
"Bagaimana ini pak Ustadz?"
Bu Sekar bertanya kepada pak Ustadz, setelah semua yang terjadi pada pernikahannya Cempaka di beberkan kepada beliau.
"Memang sangat berat semua kenyataan yang di hadapi oleh neng Cempaka ini. Namun, mau bagaimana lagi? Karena, semua sudah terjadi tanpa bisa kita cegah. Dengan kenyataan ini, saya rasa kita harus berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada, terutama neng Cempaka"
Pak Ustadz berhenti sejenak, seperti yang ingin mengetahui reaksi dari penuturannya barusan.
Bu Sekar saling tatap dengan suaminya, seakan dia belum memahami semua perkataannya pak Ustadz.
"Maksudnya?" Cempaka juga merasa belum memahaminya.
"Begini, neng Cempaka. Karena pernikahan antara neng Cempaka dengan saudara Karmin telah terjadi, dan tidak bisa di batalkan kembali. Karena, kemarin semua yang turut menghadiri nya telah menyaksikan akad nikah itu. Dan semuanya sudah mengatakan bahwa pernikahannya neng Cempaka itu adalah pernikahan yang syah. Karena, kedua mempelai nya ada, walinya ada, maharnya juga waktu kemarin kan ada. Jadi saya rasa tidak bisa kalau pernikahan kemarin itu tidak syah atau batal"
Lanjut pak Ustadz.
"Mengenai maharnya yang waktu kemarin yang katanya, hilang. Sepertinya harus di cari sampai dapat, atau dari pihak laki-laki bersedia untuk menggantikannya. Tapi, kalau neng Cempaka merasa rela karena itu adalah musibah, karena hilang, ya itu bagaimana kesediaan saudara Karmin saja, tergantung bagaimana kesanggupan saudara Karmin untuk memberikan tanda kasih sayangnya kepada neng Cempaka yang kini telah menjadi istrinya"
"Sekarang neng Cempaka mau bagaimana? Apa menerimanya sebagai suatu musibah ataukah saudara Karmin harus wajib menggantinya?"
Pak Ustadz bertanya kepada Cempaka.
"Aku mau pernikahan ini tidak jadi saja pak Ustadz, karena aku sama sekali tidak mencintainya"
Jawaban yang keluar dari mulutnya Cempaka, sangat mengejutkan hati Karmin dan juga Kenari.
Sepertinya jampi-jampi nya Eyang sudah mulai memudar.
"Ya enggak bisa! Kenapa kamu ngomong seperti itu?"
Kenari langsung menyolot.
"Sebentar, kita selesaikan ini dengan kepala dingin, jangan dengan keadaan emosi"
Ujar pak Ustadz, segera menengahi.
"Kenapa neng Cempaka tidak bicara dari kemarin? Waktu mau di mulai ijab qobul itu. Kan waktu itu pak Penghulu sempat menanyakan apa bersedia menerima saudara Karmin sebagai calon suaminya? Saya dengar neng Cempaka bersedia. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi begini? Apa karena maharnya tidak ada?"
Pak Ustadz bertanya lembut dan perlahan.
"Dari awal juga aku sudah tidak mau, cuma kemarin itu enggak tahu kenapa Tiba-tiba jadi mau. Seperti ada yang memerintah gitu, supaya aku bersedia menerima dia, pokoknya susah untuk di ucapkan"
Ujar Cempaka lagi
"Sekarang bagaimana menurut saudara Karmin sendiri? Apa saudara Karmin benar-benar mencintai neng Cempaka?"
Pak Ustadz beralih bertanya kepada Karmin.
"Emh, awalnya saya memang sudah menyukainya. Sejak di kenalkan oleh bu Kenari. Namun, saya sadar diri dengan keadaan saya yang sudah...
"Iya pak Ustadz karena melihat adik saya yang cantik, dia merasa minder. Namun, saya dukung dia dan beri semangat supaya tidak merasa rendah diri . Hingga akhirnya Karmin pun merasa percaya diri untuk menyampaikan cintanya kepada Cempaka, begitu pak Ustadz"
Kenari segera memotong perkataannya Karmin. Dia takut Karmin mengakui siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Iya pak Ustadz" Karmin membenarkan ucapannya Kenari.
"Lalu, mengenai maharnya bagaimana?" Susul pak Ustadz.
Karmin menatap Kenari, dia tidak langsung menjawabnya. Di sini nampak sekali kalau Karmin di kendalikan oleh Kenari. Segalanya minta persetujuan dari Kenari.
"Emh, karena maharnya hilang. Bagaimana kalau maharnya ngutang dulu karena sekarang ini Karmin belum ada uangnya untuk menggantikannya. Jadi, nanti setelah dia punya uang, baru dia mengggantinya"
Kenari lagi yang berbicara, memberikan alasannya.
"Ibu dengar yang di tanya itu adalah Karmin, bukan kamu! Kenapa dari tadi kamu terus yang menjawabnya?"
Sergah bu Sekar.
"Bep!" Kenari langsung saja membungkam mulutnya. Namun, itu hanya untuk sementara saja.
"Aku hanya mewakili nya saja, bu. Karena sepertinya dia tidak memiliki jawabannya" Ujar Kenari beberapa menit kemudian.
"Jadi bagaimana saudara Karmin?" Pak Ustadz segera mengulangi pertanyaannya.
"Iya pak Ustadz, saya mau menggantikannya nanti setelah saya punya uang" Sahut Karmin.
"Semua yang berada di sini jadi saksinya, ya. Karmin akan mengganti maharnya yang kemarin hilang itu" Ujar pak Ustadz.
"Jadi maharnya ngutang dulu?
Kok! Bisa pernikahan seperti ini?" Anyelir nyeletuk.
"Ini karena darurat, Karena ada peristiwa yang tidak kita duga sebelumnya, yaitu maharnya hilang. Jadi, bukan sengaja maharnya ngutang dulu, ini beda lagi"
"Apa itu tidak akan jadi kendala ke depannya, pak Ustadz?"
Pak Jati yang dari tadi diam, baru buka suara.
"Saya ras tidak apa-apa. Karena, ini tidak di sengaja. Ini karena adanya musibah. Kita semua tidak ada yang tahu, kan? Kalau kotak perhiasan maharnya neng Cempaka akan hilang? Akan ada yang ngambil?"
"Iya pak Ustadz"
"Sekarang kembali lagi ke neng Cempaka sendiri, apa neng Cempaka tidak merasa keberatan?"
Pak Ustadz meyakinkan Cempaka.
"Ya tidak perlu merasa keberatan lah! Ini kan musibah, tidak di sengaja. Kenapa mesti keberatan segala?"
Kenari menyambar lagi.
"Bagaimana, neng Cempaka?"
Pak Ustadz bertanya kembali.
Cempaka tidak segera menjawabnya. Sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela, tidak ikhlas harus menerima Karmin sebagai suaminya.
"Jangan mempermalukan bapak dan ibu! Kalau kamu tidak menjawabnya iya, kamu berarti akan merusak reputasi keluarga kita. Ingat umur! Ingat Jomblo! Apa mau di langkahi lagi?" Kenari berbisik di telinganya Cempaka, dengan satu tangan mencubit lengannya Cempaka.
__ADS_1
"Sakit, kakak!" Ujar Cempaka.
Dia tidak berani berteriak karena ada pak Ustadz. Dia tidak mau membuat suasananya semakin ricuh.
"Berani berteriak, awas! Lho!"
Ujar Kenari lagi, Lengannya Cempaka di cubit lebih keras lagi dari tadi.
"Sakit, kakak!" Cubitan itu memaksa Cempaka berteriak walaupun tidak histeris.
"Ada apa?" Semua bertanya heran.
Cempaka tak menjawabnya. Tapi, dia memperlihatkan lengannya yang putih mulus itu, yang kini telah berubah menjadi merah bekas cubitan tangannya Cempaka.
"Kenapa?"
Semua bertanya heran. Karena, tiba-tiba lengannya Cempaka memerah dan kulitnya sedikit terkelupas, saking kerasnya cubitan tangannya Kenari.
Seruni segera berlari, tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa Betadine di tangan kanannya.
"Kakak, kasih Betadine dulu biar tidak infeksi"
Seruni segera meneteskan betadine ke atas lukanya Cempaka.
"Kenapa?" Semua orang kaget melihat Cempaka terluka.
"Dia garuk sendiri, gatal kayaknya" Kenari segera menyahut.
"Di cubit kak Kenari"
Cempaka cemberut kesal.
"Eeeh, siapa yang nyubit?"
Kenari tak terima.
"Nya sudah! Sudah! Sebaiknya kita kembali ke permasalahan yang tadi. Bagaimana neng Cempaka?"
Pak Ustadz mengalihkan pembicaraan.
"Emh, i, iya" Dengan ragu Cempaka akhirnya menjawab iya juga.
"Nah, kayak gitu! Susah sekali. Tinggal jawab iya saja"
Kenari berucap pedas.
"Baiklah kalau begitu, berarti masalah nya sudah selesai, sekarang saya mau pamit dulu, semoga tidak ada lagi kejadian yang tidak kita harapkan. Dan juga semoga maharnya neng Cempaka segera di temukan"
Ujar pak Ustadz.
"Assalamualaikum" Ucap pak _ Ustadz sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Sahut semuanya.
***