Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Merasa di anaktirikan


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum datangnya waktu sholat subuh, seperti biasanya Cempaka sudah bangun dari tidurnya.


Kalau dulu setelah bangun dan sholat tahajud, Cempaka suka mencuci piring, mencuci pakaian, menanak nasi, menyapu lantai dan mengepelnya. Lalu kemudian setelah mengerjakan shalat subuh, dia keluar rumah, menyapu dan mengepel teras depan, samping dan teras belakang.


Terakhir dia menyapu halaman dan menyiram tanaman. Setelah itu dia lalu mandi dan menjemur pakaian.


Itu adalah kegiatan rutinitas Cempaka setiap harinya.


Membersihkan kaca dan nyetrika, dia kerjakan satu minggu sekali.


Hampir semua pekerjaan rumah, Cempaka yang mengerjakannya.


Tapi kini, setelah dia di hantam dengan pengkhianatan dan kekecewaan yang mendalam dan terus menerus oleh orang- orang terdekatnya, yaitu keluarganya sendiri, semua rutinitas itu langsung dia tinggalkan secara drastis.


Tentu saja ini membuat kelabakan seluruh anggota keluarga. Terutama Anyelir, yang menjadi biang keladi dari semua masalah itu.


" Kilat bangun! Seruni bangun!" Anyelir berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarnya Seruni dan kamarnya Kilat yang letaknya bersebelahan.


"Ada apa sih kak Anyelir? Teriak-teriak begitu, berisik tahu!" Kilat keluar dari kamarnya sambil ngedumel.


"Iya kak Anyelir ini enggak seperti kak Cempaka, dia enggak pernah teriak-teriak dan menggedor-gedor pintu kamar kalau membangunkan kita, iya kan kak Kilat?" Ujar Seruni membandingkan kedua kakaknya.


"Iya, kalau kak Cempaka membangunkan kita itu dengan lembut, dia masuk ke kamar kita. Lalu mengumandangkan sholawat nabi, atau memperdengarkan ayat - ayat suci Al-Qur'an, enggak berisik seperti kak Anyelir" Ujar Kilat sambil memonyongkan bibirnya.


Anyelir terdiam mendengar protes dari kedua adiknya itu.


Memang benar kakaknya yang satu ini, tidak pernah ribut kalau membangunkan adik - adiknya, termasuk kalau membangunkan dirinya sewaktu masih sekolah dulu.


"Iya sudah jangan ngedumel! Sekarang sana, ngambil air wudhu dulu! Sudah jam lima" Perintah Anyelir kepada kedua adiknya.


"Iya kak" Kilat dan Seruni lalu pergi ke kamar mandi, hendak mengambil air wudhu.


"Setelah selesai shalat subuh, Seruni nyapu! Kilat yang ngepel nya! Kakak mau nyuci piring" Teriak Anyelir, ketika kedua adiknya sudah kembali dari kamar mandi.


"Kakak Berisik! Enak saja nyuruh kita nyapu dan ngepel, kak Cempaka itu hebat! Semuanya dikerjakan sendiri, enggak teriak-teriak nyuruh orang lain" Sungut Seruni kesal.


"Semuanya gara-gara kak Anyelir sama kak Petir, jadi kak Cempaka marah, kita jadi kena imbasnya" Ujar Kilat sewot.


"Kasihan kak Cempaka, jadi dia diam mengurung diri di kamarnya. Dari kemarin dia tidak mau makan, coba kalau kak Anyelir tidak bikin masalah, rumah setiap hari beres, bersih dan rapi. Kak Cempaka memang hebat"


Ujar Kilat sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Aku sayang sekali sama kak Cempaka, dia kan kakak yang rajin, baik dan tidak bawel kayak kak Anyelir. Kak Cempaka tidak galak kayak kak Bunga dan kak Kenari" Ujar Seruni, menilai satu persatu kakak-kakaknya.


"Kak Kenari dan kak Bunga itu seperti ibu tiri, iiiih ngeri!" Tutur Kilat sambil bergidig ngeri.


"Ha! Ha! Ha! Kalau kak Bunga dan kak Kenari tahu kita lagi ngomongin mereka, bisa di guyur pakai air satu ember, kita" Ujar Kilat sambil tertawa.


"Aku takut kak Kilat, tiba - tiba kak Bunga dan kak Kenari nongol di pintu"


Seruni berlari ke kamarnya, ketakutan dengan khayalannya sendiri.


Dasar bocah!


Sementara itu Cempaka yang berada di dalam kamarnya, tengah berpikir keras. Dia ingin terbebas dari suasana rumah yang sudah tidak kondusif untuk dirinya itu.


"Aku harus mencari pelarian yang akan membuatku bisa menghilangkan semua kemelut dalam hidupku ini. Tapi, bagaimana caranya ya?" Pikir Cempaka setelah dia selesai wiridan.


Dia masih duduk di atas sajadahnya.


Tidak seperti biasanya.


Biasanya setelah selesai shalat subuh, dia selalu berkutat dengan segala rutinitasnya.


Tapi, kini semua rutinitas itu dia tanggalkan begitu saja.


Karena rasa kecewanya, dia tak ingat dengan semua rutinitasnya. Yang dia ingat kini, hanyalah kekecewaan, sakit hati dan kehancuran jiwanya untuk yang kesekian kalinya.


"Kilat! Ayo cepat sapu lantainya!" Teriak Anyelir mengagetkan Kilat yang tengah melipat sarung dan sajadahnya.


"Kenapa sih kak Anyelir ini? Bisanya hanya teriak-teriak saja, enggak seperti kak Cempaka" Rutuk Kilat dengan sangat kesal.


Kilat tidak keluar dari kamarnya, dia beres-beres di dalam kamarnya. Seperti yang selalu di perintahkan oleh Cempaka..


Setiap setelah selesai shalat subuh, beres-beres di kamar, tempat tidur di rapikan, lantainya di sapu, meja dan tempat tidurnya di lap debunya.


"Aduh, Kilat! Kenapa sih diam di kamar melulu? Cepat nyapu, ngepel lantainya!" Anyelir terdengar berteriak lagi, lebih keras dari tadi.


"Seruni!" Anyelir memanggil adik bungsunya.


"Aku lagi beresin tempat tidur" Teriak Seruni dari dalam kamarnya.


"Sudah mau jam enam, aku baru bisa nyuci piring saja, belum masak nasi, belum nyuci pakaian, belum nyapu, ngepel dan ngelapin perabotan rumah. Kalau kak Cempaka tidak marah begini, paling aku bantuin jemur baju dan nyapu teras, ternyata tugas kak Cempaka itu banyak sekali, setiap hari dia mengerjakan ini semuanya sendirian tanpa mengeluh, tanpa minta bantuan adik-adiknya"


Anyelir termenung sendirian.


Dia baru menyadari betapa pentingnya keberadaan kakaknya yang telah di sakitinya.

__ADS_1


"Seruni! Kilat! Bantuin kakak! Cepat?"


Teriak Anyelir lagi, karena kedua adiknya belum keluar juga dari kamarnya.


"Ada apa Anyelir? Masih pagi sudah rame teriak-teriak, malu sama tetangga!" Bu Sekar menegurnya.


"Seruni sama Kilat enggak mau bantuin aku" Anyelir mengadu pada ibunya.


"Mereka biasanya membereskan dan membersihkan kamarnya saja, nyapu dan ngepel biasanya Cempaka yang mengerjakan semuanya" Ujar bu Sekar lirih.


"Iya bu, waktu aku belum nikah juga semua pekerjaan rumah, seperti nyapu, ngepel, nyuci piring dan nyuci pakaian, nyapu halaman, nyetrika dan sebagainya kak Cempaka yang mengerjakannya. Dia itu kakak yang baik, rajin dan sayang kepada adik-adiknya. Tapi, kenapa malah kita sakiti hati dan perasaannya?" Anyelir baru menyadarinya.


"Iya nak, ibu juga kerepotan dan cape kalau bukan kakakmu yang mengerjakan semuanya. Memang kita salah, kita tidak peduli sama perasaannya, ma'afkan ibumu ini anakku" Bu Sekar menyesalinya kini.


"Makanya sebelum berbuat harus dipikirkan dulu akibatnya, kini semua sudah terjadi. Berarti kita harus berani tanggung jawab, karena kita telah berani berbuat" Ujar pak Jati tiba-tiba sudah berada di sana.


" Baru satu hari saja Cempaka tidak mau mengerjakan rutinitasnya, kita sudah kelabakan. Ini artinya, kehadiran Cempaka itu sangat penting dan sangat berarti bagi kita" Ujar pak Jati lagi.


"Ya sudah, sekarang jangan ngomong saja, kapan mau beresnya? Ayo Anyelir, kamu nyapu saja. Jangan kerja yang berat-berat! Kamu kan lagi hamil muda" Bu Sekar mengingatkan.


"Iya bu"


"Ibu mau nyuci beras dulu" Bu Sekar membagi tugas.


"Tak ku sangka, kerjaanmu itu sangat banyak sekali nak! Kau begitu berarti bagi kami, sehari saja kau tak mau mengerjakan semua ini, terbengkalai sudah semuanya. Cempaka,. Cempaka ma'afkan kami anakku" Bu Sekar terduduk lemas.


"Hari ini, aku ingin supaya kak Cempaka mema'afkan aku" Ujar Anyelir.


"Ibu juga berharap begitu" Sahut bu Sekar.


"Setelah mengambil alih pekerjaannya, baru kalian merasakan beratnya pekerjaan yang selama ini Cempaka kerjakan sendiri" Ujar pak Jati pula.


Bu Sekar diam tak menjawab. Hatinya sudah sangat merasa bersalah.


*


Sehari semalam Cempaka mengurung diri di kamarnya.


Dia keluar hanya waktu sholat saja.


Sama sekali dia tidak mau makan apapun.


"Nak, kamu sudah sehari ini tidak mau makan, ibu khawatir nanti kamu sakit" Bu Sekar menuturkan ke khawatirannya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, bu. Aku sudah terbiasa dengan sakit, terutama sakit hati" Sahut Cempaka dari dalam kamarnya. Dia tidak mau membukakan pintu kamarnya.


"Tidak usah khawatir karena aku tidak mau makan, bu. Waktu kalian mengecewakan dan menyakiti hatiku tidak ada yang khawatir kan? Kenapa sekarang, hanya karena tidak makan saja ibu merasa khawatir?"


Ungkapan itu meluncur dengan bebas dari mulutnya Cempaka.


Karena hati dan jiwanya merasa tersakiti, Cempaka yang penurut, tak pernah membantah, kini bisa mengungkapkan kekesalannya.


"Nak! Apa ibu tidak salah dengar?"


Matanya bu Sekar mulai berkaca-kaca.


"Tidak bu, seperti ibu yang menutupi kebohongan tentang Anyelir" Ujar Cempaka.


"Cempaka, ibu minta ma'af" Ujar bu Sekar perlahan.


"Tidak ada yang perlu di ma'afkan, bu"


Sahut Cempaka.


"Kalau begitu, keluar dulu sebentar sayang, ibu ingin bicara, dan adikmu juga ingin minta ma'af" Ujar bu Sekar lagi.


"Nanti juga aku keluar, bu" Sahut Cempaka.


"Makan dulu, yu! Ibu masak lauk kesukaanmu" Bu Sekar merayunya biar Cempaka mau keluar dari kamarnya, dan makan bersama.


"Silahkan saja bu, aku tidak lapar" Sahut Cempaka.


Bu Sekar terdiam, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Pak, ini bagaimana? Ibu takut Cempaka akan sakit" Kekhawatiran jelas nampak di dalam raut wajahnya.


"Sudahlah bu, biarkan saja dulu. Nanti juga dia akan seperti biasa lagi, setelahnya dia bisa mengendalikan emosinya. Dia mungkin ingin tenang, ingin sendiri dulu" Ujar pak Jati.


"Iya pak" Ujar bu Sekar.


" Lalu aku bagaimana, bu?" Anyelir bertanya khawatir.


"Nanti nunggu kakakmu keluar saja"


Sahut bu Sekar.


"Berarti aku harus nginap lagi?" Tanya Anyelir seperti yang kurang suka.

__ADS_1


"Ya enggak apa-apa nginap di sini beberapa hari, hitung-hitung bantuin ibu. Kamu kan tahu, pekerjaan yang biasa di kerjakan oleh kakakmu itu banyak sekali, selama kakakmu merasa kesal, ya kamu yang harus gantiin mengerjakannya, karena semua ini sedikit banyaknya kamu yang jadi biang keladinya, jadi ribet semuanya gara - gara kamu!" Ujar bu Sekar dengan kesal.


"Iya bu, ma'afkan aku ya bu! Aku memang yang bersalah " Sahut Anyelir.


" Apa mungkin aku bukan anak kandungnya bapak dan ibu?" Benak Cempaka berprasangka ke arah sana.


"Kalau aku bukan anak bapak dan ibu, berarti aku ini anaknya siapa?" Gumam Cempaka.


"Aku perlu tahu yang sebenarnya, siapa kedua orangtuaku? Aku ini anak siapa?" Gumamnya lagi, menerawang entah kemana.


"Sebaiknya aku tanyakan ini semua kepada ibu dan bapak, biar jelas semuanya" Gumam Cempaka, dia pun menatap wajahnya di cermin, nampak sembab kedua matanya karena semalaman dia menangis.


"Baiklah, aku harus menanyakan tentang hal ini" Cempaka segera bangkit dari duduknya, perlahan dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya.


"Ceklek!" Gagang pintu kamarnya di pegang nya, perlahan-lahan Cempaka membuka pintu kamarnya.


"Kakak! Alhamdulillah akhirnya kakak keluar juga, aku mau minta ma'af kak"


Melihat Cempaka membuka pintu kamarnya, Anyelir segera menghampiri kakaknya.


Cempaka pura-pura tidak mendengarnya, dia terus melangkahkan kakinya ke arah dapur,


Dia hendak mencari ibu dan bapaknya.


"Bu, pak!" Setelah Cempaka menemukannya di halaman belakang.


"Eeh, Cempaka! Alhamdulillah kamu sudah keluar, nak! Sini nak! Ibu kangen sekali" Bu Sekar menyambut Cempaka dengan penuh bahagia.


Cempaka lalu duduk di hadapan kedua orangtuanya.


"Matamu nampak sembab, nak! Ma'afkan kami karena telah membuat


Kamu menderita dan juga kecewa"


Perlahan bu Sekar berkata.


"Iya bu, pak enggak apa-apa"Sahut Cempaka.


"Kamu belum makan dari kemarin, sebaiknya kita makan dulu, yu!" Bu Sekar mengajak Cempaka untuk makan.


"Enggak usah bu, aku enggak lapar"


Cempaka menolaknya.


"Ada yang perlu aku tanyakan bu, pak"


Ujar Cempaka dengan serius.


"Kamu mau menanyakan apa, nak?"


Bu Sekar bertanya heran.


"Kalau aku ini, sebenarnya anaknya siapa bu?" Cempaka bertanya tegas.


"Apa? Maksudnya apa kamu bertanya


Seperti itu" Bu Sekar dan pak Jati terperanjat kaget mendengar pertanyaannya Cempaka.


"Aku ingin tahu siapa kedua bapak dan ibuku" Ujar Cempaka lagi.


"Ada apa lagi ini? Ibu benar-benar: tidak mengerti dengan apa yang kamu tanyakan itu!" Ujar bu Sekar.


"Aku ini anaknya siapa, bu, pak? Siapa kedua orangtuaku? Dan di mana mereka berada?" Cempaka bertanya kembali tentang kedua orangtuanya.


"Kamu anak ibu dan bapak,nak! Ini kedua orangtuamu!"


"Sepertinya aku tidak merasa kalau aku ini anak ibu dan bapak" Ujar Cempaka lirih.


"Kenapa kamu berkata begitu?" Bu Sekar merangkul anaknya.


"Kalau aku anaknya ibu dan bapak, kenapa ibu dan bapak tidak memperlakukan sama seperti kepada anak-anak ibu yang lainnya?" Pertanyaan yang sungguh membuat hati kedua Orangtua itu tertohok hingga ke ulu hatinya.


"Kamu ini bicara apa, nak? Ibu dan bapak tidak pernah membeda-bedakan semua anak-anak kami. Ibu tidak pernah pilih kasih" Bu Sekar panik dengan pertanyaan dari Cempaka.


"Kamu dapat hasutan dari siapa, nak? Hingga kamu berani bicara begitu?"


Lanjut bu Sekar, dia khawatir anaknya ada menghasutnya.


"Tidak ada hasutan, ibu. Yang ada hanyalah perlakuan yang menganaktirikan yang aku terima, hingga aku merasa bahwa aku bukanlah anak kandung kalian berdua" Sahut Cempaka.


"Jeduar!"


Perkataan Cempaka terasa begitu menghantam pendengaran kedua orang tua itu. Serasa bagaikan mendengar suara petir di siang hari.


"Cempaka! Beraninya kamu berkata begitu? Kenapa kamu beranggapan seperti itu? Bapak tidak menyangka sedikitpun, kalau kamu akan menanyakan hal ini? Hal yang tak perlu untuk di pertanyakan! Karena kamu itu anak kandung kami! Ibumu ini yang mengandung dan juga melahirkanmu!" Pak Jati emosi mendengar perkataannya Cempaka.


Cempaka diam sesa'at, dia mencerna ucapannya pak Jati.

__ADS_1


***


__ADS_2