
Fajar meminta di temani.
"Emh, ajak mang Adji saja! Panggil dulu mang Adji nya suruh ke sini! Biar saya wanti-wanti dulu!" Bu Tari ketakutan.
"Mang Adji, temani Fajar untuk mengantarkan bunga dan adik-adiknya ya! Tapi, ingat! Jangan bicarakan tentang pernikahan Anyelir dan Petir! Ingat itu!" Dengan tegas bu Tari mengingatkan mang Adji. Dia sangat ketakutan sekali.
"Kalian juga jangan bicara kalau kakak ada disini! mengerti kak?"
Timpal Kenari tak kalah takutnya.
"Iya bu, baik Kak! Assalamualaikum" Setelah berpamitan kepada semuanya, mereka pun berlalu meninggalkan rumahnya Bu Tari, yang berharap banyak.
*
"Bapak tak habis pikir bu, kalau benar dia yang menjadi dalang dari semuanya ini. Apa maunya?" Pak Jati garuk-garuk kepala tak gatal.
" Pelanin suaranya pak! Takut Cempaka dengar!" Bu Tari mengingatkan suaminya.
"Iya, iya, bapak lupa" Bisik pak Jati.
"Sampai kapan kita harus terus merahasiakan Kejadian yang sebenarnya pak? Ibu bingung" Keluh bu Sekar.
"Semampunya saja bu, habis mau bagaimana lagi? Semuanya tidak kita rencanakan"
"Kalau nanti Cempaka tahu tentang yang sebenarnya, bagaimana pak?" Bu Tari menerawang, membayangkan hal yang sangat ditakutinya.
"Entahlah, bapak tak sanggup untuk membayangkannya juga"
"Assalamualaikum, ibu, bapak, kak Cempaka, kami datang!" Seruni dan Kilat berteriak lantang dari pintu samping.
"Waalaikumsalam, ayo masuk! Dari mana saja adik-adiknya kakak ini? Tega-teganya enggak ngajak kakak" Sambut Cempaka, kangen.
Dua hari dua malam, dia tidak bertemu sama adik-adiknya itu.
"Dari rumahnya kak Petir" Sahut Seruni.
"Iya Cempaka, kamu kan kerja, terus kuliah. Jadi enggak kita ajak, ma'af ya!" Segera Bunga melanjutkan jawabannya, dia takut Seruni yang masih polos itu menceritakan sekelasnya.
"Iya, enggak apa-apa kak, aku cuma guyon saja" Cempaka tersenyum manis.
"Ma'af ibu, ini saya di suruh mengantarkan ini sama bu Tari, buat keluarga di sini!" Mang Adji menyampaikan titipannya bu Tari kepada bu Sekar.
"Ooh, iya trimakasih" Bu Sekar mencoba menyambutnya, padahal hati nya sangat kesal dengan ulah besannya itu.
"Apa bu?" Rupanya Cempaka merasa penasaran dengan isi hantarannya. Dia langsung membuka satu persatu hantaran yang sudah berjejer di atas meja makan.
"Kok! Seperti makanan prasmanan di hajatan ini" Gumamnya.
"Seperti hidangan prasmanan ini, memangnya ada acara apa di sana mang?" Tanya Cempaka.
"Emh, emh, itu, itu... Yang di tanya tidak bisa menjawabnya.
"Itu hidangan suguhan buat tamu yang datang nengok neneknya Petir yang lagi sakit. Bu Tari memang masaknya makanannya kayak makanan prasmanan" Bunga segera memberikan jawaban.
Sudut matanya mengerling ke arah mang Adji, memberi isyarat supaya mang Adji diam tidak melanjutkan jawabannya.
"Ooh, pantesan Kilat sama Seruni betah di sana, banyak makanan, enak-enak lagi" Seru Cempaka.
Mereka pun akhirnya ngobrol ngaler-ngidul sebentar, sebelum mang Adji dan Fajar berpamitan.
"Kilat, Seruni, sana mandi dulu!"
Bu Sekar mencoba menjauhkan Seruni dan Kilat dari Cempaka. Dia takut mereka berdua keceplosan bicara.
"Iya bu! Aku mandi dulu!" Mereka pun berlari ke belakang.
"Aku mau nyicipin makanannya, boleh ya bu!" Ujar Cempaka minta izin.
Bu Sekar sangat senang mendengarnya. Berarti, dia bisa nanya ini - itu kepada Bunga di ruang tengah. Karena, Cempaka asyik makan di ruang makan.
"Iya silahkan, sepertinya enak-enak masakannya" Ujar bu Sekar.
"Bunga? Kakak mu sebenarnya pergi ke mana?" Bu Sekar sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui keberadaan anak sulungnya itu.
"Enggak tahu bu" Bunga berbohong.
"Ma'afkan aku, ibu" Bathinnya.
"Pergi ke mana dia itu?" Gumam bu Sekar.
__ADS_1
**"