
"Ayo! Kita berangkat sekarang!" Kenari mengajak Cempaka untuk segera berangkat, setelahnya Cempaka selesai bersiap-siap.
"Tapi kiranya uangku tidak akan cukup buat biaya ongkos dan makan kita berdua" Cempaka menghitung uangnya.
"Buat ongkos kakak, biarin kakak sendiri saja, tidak perlu kau tanggung" Kenari mencoba untuk berbaik hati, sekedar mengharap simpatik dari adiknya.
"Enggak apa-apa, nanti juga akan tergantikan kembali. Malah akan lebih tergantikan dengan kepuasan batinku ini. Hatiku akan berbunga-bunga melihat kau sengsara, Cempaka" Bathin Kenari.
"Ayolah! Tidak baik menunda-nunda pekerjaan yang baik. Ini kan pekerjaan yang mulia, yang sangat baik, jadi buat apa kita menundanya? Ayo, kita let's go!" Kenari kembali mengajaknya, dia takut Cempaka atau kedua orangtuanya akan berubah pikiran.
"Kalau salah satu dari mereka ada yang berubah pikiran, bisa gawat ini! Bisa habis aku di marahi oleh ibu dan bapak" Dalam hatinya Kenari ketar-ketir, karena upayanya belum berhasil.
"Sebentar kak! Sepertinya aku masih kebingungan ini!" Cempaka yang belum sepenuhnya terpengaruh oleh jampi-jampi dari Eyang itu, masih merasa kebingungan.
"Makanya jangan kebanyakan mikir! Kalau sudah siap, ya ayo kita berangkat! Nungguin apa lagi?" Kenari terlihat panik setelah mengetahui bahwa adiknya belum sepenuhnya terpengaruh oleh jampi-jampi nya Eyang.
"Ibu, bapak, kami berangkat sekarang"Kenari segera mencium tangan bu Sekar dan pak Jati, lalu menarik tangannya Cempaka.
"Sebentar kakak, aku kan belum pamitan sama bapak dan ibu, aku juga belum cium tangan keduanya, aku ingin minta restu dulu. Ini untuk pertama kalinya aku akan berangkat jauh meninggalkan ibu sama bapak"
Cempaka mengibaskan tangannya, supaya lepas dari cengkeramannya Kenari.
"Ya baiklah! Ayo! Jangan lama-lama! Nanti keburu siang!" Kenari melepaskan pegangannya.
"Bu, pak, aku pamit ya! Do'akan aku biar selamat sampai tujuan, dan selamat hingga pulang kembali ke rumah ini" Cempaka bersimpuh meminta do'a kepada kedua orangtuanya.
"Pergilah, nak! Kami selalu mendo'akan di manapun kalian berada. Semoga selamat dan mendapatkan kebahagiaan" Ucap bu Sekar, matanya menatap Cempaka dengan penuh kasih sayang yang tulus, kasih sayang seorang ibu.
"Kalian hati-hati di manapun kalian berada" Ucap pak Jati.
"Assalamualaikum" Ucap Cempaka. Suaranya seperti yang menggambarkan keterpaksaan.
"Alhamdulillah, akhirnya kau mau juga di ajak ke sana!" Kenari berseru kegirangan.
"Biasa saja kali, tidak usah over begitu" Celetuk Cempaka.
"Kenapa ya Kenari begitu girangnya, seperti ada apa-apanya" Gumam bu Sekar curiga.
"Sebenarnya bapak juga terpaksa mengizinkan Cempaka pergi bersamanya. Teringat masa lalu, di mana Kenari memperdayai Cempaka" Ucap pak Jati pula.
"Tapi, semoga saja kini dia sudah benar-benar berubah" Bu Sekar tidak tahu bagaimana maksud dan tujuannya Kenari terhadap Cempaka, adiknya sendiri.
Sementara itu Cempaka yang tengah berjalan bersama Kenari, wajahnya tak sedikitpun kelihatan bahagia.
Sebaliknya dengan Kenari, wajahnya begitu sumringah, cerah ceria seperti yang tengah mendapatkan kebahagiaan yang teramat sangat.
"Cempaka! Tahu enggak? Kakak itu begitu sangat bahagia sekali karena kamu mau di ajak pergi bareng kakak. Sebelumnya kamu kan sulit sekali di ajak pergi bareng begini. Emh, kamu hari ini berarti, tidak masuk kerja ya?" Kenari membuka percakapan, sambil menunggu Bis kota yang sebentar lagi akan berangkat menuju ke terminal Ci Caheum.
__ADS_1
Cempaka hanya melirik ke arah kakaknya dengan sudut matanya. Dia masih bimbang sebenarnya dengan keberangkatannya ini.
"Kau kan mau bertemu calon suamimu dan juga calon mertuamu. Kenapa tidak secerah mentari pagi wajahmu itu?" Kenari mengarahkan wajah adiknya itu ke hadapannya. Mereka sudah mendapatkan tempat duduk, bersebelahan.
"Kakak! Ini di tempat umum, kak! Apa-apaan sih?" Cempaka merasa risih di perlakukan seperti itu oleh kakaknya, mana di tempat umum lagi.
"Kakak tidak mau kau bersedih, adikku! Masa depanmu sudah menantikan mu!" Kenari memeluk Cempaka dengan kedua tangannya, terlihat seperti yang begitu sayang kepada adiknya, bagi yang belum tahu yang sebenarnya.
"Kakak, jangan begini ah, risih!"
Cempaka mencoba berontak ingin melepaskan diri dari pelukan kakak sulungnya itu.
Para penumpang lain pun mengarahkan pandangannya kepada kedua kakak beradik itu, di penuhi dengan tanda tanya.
"Caheum! Caheum! Caheum habis!" Suara teriakan kondektur yang sangat lantang itu, mampu melonggarkan pelukannya Kenari.
"Alhamdulillah" Ujar Cempaka bersyukur karena sudah merasa
terlepas dari cengkeramannya Kenari.
Itu adalah cengkraman yang tidak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan cengkraman Kenari yang akan segera di tancapkan ke dalam kehidupannya Cempaka nanti.
Hanya tinggal menghitung hari saja, Cempaka yang polos itu akan jatuh ke dalam cengkeramannya Kenari dan juga Karmin sang buaya darat, lelaki hidung belang yang jadi bonekanya Kenari.
Sungguh Tragis memang, kehidupannya Cempaka yang sudah penuh dengan derita itu, kini akan di tambah lagi dengan penderitaan yang teramat sangat dahsyat. Yang tak akan pernah di bayangkan oleh perempuan manapun juga.
"Itu kak! Bis yang menuju ke Indramayu!" Cempaka menunjukkan jarinya ke arah Bis yang berwarna biru dan putih, yang ada tulisan Bandung - Indramayu.
"Ayo kita ke sana! Biar tidak kehabisan tempat duduk" Kenari setengah berlari menarik tangannya Cempaka.
"Masih banyak kursi yang kosong, kak! Tenang saja" Ujar Cempaka setelah mereka berada di dalam Bis itu.
"Kakak cuma ketakutan saja, kalau kita tidak kebagian tempat duduk, berarti kita harus berdiri. Wow! Sangat tidak nyaman, mana jauh lagi, bisa-bisa kita mati berdiri kalau harus berdiri sampai ke sana hingga berjam-jam lamanya" Dengan genit Kenari bertutur.
Tanpa berkata apapun, Cempaka memilih tempat duduk yang di bagian tengah, dekat jendela.
Dengan gaya centil dan genitnya, Kenari mengikuti adiknya. Lalu duduk di samping Cempaka.
Matanya yang ****** itu nampak jelalatan seperti yang tengah mengincar mangsa.
"Kamu kenapa sih, tidak banyak bicara? Kita berangkat berdua. Tapi, suasana sepi tak ada pembicaraan" Ujar Kenari.
"Aku lagi malas bicara, kak!" Sahut Cempaka.
"Kamu pasti merasa khawatir dengan keadaannya Karmin kan?" Kenari asal tebak saja.
"Siapa bilang? Ngapain pula aku mengkhawatirkan si Karmin, teman bukan saudara juga bukan" Sahut Cempaka sewot.
__ADS_1
"Habis lagi mikirin siapa, kalau bukan mikirin mas Karmin?" Kenari menggodanya.
"Aku teringat temanku, sebelum berangkat aku lupa tidak memberinya kabar, kalau aku mau ke Indramayu. Mana dia itu orangnya baik banget, berpendidikan, ganteng lagi" Ujar Cempaka.
"Berarti, teman yang kamu maksud itu, laki-laki?" Kenari terkejut mendengarnya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Itu, teman dekat kamu?"
"Iya! Dia seorang anggota Polisi militer, walaupun anak orang kaya, tapi dia tidak sombong. Keluarganya juga sangat baik dan ramah-ramah" Cempaka menjelaskan tentang keluarga temannya itu.
Kenari terperangah, matanya melotot menatap Cempaka, dengan mulut yang terbuka, penuh dengan rasa heran dan tak percaya.
"Kenapa, kak?" Cempaka melambaikan tangannya di depan wajah kakaknya.
"Eng, tidak! Tidak! Tidak ada apa-apa" Sahutnya tak berterus terang.
"Cempaka ternyata sudah punya teman dekat, polisi militer lagi. Berarti, ini kesempatan yang harus aku gunakan sebaik-baiknya. Sa'at ini juga, dia harus menikah! Supaya dia tidak jadi dengan Polisi militer itu. Bagaimana pun caranya, Cempaka harus menikah dengan Karmin! Tidak boleh gagal!" Kenari bergumam perlahan.
"Kakak bicara apa, kak?" Cempaka menangkap kata-katanya Kenari yang samar- samar terdengar di telinganya.
"Enggak bicara apa-apa, cuma sedikit kesal saja"
"Kesal kenapa?" Desak Cempaka.
"Ini, Bis nya belum mau berangkat juga" Kenari berbohong.
"Ooh, kirain apa?" Cempaka diam lagi.
"Aku kesal karena ternyata kamu punya teman pria, aku takut kalau kamu sampai jadi menikah dengan dia. Aku tidak rela! Aku tidak terima!" Bathin Kenari.
"Aku harus memutar otak nih, supaya si Cempaka jadi menikah dengan si Karmin. Tapi, bagaimana caranya ya?" Kenari nampak merenung seperti ada yang tengah dia pikirkan.
Tak berapa lama kemudian, Bis pun beranjak meninggalkan Terminal Ci Caheum, menuju ke tempat tujuan, yaitu Indramayu.
Kota perbatasan Jawa barat dan Jawa tengah.
Cempaka terdiam, ingatannya terpaut pada temannya, hatinya seakan berbisik bahwa sesuatu yang tidak pernah dia harapkan, akan terjadi. Tapi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi itu.
Sedangkan Kenari, otaknya tengah di peras sekuat mungkin. Dia tengah mencari cara supaya Cempaka jadi nikah dengan Karmin!
"Bagaimana ini?" Dia bertanya kepada dirinya sendiri di dalam hatinya.
"Kalau aku langsung menyarankan mereka untuk menikah, sepertinya tidak mungkin itu. Pasti Cempaka akan marah, bisa - bisa dia kabur dariku" Bathinnya lagi.
Sepanjang perjalanan, Kenari terlihat sangat gusar. Wajahnya yang tadi terlihat sumringah, kini telah berubah menjadi muram durja karena ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
__ADS_1
***