
"Buuu! Kita turun yu,"Bunga berusaha membujuk ibunya yang
terkapar lemas tak berdaya.
"Buuu!"di ualanginya lagi dia memanggil ibunya. Namun, ibunya hanya menangis tersedu.
Dunia seakan runtuh menimpa dirinya. Dunia terasa gelap gulita, mentari seakan sembunyi tak mau menampakkan sinarnya lagi.
Bu Sekar sungguh terpuruk hatinya, sampai dia tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Bunga terus menatap rombongan iring-iringan Keluarganya bu Seroja, hingga mereka keluar dari gang, tiba di jalan besar. Disana dua mobil sudah tersedia untuk membawa mereka ke tempat tujuan.
Satu persatu mereka menaiki kendaraan itu, tak lama kemudian, kendaraan yang membawa keluarganya bu Seroja pun berlalu meninggalkan gang kampung hilir. Meninggalkan sembilu di kalbunya Bunga dan bu Sekar.
Sedangkan Cempaka menatap iring-iringan Keluarganya bu Seroja itu, dari balik jendela rumahnya.
Kecewa, luka, sakit hati dan amarah mendera jiwanya, menghujam kalbu. Segenap rasa itu, seakan kokoh bertahta dalam jiwanya.
Cempaka menatap iring-iringan itu dengan jiwa yang hancur, sehancur-hancurnya. Matanya menatap hampa dengan buliran bening luruh jatuh dari sudut matanya.
Anyelir diam terpaku, mematung menyaksikan kakaknya yang begitu sangat terpukul hatinya.
"Kita turun yu!" Bunga menuntun tangan ibunya. Dengan perlahan-lahan dia memapah ibunya untuk menuruni anak tangga satu persatu.
Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke bawah.
"Cempakaaaa!" ucapnya dengan bibir yang bergetar, sekuat tenaga menahan gejolak rasa penyesalan yang mendera jiwa.
"Mungkin masih di kamarnya bu"
tetesan bening itupun tak pelak lagi, ikut luruh di sudut matanya.
Bungapun merasa menyesal karena waktu itu dia tidak mau mengikuti saran dari kedua Orangtuanya.
"Coba saja kalau waktu itu aku tidak egois, mungkin Cempaka tidak akan hancur hatinya" bathinnya bergejolak.
"Cempaka, ma'afkan ibu nak!" bu Sekar memeluk Cempaka yang masih berdiri terpaku di balik jendela. Tatapannya kosong, melayang hampa.
"Kakak juga minta ma'af ya dek"
ucap Bunga.
Cempaka diam membisu,dengan kekecewaannya dan rasa perih hatinya yang menyelubungi jiwa dan raganya.
Beragam perasaan yang tak enak bergulung di dalam hatinya, perih. Seakan sebuah luka yang menganga, karena di iris oleh sembilu nan tipis. Lalu, di taburi garam dan perasan jeruk nipis, sungguh perih, pedih terasa.
Cempaka memejamkan matanya yang sudah sembab, karena airmata yang tak berhenti luruh
dari sudut-sudut matanya yang dari tadi sudah menghangat.
"Kasihan kak Cempaka, coba kalau lamarannya kak Samudera
di terima, dia tidak akan sekecewa ini pastinya. Dia juga kan mencintai kak Samudera" Bisik Anyelir kepada Seruni.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kak Bunga dan ibu, kasihan kak Cempaka."
sahut Seruni.
Mendengar kasak-kusuk adik kakak itu, bu Sekar dan Bunga semakin merasa menyesal.
Cempaka tak berkata apapun juga, dia beranjak ke kamarnya.
Berlalu meninggalkan kakak dan ibunya yang baru merasa menyesal atas ke egoisannya.
Kini, Cempaka harus menahan semua penderitaan itu sendirian.
"Cempakaaa!" bu Sekar dan Bunga berteriak memanggilnya.
Tak perlu di jawab, pikir Cempaka. Dengan segala rasa yang berkecamuk di dalam hatinya, dia kembali mengurung diri di dalam kamarnya.
Padahal, baru saja beberapa hari dia mau keluar berbaur dengan saudaranya. Kini dia mengalami kepedihan yang membuatnya terpuruk kembali.
Tinggallah Bunga dan Cempaka yang merasa bersalah dengan penderitaannya Cempaka.
Tapi, apa mau dikata...? Nasi sudah menjadi bubur.
Penyesalan selamanya tidak akan datang di awal. Tapi, selalu datang belakangan.
Karena keegoisan mereka, seorang Cempaka telah menjadi korbannya.
Entah sampai kapan keadaan buruk itu kan terurai dari dalam dirinya Cempaka.
"Waalaikumsalam." jawab Bunga dan bu Sekar perlahan.
"Buuu, Cempaka mana...,? ada kabar yang tidak enak dari keluarganya Buana." dengan wajah panik, dia mengabarkan berita yang tidak mengenakkan itu.
"Kami sudah tahu, kami melihatnya sendiri, begitu juga dengan Cempaka, dia melihatnya sendiri, di sini, di jendela ini." lirih suara bu Sekar, tangannya menunjuk ke arah jendela, di mana tadi Cempaka menatap kepergiannya Buana.
"Astaghfirulahaladziiim..., ya Allah..., apa yang dirasakan adikku di dalam hatinya...?, aku tak dapat membayangkannya."
terurai bulir bening di sudut matanya. Kenari merasa sedih mendengarnya.
"Mana dia?" Kenari bertanya panik. Dia takut akan terjadi sesuatu terhadap adiknya itu.
"Di kamarnya" sahut Bunga sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Dan kemudian menghembuskannya, dia berharap beban yang ada di hatinya akan sedikit berkurang, seiring dengan hilangnya angin dari hembusan nafasnya.
Namun, itu tidaklah terjadi.
"Cempakaaa!..., buka pintunya dek! Boleh kakak masuk?" Kenari mencoba ingin menenangkan
adiknya.
Ternyata pintunya tidak di kunci, perlahan Kenari membuka pintu kamarnya Cempaka. Terlihat di sana adiknya tengah duduk tercenung menatap keluar lewat jendela kamarnya, dengan pandangan hampa dan kosong.
"Cempaka" perlahan dia menyapanya, lalu duduk di sampingnya.
"Yang sabar ya! Kaka yakin kamu bisa melewatinya dengan baik,"
__ADS_1
Kenari membelai rambut adiknya. Dia peluk adiknya untuk sekedar melepaskan sedikit beban di dalam hatinya.
Cempakapun menangis menumpahkan segala rasa yang bergulung di dalam hatinya.
Jiwanya hampir roboh, hancur terkulai tak berdaya.
"Lepaskan semua beban yang ada di hati dan jiwamu. Menangislah, jika menangis bisa melarutkan dukamu, menangislah, jika itu bisa membuatmu menenangkan perasaanmu. menangislah, karena setidaknya dengan tangisan bisa sedikit melegakan pebderitaanmu," Kenari membelai rambut adiknya itu.
Dia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati dan perasaan adiknya sa'at itu.
Kekecewaan demi kekecewaan datang bertubi-tubi menghantamnya, dalam waktu yang tidak lama berselang.
"Kakak..., mengapa aku di takdirkan begini, kak?" dia bertanya memelas.
Kenari tidak bisa langsung menjawabnya. Dia harus mencari jawaban yang dapat membuat adiknya itu terhibur.
"Kenapa kak...,? selalu saja ada kendala di dalam hidupku? Kenapa, aku terlahir harus menderita begini?"ujar Cempaka
menghiba.
"Semoga semua penderitaan yang kau alami sa'at ini, adalah sebagai jembatan untuk menuju kebahagiaan di masa depan." bisik Kenari.
Tak lama kemudian, Cempaka mengangkat kepalanya, dia menatap kakaknya tajam.
Kenari sempat kaget menerima tatapan Cempaka seperti itu. Dia sedikit beringsut ke belakang.
"Kalau kakak sudah ditolak oleh seseorang, di usirnya, apakah kakak akan mau kalau di raih kembali?" Cempaka mengumpamakannya.
"Tergantung siapa yang meraihnya. Tapi, pastinya tidak akan semudah itu," sahut Kenari.
"Memangnya kenapa?" Kenari bertanya penasaran.
"Aku hanya ingin tahu saja kak"
Sahut Cempaka.
"Sekarang kau sudah lebih lega?"Kenari peduli dengan keadaan Cempaka.
"Saran kakak, kita jangan terlalu larut dalam duka, terlalu tenggelam dalam kekecewaan, kita harus segera bangkit, kita harus segera berusaha untuk menyingkirkan semua penderitaan yang kita alami. Kita harus bisa menunjukkan pada mereka, bahwa kita bisa lebih baik dari mereka, kita bisa sukses tanpa mereka." Kenari menasihati adiknya itu.
"Jangan menyalahkan orang lain, anggap saja , semuanya kehendak Allah SWT."Lanjutnya.
"Walaupun melalui seseorang, tapi kalau tidak ada izin dari Allah SWT, tidak mungkin itu akan terjadi kepada kita. Karena itu kita ambil hikmahnya saja." Kenari mencoba untuk bijak.
"Ibu harap kau tidak membenci ibu, ya nak ya! Ibu tidak tahu akan terjadi begini akhirnya." ucap bu Sekar.
"Sebenarnya ibu bukan tidak tahu, kami sudah menceritakan apa yang kami dengar dari saudaranya bu Sekar tentang sikap Buana, cuma ibunya yang tidak mau tahu. Ibu tidak percaya, karena ibu keukeuh ingin besanan dengan bu Seroja.
Hingga buta mata, tidak bisa melihat kebenaran yang ada di depan mata. Ada yang berniat baik juga, ibu tidak mau menanggapinya." saking kesalnya, Cempaka bisa bicara seperti itu dengan lantangnya.
"Tapi, ini ma'af ya bu, soalnya aku sudah tidak tahan lagi, sudah beberapa kali menerima kekecewaan itu"
Tak ada yang menyalahkan Cempaka, Karena mereka semua tahu, bahwa Cempaka hanyalah korban keegoisan semata.
__ADS_1