
"Kak!" Seruni berbisik, telunjuknya mengarah kepada Karmin yang tengah memandangi potret ketiga laki-laki yang pernah Cempaka cintai.
Cempaka menempelkan telunjuknya di tengah-tengah bibirnya. Dia mengisyaratkan supaya adik bungsunya itu diam.
Serunipun menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.
"Kenapa dia bisa putus dengan sang polisi ini? Dia cinta pertamanya. Sepertinya Cempaka terpaksa berpisah dengannya. Tapi kenapa ya?" Karmin menatap potret nya Buana.
"Ini siapa ya namanya? Sampai detik ini Cempaka masih mencintainya. Pantesan saja wong gagah begini, tapi apa yang menjadi jurangnya itu?"
Gumam Karmin seperti yang merasa penasaran.
Matanya menatap potretnya Samudera yang ganteng dan gagah dengan seragam armednya.
"Ini cpm, gagah dan ganteng juga. Wah! Pangkatnya lumayan tinggi ini, padahal sepertinya dia masih muda. Usianya tidak akan beda jauh dengan kedua orang ini. Siapa namanya ini ya? Coba ku buka, jadi penasaran"
Karmin melepaskan photo cpm itu dari bingkainya. Dia membalikkan photonya untuk mengetahui ada tulisan apa di belakangnya.
"Semoga kau menjadi tumpuan terakhir hatiku, tempat berlabuhnya bahtera cintaku, tempat bersendernya
Kasih sayangku, denganmu ku harap bahtera cinta ini tidak akan kandas di tengah jalan, perahu itu tidak akan hanyut terombang-ambing oleh badai yang dengan sengaja datang untuk memporak-porandakan bahtera cinta kita, aku ingin kau cinta terakhirku"
Karmin tertegun sejenak setelah membaca tulisan itu, tulisan tangannya Cempaka pastinya juga.
"Berarti ini yang ketiga kalinya dia di renggut paksa dari cintanya. Kasihan sekali dia. Ketiga aparat itu tidak ada yang bisa mendapatkan Cempaka yang cantik itu. Tapi, saya yang orang desa, bukan pangkat bukan aparat malah di tawari dengan gratis oleh kakaknya sendiri. Memang rezeki enggak kemana, sangat beruntung sekali saya ini. Malam ini saya harus tidur bersamanya, dia sudah jadi istriku walaupun maharnya ngutang. Saya sudah jadi suaminya walaupun tidak membawa apa-apa sebagai tanda cintaku padanya"
Gumam Karmin, dia berjalan kembali ke dekat meja di mana photo tadi di simpan.
" Berpangkat juga tidak bisa mendapatkan Cempaka, kalah sama saya" Karmin menyimpan kembali ketiga photo itu di atas meja dengan sembarangan. Tidak di tata seperti di simpan oleh Cempaka.
Karmin membalikkan badannya membelakangi meja, otomatis wajahnya tepat menghadap ke arah pintu dimana Cempaka dan Seruni berada.
"Haah? Dek Cempaka" Karmin terhenyak kaget mendapati Cempaka dan adik bungsunya sudah berada di sana, tengah memperhatikannya.
"Iya, lagi apa kamu di sini?"Cempaka bertanya dengan wajah masam.
"Saya anu, saya mencari kamu" Wajah Karmin nampak panik.
"Bagaimana pendapatmu dengan tiga potret itu?"Sorot mata yang tajam milik Cempaka, menancap di matanya Karmin yang menyipit menyimpan rasa takut. Karena keberadaannya kepergok oleh yang punya kamar.
"Gagah" Karmin menjawab refleks.
"Kalau kamu seorang perempuan, bagaimana perasaanmu jika dia mencintaimu?" Cempaka memutar fakta tentang dirinya.
"Kalau saya perempuan, ya jelas saya mau lah jadi istri salah satu dari ketiganya" Karmin menjawab cepat.
"Seandainya di paksa pegat?" Pertanyaan Cempaka dengan mata yang tajam menghujam.
"Ya enggak mau lah" Dengan serta merta Karmin menyambar.
"Nah! Aku juga sama tidak mau, kamu mengerti kan?" Cempaka semakin mendesak.
Bep!
Karmin terbungkam mulutnya tidak bisa berkata apa-apa. Rapat tertutup
dengan muka yang panik.
"Ayo keluar!" Cempaka menyuruh Karmin dengan mata mendelik ke arah pintu kamar.
__ADS_1
"Hah?"
Karmin terbelalak memutar matanya.
Dia tak percaya dengan apa yang barusan keluar dari bibirnya Cempaka.
Karmin diam mematung tak bergeming.
"Ooh, mau tidur di sini rupanya? Boleh saja, tunggu sebentar" Dengan sigap Cempaka memasukkan photo dan barang-barang yang ada di atas meja dan di sekitar tempat tidurnya, ke dalam lemari bajunya.
"Cetrek!"
Pintu lemari terkunci dengan rapat.
Kuncinya di masukkan Cempaka ke dalam saku piyama nya.
Selimut dan bantal yang biasa di pakai oleh Cempaka, di ambilnya. Dia tidak rela selimut dan bantal kesayangannya di pakai oleh Karmin.
"Ayo Seruni!"
Cempaka menggandeng tangan adik bungsunya, di ajak kembali ke kamarnya Seruni.
Mata Karmin membulat, dengan bibir terbuka. Dia tidak percaya dengan tindakan yang di lakukan oleh Cempaka dengan sengaja tepat di depan matanya.
" Kamu kan ingin tidur di kamarku? Ya silahkan tidur sana di kamarku"
Cempaka berlalu sambil menggandeng tangannya Seruni.
Tinggallah Karmin dengan mata melotot tak percaya.
Dia bingung dan tidak tahu mesti berbuat apa?
Dia tak peduli kepada Karmin yang menatapnya dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa kecewa.
Tapi tentunya masih tetap Cempaka yang merasa paling kecewa di sini.
Karmin duduk termangu di atas ranjang, dia tidak tahu harus berbuat apa?
Dia tidak bisa marah atau pun kecewa dengan sikapnya Cempaka terhadap dirinya.
Karena memang ini salah dirinya sendiri yang termakan rayuan maut mulutnya Kenari.
"Apa yang mesti saya lakukan?"
Karmin mengacak rambutnya, kesal terhadap dirinya sendiri.
"Kalau saya tidur di kamarnya Cempaka, saya merasa tak enak hati. Karena Cempaka tidak suka dengan keberadaan aku di sini.
Mungkin lebih baik saya pulang dulu saja ke rumah ibuku daripada di sini"
Diapun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya Cempaka, dan kembali ke kamar tamu.
Tapi, sebelum dia keluar dari kamarnya Cempaka, dia mengitari sekeliling ruangan dengan netranya. Memastikan kalau di sana tidak ada penghuni rumah yang mengetahui kelakuannya.
"Ibu dan bapak sudah berada di dalam kamarnya, begitu pula Bunga dan Anyelir, pasti sekarang mereka tengah bersiap-siap untuk pulang kembali ke rumahnya besok hari"
Karmin mengendap keluar dari kamarnya Cempaka. Setibanya di lawang pintu yang menuju ke ruang tamu, diapun mengambil langkah seribu melesat masuk ke dalam kamar tamu.
"Sialan! Jadi terjebak begini kula ( saya)" Karmin tercenung di sudut kamar.
__ADS_1
"Malam pengantin yang indah malah punah. Cempaka bukan perempuan gampangan, pantesan saja Kenari menggunakan Eyang untuk menaklukkannya. Berarti, saya harus bicara lagi dengan Kenari, jangan sampai semuanya berantakan di tengah jalan"
Karmin memutar otak mencari solusi.
Sementara itu Cempaka dan Seruni berlalu ke kamarnya Seruni yang berada dekat dengan ruang makan, agak jauh dari kamarnya Cempaka.
"Sekarang gantian ya, kakak yang nginap di kamarnya Seruni, boleh kan?" Cempaka menjawil pipinya Seruni dengan gemas.
"Tentu saja boleh dong" Seruni menyipitkan sebelah matanya, genit.
Cempaka merengkuh kepala adiknya dan di susupkan ke dadanya, dia dekap adik bungsunya itu erat-erat. Dagunya dia goyang-goyang kan di atas rambutnya Seruni dengan gemas.
Seruni tertawa cekikikan manja.
Dia paling suka di perlakukan seperti itu oleh Cempaka.
Keduanya tertawa lepas, seakan tiada beban yang menghimpit dada.
"Ssst! Jangan berisik! Papa mama lagi bobo" Cempaka dan Seruni menirukan nyanyian seorang artis cilik.
Keduanya tersenyum kembali.
"Ayo, bobo!" Cempaka menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya hingga ke dagu, untuk menghalau dinginnya angin malam yang memaksa masuk melalui celah-celah ventilasi yang ada di rumahnya.
Serunipun mengikuti kakaknya.
"Kakak"
Sapa Seruni ragu.
"Hemh" Cempaka membalikkan badannya menghadap adiknya.
"Ada apa gemoy?"
Cempaka bersiap mendengarkan.
"Kenapa kakak tidak tidur sama kak Karmin?" Rasa penasaran menggelayut di dalam benak gadis kecil itu.
Itu jelas terlihat dari mimik wajahnya.
"Anak kecil nanyanya aneh-aneh begini ah!" Cempaka memonyongkan bibirnya, cemberut.
"Kenapa kakak?" Setengah memaksa.
"Kalau Seruni dekat-dekat dengan yang Seruni tidak suka bagaimana?"
"Enggak mau, iiih!" Seruni mayun sambil bergidik.
"Itu tahu! Sudah ah, jangan banyak nanya yang aneh-aneh sudah malam"
Cempaka mempererat selimutnya dan membelakangi adiknya biar bisa segera tidur.
Seruni memeluk kakaknya dari belakang.
Tak berapa lama mereka sudah berada di alam mimpi, melupakan semua masalah yang mendera jiwa.
Cempaka lelap tertidur di pelukan adik bungsunya, wajahnya melukiskan penderitaan yang begitu dalam.
*****
__ADS_1