Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Bahagia yang terancam


__ADS_3

"Kamu tadi kenapa? sampai segitu bahagianya mendengar kabar tentang diterimanya dia waktu daftar ABRI?... Memangnya ada apa antara kamu dan dia?" Selidik bu Sekar, sepertinya dia belum faham tentang apa yang ada di hati anaknya itu.


"Ibu, kami saling menyukai semenjak pertama kali kami bertemu, waktu di rumahnya Mawar. Selama ini aku belum pernah merasa tertarik kepada yang namanya laki-laki, kepada Buana, aku hanya merasa kasihan saja dan karena aku menghargai ibunya yang begitu keukeuh ingin menjadikan aku sebagai menantunya, itu saja bu"


Cempaka menuturkan apa yang dia rasakan di dalam hatinya.


"Kalian saling cinta?... Sejak kapan?... Kamu itu h nak?...


Kau kan sudah dekat dengan Buana? Mana dia tetangga kita lagi. Ibu sama ibunya Buana kana sudah sepakat sudah sehati mau besanan, kenapa jadi begini?... Nanti ibu sama bapak malu nak. Mau di kemanain muka ibu ini?... Punya anak kok!... Plin-plan begini!"Tak di sangka, bu Sekar nyerocos memberikan beberapa pertanyaan kepada Cempaka.


Sepertinya bu Sekar kurang setuju atau bahkan tidak setuju, setelah mengetahui anaknya menyukai pemuda lain selain Buana.


"Kenapa ibu marah begitu?... Kan antara aku dan Buana belum ada ikatan yang resmi bu, waktu itu mau tunangan juga gagal kan?... Padahal Buana sudah beli cincinnya, aku juga sudah mau menerima dia walau agak terpaksa juga. Lagipula, Buananya juga sudah berpaling kepada perempuan lain, untuk apa masih mengharapkan dia lagi?... Dia juga sudah tidak peduli sama aku" Tutur Cempaka, mengungkapkan alasannya.


"Tapi, itu baru kata keponakannya. Siapa tahu dia salah dengar" Ujar bu Sekar lagi.


"Jadi aku harus bagaimana bu?...


Hatiku sakit bu, waktu aku melihat dia menghindariku, di panggil baik-baik dianya tidak nyahut. Mana di belakangnya ada perempuan yang ngikutin lagi, masa laki-laki kayak gitu harus tetap di harapkan!... Kalau dia itu datang ke sini, bicara baik-baik, memintaku untuk menunggunya, baru aku tunggu, ini kan boro-boro" Ujar Cempaka lagi, dia nampak mulai kesal.


"Walaupun begitu sikapnya Buana, sebagai perempuan kita tidak boleh gegabah. Nanti nunggu kebenarannya dulu" Perkataan ibunya terdengar menjengkelkan Cempaka.


"Setahu aku, itu kalau sudah menikah, jadi suami-istri. Ini kan tunangan juga belum, masa harus setia begitu! Baik bu, aku akan setia menunggu Buana, asal ada dari keluarga Buana yang datang ke sini, sebagai perwakilan darinya. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Buana" Baru kali ini Cempaka menentang pendapat ibunya.


"Begini saja, ibu akan tanya pendapat bapakmu nanti!" Ujar bu Sekar menghentikan perdebatannya dengan Cempaka.


"Iya bu" Sahut Cempaka, di dalam hatinya dia tidak terima ibunya berkata begitu.


Yang dipikirkannya adalah, dia sudah di beri penggantinya Buana oleh Allah SWT. Yang orangnya lebih ganteng, tinggi dan berani berkorban demi cintanya, dia itu mandiri sudah punya usaha sendiri lagi.


"Ibu ini kenapa ya? Sudah tahu kak Buana nya kayak gitu" Bisik Anyelir kepada adiknya.


"Iya, kasihan kak Cempaka" Ujar Seruni.


"Kak Samudera sama kak Buana gantengan siapa hayoo!" Kilat memberikan pilihan.


"Ya jelas kak Samudera dong!... Dia itu tinggi lagi, kalau kak Buana kan agak gemuk jadi kayak bapak-bapak" Sahut Anyelir.


"Aku juga milih kak Samudera. Kalau kak Cempaka dengan kak Samudera cocok banget ya kak"


Celoteh Seruni.


"Ssst!... Sudah ah, ayo teruskan belajar nya! Nanti kedengaran sama ibu lho!" Anyelir memberi isyarat supaya diam.

__ADS_1


"Kak Bunga belum tahu ya, kalau kak Cempaka punya pacar baru, ganteng lagi"Ujar Seruni, bukannya diam.


"Aku panggil ibu ya" Anyelir mengancam.


Seruni pun diam sambil memonyongkan bibirnya, tanda kesal kepada kakaknya.


"Assalamualaikum... Sudah ngerjain tugas sekolahnya belum?" Tiba-tiba pak Jati nongol dari balik pintu belakang, dia habis ngasih makan ayam ternaknya.


Pekerjaan rutinnya setiap sore sehabis shalat Ashar.


"Waalaikumsalam... Belum pak, ada yang susah" Si bungsu Seruni manja.


"Mana?... Coba bapak lihat" Ujarnya sambil duduk di samping anak bungsunya.


"Ini pak, aku enggak ngerti" Ujar Seruni sambil memberikan buku pelajaran matematikanya kepada bapaknya.


"Emh... Ini tentang perkalian, kalau Seruni belum ngerti, berarti Seruni harus lebih banyak lagi berlatih perkalian nya dengan tekun. Mana tabel perkaliannya?


Ayo di hapalkan lagi!" Ujar pak Jati.


Seruni mengeluarkan tabel perkaliannya, lalu dia menghafalkannya kembali dengan cara membacanya secara berulang-ulang.


"Pak, tadi ibu sama Cempaka berantem"Tiba-tiba Seruni nyeletuk.


"Ah, masa ibu sama Cempaka berantem" Ucap pak Jati datar, dia tidak percaya sama sekali.


"Bapak tinggal dulu ya, kalian selesaikan tugasnya sampai beres dan benar semua isinya ya" Pak Jati rupanya penasaran dengan pengaduan anak bungsunya.


Dia segera menghampiri Isterinya yang tengah duduk di ruang tengah, lagi asyik nonton TV.


Sedangkan Cempaka tidak nampak di sana. Mungkin di kamarnya.


Kalau kakaknya Cempaka, yaitu Bunga, pastinya belum pulang masih di tempat kerjanya.


"Assalamualaikum... " Ucap pak Jati sambil duduk di samping Isterinya.


"Waalaikumsalam..." Jawab bu Sekar. Wajahnya sedikit di tekuk, rupanya masih kesal hatinya.


"Ada apa bu?... Kok! Mukanya masam begitu?" Pak Jati menggodanya.


"Ibu lagi kesal pak" Bu Sekar mengadu kepada suaminya.


"Kesal sama siapa?... Dan masalahnya apa sampai ibu kesal segala" Tanya pak Jati sabar.

__ADS_1


"Kesal sama Cempaka" Sahutnya.


"Memangnya Cempaka bikin ulah apa? Sampai ibu kesal begitu!" Pak Jati jadi penasaran juga.


"Tadi Cempaka bilang ke ibu, kalau dia sama temannya itu saling menyukai pak. Ibu melarangnya, Karena ibu enggak mau kalau anak kita di katain plin-plan oleh orang lain. Dia kan lagi nungguin Buana, kok malah berbelok sama yang lain" Bu Sekar mengadukan alasannya yang membuat dia kesal.


"Maksudnya?..."Pak Jati belum faham.


"Tadi kan dia ke sini, dia membawa kabar bahagia, dia diterima jadi ABRI. Dan, ternyata dia daftar masuk abri itu karena dia suka sama anak kita. Yang ingin punya suami seorang ABRI.


Lalu, bagaimana dengan Buana?


Bagaimana kalau nanti Buana datang? Atau ibunya bertanya tentang pemuda itu, kita mau jawab apa?" Ujar bu Sekar sewot.


"Mana Cempaka nya?... Coba nanti bapak bicara sama dia"


Pak Jati memenangkan Isterinya.


"Di kamarnya" Sahut bu Sekar.


"Anyelir!... Tolong panggilkan kakakmu di kamarnya" Pak Jati menyuruh Anyelir.


"Baik pak" Anyelir segera menuju ke kamarnya Cempaka.


"Assalamualaikum... Kakak!... Dipanggil sama bapak" Ujarnya setengah berteriak.


"Waalaikumsalam... Iya" Cempaka menjawabnya.


"Pasti ibu sudah ngadu ke bapak.


Moga saja bapak tidak seperti ibu" Gumamnya.


Cempaka lalu menemui pak Jati,lalu duduk di hadapan kedua Orangtuanya.


"Kau ini kenapa nak?... Masa, marahan sama ibu sendiri. Ada masalah apa?... Biasanya kamu selalu nurut dengan setiap perkataan ibumu ini. Kenapa sekarang jadi begini?" Dengan lembut pak Jati menegur Cempaka.


"Ibunya pak, masa aku harus nungguin laki-laki yang ingkar janji itu. Mentang-mentang ibu sama ibunya Buana sudah akrab dan keukeuh mau besanan" Ujar Cempaka.


"Bukan begitu maksud ibumu, tapi setidaknya kita tunggu saja dulu kepastian dari Buana dan keluarganya. Kamu jangan asal terima yang lain, jangan mentang-mentang dia lebih ganteng dari Buana" Pak Jati juga rupanya sependapat dengan bu Sekar.


"Mau tahu yang sebenarnya bagaimana, di tanyain juga tidak.


Aku mau ke sana, mau nanyain, di larang sama bapak. Lalu, mau tahunya gimana?... Kalau aku sudah percaya sama kabar dari keponakannya Buana, enggak mungkin keponakannya bohong. Lagipula, aku kan melihatnya dia pulang dengan perempuan lain, dia malah lari waktu aku panggil. Itu juga sudah cukup" Cempaka berusaha menjelaskan kepada ibu dan bapaknya.

__ADS_1


Ibu dan bapaknya saling tatap, keduanya seperti yang merasa bingung. Karena perkataan Cempaka ada benarnya juga.


__ADS_2