
"Besan, kami mau izin ke Masjid dulu sebentar" Ujar pak Andro, di iringi anggukan oleh istrinya.
"Waktu sholat kan masih lama." Bisik Petir.
"Iya, bapak juga tahu!" Sahutnya.
"Lalu?"
"Ada sesuatu yang mesti bapak sampaikan di masjid! Ini penting sekali! Demi kelangsungan hubungan rumah tangga kamu!" Ujar pak Andro.
"Ada apa ya pak? Saya rasa, waktu sholat masih lama" Pak Jati bertanya heran.
"Kami ada kepentingan pak. mohon izin" Ucapnya lagi.
"Ooh, iya silahkan!" Ujar pak Jati pula. Dia mempersilahkan besannya. Walau hati tak mengerti maksud dan tujuan besannya itu.
"Kami tinggal dulu besan" Sungkan sekali pak Andro mohon diri untuk ke masjid.
"Iya pak, silahkan!"
*
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatu"
Beberapa menit kemudian terdengar suara pak Andro dari speaker Masjid.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokaatu... Seperti suaranya pak Andro" Gumam pak Jati.
"Iya pak! Itu memang suaranya pak Andro!" Seru bu Sekar.
"Sebelumnya kami sekeluarga minta ma'af kepada seluruh warga yang ada di kampung ini. Karena saya sudah lancang menggunakan speaker ini untuk keperluan keluarga kami" Pak Andro berhenti sejenak.
"Apa maksudnya ya pak?" Bu Sekar bertanya tak mengerti.
"Entahlah, kita dengarkan saja"
Sahut pak Jati.
" Dan, kami perkenalkan diri kami. Bahwa kami adalah besannya keluarga pak Jati Sudrajat. Dengan ini kami bermaksud akan meminta ma'af dan juga akan membersihkan nama baik keluarganya pak Jati, yang mana telah tercemar gara-gara keluarga kami tempo hari itu" Terdengar jelas suaranya pak Andro.
"Ooh, besar juga nyalinya" Ujar bu Sekar tersenyum tipis.
"Bu! Bahaya bu! Cempaka! Kalau Cempaka dengar, pasti dia akan nanya ini - itu, bahaya ini. Bapak ke Masjid dulu sebelum pak Andro menjelaskan yang sebenarnya"
Pak Andro terperanjat, dia sangat ketakutan sekali kalau Cempaka sampai tahu hal yang sebenarnya.
"Hah? Iya pak! segera bapak ke Masjid! Aduuh benar - benar bahaya ini!" Bu Sekar pun terperanjat setelah dia menyadarinya.
"Assalamualaikum!" Pak Jati setengah berlari menuju ke Masjid, untuk menemui besannya.
*
"Hah, heh, hah, Assalamualaikum besan, stop! Besan stop!" Dengan terengah-engah, pak Jati berusaha untuk menghentikan perkataan besannya.
"Waalaikumsalam, besan?" Pak Andro menghentikan perkataannya. Matanya menatap ke arah datangnya pak Jati yang jadi besannya.
"Besan, sebaiknya hentikan biantara lewat speakernya. Saya rasa itu tidak efektif, soalnya tidak semua warga kampung ini mengetahuinya.
Besan saya itu yang mana orangnya?" Tutur pak Jati, mencoba menjelaskan kepada pak Andro.
"Jadi? Maksud besan saya harus bagaimana untuk membersihkan nama baik keluarga besan? Kalau menurut saya, ya dengan biantara lewat speaker Masjid ini, jadi semua bisa mendengarnya" Pak Andro menuturkan maksudnya.
"Ma'af besan, rupanya besan sudah lupa tentang Cempaka, kakaknya Anyelir yang telah kita bohongi tentang pernikahannya Anyelir. Bahkan, tidak ada apapun untuk tanda matanya. Karena itu, kami tidak mau dia mengetahui semuanya. Apalagi dia mendengarnya langsung dari besan. Luka hatinya yang belum kering, pasti tertoreh lagi. Kami tidak mau itu terjadi besan. Kalau Cempaka bertanya ini - itu, kami harus jawab apa?" Pak Jati menjelaskan ke khawatirannya.
"Jadi? Kami harus bagaimana?"
Tanya pak Andro.
__ADS_1
"Menurut hemat saya, biar semuanya jelas mengenai permasalahan yang sudah terjadi waktu itu, alangkah lebih baiknya besan mendatangi rumah penduduk di sini satu persatu. Perkenalkan diri besan pada mereka, dan utarakan semua permasalahan ini. Dengan cara begitu, InsyaAllah seluruh warga pasti akan memahaminya" Tutur pak Jati.
"Karena, mereka bisa langsung bertemu dengan besan. Jadi, tidak hanya mendengar suaranya saja. Biar nanti saya temani untuk keliling kampung ini, menemui seluruh warga" Lanjut pak Jati. Dia menawarkan diri untuk menemani besannya keliling kampung.
Semua dia lakukan hanya untuk Cempaka!
Dia tidak mau Cempaka mengetahui rahasia yang selama ini dia tutupi.
"Itu enggak benar, besan! Masa kami harus berkeliling kampung
mendatangi rumah penduduk satu persatu?" Bu Tari nyolot.
"Apa mempermalukan besan sendiri itu, perbuatan yang benar?" Pak Jati balik bertanya.
Seketika merah padam pipinya bu Tari.
"Bu, kita sudah salah! Kita lakukan saja, daripada kita terus bersitegang dengan keluarga besan, ayo!" Ujar Prima sambil beranjak pergi.
"Mari pak!" Ujarnya sambil manggut kepada pak Jati.
Merekapun berangkat beriringan, mendatangi tetangga pak Jati satu persatu untuk meminta ma'af,dan menjelaskan semuanya. Terutama waktu pernikahannya Anyelir dan Petir yang di laksanakan secara dadakan.
"Assalamualaikum... " Pak Andro mengucapkan salam di depan rumahnya salah seorang tetangga pak Jati.
"Waalaikumsalam... Ada apa ya?" Yang punya rumah bertanya heran.
" Perkenalkan, kami ini besannya pak Jati. Kami sengaja datang ke sini untuk mengutarakan yang sebenarnya tentang pernikahan Anyelir dan Petir yang dadakan itu, adalah atas dasar kelicikan kami, Bukan karena Anyelir kecelakaan hamil duluan atau apapun. Itu murni itikad kami yang terburu-buru. Untuk itu Kami sengaja datang menemui bapak, ibu dan saudara semuanya karena ingin membersihkan nama baik keluarga besan kami, yang telah tercemar, di anggap ternoda karena pernikahan Anyelir tempo hari itu." Tutur pak Andro dengan muka yang merah padam, menahan malu.
"Iya ibu, bapak, semoga kedatangan kami ini bisa membuat nama baik keluarga besan kami kembali bersih seperti dulu, sebelum kami mencorengnya"Tutur bu Tari.
"Jadi, kalian yang punya ide gila itu? Bikin kami salah sangka dengan pernikahannya Anyelir. Sampai- sampai kami membenci keluarga pak Jati, yang tidak punya perasaan terhadap anaknya sendiri" Tetangga yang di datangi menyolot kesal kepada bu Tari.
"Iya bu, kami minta ma'af" Ujar bu Tari, menahan malu.
"Lain kali kalau mau bertindak itu harus dipikirkan terlebih dahulu! Jangan seenaknya saja, merugikan orang lain" Ibu tetangga itu nyolot kembali, bicaranya bahkan sampai mencak-mencak.
Begitulah, pak Andro sekeluarga di temani oleh besannya, pak Jati berkeliling mendatangi rumah penduduk satu persatu.
Tiap pintu mereka ketuk, ucapkan salam dan selanjutnya pak Andro dan bu Tari membeberkan semua kesalahan yang telah mereka perbuat terhadap keluarga pak Jati. Dan, tak lupa memohon ma'af serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Setiap yang di datangi, hampir semuanya merasa kesal kepada keluarganya pak Andro dan bu Tari.
Tak jarang ada yang mencak-mencak menyalahkan keluarga pak Andro yang memang bersalah.
Ada pula yang menyalahkan pak Jati dan bu Sekar karena tidak teliti dan tidak punya ketegasan.
Seperti waktu itu.
"Bapak dan ibu Tari kan sudah dewasa, sudah tua. Kenapa bisa - bisanya berbuat serendah itu? Mencari kesempatan dalam kesempitan, ingin menang tanpa peduli kepada orang lain. Apa bapak dan ibu punya agama tidak? Punya hati nurani tidak? Punya perasaan tidak?"
Bi Ijah yang waktu itu kena giliran di datangi, begitu menyalahkan keluarga pak Andro.
"Ini lagi, pak Jati dan bu Sekar. Kenapa pula bersikap lemah seperti itu? Harusnya bapak dan bu Sekar itu bersikap tegas, jangan mengiyakan saja semua perkataan calon besan. Kalau dia benar-benar sayang sama anak kita, menghargai kita. Pasti tidak akan bertindak semena-mena begitu. Aneh, padahal pak Jati dan bu Tari itu orang yang terpandang, di segani, di hargai oleh seluruh warga di kampung ini. Karen, semua tahu keluarga pak Jati itu orang yang baik. Tapi, kenapa ada orang yang tega menyakiti dan mempermalukannya? Ucapnya lagi. Netranya tak lepas memandangi pak Jati, dan keluarganya pak Andro sambil geleng-geleng kepala.
"Iya bi, kami merasa lemah di hadapan mereka yang tega melakukan semua ini. Kami juga tidak tahu, kenapa waktu itu sikap tegas saya bisa hilang tanpa sebab, kami menyesal bi Ijah, apalagi kini kami harus merahasiakan semua ini dari kakaknya Anyelir, yaitu Cempaka. Berat rasanya pundak ini memukulnya" Tenggorokan pak Jati seakan tercekat, suaranya parau menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Berarti, Neng Cempaka belum tahu kalau dia itu di langkahi oleh adiknya?" Melotot matanya bi Ijah seperti hendak loncat, mendengar penuturan tetangganya itu.
"Iya bi Ijah" Sahut pak Jati lirih.
"Dan, semua itu adalah ulah kalian! Kesalahan kalian! Dasar! Tidak bertanggung jawab! Kalau seandainya hal ini menimpa keluarga kalian, apa kalian sanggup memukulnya? Apa kalian sanggup menghadapi semuanya? Sementara keluarga pak Jati mesti setiap sa'at, setiap waktu tiap detik, tiap menit bertemu dengan Cempaka, anaknya sendiri yang tidak boleh tahu tentang rahasia ini" Lanjut bi Ijah lagi.
"Kalian ini benar-benar tidak punya adab dan perasaan! Bagaikan bukan manusia saja"
Ujar bi Ijah, telunjuknya hampir menyentuh batang hidungnya pak Andro.
"Sabar ya pak, kami sekeluarga ikut merasa prihatin dengan adanya kejadian ini. Semoga saja semua orang yang telah seenaknya mendzalimi keluarga pak Jati, segera mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Dan pak Jati sekeluarga di berikan umur yang panjang, kesehatan serta rezeki yang melimpah Amiin ya Allah" Ujar bi Ijah lagi, matanya mendelik kesal ke arah pak Andro dan bu Tari.
__ADS_1
"Amin ya Allah" Ucap pak Jati sambil menadahkan tangannya.
"Bi, kami permisi dulu bi, masih banyak tetangga yang lainnya, yang belum kami datangi" Pak Jati mohon diri.
"Iya bu, kami ingin segera menyelesaikan masalah ini dengan secepatnya. Biar hati kami tenang" Susul pak Andro.
"Iya memang harus begitu! Berani berbuat harus berani untuk bertanggung jawab!" Sahut bi Ijah, tak bersahabat.
"Kami pamit, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, yang sabar ya pak Jati! Kasihan sekali, punya besan enggak punya otak" Gumam bi Ijah, yang membuat bu Tari dan pak Andro sekeluarga, menoleh dan menatap sinis kepada bi Ijah untuk beberapa sa'at.
Merekapun lalu melanjutkan misinya, berkeliling mendatangi seluruh keluarga, tetangganya pak Jati, yang ada di kampung itu.
Lumayan lama juga mereka berkeliling, mendatangi satu persatu tetangganya pak Jati untuk menjelaskan dan meminta ma'af kepada mereka.
"Masih banyak pak?" Petir memberanikan diri untuk bertanya kepada mertuanya.
"Jangan banyak bertanya! Lakukan saja, ini semua gara-gara kamu, yang minta nikah cepat dengan tanpa meminta izin dan restu dari kakak iparmu. Biar tidak memberikan apapun sebagai pengganti melangkahi kepada kakak iparmu, iya kan?" Akhirnya Prima mengutarakan alasannya.
"Ooh, rupanya begitu alasannya, sehingga waktu itu kalian langsung membawa petugas kua ke rumah kami, dengan tanpa meminta persetujuan dari kami. Sungguh tak punya adab" Ujar pak Jati semakin kesal.
Keluarga pak Andro hanya diam menunduk, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
*
"Pak Andro itu mau mengumumkan apa bu? Kan pak Andro bukan orang sini" Cempaka bertanya tak mengerti.
"Lalu, kenapa bapak begitu terburu-buru menuju ke Masjid?
Sampai berlari segala, memangnya ada apa bu?" Tanya Cempaka lagi, setelah pak Jati keluar dan berlari menuju ke arah Masjid.
"Emh, ibu juga enggak tahu tentang maksudnya pak Andro. Makanya bapakmu segera ke sana, Sebelum pak Andro mengutarakan semuanya, bapakmu ingin tahu dulu apa yang akan dia sampaikan nya itu. Takutnya, ada sesuatu yang penting" Sahut bu Sekar, kembali menjawab dengan kebohongan.
"Kamu tidak bakalan tahu, dek! Soalnya kamu tidak boleh mengetahuinya" Ujar Kenari.
" Jangan di dengarkan ucapan kakakmu itu!" Bu Sekar mendelikkan matanya ke arah Kenari.
"Eeh! Iya enggak apa-apa" Ujar Kenari lagi, meralat ucapannya.
"Sepertinya akhir- akhir ini ada yang aneh di dalam keluarga kita ini" Cempaka menduga-duga.
"Ah, enggak ada apa-apa, itu cuma perasaan kamu saja" Bu Sekar sedikit kaget.
"Tapi, beda bu rasanya. Terutama dengan Anyelir, akhir-akhir ini dia jadi sering tidak pulang ke rumah, dia jadi sering nginap di rumah neneknya Petir. Apa ibu sama bapak tidak khawatir? Rumah neneknya Petir bukannya dekat dengan rumah orangtuanya Petir! Dan, kenapa ibu sama bapak mengizinkannya, mereka kan baru tunangan" Cempaka merasa tidak setuju.
"Emh, bagaimana ya? Ibu kasihan sama neneknya Petir, dia kan sendirian di rumahnya. Jadi, tidak ada salahnya kalau Anyelir menemaninya" Kebohongan lagi yang keluar dari mulutnya bu Sekar.
"Anyelir kan,
"Kenari, coba lihat anakmu! Takut dia bangun!" Bu Sekar memotong perkataannya Kenari. Dia ketakutan sekali kalau Kenari akan membongkar rahasia tentang pernikahannya Anyelir yang di rahasiakan dari Cempaka.
"Iya bu" Dengan malas, Kenari berlalu menuju ke kamarnya Seruni untuk melihat anaknya yang sedang tidur.
"Bapak kok lama ya?" Bu Sekar bergumam.
" Padahal jarak dari sini ke Masjid kan dekat. Kalau berjalan juga tidak akan menghabiskan waktu lima menit" Gumamnya lagi, matanya menatap ke arah pintu keluar, berharap suaminya akan muncul di sana.
Sementara itu yang di tunggu-tunggu oleh bu Sekar, tengah berjalan beriringan untuk kembali ke rumahnya.
Karena, mereka baru saja menyelesaikan misinya di rumah yang terakhir. Yaitu, rumah orangtuanya Buana.
Besan yang tidak jadi.
"Alhamdulillah, akhirnya kelar juga tugas kita" Ucap Petir.
"Iya, semoga saja rahasianya bisa tertutup hingga Cempaka punya suami, biar kita tidak usah nyari alasan lagi" Ujar bu Tari.
__ADS_1
"Assalamualaikum" Pak Jati mengucapkan salam sebelum dia masuk ke rumahnya.