
Samudera terduduk lesu dengan wajah tertunduk lemah. Tulang yang menyangga tubuhnya seakan copot semua. Dia tak berdaya.
Serasa runtuh langit yang menaunginya. Wajahnya pucat pasi seakan aliran darah telah terhenti mengaliri seluruh tubuhnya.
Dunia terasa gelap gulita, dia tertunduk lesu, matanya tak berani menatap wajah perempuan yang begitu dia cintai, yang kini berada
tepat di hadapannya.
"Buana menikah dengan perempuan lain?..., Cempaka terus terang aku tidak rela kamu di sakiti oleh Buana. Bukankah waktu itu, kedua orangtuamu tidak menerima lamaranku hanya karena Buana akan segera menikahimu? Ini tidak bisa di biarkan. Siapa nama Buana sebenarnya? Dan dimana dinasnya? di polres atau di polsek? dimana Cempaka? Ayo katakan padaku, aku akan membuat perhitungan dengannya!" ucap Samudera dengan geramnya.
"Samudera, sadarlah. Tidak perlu kau melakukan itu, aku malu kalau kau melabraknya. Apalagi sampai terjadi keributan, aku tidak mau itu terjadi. Tenangkan hatimu, kalau kau sayang padaku, sudahlah tidak usah kau datangi dia. Mungkin ini semua sudah nasibku" bergetar bibir Cempaka mengatakannya.
Samudera makin bertambah menyesal saja. Perempuan yang dia cintai, telah ditinggalkan oleh pria pilihan orangtuanya.
Yang kini, perempuan itu sudah pula dia tinggalkan olehnya. Walaupun itu secara tak sadar. Karena dia terdorong oleh emosi karena berita yang belum tentu kebenarannya.
Walau dengan tidak dia sadari, dia telah ikut menyakitinya. Melukai hati dan perasaannya Cempaka, perempuan yang telah membuatnya punya semangat untuk menjadi seorang prajurit, abdi negara.
"Samudera, kamu kenapa? Harusnya kau bahagia mendengar berita itu. Karena, aku tidak jadi menikah dengan Buana"Cempaka bertanya dengan ketidak mengertiannya.
Samudera makin tertunduk lesu.
Terlihat dia menitikkan airmata.
Dia menangis karena merasa menyesal, telah mengambil tindakan yang gegabah.
"Kamu menangis...? Kenapa?" bisik Cempaka sambil mencoba
mendongakkan wajahnya Samudera. Dia usap airmata yang masih membasahi kedua pipinya.
"Ma'afkan aku" Ucapnya lirih.
"Ma'afkan aku" dia mengulangi
ucapannya.
"Untuk apa kau meminta ma'af?"
Cempaka tidak mengerti.
"Aku sudah menyakitimu" Ucapnya lagi, diapun menundukkan kepalanya kembali. Seakan tak ada kekuatan untuk menatap wajahnya Cempaka, yang begitu dia sayangi.
"Kamu..., menyakiti aku? Maksudnya?" Cempaka semakin tak mengerti.
"Karena mendengar kamu sudah menikah dengan Buana, maka...,
akupun segera menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai"
dengan suara yang pelan dan berat, akhirnya Samudera mengatakannya.
" Haaah!" seketika Cempaka melepaskan pegangan tangannya Samudera, dia menjauhkan badannya, dia menatap tak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya barusan. Langsung dari mulut lelaki yang dia sayangi itu.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar?..., kamu..., kamu tidak sedang bercanda kan?" Cempaka tidak merasa yakin dengan pendengarnya. Dengan bibir yang bergetar dia memastikannya.
Dia merasakan sudut matanya mulai memanas, satu bulir bening airmatanya tak dapat dia bendung. Terasa berdesir perih sudut hatinya. Sakit dan pedih.
Cempaka menangis pilu.
"Dengarkan dulu penjelasanku
Cempaka, aku tidak berniat untuk menyakiti perasaan mu"dengan
panik, Samudera mencoba menenangkan Cempaka.
"Maksud kamu...,? tidak menyakiti tapi, mengecewakan aku, melukai hatiku, balas dendam maksudmu?" Cempaka meradang.
"Bukan itu, sama sekali aku tidak berniat untuk melakukan semua yang kau tuduhkan itu" Samudera mencoba meredam emosinya Cempaka.
"Sebaiknya kamu harus tahu, apa yang telah terjadi kepadaku. Setelah aku pulang dari rumahmu waktu itu. Hatiku hancur, jiwaku roboh, kecewa, sedih, perih, luka dan berbagai perasaan bergulung menjadi satu. Aku tak dapat mengendalikan emosi dan perasaanku, aku hancur Cempaka" Samudera mulai menuturkan penderitaan yang dia alami waktu itu.
Hingga dia ngamuk dan di skor dari kesatuan tempatnya dinaspun dia ceritakan semua.
Cempaka mendengarkan dengan tak henti-hentinya menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian melepaskannya perlahan, seakan ingin melepaskan beban yang ada di dalam hatinya.
"Waktu aku bertemu dengan mang Ramdhan bersama istrinya. Yang waktu itu mau berangkat ke rumahmu, untuk menghadiri resepsi pernikahan. Waktu aku tanya, siapa yang akan menikah? Katanya Neng yang akan menikah. Disana darahku serasa mendidih, tak kuasa lagi aku menahan semua penderitaan yang telah keluargamu berikan kepadaku, aku sudah tidak bisa mengontrol diriku sendiri, aku kalap" ungkap
Samudera, dia menghela nafasnya dalam-dalam.
Cempaka menyimaknya serius.
rasa penyesalan yang teramat sangat terpancar di wajahnya Samudera kala itu.
"Ku kira, kamu yang waktu itu menikah dengan Buana. Makanya aku segera mencari seorang gadis yang mau aku nikahi, yang wajahnya sedikit mirip denganmu. Walaupun, aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin melampiaskan kekecewaan ku, dan segala sakit hatiku sa'at itu. Aku menyesal!" Lanjutnya lagi.
Cempaka tak bisa berkata-kata lagi, lidahnya terasa kelu, darahnya seakan berhenti mengalir. Entah harus bagaimana Cempaka menerima kenyataan ini? Harus sedihkah?
Atau..., bahagia?..., haruskah dirinya menangis?
Yang dapat di lakukan nya hanyalah tercenung dan mematung, diam membisu seribu bahasa.
Cempaka tak bisa menyalahkan Samudera, karena dia berbuat begitu disebabkan dia telah mendapatkan kekecewaan dari dirinya dan keluarganya.
"Ma'afkan aku Cempaka, ma'afkan aku." ucapnya lagi sambil menangis penuh penyesalan.
Cempakapun meneteskan air matanya sa'at Samudera memeluknya.
Keduanya berpelukan sambil berurai airmata. Tangisannya mewakili penyesalan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Penyesalan yang telah mendera jiwa yang hampir roboh.
"Samudera, " Cempaka berbisik lirih. Di lepasnya tangan yang memeluknya itu perlahan. Lalu di genggamnya, sambil di tatapnya wajah tampan yang kini berada tepat di depan matanya.
"Aku sangat menyesal telah gegabah menikahi perempuan lain, seandainya..., aku tahu bahwa yang menikah itu kakakmu, pasti penyesalan ini tidak akan pernah terjadi. Ma'afkan aku!" ucapnya lagi. Matanya nanar menatap Cempaka.
__ADS_1
"Mungkin kita tidak berjodoh" ucap Cempaka, setelah dia menarik nafasnya dalam-dalam serta menghembuskannya kembali. Dia berharap, sedikit bebannya akan pergi bersama hembusan nafasnya.
"Jangan katakan itu!" jat tangan Samudera ditempelkan ke bibirnya Cempaka. Dia tidak mau mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya Cempaka.
"Aku berharap, suatu sa'at kita akan bersatu" ucap Samudera
perlahan.
Buliran bening jatuh dari sudut matanya Cempaka. Mungkin sebagai jawabannya.
"Simpan air mata mu, aku berharap kau mau mema'afkan aku." di usapnya air mata yang membasahi pipinya Cempaka.
"Kau tidak bersalah, seharusnya aku yang harus meminta ma'af kepadamu. Karena akulah engkau berbuat begitu. Ma'afkan kedua orangtuaku juga, karena telah membuatmu kecewa dan terluka hatimu"Cempaka menghiba.
"Aku ingin kembali bersama mu, aku tak mau hidup bersama perempuan yang tidak aku cintai.
Kau mau kan menerimaku lagi?"
Samudera berharap.
"Kau baru saja menikahinya, walau itu secara terpaksa. Bukannya aku tidak mencintaimu
bukannya aku tidak mau menerima mu kembali. Namun, aku tidak mau ada hati yang terluka. Tetaplah bersamanya, walau kita tidak bersatu. Tapi, cinta dan sayangku hanya untukmu" ucap Cempaka lirih.
"Hatimu sungguh mulia, itu yang membuatku begitu menyayangi dan mencintaimu" ucap Samudera.
Ingin rasanya Cempaka mengatakan kebohongan tentang desa Jangkurang itu. Namun, dia tak mau menambahkan beban derita kepada Samudera.
Dia tak mau menorehkan sembilu, di atas luka yang belum mengering itu. Dia tak mau luka itu kembali menganga sebelum mengering.
Biarlah dirinya yang menanggung beban derita itu. Biarlah sembilu
tipis itu menyayat hatinya.
"Aku mau ke toko obras" ucap Cempaka, setelah beberapa sa'at mereka membisu. Terbawa suasana yang menyelimuti hati dan perasaan mereka berdua.
"Aku masih ingin bersamamu. Izinkan aku untuk menemanimu"
sahut Samudera pmemohon.
Cempaka menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Akupun tidak mau berpisah lagi denganmu" bisiknya.
Namun, Cempaka sadar, kalau sekarang Samudera sudah ada yang memiliki.
"Aku tidak mendengarnya, boleh kau ulangi sekali lagi? Aku ingin mendengarnya dengan jelas" Samudera memintanya.
"Sudah ah..., ayo! Nanti keburu siang, panas di jalannya." ajak Cempaka sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mereka pun akhirnya berjalan berdua, berdampingan. Melepas rindu yang terbelenggu dusta.
__ADS_1
Dan..., kebersamaannya itu mungkin yang terakhir kalinya.